HUMAIRA (Dunia Baru Sang Mafia)

HUMAIRA (Dunia Baru Sang Mafia)
MENGUNGKAP KEBENARAN


__ADS_3

Pagi itu, seperti biasa Humaira pergi ke kediaman Jeevan untuk menemui Azizah. Di sana dia bertemu kembali dengan Sean. Mereka terlihat diam satu sama lain. Zura yang melihat kedatangan Humaira pergi untuk menghampirinya.


"Kakak, apa kau baik-baik saja? Sejak tadi malam aku menghubungi ponselmu, tapi kau tidak mengangkatnya." ucap Zura sambil memeluk Humaira.


"Aku baik-baik saja, kenapa kau bertanya seperti itu?" tanya Humaira.


Zura menceritakan jika dia tidak sengaja mendengar semua pembicaraannya dengan Hakim tadi malam. Dia tidak percaya jika Hakim seorang pria yang seperti itu. Zura mencoba untuk menguatkan hati Humaira. Dia meyakinkan Humaira jika semua akan kembali membaik setelah kejadian itu. Dia yakin jika Hakim akan selalu memilih Humaira dan memperjuangkan cintanya itu. Dia tidak mungkin begitu saja menikahi perempuan yang sama sekali tidak dikenalnya. Humaira sangat berterimakasih dengan dukungan yang Hana berikan untuknya. Tapi sayang, Humaira sudah mengakhiri semua hubungan itu. Dia dan Hakim tidak ada lagi hubungan apa-apa. Dalam waktu dekat ini Humaira akan kembali ke Maroko bersama sang ayah untuk menjalani kehidupan barunya. Sekarang ini Hakim hanyalah masa lalunya. Setelah perbincangan itu selesai, Humaira meminta Zura untuk tidak membahas itu lagi terutama di hadapan neneknya.


"Apa yang sedang kalian bicarakan? Kelihatannya sangat rahasia," ucap Ulya yang baru datang.


"Apa yang kami bicarakan tidak ada hubungannya denganmu, bi. Jadi tolong untuk tidak ikut campur dalam masalah orang lain." ucap Zura sambil melangkah ke meja makan.


"Ckckck... berani sekali dia bicara seperti itu padaku. Memangnya apa salahku? Aku kan hanya bertanya saja..." ucap Ulya heran.


Setelah selesai mengurus semua keperluan Azizah, Humaira pergi ke rumah sakit. Dia memiliki jadwal praktek hari ini. Tiba di sana, Humaira bertemu dengan Hediye bersama putrinya, Ayana.


"Bibi? Sedang apa kau disini?" tanya Humaira.


Hediye terlihat sangat khawatir dengan kondisi putri kecilnya. Dia memberitahu Humaira jika Sofia demam tinggi. Sudah dua hari ini demamnya tidak turun. Hediye lebih sedih lagi ketika putrinya itu terus memanggil nama ayahnya. Dia begitu merindukan sang ayah. Humaira meminta Hediye untuk tenang. Tidak lama dokter yang menangani Sofia keluar. Dia memberitahu Hediye jika putrinya terkena gejala tifus. Dia harus dirawat di rumah sakit sampai kondisinya benar-benar pulih. Dokter meminta Hediye untuk melakukan pembayaran terlebih dahulu di bagian administrasi. Saat Hediye pergi, dia meminta Ayana untuk menemani adiknya di dalam. Saat menemui bagian administrasi, Hediye meminta keringanan untuk pembayarannya. Dia memberikan separuh uang dan berjanji akan membayar kekurangannya secepatnya. Dengan ramah petugas administrasi itu meminta maaf pada Hediye karena biaya rumah sakit itu tidak bisa dicicil, biaya harus sepenuhnya di bayar saat itu juga. Jika tidak maka perawatan akan terpaksa dihentikan. Saat melihat biaya rumah sakit itu, Hediye sangat terkejut karena jumlahnya yang tidak sedikit. Hediye terlihat sangat bingung.


"Kapan terakhir pembayarannya?" tanya Hediye pada petugas itu.


"Satu hari nyonya," jawab petugas itu.


Hediye menemui putrinya di ruang rawat inap.


"Ada apa ibu? Kenapa wajahmu terlihat sedih?" tanya Ayana.


"Ibu tidak apa-apa, sayang." jawab Hediye.


Selesai praktek, Humaira pergi menemui Hediye sekaligus membawa makanan untuknya dan juga Ayana. Saat memberikan makanan itu, Humaira melihat surat administrasi yang tergeletak di sofa. Saat melihat jumlahnya dia yakin jika Hediye tidak mampu untuk membayarnya.


"Itu uang yang harus aku bayar, nak. Jika tidak, perawatan Sofia terpaksa harus dihentikan." ucap Hediye.


Humaira langsung meletakkan kembali kertas itu. Saat Hediye dan Ayana sedang makan, Humaira pergi ke bagian administrasi secara diam-diam. Dia memberitahu petugas administrasi itu jika pasien yang bernama Sofia untuk semua biaya rumah sakitnya Humaira yang akan membayarnya. Dia meminta petugas itu untuk merahasiakannya dari Hediye.

__ADS_1


\*\*\*


Pagi itu, Sean terlihat sangat santai dari biasanya. Sementara Zura, dia begitu sibuk menyiapkan berkas untuk meeting hari ini. Mobil Edgar sudah terparkir di depan rumahnya. Zura langsung berpamitan pada semua orang.


"Apa kau tidak bekerja?" tanya Azizah pada Sean.


"Tidak nek, aku sedang mengambil cuti selama satu hari." jawab Sean.


Tidak lama Ulya dan Saffiya datang dan duduk bersama mereka. Saffiya memberitahu semua orang jika dia masuk dalam kategori aktris wanita berbakat tahun ini. Semua sangat senang mendengarnya. Saffiya meminta Sean untuk menemaninya ke acara award nanti malam. Di sana akan banyak orang-orang penting lainnya. Tidak enak jika seorang aktris berbakat sepertinya datang seorang diri. Sementara semua orang tahu jika Saffiya adalah istri dari Sean Barra Jeevan. Mereka akan menjadi topik penting dalam acara itu.


"Sean pasti akan datang untuk menemanimu, lagi pula hari ini dia sedang libur bekerja." ucap Nasreen.


"Tidak ibu, aku masih harus menyelesaikan pekerjaan lain." ucap Sean.


Saffiya terlihat sangat sedih. Jika Sean tidak akan datang bersamanya, maka dia juga tidak akan datang ke acara itu. Semua orang akan bertanya padanya akan keberadaan Sean. Semua orang merasa heran dengan sikap dingin Sean pada Saffiya belakang ini. Mereka tahu sesibuk apapun Sean bekerja, dia akan meninggalkan pekerjaannya itu hanya demi Saffiya, tapi tidak hari ini. Sean terlihat begitu acuh pada Saffiya. Di satu sisi, Ulya mulai merasa ada yang tidak beres dengan sikap Sean. Dia sudah bisa menebak jika itu semua karena kehadiran orang ketiga dalam hubungan rumah tangganya.


"Apa orang ketiga itu adalah Humaira?" ucap Ulya dalam hati. "Mmm... jika memang benar Sean memiliki perasaan pada gadis itu, sepertinya tidak lama lagi akan terjadi perang dunia ketiga."


Nasreen melihat kebahagiaan yang ada di wajah Saffiya berubah menjadi kesedihan. Dia tahu jika acara award ini sangat penting baginya apalagi setelah lama dia break dari dunia perfilman.


"Jika Sean tidak bisa datang, biarkan ibu yang akan menemanimu ke acara itu." ucap Nasreen.


Di satu sisi, Humaira baru saja tiba di hotel. Dia membawa koper yang sudah berisi uang 100 juta. Saat akan pergi, Humaira bertemu dengan ayahnya. Walid memberitahu Humaira jika dia baru saja mendapat informasi jika putrinya itu telah melakukan penarikan uang ke bank dalam jumlah besar.


"Untuk apa semua uang yang ada di dalam koper itu?" tanya Walid.


"Aku harus segera pergi untuk menyelesaikan sebuah urusan ayah," ucap Humaira bergegas pergi.


Kurang lebih tiga puluh menit dalam perjalanan, akhirnya Humaira sampai di kediaman Jeevan. Pelayan memberitahu semua orang akan kedatangan Humaira di rumahnya. Melihat semua orang yang sedang berkumpul, Humaira merasa itu adalah waktu yang tepat mengungkap kebohongan Sean di hadapan semua orang.


Melihat kedatangan Humaira, Azizah menyambutnya ramah. Dia membawa Humaira ke ruang tengah. Semua dibuat penasaran dengan isi koper yang dibawa Humaira.


"Ada apa kau datang kemari, nak?" tanya Azizah.


Humaira menatap Sean tajam. "Apa tidak ada yang ingin kau katakan, tuan Sean?" ucapnya.

__ADS_1


Semua dibuat bingung dengan perkataan Humaira.


"Jangan berbelit-belit ketika bicara, katakan saja apa tujuanmu datang ke rumah ini!" ucap Saffiya.


Humaira memberitahu semua orang jika pelaku sebenarnya dari pembunuhan yang terjadi di hotel adalah Sean. Semua orang tidak percaya dengan perkataan Humaira. Jika memang Sean pelakunya, tidak mungkin ada orang yang mengaku-ngaku sebagai pelaku pembunuhnya. Tidak ada orang yang ingin dipenjara karena suatu perbuat yang tidak pernah ia lakukan.


"Jangan bicara sembarangan!" ucap Saffiya sambil menunjuk ke wajah Humaira. "Jika memang itu benar, apa kau punya bukti?"


"Aku sendiri buktinya!" tegas Humaira. "Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri saat Sean menembak pria itu."


Azizah merasa tidak percaya. Sean terlihat diam saat Azizah meminta dia untuk menjelaskan semuanya.


"Lalu siapa pria yang dipenjara itu?" tanya Azizah.


"Dia adalah Daud, orang yang diminta Sean untuk mengakui semua kesalahannya."


"Untuk apa Daud melakukan semua itu?" tanya Ulya.


"Karena dia takut pada Sean!" Dia takut Sean akan menyakiti keluarganya jika permintaannya itu tidak diikuti.


Humaira memberitahu siapa Daud sebenarnya. Dia rela melakukan semua itu hanya supaya semua hutang-hutangnya lunas dan dia bisa hidup tenang bersama anak dan istrinya. Humaira memohon pada Azizah untuk berpihak pada kebenaran. Dia ingin Sean mencabut semua laporannya dan mengakui semua perbuatannya di kantor polisi.


"Tidak nak, ibu tidak ingin kau dipenjara." ucap Nasreen memohon.


"Asal kalian semua tahu, anak dari pria yang tidak bersalah itu sedang ada di rumah sakit. Dia demam tinggi dan terus menyebut nama ayahnya. Apa kalian pernah merasakan bagaimana rindu seorang anak terhadap ayahnya? Seperti itulah yang dirasakan gadis 6 tahun itu sekarang!" ucap Humaira.


Sebelum pergi, Humaira memberi koper itu pada Sean. Saat dilihat isinya uang dengan jumlah yang banyak.


"Untuk apa semua uang ini?" tanya Ulya.


"Semua uang ini untuk melunasi hutang Daud pada keponakamu, nyonya Ulya." ucap Humaira. "Untukmu Sean, kau tidak perlu lagi menyuruh anak buahmu untuk menagih hutang pada Daud ataupun istrinya. Jika kau seorang pemberani, maka kau akan mengakui semuanya di hadapan polisi. Jika tidak, itu berarti kau tidak lebih dari seorang pecundang!"


Nasreen meminta Humaira untuk segera pergi dari rumahnya. Bukan hanya itu, dia juga akan memberhentikan Humaira sebagai dokter pribadi ibunya. Dia tidak ingin melihat Humaira kembali ke rumahnya setelah apa yang telah dia lakukan pada Sean. Dengan senang hati Humaira menerima semua itu. Dia menghampiri Azizah dan berterimakasih padanya untuk segala kebaikan yang ia berikan selama ini. Selama menjadi dokter pribadinya, Humaira selalu mendapat perlakuan istimewa darinya. Dia tidak akan melupakan semua kebaikan itu. Setelah semua masalah selesai, Humaira berpamitan pada Azizah karena mungkin besok dia akan kembali ke Maroko bersama ayahnya. Azizah memeluk erat Humaira. Dia meminta padanya untuk tetap menjadi dokter pribadinya.


"Sudahlah ibu, tidak perlu kau halangi kepergiannya. Aku pikir dia itu seorang perempuan yang baik, tapi ternyata semua dugaan ku itu salah besar." ucap Nasreen.

__ADS_1


"Aku tidak perduli kalian menilaiku seperti apa, yang aku inginkan sekarang hanyalah keadilan. Hanya keadilan!" tegas Humaira. "Seberapa kuat kalian membela kebohongan, tapi pada akhirnya kebenaran lah yang selalu menang."


Sebelum Humaira pergi, dia memperingatkan semua orang jika dalam waktu kurang dari 24 jam ini Sean belum juga mencabut laporannya terhadap Daud, maka dia sendiri yang akan mengahadap polisi dengan membawa bukti berupa rekaman CCTV hotel. Polisi akan tahu siapa pelaku sebenarnya. Semua bukti sudah ada padanya, tinggal giliran Sean untuk memilihnya.


__ADS_2