HUMAIRA (Dunia Baru Sang Mafia)

HUMAIRA (Dunia Baru Sang Mafia)
DI SEBUAH PESTA


__ADS_3

Sudah lama menunggu akhirnya Sean tiba di rumah. Semua menyambutnya dengan bahagia. Azizah meneteskan air mata melihat Sean akhirnya bebas dan bisa berada di tengah-tengah mereka lagi.


"Selamat datang kembali cucuku..." ucap Azizah sambil memeluk Sean erat.


"Terima kasih banyak nenek."


Semua bergiliran untuk memeluk Sean. Selepas itu mereka membawanya ke meja makan untuk sarapan bersama. Nasreen sudah menyiapkan semua makanan kesukaan Sean. Baru sedikit memakan makanannya, Sean langsung pamit pada semua orang untuk pergi ke kamarnya. Dia akan segera bersiap untuk pergi ke kantor hari ini.


"Kenapa kau sangat terburu-buru nak? Habiskan dulu sarapannya!" ucap Nasreen.


Sean tidak menghiraukan perkataan ibunya itu. Sikapnya terlihat berbeda. Sean yang dulu sangat penurut, kini berubah menjadi dingin dan tidak banyak bicara. Saat akan turun, Sean sempat pergi ke kamar Saffiya. Dia melihat sudah tidak ada lagi barang Saffiya di kamar itu. Bahkan semua pakaiannya pun sudah ia kemasi. Secepatnya Sean akan meminta pengacara untuk mengurus perceraiannya dengan Saffiya.


Sementara itu, di kantor semua pegawai sibuk mempersiapkan sesuatu untuk menyambut kedatangan bos besarnya itu. Sebelum Sean datang, mereka sudah menggelar karpet merah. Beberapa menit lagi akan sampai, semua pegawai bergegas turun untuk menyambutnya di bawah. Tidak lama akhirnya Sean pun tiba di kantor. Dia turun dari mobil dan berjalan di atas karpet merah itu. Semua orang sedikit menundukkan kepalanya untuk memberinya penghormatan.


"Selamat datang kembali tuan Sean..." ucap semua pegawai serempak. Tidak lama terdengar suara petasan yang tidak jauh dari kantor. Saat akan masuk ke dalam, Sean melihat para cleaning servis berjejer rapi dengan membawa spanduk yang bertuliskan, 'selamat datang untuk bos kami, tuan Sean. Kami sangat merindukan mu. Kantor ini terasa hampa saat kau tidak ada.


Saat membaca semua itu, terlihat sedikit senyuman di bibir Sean.


"Apa semua ini?" tanya Sean pada Edgar.


"Kenapa? Mereka sedang menyambut mu, kawan. Lihatlah! Betapa mereka semua merindukan kehadiranmu."


"Tapi ini semua berlebihan, Edgar..." ucap Sean sambil pergi menuju ruangannya.


Zura sangat berterimakasih pada semua orang atas penyambutan kakaknya itu. Dia meminta semua orang untuk kembali ke meja mereka dan mulai bekerja. Saat itu Zura menemui Sean di ruangannya.


"Kakak, apa aku bisa bicara sebentar?"


"Bicara saja!"


"Hari ini aku sudah berjanji pada nenek untuk menemaninya ke mall. Dia akan mencari kado untuk ulang tahun sahabatnya, dokter Nilam. Apa aku bisa pergi sebentar?"


"Pergi saja! Lagi pula ada Edgar yang akan menghandle semua pekerjaan mu hari ini."


Mendengar hal itu Zura terlihat sangat senang akhirnya ia bisa pergi bersama neneknya. Beberapa menit kemudian Edgar datang dengan membawa data kemajuan perusahaan selama lima tahun terakhir ini. Saat Sean membacanya, ia sangat bangga dengan beberapa pencapaian yang Edgar dan Zura tempuh selama itu. Keberadaan mereka begitu dibutuhkan di perusahaan. Saat mereka sedang berbincang, tiba-tiba saja sekretaris Sean datang.


"Ada apa Diva?" tanya Sean.


"Maaf tuan, di bawah ada seseorang yang ingin menemui mu. Dia memaksa ingin masuk, padahal sebelumnya dia belum membuat janji denganmu."


"Siapa?"

__ADS_1


"Namanya dokter Nilam."


Mendengar nama itu, Sean meminta sekretaris untuk membawanya masuk. Dokter Nilam adalah dokter pribadi Sean saat ia masih kecil. Saat dokter Nilam datang, Edgar bangkit dari tempat duduknya dan akan melangkah pergi tapi Sean menahannya. Dia meminta Edgar untuk tetap berada di ruangannya.


"Selamat datang dokter Nilam!"


"Terima kasih, Sean."


"Apa kabarmu? Sudah lama kita tidak bertemu."


"Aku sangat baik, kebetulan lima tahun terakhir ini aku sedang ditugaskan di rumah sakit yang ada di Swedia. Satu Minggu yang lalu aku baru tiba di Qatar."


Cukup lama mereka berbincang, sebelum pergi dokter Nilam memberikan sebuah kartu undangan untuk Sean. Dia berharap jika Sean akan datang ke hari bahagianya itu. Saat dibuka, ternyata acara itu nanti malam. Melihat jadwal yang ada, sepertinya nanti malam jadwal Sean kosong. Jika pun ada urusan yang mendadak, ia akan meluangkan waktu untuk datang ke acara itu.


"Aku tunggu kedatangan mu, Sean. Aku pastikan kau akan sangat menyukai acaranya karena bukan hanya kalangan pengusaha saja yang aku undang, melainkan semua dokter juga perawat yang bekerja di rumah sakit ku mereka akan datang juga. Akan aku perkenalkan kau pada mereka nanti."


"Dengan senang hati, dokter. Terima kasih untuk undangannya."


Rasa penasaran membuat Sean mencari tahu tentang rumah sakit milik dokter Nilam. Saat ditelusuri rumah sakit itu terletak kurang lebih 3 km dari kantornya. Rumah sakit itu bernama N'the Hospital. Dokter maupun perawat yang bekerja di sana cukup banyak. Di akhir data itu Sean melihat beberapa dokter yang baru saja bekerja di rumah sakit itu. Saat membuka data mereka, Sean sangat terkejut melihat foto Humaira di sana. "Apa Humaira bekerja di sana juga?" batinnya. Itu berarti... Saat aku terluka polisi membawaku ke rumah sakit itu."


Sean terlihat sangat senang. Dia sudah tidak sabar ingin segera bertemu dengan Humaira. Entah reaksi apa yang akan Humaira tunjukkan saat melihatnya.


\*\*\*


"Ada paket untuk mu nona," ucap kurir itu.


"Dari siapa?"


"Aku tidak tahu, nona. Aku hanya disuruh untuk mengantar paket ini padamu."


Tidak lama kurir itu pun pergi. Saat dibuka ternyata isi paket itu adalah sebuah gaun indah berwarna krem. Humaira bingung siapa pengirim gaun itu. Tidak lama ponselnya berdering. Sebuah nomor tidak dikenal yang menghubunginya. Saat diangkat, terdengar suara perempuan yang mengaku sebagai seorang perancang busana. Ia disuruh dokter Nilam untuk mengirim gaun itu padanya. Semua dokter mengenakan seragam dengan warna serempak supaya bisa dengan mudah membedakan mana dokter N'the Hospital, dan mana seorang pengusaha. Mendengar perkataan perempuan tadi, Humaira menjadi yakin untuk mengenakan pakaian itu nanti malam. Dia tidak perlu lagi repot-repot mencari gaun yang cocok untuk dikenakan. Di satu sisi, sekretaris Sean datang dan memberitahunya jika ia sudah selesai menyelesaikan tugas yang diberikan. Ia sudah menghubungi Humaira dan mengaku sebagai seorang desainer. Dengan seperti itu Humaira akan yakin jika gaun itu dari dokter Nilam dan tentu saja ia akan memakainya di pesta itu. Sean terlihat sangat cerdas, jika tidak seperti itu Humaira tidak mungkin menerima sembarang gaun dari orang yang tidak dikenal. Sean terlihat sangat senang karena di acara pesta nanti hanya ia dan Humaira yang akan mengenakan pakaian dengan warna yang sama. Sementara yang lain, mengenakan pakaian bertemakan hitam putih.


Waktu malam telah tiba. Semua orang silih berdatangan ke acara besar itu. Bukan hanya dari kalangan dokter saja yang hadir, melainkan banyak sahabat dari dokter Nilam sendiri yang berasal dari kalangan bangsawan, pengusaha, bahkan aktris sampai produser film. Acara itu sangat meriah juga mewah. Ketika melihat kedatangan keluarga besar Jeevan, dokter Nilam beserta suami pergi untuk menyambutnya. Sang dokter memperkenalkan mereka kepada keluarga besar suaminya yang selama ini tinggal di Switzerland. Walau itu adalah pertemuan pertama di antara kedua keluarga besar, saat melihat mereka berbincang, rasanya mereka sudah sangat akrab. Dokter Nilam menghampiri Sean yang tengah berbincang dengan rekan perusahaannya.


"Aku senang kau datang Sean," ucap dokter Nilam. "Oh iya, ikutlah denganku! Akan aku perkenalkan kau dengan seseorang."


Dokter Nilam membawa Sean kepada seorang perempuan cantik yang baru saja turun. Dia adalah Almya putri dari pamannya. Saat tangan mereka saling berjabat, pesona Sean memang mampu meluluhkan hati siapa pun. Almya terus menatapnya tanpa berkedip.


"Tampan sekali pria ini..." batinnya.


Sean langsung melepas jabatan itu. Dokter Nilam memberitahu Sean jika Almya adalah seorang dokter. Dia juga bekerja di rumah sakit miliknya. Sudah beberapa menit Sean di sana, ia terus saja menatap ke arah pintu masuk menunggu kedatangan seseorang. Melihat Sean yang sedang duduk seorang diri, Almya datang dan memberinya segelas minuman.

__ADS_1


"Sejak tadi aku perhatikan kau terus saja menatap pintu masuk itu. Apa kau sedang mencari seseorang?" tanya Almya.


"Mmm..."


Tidak lama datanglah Saffiya bersama kedua orangtuanya. Saat keluarga Jeevan bertemu dengan perdana menteri mereka mencoba untuk bersikap baik satu sama lain walaupun sebenarnya hubungan di antara mereka sedang tidak baik- baik saja tapi semua itu mereka lakukan karena di sana banyak sekali media yang sedang meliput. Mereka tidak mau kehormatan masing-masing keluarga rusak di hadapan semua orang. Saffiya melihat Sean yang sedang duduk bersama seorang perempuan. Dia langsung pergi menghampirinya. Saat di dekat Sean, sikap Saffiya seperti mati kutu. Dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang ini.


"Apa kalian berdua sudah saling mengenal?" tanya Almya.


"Tentu saja, dia adalah suamiku!" ucap Saffiya.


Mengetahui Sean adalah suami dari Saffiya, hilang sudah harapan Almya untuk bisa mendekatinya. Dia beranjak dari tempat duduknya karena tidak mau menganggu perbincangan mereka. Saat Almya sudah pergi, Sean memulai pembicaraan.


"Aku sudah meminta pengacara untuk mengurus perceraian kita, besok surat itu mungkin sampai di rumah mu."


"Semudah itukah kau menceraikan aku Sean? Apa tidak ada kesempatan kedua untukku memperbaiki semua itu?"


"Keputusanku sudah bulat. Aku ingin kita bercerai secepatnya!"


Mendengar hal itu Saffiya terlihat sangat marah. Dia yakin jika semua yang terjadi karena Humaira. Dia yang menjadi perusak dalam rumah tangganya. Sementara itu, Humaira dan Yurin baru saja tiba di tempat itu. Saat akan masuk, tidak sengaja seorang pelayan menabrak Yurin sampai minuman tumpah di bajunya. Ia pergi ke toilet untuk membersihkannya. Saat Humaira masuk semua mata tertuju padanya.


"Wah... cantik sekali gadis itu. Siapa dia?" ucap seseorang dalam pesta itu.


Dari jauh Sean sudah terpesona dengan kecantikan Humaira sampai dia tidak memperdulikan Saffiya yang berada disampingnya. Humaira merasa tidak nyaman saat banyak orang yang menatapnya.


"Kenapa mereka terus menatapku? Apa ada yang salah dengan pakaianku?" batinnya.


Tidak lama dokter Nilam datang dan memperkenalkan Humaira pada keluarga besarnya.


"Kau sangat cantik Humaira," puji dokter Nilam.


"Terima kasih, dokter." ucap Humaira tersipu malu.


Azizah yang melihat keberadaan Humaira langsung menghampirinya. Begitupun Humaira dia sangat senang bisa bertemu kembali dengan neneknya itu.


"Apa kabar sayang?" ucap Azizah.


"Aku baik nek, bagaimana denganmu? Kau tidak lupa untuk selalu menjaga kesehatan dan meminum obatnya bukan?"


Azizah memeluk Humaira erat. Dia begitu rindu akan semua perhatian juga kehadiran dia di rumahnya. Dia memberitahu Humaira jika satu Minggu yang lalu ia sempat di rawat di rumah sakit karena penyakitnya kambuh. Jika saja Humaira ada pasti ia yang akan menguatkan dirinya untuk mengahadapi semua persoalan yang ada.


"Nenek tidak membenciku setelah apa yang sudah aku lakukan pada cucumu?" ucap Humaira.

__ADS_1


"Sudahlah nak, yang sudah biarlah berlalu. Lagi pula Sean sudah bebas sekarang ini. Itu dia di sana!" ucap Azizah sambil menunjuk ke arah Sean.


Saat melihat ke arah Sean, Humaira sempat tidak percaya jika warna baju mereka sama. Sementara itu, yang lainnya kebanyakan mengenakan pakaian berwarna hitam dan putih. Humaira mencoba menghindar dari Sean. Dia tidak ingin berhubungan lagi dengan pria yang sudah membunuh ayahnya. Humaira pergi ke toilet untuk menyusul bibi Yurin. Melihat kepergian Humaira, Sean langsung mengikutinya. Dia tidak akan membiarkan hidup Humaira tenang setelah apa yang ia lakukan padanya.


__ADS_2