
Pagi itu, Humaira sudah berpamitan pada Yurin untuk menghadiri interview di salah satu rumah sakit. Berhubung Humaira pergi, Yurin pun bersiap untuk pergi ke kediaman Jeevan. Sementara itu, di rumah besar Jeevan sudah terlihat Nasreen dan Emir yang sudah berada di meja makan. Azizah yang baru saja datang duduk dan menunggu pelayan untuk menghidangkan makanannya. Dia memperhatikan sikap semua orang di meja makan. Azizah melihat Emir dan Nasreen yang terus menatap layar ponselnya, sementara Zura dia sudah pergi pagi-pagi sekali karena ada meeting di perusahaannya.
"Bisakah kalian mematikan ponsel saat di meja makan?" ucap Azizah.
Emir dan Nasreen langsung menatap Azizah bersamaan.
"Maaf ibu, banyak sekali pesan penting yang masuk dalam ponselku. Aku harus segera membalas pesan itu," jawab Emir.
"Baiklah, urus saja ponselmu itu!" ucap Azizah sambil pergi meninggalkan meja makan. Emir meminta Nasreen untuk pergi membujuk ibunya. Melihat kedatangan Nasreen di kamarnya, Azizah langsung menyuruhnya keluar. Dia tidak ingin ditemui siapapun. Azizah memberitahu Nasreen jika semua sudah berubah. Tidak ada yang peduli pada Sean selain dirinya dan juga Zura. Sosok Sean seakan telah hilang di rumah ini. Azizah memberitahu Nasreen jika masa hukuman Sean tinggal tiga bulan lagi. Setelah itu semua akan berubah di rumah ini. Rumah ini akan kembali hidup dengan kehadirannya. Dia akan kembali dengan sosok yang berbeda dimana Sean yang dulu dikenal semua orang akan digantikan oleh Sean yang baru. Akan banyak perubahan yang terjadi dalam rumah ini saat dia kembali nanti. Mendengar perkataan Azizah, Nasreen merasa tersinggung. Dia merasa jika selama ini pekerjaan lebih penting dibandingkan dengan putranya sendiri. Selama Sean dipenjara, dia hanya mengunjunginya beberapa kali saja. Selebihnya dia seperti lupa akan putranya itu. Saat menemui Emir di bawah, Nasreen memberitahunya jika dia tidak akan masuk kantor hari ini. Dia akan pergi menemui putranya di kantor polisi.
\*\*\*
Terlihat Humaira yang sudah sampai di rumah sakit. Dia pergi menemui bagian resepsionis.
"Permisi, apa aku bisa bertemu dengan kepala rumah sakit ini?"
"Maaf, apa kau sudah membuat janji dengannya?"
"Ya, aku datang untuk interview."
"Baiklah, kau bisa menunggu terlebih dahulu karena dokter Nilam akan datang satu jam lagi."
Humaira pun duduk di kursi tunggu. Beberapa saat kemudian datang seorang perawat dengan membawa korban kecelakaan. Dia langsung membawa pasien ke ruang operasi. Tiba-tiba saja seorang perawat berlari untuk memanggil dokter. Dia terlihat begitu panik.
"Belum ada dokter yang datang satu pun," ucap perawat pada temannya.
"Lalu bagaimana dengan pasien? Jika kita tidak bertindak cepat, bisa saja pasien kehilangan nyawanya."
Percakapan mereka terdengar oleh Humaira. Saat itu juga Humaira meminta izin pihak rumah sakit untuk melakukan operasi kepada pasien yang mengalami kecelakaan itu. Awalnya pihak rumah sakit menolak karena tidak tahu siapa sebenarnya Humaira. Mereka juga tidak bisa mempekerjakan orang asing begitu saja.
"Apa kau ini seorang dokter? Apa kami bisa percaya pada kemampuan mu untuk melakukan operasi ini?"
"Kalian bisa percaya padaku."
"Kalau begitu ayolah keadaan pasien semakin kritis."
__ADS_1
Humaira pergi untuk mengganti pakaiannya. Dia meminta perawat untuk menyiapkan semuanya. Operasi pun akan segera dimulai.
\*\*\*
Pagi itu Yurin akhirnya tiba di kediaman Jeevan. Dia langsung bersembunyi saat melihat pintu besar itu terbuka. Saat akan masuk, Yurin harus menghadap kamera CCTV terlebih dahulu di dekat pintu masuk. Dia harus menunjukkan wajahnya juga tujuannya datang ke rumah besar itu. Tidak lama Nasreen yang menerima pemberitahuan itu. Dia melihat orang asing dalam kamer CCTV nya itu.
"Siapa orang itu? Untuk apa dia datang kemari?" ucap Nasreen.
Dia mengutus pelayan untuk menemui perempuan itu di pintu masuk. Yurin melihat pintu besar itu mulai terbuka.
"Maaf nyonya, kau mencari siapa?" tanya pelayan.
"Aku ingin menemui nyonya Azizah, apa dia ada di rumah?"
Pelayan langsung memberitahu Nasreen melalui CCTV itu. Nasreen pergi menemui ibunya di kamar. Dia memberitahu Azizah jika ada orang yang ingin menemuinya di luar. Azizah meminta Nasreen untuk pergi meninggalkannya sendiri. Dia sedang tidak ingin diganggu. Nasreen menyuruh pelayan untuk mengusir Yurin. Sebelum CCTV itu di matikan, Yurin memberitahu Nasreen jika dia adalah teman dari mendiang suami Azizah.
"Kenapa kau masih disini?" tanya Azizah.
"Perempuan itu memberitahuku jika dia teman dari suami mu ibu,"
"Siapa kau? Kenapa kau mengaku sebagai teman suamiku?" tanya Azizah.
Yurin tidak ingin terburu-buru, dia menikmati dulu segelas teh yang baru saja di bawa pelayan untuknya.
Tidak lama Nasreen datang dan ikut duduk bersama mereka.
"Siapa kau ini?" tanya Nasreen.
"Apa kita bisa bicara berdua saja nyonya?" pinta Nasreen.
Azizah meminta Nasreen untuk pergi.
"Cepat katakan! Siapa kau sebenarnya?" tanya Azizah.
Yurin tiba-tiba saja menunjukkan ponselnya pada Azizah. "Apa kau memiliki syal seperti ini?"
__ADS_1
"Ya, aku memilikinya. Syal itu hadiah dari suamiku saat dia pergi ke Maroko sepuluh tahun yang lalu."
Yurin meminta Azizah untuk mengembalikan syal itu dengan kotak kayunya. Dia memberitahu Azizah jika sebenarnya syal itu milik istri dari teman baiknya, hanya saja Zayn merebutnya.
"Dari mana kau mengenal suamiku?" tanya Azizah.
Yurin tersenyum lebar. Dia memberitahu Azizah jika di Maroko tidak ada yang tidak mengenal Zayn sementara dia adalah seorang mafia kejam yang paling ditakuti di berbagai kota. Azizah tidak bisa menerima dengan perkataan Yurin tentang suaminya. Dia langsung menyuruh Yurin untuk pergi dari rumahnya. Sementara Yurin dia terlihat duduk santai di kursi mewah itu. Dia tidak akan pergi sebelum syal itu kembali padanya.
"Kenapa kau berpikir jika syal itu milik temanmu? Bukankah yang memiliki syal seperti itu banyak di kota ini?" ucap Azizah mulai emosi.
"Syal itu adalah milik temanku, dia sengaja menyiapkan syal itu untuk hadiah ulang tahun putrinya. Tapi sayang, suamimu yang kejam itu lebih dulu menghabisinya."
Azizah terlihat sangat lemas. Dia tidak percaya dengan semua kata-kata itu. Yurin memberitahu Azizah jika dia hanya ingin memenuhi permintaan temannya itu sebelum meninggal tapi sayang Zayn merebut syal itu. Azizah meminta pada Yurin untuk dipertemukan dengan putri wanita itu. Dia terus diselimuti rasa bersalah dengan semua perbuatan Zayn selama ini terutama pada wanita terakhir yang suaminya bunuh. Sampai detik ini Azizah belum juga bisa menemukan keluarga dari wanita itu.
"Untuk apa kau ingin menemuinya nyonya? Biarkan saja dia menjalani kehidupannya. Tidak mudah bisa menerima kepergian sang ibu dengan cara seperti itu. Dan kau ingin bertemu dengannya dan mengingatkan dia untuk semua itu? Tidak nyonya, tidak akan aku biarkan kau menemuinya."
"Aku mohon padamu, aku hanya ingin meminta maaf padanya," ucap Azizah.
Yurin menegaskan pada Azizah jika ia tidak akan mempertemukannya dengan anak wanita itu. Jika hari ini dia tidak bisa mendapatkan syal itu, maka ia akan datang kembali. Yurin memberitahu Azizah jika putri dari wanita itu akan berulang tahun satu minggu lagi. Ia harap bisa memberikan syal itu padanya sebagai hadiah terakhir dari ibunya. Yurin pun pergi dari rumah besar itu.
Azizah dilanda kesedihan yang sangat mendalam, ia sangat berharap bisa bertemu dengan putri dari wanita itu.
\*\*\*
Kurang lebih dua jam, akhirnya operasi pun selesai. Semua berjalan dengan lancar. Kini keadaan pasien mulai membaik hanya saja menunggu ia sadar. Pihak rumah sakit sangat berterimakasih pada Humaira karena sudah bertindak cepat jika tidak mungkin pasien itu tidak akan selamat. Mendengar Dokter Nilam sudah tiba, Humaira langsung mengganti pakaian dan pergi menemuinya untuk interview. Tiba di ruangan, dokter Nilam menyuruh Humaira untuk langsung bekerja di rumah sakitnya. Dia tidak perlu lagi melakukan interview karena dia telah mendengar dari perawat untuk apa yang sudah ia lakukan pada pasiennya. Rumah sakit ini sangat membutuhkan seorang dokter seperti dirinya. Humaira merasa sangat senang mendengar hal itu. Dia mulai sekarang sudah bisa bekerja di rumah sakit itu.
Siang itu, Nasreen tiba di kantor polisi. Dia datang untuk menemui Sean, tapi kelihatannya Sean tidak senang dengan kedatangan ibunya. Dia terlihat diam saja tanpa mengatakan apapun.
"Maafkan ibu karena baru mengunjungimu lagi," ucap Nasreen.
"Tidak masalah, lagi pula ada nenek dan Zura yang rutin mengunjungi ku disini. Kau sangat sedih dan peduli padaku ketika awal aku berada di sini, setelah itu kalian lupa padaku dan lebih fokus pada pekerjaan."
Sebelum waktu berkunjung selesai, Sean meminta polisi untuk membawanya kembali ke dalam sel tahanan. Sudah cukup dia menemui ibunya. Tidak ada lagi yang ingin ia dengar karena semua itu hanya alasan untuk menetupi semua kebohongannya saja. Saat berada di dalam sel, tiba-tiba saja Sean teringat dengan Humaira. Dia akan mengingat semua apa yang sudah ia lakukan padanya. Setelah bebas nanti, Sean berjanji akan mencarinya untuk membalas dendam. Karena dia lah Sean harus menekam di penjara selama lima tahun.
"Aku tidak akan melepaskanmu, Humaira. Kau harus membayar semua ini!"
__ADS_1