
Jam menunjukkan pukul 02.00 malam. Humaira terbangun dan melihat Sean yang tengah tertidur. Secara diam-diam Humaira mengemas semua barang miliknya. Setelah selesai, Humaira pergi meninggalkan Sean. Keesokan paginya, saat Sean terbangun ia tidak mendapati Humaira berada di pangkuannya. Dia pergi untuk mencarinya ke semua ruangan di rumah itu. Saat kembali ia mendapati sebuah surat di atas tempat tidur. Sean membaca surat itu.
"Sean... maaf karena aku harus pergi tanpa memberitahumu sebelumnya. Aku bukan pergi karena kebenaran itu, hanya saja aku ingin menjalani kehidupan baruku tanpa harus lagi melihat masa lalu. Jika aku terus ada bersamamu, dan hidup di tengah-tengah keluarga besar Jeevan, rasanya masa lalu itu akan selalu datang menghampiri. Aku sudah memaafkan kalian semua, terutama nenek. Tolong katakan padanya jika aku sangat menyayanginya. Untuk Zura, semoga dia sukses dalam karirnya. Untuk kau sendiri, tidak bisa aku pungkiri jika aku sangat mencintaimu. Kau datang setelah dia. Terima kasih sudah membuatku nyaman saat ada di sampingmu. Aku akan menjalani kehidupan baruku, begitupun dengan dirimu. Kau harus melupakan aku. Aku senang bisa bersamamu di saat-saat terakhirku. Terima kasih sudah menjadi seorang Sean untuk Humaira."
Setelah membaca surat itu, Sean merasa sangat hancur. Dia bergegas menuju bandara. Dia berharap Humaira akan ada di sana. Sesampainya di sana, Sean merasa sangat putus asa. Ia melihat jadwal penerbangan pagi itu. Di sana tertera jadwal penerbangan menuju Fransisco, London, dan New Zealand. Sean bingung kemana tujuan Humaira selanjutnya.
Sementara itu, di rumah sakit Azizah sudah bangun. Ia terus menanyakan Humaira pada Zura. Tidak lama Sean datang dengan ekspresi wajah yang sangat sedih.
"Kau kenapa kak? Bagaimana? Apa kau sudah menemukan Humaira?" tanya Zura.
Sean terlihat sangat sedih. Ia memberikan surat yang sudah Humaira tulis kepada neneknya. Azizah meminta Zura untuk membacanya. Mendengar hal itu, kini hati Azizah dan Zura pun ikut bersedih.
"Kemana dia pergi seorang diri?" tanya Azizah.
Sean terdiam tidak tahu harus menjawab apa. Zura melihat dari raut wajah kakaknya jika ia begitu terluka dengan kepergian Humaira. Malam itu, Azizah sudah tiba lagi di rumah. Semua senang melihat kedatangan Azizah kembali. Sean berjalan menuju kamarnya tanpa menghiraukan siapapun.
"Ada apa dengan kakakmu?" tanya Nasreen pada Zura.
"Ibu tanya saja langsung padanya." jawab Zura.
Sean pergi untuk membersihkan dirinya. Ia terlihat begitu marah. "Kau salah besar karena sudah pergi begitu saja, Humaira. Kau pergi dengan membawa hati juga jiwaku ini. Aku berjanji akan menemukanmu. Tidak seharusnya kau meninggalkan seorang pria yang sangat mencintaimu. Kau harus membayar semuanya, seperti yang kau katakan Sean untuk Humaira, begitupun Humaira untuk Sean. Tidak ada lagi cinta dalam hidupku ini, karena cinta itu sendiri sudah bilang bersama kepergianmu." ucapnya.
***
Waktu terus berjalan. Sean akhirnya tahu jika Saffiya lah yang sudah menyuruh orang untuk membunuh ayah Humaira dengan mengatasnamakan dirinya. Setiap hari Sean selalu sibuk dengan pekerjaannya. Ia sering sekali pergi ke luar kota untuk suatu urusan. Rumah besar Jeevan kini dipegang kendali oleh Nasreen dan suaminya. Keadaan Azizah yang sering sakit-sakitan membuat tubuhnya semakin melemah. Belakangan ini Sean sudah banyak berubah. Ia menjadi pribadi yang dingin dan tidak banyak bicara. Ia tak lagi berbincang dengan neneknya karena alasan sibuk. Sean pulang hanya untuk mengganti pakaian, lalu pergi lagi. Dia seakan hidup seorang diri. Semua berubah setelah Humaira pergi meninggalkannya. Bulan demi bulan, kini telah sampai di saat bahagia keluarga besar Jeevan dimana Zura dan Edgar akan segera melangsungkan pernikahan. Sean sangat senang akhirnya adik kesayangannya itu mendapat orang yang tepat untuk menjadi suaminya.
"Kapan kau akan menikah lagi Sean?" tanya Edgar sedikit meledek.
"Dia hanya akan menikah dengan perempuan pilihannya." sambung Zura.
__ADS_1
Sudah banyak perempuan yang Nasreen siapkan uang putranya, dia hanya tinggal memilihnya. Semua berasal dari keluarga terpandang dan memiliki karir bagus. Bisa dibilang mereka sepadan dengan Sean. Akan tetapi dari banyaknya perempuan, tidak ada satupun yang memikat hati Sean. Setiap kali Nasreen membuat kencan untuknya, Sean selalu mencari cara untuk membatalkannya. Pernikahan Zura akan berlangsung besok. Semua sibuk mempersiapkannya. Saat sedang di rumah, Nasreen terlihat membawa perempuan dan mengenalkannya pada Sean. Dia meninggalkan mereka berdua supaya saling bicara. Edgar dan Zura memperhatikan Sean sejak tadi. Zura merasa sedikit lucu karena sejak tadi perempuan itu yang terus bicara. Sean hanya menjawab setiap pertanyaan perempuan itu singkat. Zura merasa kasihan dengan perempuan itu. Dia datang menghampirinya.
"Permisi, apa aku bisa ikut duduk bersama kalian?" tanya Zura.
"Duduklah! Kami sedang berbincang satu sama lain."
"Benarkah?" ucap Zura tidak percaya.
Sean pergi ke kamarnya karena merasa tidak tertarik dengan perbincangan yang ada di antara mereka. Sampai saat ini Sean belum tahu dimana keberadaan Humaira. Dia terus memandangi foto Humaira yang ada dalam ponselnya.
"Aku sangat merindukanmu, Ra. Kau dimana? Jangan membuatku diriku gila seperti ini karena terus memikirkan mu."
Tidak lama suara pintu kamar di ketuk. Saat tahu Edgar yang datang, Sean langsung menyuruhnya masuk.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Edgar secara tiba-tiba.
"Bagaimana seseorang baik-baik saja saat dia kehilangan cintanya. Tidak lagi ada warna dalam hidup ini, semua terlihat kelabu. Dia membawa pergi semuanya, termasuk hatiku ini." ucap Sean.
***
Malam itu, Sean terlihat sedang mengemas pakaian miliknya ke dalam koper. Ia harus pergi ke luar kota malam itu juga. Sebelum pergi, ia menemui neneknya untuk berpamitan. Azizah sangat menyayangkan karena Sean tidak bisa hadir di acara besok. Melihat kepergian Sean, Zura langsung berlari menghampirinya.
"Kau akan pergi kemana dengan membawa koper seperti itu?" tanya Zura.
"Aku harus pergi untuk sebuah pekerjaan."
"Kau tidak akan hadir dalam acara bahagiaku kak?"
"Maaf, aku harus pergi. Kau bisa meneleponku saat acaranya telah selesai."
__ADS_1
Zura sangat sedih dicampur rasa kecewa. Ia terlihat memohon pada Sean untuk tidak pergi akan tetapi tidak lama Edgar datang dan membuat Zura mengerti dengan pekerjaan kakaknya. Ia benar-benar harus pergi malam itu juga.
"Kakak..."
"Semoga acaramu besok berjalan dengan lancar, aku akan segera pulang setelah pekerjaanku selesai." Sean akhirnya pergi.
***
Keesokan paginya, saat semua sudah bersiap di bawah Nasreen tidak melihat Sean. Dia pergi ke kamarnya. Nasreen melihat lemari pakaian Sean yang kosong. "Kemana sebenarnya Sean pergi?" ucapnya.
Nasreen turun ke bawah. Ia bertanya keberadaan Sean pada ibunya. Azizah memberitahu Nasreen jika Sean pergi ke luar kota tadi malam. Nasreen tidak percaya mendengarnya. Dia pergi begitu saja tanpa memberitahunya.
"Bagaimana bisa dia pergi di acara penting seperti ini?"
"Tidak ada gunanya kau marah-marah, nak. Putramu itu bukan lagi anak kecil. Biarkan dia menjalani kehidupannya sesuai dengan keinginannya. Jangan terlalu memaksakan kehendak mu padanya."
"Tapi ibu, aku hanya ingin yang terbaik untuk Sean."
"Tidak ada yang terbaik untuk nya sekarang ini, melainkan jika ia menemukan cintanya kembali."
"Bagaimana bisa dia menemukan cinta, satu pun perempuan tidak ada yang ia pilih."
"Perempuan mana yang kau maksud nak?"
"Ibu tahu jika aku sudah memperkenalkan Sean pada wanita yang sepadan dengannya, tapi dia begitu dingin dan seakan menutup diri untuk mengenal mereka."
Azizah tersenyum mendengarnya. Azizah heran kenapa Nasreen tidak pernah memahami perasaan Sean sedikitpun padahal ia adalah ibu kandungnya. Nasreen hanya memikirkan egonya saja tanpa ingin tahu apa yang sebenarnya Sean butuhkan saat ini.
"Kenapa kau tersenyum seperti itu ibu?"
__ADS_1
"Kau masih saja belum mengenal putramu, dia hanya ingin Humaira kembali. Hanya Humaira." ucap Azizah.
Azizah pergi untuk menyambut tamu-tamunya. Tidak lama Edgar melafalkan ijab kobul. Zura dan Edgar akhirnya resmi menjadi seorang suami istri. Hari demi hari berlalu. Setelah dua minggu pernikahan mereka, keluarga besar Jeevan berduka. Azizah meninggal karena penyakitnya yang sudah menyerang ke seluruh tubuh. Semua orang berkumpul termasuk Sean yang harus menyempatkan pulang di sela-sela waktu sibuknya. Semua begitu terpukul dengan meninggalnya Azizah. Sepeninggal Azizah, Edgar dan Zura sepakat untuk pindah ke luar negeri. Mereka akan menjalani kehidupan barunya di Meksiko. Sementara Sean, dia memutuskan untuk membeli rumah di Roma, Italia. Dia akan menjalani kehidupan barunya di sana.