
Keesokan paginya, Sean mendapat kabar jika asal lokasi dari si penelpon misterius tadi malam adalah di sebuah rumah sakit kota. Tanpa membuang banyak waktu, Sean langsung pergi kesana. Sementara itu, Athar baru saja membawa Humaira kembali ke hotel. Keadaannya sudah mulai membaik bahkan, dia sudah sadarkan diri. Saat tersadar Humaira masih terlihat bingung dimana ia berada. Tidak lama Athar datang menemuinya. "Aku sangat senang kau akhirnya sadar." ucapnya.
"Dimana aku?" tanya Humaira.
"Tenanglah, kau ada di tempatku sekarang ini."
"Dimana Sean? Bawa aku bertemu dengannya." ucap Humaira.
Athar meminta dokter untuk menyuntikkan obat tidur pada Humaira. Dia tidak ingin Humaira bertanya banyak tentang Sean. Dia akan membuat Humaira tertidur sampai misinya itu selesai. Saat tiba di rumah sakit, Sean tidak menemui keberadaan Humaira. Dia bertanya pada petugas di sana, hanya saja mereka bilang tidak ada pasien dengan nama Humaira. Sean tidak akan putus asa. Dia akan mencari Humaira sampai ketemu.
Pagi itu, Athar belum juga mendapat informasi tentang kebebasan Zamrud. Dia rasa Sean belum juga membebaskannya. "Sepertinya dia ingin bermain-main denganku." ucapnya. Athar meminta anak buahnya untuk menyiapkan pesawat pribadinya. Jika sampai siang nanti Sean belum juga membebaskan Zamrud, maka ia akan membawa Humaira ke London bersamanya. Siang itu, seorang cleaning servis datang untuk membersihkan kamar Athar. Dia melihat keberadaan Humaira di sana. Athar terkejut melihat ada seorang perempuan di kamarnya.
"Siapa kau?" tanya Athar.
"Aku pembersih kamar hotel, tuan."
Saat tahu gadis itu hanya seorang cleaning service, Athar langsung mengabaikannya. Ia pergi untuk menghubungi seseorang. Gadis itu adalah gadis yang pernah Humaira temui di rumah sakit. Ketika itu dia sedang membawa berobat ibunya, hanya saja ia tidak punya cukup uang. Dengan kebaikan hati Humaira, ia memberikan pengobatan untuk ibu dari gadis itu secara gratis. Saat sedang membersihkan kamar, gadis itu mendengar Athar yang sedang bebricara di telepon.
"Apa pesawatnya sudah tiba? Baiklah, aku akan segera membawa Humaira kesana. Sepertinya Sean menganggap remeh permintaanku itu."
Saat sedang mendengarkan percakapan mereka, gadis itu dikejutkan dengan kemunculan seseorang dari belakang.
"Sedang apa kau berdiri di sini? Apa jangan-jangan kau ini menguping ya?"
"Kau ini salah paham, aku berdiri di sini karena ingin memberitahu tuan muda jika tugasku sudah selesai."
"Baiklah, kau bisa pergi sekarang juga."
Saat di luar, gadis itu mencari cara untuk bisa menghubungi Sean. Hanya saja ia tidak memiliki nomor ponselnya. Gadis itu mencari cara agar bisa masuk kembali ke kamar hotel itu dan mengambil ponsel milik Athar. Saat akan pergi, Athar menerima telepon dari seseorang. Ia mendapat kabar jika paketnya sudah datang. Seseorang sudah ada di bawah untuk mengantar paket itu. Athar langsung pergi menemuinya. Karena sangat terburu-buru, Athar lupa mengunci kamar hotelnya. Gadis itu langsung masuk dan mencari ponsel Athar. Di sana tidak ada siapapun. Gadis itu mencoba membangunkan Humaira, hanya saja ia masih lelap tertidur. Mendengar suara langkah kaki, gadis itu langsung bersembunyi di dalam kamar mandi. Dia sangat takut jika keberadaannya itu diketahui Athar. Tidak lama anak buah Athar datang. "Mobil sudah siap tuan, kita bisa berangkat sekarang juga." ucapnya.
Athar menggendong Humaira menuju mobil. Gadis itu semakin panik. Dia tidak bisa melakukan apapun untuk membantu Humaira. Berselang beberapa menit, Sean bersama anak buahnya datang ke hotel tempat Athar menginap. Saat mereka sedang memeriksa semua kamar hotel, tiba-tiba saja Sean tidak sengaja menabrak seorang gadis.
"Maaf aku sedang terburu-buru," ucap Sean.
"Kau tuan Sean bukan?" tanya gadis itu.
__ADS_1
"Ya, ada apa?"
Gadis itu langsung memberitahu Sean jika Humaira baru saja dibawa pergi oleh seorang pria.
"Apa kau tahu kemana pria itu membawa Humaira?"
"Pria itu pergi menuju bandara. Aku dengar dia akan membawa Humaira ke London bersamanya."
Sean bersama anak buahnya langsung pergi ke bandara. Sean harus lebih dulu tiba di sana. Jalanan siang itu terlihat sangat lancar. Beberapa jam kemudian akhirnya Athar tiba di bandara. Saat turun dari mobil, Athar melihat Sean yang sedang berdiri di hadapannya. Bukan hanya itu, anak buah Sean sudah mengepung tempat itu. Athar dan anak buahnya tidak bisa melakukan apapun. Jumlah mereka kalah dari Sean dan anak buahnya. Sean melihat keberadaan Humaira di dalam mobil. Sean terlihat sangat marah. Dia menghajar Athar habis-habisan sampai ia babak belur.
"Kau ingin melihat kebebasan Zamrud bukan?" tanya Sean.
Sean memperlihatkan keadaan Zamrud hari ini. Sudah ada orang yang siap untuk menembaknya. Athar hanya bisa menyaksikan semua itu. Dalam video rekaman itu, Zamrud meminta tolong pada Athar untuk membebaskannya.
"Aku akan membebaskan dia seperti apa yang kau minta." ucap Sean.
Sean meminta anak buahnya untuk membebaskan Zamrud. Bukan kebebasan yang Athar lihat, melainkan sebuah tembakan yang diarahkan tepat di kepala Zamrud.
"Kau bilang kau akan membebaskannya, tapi kenapa kau malah membunuhnya?" ucap Athar penuh amarah.
"Aku sudah membebaskan orang itu dari beban hidupnya. Biarkan dia tenang di tempat barunya sekarang."
"Kenapa Sean harus membawa gadis itu kembali kesini?" celetuk Ulya, selaku bibi dari Sean.
Setelah membawa Humaira ke kamar, Sean menemui semua orang di bawah. Dia memberitahu mereka jika mulai hari ini Humaira akan tinggal di rumahnya.
"Kenapa kau tidak membawa dia ke rumah sakit, nak? Di sana akan ada perawat yang menjaganya." ucap Nasreen.
"Kau benar kakak, lagi pula rumah ini bukan hotel ataupun penginapan." sambung Ulya.
"Siapapun yang merasa keberatan kalian bisa angkat kaki dari rumah ini." ucap Sean.
Semua tidak bisa melakukan apapun, kecuali mengikuti peraturan Sean.
"Sean, kapan kau kembali?" tanya Azizah yang muncul dari belakang.
__ADS_1
"Baru saja, nek."
Sean mengajak neneknya menemui Humaira di kamar. Azizah sangat sedih melihat kondisi Humaira. "Humaira akan tinggal disini nek, aku sendiri yang akan merawatnya." ucap Sean.
***
Saat tengah malam, Humaira mulai membuka matanya. Sementara itu, Sean sedang mengerjakan tugas kantor di sofa yang tidak jauh dari tempat tidur Humaira.
"Sean..." lirih Humaira pelan.
"Humaira?"
Humaira langsung memeluk Sean erat.
"Syukurlah akhirnya kau sudah sadar." ucap Sean.
Humaira belum juga melepas pelukan itu. Dia begitu takut jika terjadi sesuatu buruk pada Sean. Sementara itu, sejak tadi Azizah memperhatikan mereka di balik pintu. Dia ikut senang karena Humaira sudah sadarkan diri. Azizah tidak bisa terus menerus menyembunyikan kebenaran itu dari Humaira. Dengan berjalannya waktu pasti suatu saat kebenaran itu akan terungkap juga. Humaira melihat neneknya yang sedang berdiri di luar.
"Nenek, masuklah!" ucap Humaira.
"Aku sangat khawatir saat mendengar kau kritis, nak. Untung saja kau sekarang ini baik-baik saja." Azizah memeluk Humaira erat. Ia tidak bisa menahan air matanya untuk semua kebenaran yang ada. Melihat itu, Sean tahu apa yang neneknya rasakan terhadap Humaira. Saat akan pergi, Azizah meminta Sean untuk datang ke kamarnya. Ada sesuatu yang ingin ia bicarakan padanya. Setelah Humaira tidur, Sean menemui Azizah di kamarnya.
"Ada apa nek? Apa yang ingin kau bicarakan padaku?" tanya Sean.
"Aku memutuskan untuk mengatakan semua kebenarannya pada Humaira besok pagi." ucap Azizah.
"Kenapa nek? Hubunganmu dengan Humaira baik-baik saja bukan? Lalu kenapa kau ingin memberitahu Humaira semua itu?"
"Semakin lama aku menyembunyikan kebenaran ini, rasanya hidupku tidak tenang. Aku terus dihantui rasa bersalah. Dia sangat menyayangiku, nak. Bagaimana bisa aku menghianatinya dengan semua kebohongan ini?"
"Kebohongan apa yang ibu maksud?" tanya Nasreen yang tiba-tiba masuk.
Azizah dan Sean saling menatap. Nasreen curiga jika mereka berdua sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Nasreen terus mendesak ibunya, hanya saja Sean langsung membawa ibunya ke luar.
"Sudah cukup ibu! Jangan buat nenek menjadi tertekan. Tolong pikirkan kesehatannya." ucap Sean.
__ADS_1
"Apa yang sebenarnya kau dan nenekmu sembunyikan dariku?"
"Itu bukan urusanmu." ucap Sean sambil melangkah pergi.