
Malam itu Saffiya terlihat sangat sedih. Tidak lama sang ibu datang menemuinya.
"Kau kenapa sayang?"
Saffiya diam saja tanpa menjawab pertanyaan sang ibu. Terlihat kesedihan yang begitu mendalam dari wajahnya karena perceraian itu. Sang ibu mengelus rambut putrinya itu.
"Sudahlah sayang, jangan terus bersedih seperti ini nanti kesehatanmu akan memburuk."
Tidak lama seorang pelayan datang. Ia disuruh perdana menteri untuk meminta nyonya dan Saffiya untuk turun. Tiba di bawah perdana menteri memberitahu Saffiya jika ada putra dari sahabatnya yang ingin menemuinya. Dia ingin mengenal Saffiya lebih dekat lagi.
"Apa kau siap untuk bertemu dengannya?" tanya perdana menteri.
"Apa semua ini ayah? aku baru saja bercerai dengan Sean, dan kau ingin aku memiliki hubungan dekat dengan pria lain?"
"Lupakan pria itu! dia sama sekali tidak pantas untukmu. Sean adalah seorang mantan narapidana. Kenapa kau masih saja memikirkannya?"
"Tidak ada yang bisa menggantikan posisi Sean dalam hidupku." ucap Saffiya sambil berlari ke kamarnya.
Perdana menteri meminta istrinya untuk mencarikan pria baik untuk putrinya. Saffiya adalah seorang gadis yang sangat cantik. Banyak pria yang menyukainya. Sebagai seorang ayah, perdana menteri tidak ingin melihat Saffiya terus bersedih. Ia butuh pendamping hidup yang baru. Sementara itu, di dalam kamar Saffiya terlihat sangat kesal. Sang ayah mengira jika ia sudah menerima perceraian itu, padahal tidak sama sekali. Tidak mudah menerima dirinya yang sudah dicerai oleh Sean. Dulu, rumah tangga mereka terkenal harmonis dan diimpikan banyak orang, lalu kenapa semua impian itu hancur begitu saja sebelum mereka memiliki seorang anak. Sampai kapanpun Saffiya akan mengingat semua kenangan manis bersama Sean. Dia akan tetap menjadi sahabat juga dunianya. Sean akan selalu menjadi miliknya. Jika ia tidak bisa memiliki Sean, maka perempuan lain pun tidak akan bisa memilikinya.
\*\*\*
Malam itu Humaira sedang memainkan laptopnya. Tiba-tiba saja terdapat email yang masuk. Saat dilihat ternyata email dari tuan Syamsir. Ia menuliskan dalam email itu jika ia tidak akan kembali ke Qatar karena kondisi kesehatannya yang kurang baik akan tetapi, dia sudah meminta putranya yang bernama Atharva Abhimana untuk datang ke Maroko menemuinya. Bukan hanya itu tuan Syamsir pun mengirim foto putranya itu pada Humaira. Berselang beberapa menit ada sebuah email yang baru saja masuk. Saat dilihat ternyata Atharva yang mengirim email itu. Kurang lebih satu jam mereka saling berbincang melalui email hingga akhirnya Humaira ketiduran.
Malam telah berlalu, kini cahaya pagi kembali menyapa. Humaira bersiap untuk pergi ke rumah sakit. Tiba di sana, Humaira mendapat kiriman jadwal baru dari dokter Nilam. Untuk satu Minggu ke depan Humaira mendapat giliran siang. Seketika Humaira ingat jika ia sudah berjanji untuk menemui Azizah hari ini. Sementara di rumah besar itu, Azizah tengah menunggu kedatangan Humaira. Ia meminta Sean untuk menghubunginya. Tidak lama Sean memberitahu neneknya jika Humaira sedang dalam perjalanan menuju rumahnya. Mendengar hal itu Azizah merasa sangat senang. Beberapa menit kemudian akhirnya Humaira tiba di sana. Pelayan langsung membawanya ke kamar Azizah.
"Nenek!" ucap Humaira sambil memeluknya.
"Terima kasih sudah datang menemuiku, nak." ucap Azizah.
"Apa nenek sudah sarapan?"
"Belum, jika tidak keberatan hari ini aku ingin sekali makan masakanmu."
"Baiklah, aku akan memasakkan nenek makanan yang sangat spesial."
Humaira pergi ke dapur untuk mulai memasak. Secara diam-diam Sean memperhatikan Humaira yang sedang memasak.
"Dia bukan hanya cantik, tetapi juga pandai memasak." ucap Sean dalam hatinya.
Selesai memasak Humaira membawa makanan itu ke kamar neneknya. Dia mulai menyuapinya. Tiba-tiba Sean datang.
"Kau belum pergi ke kantor, nak?" tanya Azizah.
__ADS_1
"Hari ini jadwalku kosong nek. Aku akan berada di rumah seharian ini."
Azizah menatap wajah Humaira sangat dalam. Ia benar-benar merasa sangat bersalah dengan apa yang sudah suaminya lakukan terhadap ibunya. Ia ingin sekali jujur akan semua itu hanya saja perhatian, sikap baik Humaira sangat Azizah takutkan jika ia tahu semuanya. Azizah tidak ingin sikap Humaira itu berubah kepadanya. Ia sangat takut jika Humaira sampai membencinya. Melihat neneknya yang sedang berbincang dengan Humaira, Sean pergi ke kantor polisi untuk menemui pria bernama Edward itu.
Tiba di kantor polisi Sean akhirnya bisa melihat wajah pria itu. Dia adalah salah satu anak buah Sean. Melihat kedatangan Sean, wajah pria itu tertunduk karena merasa sangat takut.
"Kenapa kau menyebut namamu sebagai Edward?" tanya Sean.
Pria itu diam saja sampai akhirnya kesabaran Sean habis. Dia memaksa anak buahnya untuk bicara jujur.
"Kenapa kau membunuh ayah dari perempuan yang bernama Humaira? Siapa yang sebenarnya sudah menyuruhmu melakukan semua itu? Jangan diam saja Al! Katakan sesuatu padaku!"
Teriakan Sean membuat petugas polisi datang menghampirinya. Ia meminta Sean untuk tidak membuat keributan di kantor polisi. Pria itu meminta polisi untuk membawanya kembali ke dalam. Ia tidak ingin bicara apapun pada Sean. Polisi membawa pria itu kembali masuk ke dalam jeruji besi.
"Tunggu pak! Aku masih ingin bicara dengannya."
"Maaf tuan, tapi dia tidak mau bicara padamu. Lagi pula waktu berkunjungmu sudah habis. Silahkan kembali besok!"
Sean merasa sangat kesal. Ia tidak akan menyerah begitu saja. Ia akan membuat pria itu mengatakan semua kebenarannya.
\*\*\*
Siang itu, sebelum pergi ke rumah sakit Humaira memasak makan siang untuk Azizah. Sambil menunggu masakannya matang, Humaira membuka laptopnya. Ia mendapat kiriman email baru dari Atharva. Ia memberitahu Humaira jika tadi malam ia sudah berangkat menuju Qatar dan akan tiba sore nanti.
email :
Humaira : Apa kau pikir aku ini pelayanmu yang kau bisa suruh kapanpun?"
Atharva: Tolong jangan salah paham, cantik. Aku datang sendiri. Aku butuh bantuanmu untuk mencarikan hotel yang bagus untukku menginap."
Humaira : "Baiklah, kapan kau akan tiba?"
Atharva : "Sekitar pukul 17.00 sore nanti."
Humaira : "Baiklah tuan Atharva, aku akan datang menjemputmu."
Atharva : Terima kasih nona, kau bukan hanya cantik tetapi juga baik."
Saat kembali Sean mencium bau aroma masakan. Ia pergi ke dapur dan melihat Humaira yang sedang memasak. Sean terlihat bingung akan apa. Humaira menatapnya dingin.
"Apa kau membutuhkan sesuatu tuan?" tanya pelayan yang baru datang dari kebun.
"Tidak bi, aku hanya ingin bertanya apa nenek sudah makan siang?"
__ADS_1
"Nona Humaira sedang menyiapkannya, tuan. Kau tidak perlu khawatir."
Pelayan tidak sengaja melihat laptop Humaira yang terbuka. Ia sempat melihat sebuah foto laki-laki yang ada dalam laptopnya.
"Maaf nona, aku tidak sengaja melihat laptopmu."
"Tidak apa-apa, bi. Lagi pula tidak ada sesuatu yang penting dalam laptopku."
"Foto laki-laki yang ada di laptopmu sangat tampan nona. Apa dia kekasihmu?" Humaira langsung terdiam. Dia melihat Sean yang juga menatapnya.
"Bukan bi, dia hanya...
Pelayan memberitahu Humaira jika ada email yang masuk. Humaira meminta pelayan itu untuk meneruskan masakannya. Ia akan melihat dulu email siapa yang masuk. Sean sangat penasaran dengan siapa Humaira berbalas email. Ia tersenyum saat membalasnya. Karena merasa sangat kesal, Sean akhirnya pergi dari dapur. Di ruang tengah ia tidak bisa diam memikirkan Humaira. Ia sangat penasaran dengan pria yang dikatakan pelayan tadi. Sean mulai mencari cara untuk bisa melihat foto wajah pria itu. Sean kembali ke dapur. Ia meminta pelayan untuk membuatkannya teh. Humaira masih fokus kepada laptopnya. Sean meminta bantuan pelayan untuk meluncurkan rencananya itu. Saat kembali ke dapur, pelayan itu mulai mengikuti rencana Sean.
"Nona, apa kau bisa melihat nyonya apakah dia sudah bangun atau belum? Soalnya sebentar lagi waktunya nyonya minum obat."
"Baik bi, aku akan pergi melihatnya."
Saat pergi ke kamar Azizah, Sean pergi ke dapur untuk melihat laptop Humaira. Sementara bibi berjaga di depan pintu berjaga-jaga jika Humaira sudah kembali.
"Mereka berbalas email dari semalam? Siapa sebenarnya pria ini?" ucap Sean sedikit kesal.
Dari percakapan terakhir email itu, Sean mengetahui jika sore ini Humaira akan pergi ke bandara untuk menjemput seseorang. Mendengar suara langkah kaki, Sean langsung pergi menuju pintu belakang.
"Nenek masih tidur, bi." ucap Humaira.
"Tidak apa-apa non, biar nanti bibi yang akan bangunkan."
"Oh iya, setelah ini aku harus pergi ke rumah sakit. Tolong sampaikan salamku pada nenek yah, bi. Maaf tidak bisa lama-lama karena masih ada pekerjaan yang harus diselesaikan di rumah sakit. Tapi aku berjanji akan kembali lagi besok."
"Baik non, akan bibi sampaikan nanti. Terima kasih sudah menemani nyonya hari ini."
Saat di luar, Sean pergi menemui Humaira. Dia berterimakasih karena sudah menyempatkan waktunya untuk datang mengunjungi neneknya. Humaira melihat Sean yang terus berdiri menatapnya.
"Apa ada sesuatu yang ingin kau katakan lagi?" ucap Humaira.
"Tidak."
"Jika tidak, berhenti menatapku seperti itu. Kau membuatku tidak nyaman dengan sikapmu itu. Tatap aku dengan tatapan biasa saja!
Sean tersenyum kecil mendengar hal itu.
"Apa ada yang lucu?"
__ADS_1
"Tidak, tapi baguslah jika kau tidak nyaman dengan tatapan itu. Kalau begitu aku akan menatapmu terus seperti itu."
"Menyebalkan!"