HUMAIRA (Dunia Baru Sang Mafia)

HUMAIRA (Dunia Baru Sang Mafia)
TRANSAKSI DI ATAS KAPAL


__ADS_3

Saat di dalam restoran Humaira terlihat melamun.


"Humaira?" ucap Athar menyadarkannya.


"Ya, kenapa?" jawab Humaira.


"Apa kau tidak suka tempat ini?"


"Tentu saja aku suka."


Saat akan memesan makanannya, Humaira pergi ke toilet sebentar. Ia tidak menyangka akan bertemu Sean di restoran itu. Saat keluar dari toilet, Humaira dikejutkan dengan seseorang yang tiba-tiba saja menarik tangannya.


"Sean? Untuk apa kau disini? Apa kau diam-diam mengikutiku?"


"Kenapa jika aku mengikutimu? Apa kau merasa keberatan?"


Saat sedang memegang tangan Humaira Sean melihat sebuah gelang yang sama dengan miliknya. Sean tidak menyangka jika gelang satunya lagi ternyata dimiliki oleh Humaira. Itu berarti Humaira adalah seseorang yang akan menjadi pendamping hidupnya.


"Darimana kau memiliki gelang seperti ini?" tanya Sean.


"Itu bukan urusanmu."


"Tentu saja aku ingin tahu, karena aku juga memiliki gelang yang sama."


Sean memberitahu Humaira akan gelang itu. Dia mendapatkannya dari seorang nenek tua saat berada di Maroko. Humaira merasa aneh kenapa gelang itu bisa berada di tangan Sean. Tidak lama Athar menghubungi ponsel Humaira. Saat akan menjawabnya Sean langsung merebut ponsel itu dan mematikannya.


"Siapa pria itu?" tanya Sean.


"Kau tidak perlu tahu siapa dia. Kenapa kau ini selalu saja mencampuri urusan pribadiku?"


"Karena ini!" Sean menunjukkan gelang miliknya. Ia yakin jika Humaira adalah masa depannya. Semua tidak bisa dipungkiri karena Sean yakin Humaira sendiri tahu apa yang dikatakan nenek tua itu akan gelangnya. Sean memberitahu Humaira jika ia tidak akan membiarkan siapa pun mendekatinya. Gelang itu membuat Humaira tidak bisa lepas dari Sean. Itu kenapa selama ini mereka selalu saja dipertemukan. Humaira langsung pergi meninggalkan Sean. Dia merasa tidak enak karena sudah membuat Atharva menunggu lama.


"Kenapa kau lama sekali?" tanya Athar.


"Maaf, tadi aku harus mengantri karena penuh."


Tidak lama pelayan datang dengan membawa jenis hidangan. Athar merasa heran mungkin saja semua pesanan itu di pesan oleh orang lain karena dia belum sempat memesan makanannya. Saat makanan itu dihidangkan Athar melihat sebagiannya adalah makanan favoritnya.


"Siapa yang memesan semua ini?" tanya Athar bingung.


"Aku yang memesannya," jawab Humaira.


"Kapan kau memesannya?"


"Sebelum tadi aku ke toilet."


Humaira memberitahu Athar jika ia sempat mencaritahu akan dirinya termasuk makanan favoritnya. Tanpa bertanya lagi Humaira langsung memesan semua makanan itu. Athar mulai mencicipi makanannya. Sementara Humaira hanya melihat Athar yang makan dengan lahap. Sepertinya memang dia sangat lapar.


"Kau tidak makan?" tanya Athar.


"Tidak, kau saja." jawab Humaira.


Selesai makan, Athar meminta nomor ponsel pada Humaira. Saat akan memberikannya Humaira ingat jika tadi ponselnya diambil oleh Sean.


"Dimana ponselmu?" tanya Athar.

__ADS_1


"Mmm... Aku lupa jika ponselku tertinggal di rumah sakit tadi." ucap Humaira mencari alasan.


Selesai makan, Humaira membawa Athar ke hotel yang sudah ia pesan untuknya. Dari seberang jalan terlihat Sean yang sedang memperhatikan mereka. Tidak lama mereka berjalan masuk.


"Kau akan menginap di kamar VVIP 190. Ini kunci kamarnya!"


"Kau tidak ikut?"


"Kemana?"


"Maksudku apa kau tidak mengantarku ke kamar?"


"Kau ini bukan lagi anak kecil, kau bisa pergi kesana sendiri."


"Baiklah, terima kasih untuk hari ini. Aku akan mengirim pesan padamu kapan kita bisa bicara."


"Baiklah, aku tunggu."


\*\*\*


Sean melihat Humaira yang baru saja keluar dari hotel. Ia terlihat sedang menunggu taksi. Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 malam. Humaira tidak melihat satupun taksi yang melintas. Dia merasa gelisah karena bibinya pasti sedang menunggunya di rumah. Ia tidak dapat memberi kabar karena ponselnya berada di tangan Sean. Seketika sebuah mobil berhenti di depannya. Saat membuka kaca mobilnya ternyata itu Sean.


"Masuklah! Aku akan mengantarmu pulang."


"Tidak perlu, aku akan menunggu taksi saja."


Sean keluar dari mobilnya. Ia memaksa Humaira untuk masuk ke dalam mobil. Saat akan mencoba pergi, Sean mengunci pintu mobilnya.


"Buka pintu mobilnya Sean!" pinta Humaira.


Deg... Deg... Deg...


Kedua detak jantung mereka berdebar-debar. Humaira menatap Sean sangat dalam. Tiba-tiba saja suara ponsel berbunyi. "Bibimu menelepon. Jawablah dulu!" ucap Sean.


Humaira mendengar suara bibinya yang sedikit cemas. Dia sangat mengkhawatirkannya karena Humaira tidak pernah pulang semalam itu. Selesai menelepon Sean mengambil kembali ponsel itu.


"Berikan padaku!" pinta Humaira.


"Aku akan mengembalikannya setelah kau memberitahukan aku siapa pria asing itu."


Humaira memberitahu Sean jika Athar adalah putra dari tuan Syamsir. Ia datang untuk menggantikan sang ayah yang sedang sakit. Ia akan mengurus akan tanah itu. Humaira berharap setelah bertemu dan berbincang dengannya nanti, Athar bersedia memberikan tanah itu untuk dokter Nilam.


"Itu berarti kau dengan dia akan sering bertemu?" tanya Sean.


"Aku bertemu dengannya atau tidak, itu bukan urusanmu."


"Baiklah, jika begitu aku akan mengembalikan ponselmu setelah dia kembali ke London."


Tidak lama mobil berhenti tepat di depan rumah Humaira. Sean turun untuk membukakan pintunya. Humaira berjalan masuk dengan wajah yang sedikit kesal. Di dalam sudah ada Hediye yang sedang menunggunya.


"Akhirnya kau pulang sayang, aku sangat mengkhawatirkanmu."


"Maaf bibi karena aku lupa memberitahumu."


"Tidak apa-apa, pergilah ke kamarmu dan istirahat!"

__ADS_1


"Baiklah, aku pergi dulu..."


\*\*\*


Malam itu Humaira tidak bisa tidur. Ia terus memikirkan kejadian tadi siang. Dia masih belum percaya jika Sean memiliki gelang yang sama dengannya. Sean bahkan sudah mengungkapkan perasaannya. Sikapnya tadi menunjukkan jika ia tidak suka jika Humaira dekat dengan orang lain. Humaira tidak tahu harus berkomunikasi dengan Athar dengan apa. Keesokan paginya, seperti biasa Humaira pergi untuk menemui Azizah. Di sana ia berpapasan dengan Sean. Sikap Humaira menunjukkan jika ia masih merasa kesal dengannya. Dia pergi begitu saja tanpa menyapanya. Melihat kedatangan Humaira, Azizah merasa sangat senang. Ia melihat Sean yang sedang berdiri di luar pintu kamarnya.


"Aku tidak akan membiarkanmu bersedih nek," ucap Sean dalam hati.


Saat sedang sarapan, Sean mendapat kabar dari anak buahnya. Zamrud yang selama ini ia cari akhirnya dapat ditemukan. Zamrud adalah bos gudangnya narkoba. Siang ini ia akan melakukan transaksi besar dengan seseorang di atas kapal. Sean menyiapkan semua anak buahnya untuk menangkap Zamrud. Sementara itu, Humaira terlihat sedang membaca buku di teras rumah. Sean datang menghampirinya. Dia memberikan sebuah ponsel baru untuknya. "Ini ponsel baru untukmu! Aku sudah menyalin semua nomor dan berkas penting yang ada dalam ponsel lama. Kau bisa menggunakannya untuk bekerja."


Humaira menerima ponsel itu. Semua nomor memang ada dalam ponsel itu, hanya saja Humaira tidak dapat menemukan kontak Athar.


"Dimana nomor Atharva? Kenapa tidak ada dalam kontak ini?"


"Kau tidak perlu menyimpan nomornya, jika ada pesan darinya, aku akan menyampaikannya padamu."


Humaira merasa tidak percaya jika Sean akan menyampaikan pesan Athar padanya. Tapi bagaimana lagi, Humaira tidak bisa berbuat apa-apa. Kini semua pergerakannya seakan diawasi oleh Sean. Sementara itu, di hotel Athar baru saja selesai sarapan. Ia terlihat diam-diam menghubungi seseorang.


"Baiklah, aku akan menemuimu siang nanti di atas kapal." ucapnya.


Tidak lama Athar menutup teleponnya. Saat akan berangkat ke kantor Sean mendapat telepon dari ponsel Humaira. Saat dilihat ternyata panggilan itu dari Atharva. Sean terpaksa mengangkatnya karena merasa penasaran dengan apa yang akan Athar katakan.


"Halo!" ucap Sean.


Atharva terkejut saat mengetahui jika yang mengangkat teleponnya adalah seorang pria.


"Siapa kau? Kenapa ponsel Humaira berada di tanganmu?" tanya Athar.


"Tidak perlu kau tahu siapa aku, ada apa kau menghubungi Humaira?"


Athar merasa sangat marah. Ia langsung menutup teleponnya. Athar pergi ke rumah sakit untuk menemui Humaira. Tiba di sana, Athar bertemu dengan dokter Nilam.


"Atharva? Kapan kau datang?" tanya Nilam.


"Apa kabarmu dokter?"


"Aku baik, Athar. Bagaimana kondisi ayahmu sekarang ini?"


"Dia masih dirawat di rumah sakit. Kondisinya belum pulih betul. Ia menyampaikan permintaan maafnya padamu karena tidak bisa datang."


"Tidak apa-apa, lagi pula sudah ada kau disini."


Athar menanyakan soal Humaira pada dokter Nilam. Sangat disayangkan karena Humaira akan datang siang nanti. Athar merasa sangat bingung. Ia tidak bisa menemui Humaira siang nanti, karena sudah memiliki janji dengan seseorang.


"Maaf dokter, apa Humaira sudah menikah?"


"Belum, dia masih sendiri Athar. Kenapa kau bertanya seperti itu?"


"Aku baru saja menghubungi ponselnya, tapi bukan Humaira yang menjawabnya melainkan seorang pria."


Nilam yakin jika pria yang dimaksud Athar adalah Sean. Saat akan memberitahu tentang hubungan Humaira dengan Sean, dokter Nilam menerima telepon. Ia pergi untuk menjawabnya. Sementara Atharva, ia langsung pergi karena tidak mau membuang-buang waktunya di rumah sakit. Tiba di hotel, Athar sudah kedatangan seseorang. Ia adalah salah satu orang kepercayaannya yang sengaja datang ke Qatar menemuinya.


"Apa kau sudah membawa uangnya?" tanya Athar.


"Sudah tuan, ini dia!" Orang itu menunjukkan uang dalam koper dalam jumlah yang banyak. Athar meminta orang itu untuk ikut bersamanya siang nanti.

__ADS_1


__ADS_2