
Saat tiba di rumah sakit, seorang perawat memberitahu Humaira jika ada seorang perempuan yang sedang menunggu di ruangannya. Tiba di ruangan, Humaira sedikit terkejut melihat kedatangan Hana.
"Untuk apa kau datang kemari?" tanya Humaira.
Hana menceritakan semuanya. Dia memberitahu Humaira jika Hakim tidak ingin menikahinya. Dia masih sangat mencintainya, dan hanya ingin menikah dengannya. Hana meminta bantuan Humaira untuk membujuk Hakim supaya menerima pernikahan itu, karena jika tidak maka dia berbuat nekat.
"Aku dan Hakim tidak ada lagi hubungan apa-apa. Tidak seharusnya kau datang menemui ku untuk semua itu. Minta saja ibu Hakim yang membujuk putranya, karena dari awal memang dia yang memaksa Hakim untuk menyetujui syarat itu untuk kebebasan suaminya." ucap Humaira. "Jika kau sudah selesai, kau bisa pergi dari ruanganku karena aku masih banyak pekerjaan."
Hana pergi dengan penuh marah. Dia berjalan menuju atas gedung rumah sakit. Dia bertekad untuk mengakhiri hidupnya jika Hakim tidak juga menikahinya. Saat keluar dari ruangannya, Humaira melihat semua orang berlarian keluar.
"Ada apa?" tanya Humaira pada salah seorang perawat."
"Ada seorang perempuan yang ingin bunuh diri, dokter."
Humaira ikut berlari ke luar. Saat dilihat, ternyata perempuan itu adalah Hana. Humaira tidak menghiraukannya sedikit pun. Dia kembali masuk dan menemui Sofia untuk memeriksa keadaannya. Keadaan Sofia sudah semakin membaik. Dia bisa pulang nanti sore. Mendengar pernyataan Humaira, sang ibu terlihat sangat senang. Saat sedang menyuapi putrinya, Sofia sempat menanyakan keberadaan sang ayah pada ibunya. Terlihat sang ibu yang bingung harus menjawab apa.
"Ayahmu akan pulang sebentar lagi, kau makan yang banyak ya sayang, supaya kau sehat dan kuat." ucap Humaira. "Ayahmu akan sedih jika melihat kau sakit seperti ini."
"Baik kakak cantik, aku akan makan yang banyak supaya tubuhku sehat dan kuat." ucap Sofia tertawa kecil.
Humaira meyakinkan Hediye jika suaminya itu akan kembali secepatnya. Itu adalah janjinya. Teriakan seseorang kembali terdengar sampai ke dalam ruangan. Saat Humaira menatap ke luar, dia melihat Hana yang masih berdiri di atap gedung rumah sakit. Banyak orang yang meneriakinya untuk turun dari sana. Tapi sepertinya dia memang tidak main-main dengan ucapannya itu. Humaira langsung menyusul Hana ke atas gedung. Saat akan mencoba melakukan aksi bunuh diri, Hana terkejut melihat Humaira yang datang tiba-tiba.
"Jangan coba-coba untuk menghalangi aku!" ucap Hana.
"Jika kau ingin lompat, lompat saja. Aku datang justru untuk menyaksikan semua itu. Jika aku melihat dari bawah, rasanya aku tidak yakin jika kau akan melompat. Karena itu aku naik ke atas supaya bisa menyaksikanmu lebih dekat."
Hana sangat terkejut mendengar perkataan Humaira. Dia merasa tertantang. Hana mulai berjalan perlahan. Dia berhenti sejenak dan merasa sangat ragu dengan niatnya itu. Menatap ke bawah saja sudah membuat kepalanya pusing, apalagi jika sampai nekat melompat dari sana.
"Kenapa kau ragu? Apa kau membutuhkan bantaunku agar sampai di bawah?" ucap Humaira.
__ADS_1
Tiba-tiba saja Humaira mendapat telepon dari Hakim. Saat tahu Hakim yang menghubungi Humaira, Hana merasa sangat kesal karena ternyata mereka masih saling berkomunikasi. Tanpa Hana sadari, dia terus mundur ke belakang sampai akhirnya dia hampir saja terjatuh.
"Hana...!" teriak Humaira langsung berlari menggapai tangan Hana.
"Tolong aku Humaira!" ucap Hana yang terlihat sangat ketakutan.
"Bertahanlah! Aku akan menolongmu," ucap Humaira.
Mendengar suara teriakan itu, Hakim langsung bergegas ke rumah sakit. Sementara Humaira, dia masih berusaha untuk mengangkat Hana ke atas. Tidak lama Hakim datang dan melihat Humaira yang sedang membantu Hana untuk naik. Hakim langsung bergegas ke atas gedung. Tiba di sana, dia langsung menarik tangan Hana dan akhirnya dia selamat.
"Aku sangat takut," ucap Hana sambil memeluk Hakim.
Hakim melepas pelukan itu dan berfokus pada Humaira. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Hakim.
"Ya, aku baik."
"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Hakim kembali.
"Dulu kita memang sepasang kekasih, tapi sekarang ini kau dan aku tidak memiliki hubungan apapun, jadi tolong menjauh lah dariku dan fokus saja pada pernikahanmu dengan Hana." ucap Humaira sambil melangkah pergi.
\*\*\*
Siang itu, Sean memutuskan untuk pergi ke kantor polisi. Dia akan mengakui semua kebenarannya. Melihat Sean yang baru saja turun, semua anggota keluarga datang menghampirinya.
"Kau akan pergi kemana, nak?" tanya Nasreen.
"Aku akan pergi ke kantor polisi untuk mengakui semua kebenarannya, ibu."
Pengakuan Sean membuat semua orang terkejut. Sang ibu meminta Sean agar tetap berada di rumah dan mengurungkan niatnya itu. Dia tidak ingin melihat putra satu-satunya harus tinggal di dalam penjara.
__ADS_1
"Kau harus memikirkan nama baik keluarga besar Jeevan, Sean. Jika media sampai tahu kau seorang pelaku pembunuhan maka hancur sudah nama baik keluarga kita. Kau pasti tahu seperti apa perjuangan kakek dan nenekmu untuk menjaga nama baik ini selama bertahun-tahun." sambung Ulya.
Saffiya memohon pada Sean supaya jangan pergi. Dia tidak bisa hidup jauh darinya. Dia akan menghubungi pengacara terbaik ayahnya untuk membantunya lepas dari kasus itu. Semua orang mencoba untuk mencegah keberangkatan Sean, tapi Sean tetap akan mengakui semuanya pada polisi. Sean pun pergi dengan mobilnya. Nasreen terlihat sangat khawatir. Dia langsung menghubungi Emir untuk segera kembali dari pekerjaannya dan menolong Sean. Sementara Azizah dia berada di kamarnya sambil menatap foto suaminya.
"Kenapa kau meminta Sean untuk menjadi sepertimu, wahai suamiku? Lihatlah! Dia telah membunuh seseorang dan hari ini juga dia akan mengakui semuanya di hadapan polisi." ucap Azizah. "Aku tidak tahu berapa tahun hukuman yang akan polisi berikan pada Sean."
Setelah selesai meeting, Zura mendapat telepon dari Saffiya. Dia menceritakan semuanya. Mengetahui kakaknya yang akan menyerahkan diri ke polisi, Zura meminta Edgar untuk mengantarnya kembali ke rumah. Saat Zura memberitahu Edgar apa yang terjadi, dia pun sama terkejutnya.
"Siapa orang yang sudah Sean bunuh di hotel itu?" ucap Edgar dalam hati.
\*\*\*
Tiba di kantor polisi, Sean bertemu dengan Humaira. Dia tidak datang sendiri melainkan bersama Hediye. Melihat Sean yang berjalan ke arah mereka, Hediye terlihat sangat takut. Dia terus saja menundukkan wajahnya.
"Akhirnya kau datang," ucap Humaira tersenyum senang.
"Memang ini yang kau inginkan bukan?" ucap Sean. "Kenapa kau ingin sekali melihatku di penjara?"
"Kau ini sangat lucu tuan Sean. Kau di penjara karena perbuatan mu itu. Aku tidak akan membiarkan orang yang tidak bersalah menekam di penjara, sedangkan pelaku sebenarnya berkeliaran bebas di luar sana."
Humaira meminta Sean untuk segera masuk dan mengakui semuanya. Dia sudah tidak sabar ingin melihat Daud keluar dari penjara juga terbebas dari semua tuduhan itu.
Sean menemui kepala polisi di ruangannya. Dia menceritakan semua kejadiannya. Pihak polisi tidak percaya begitu saja. Dia meminta Sean untuk mendatangkan bukti. Tidak lama Humaira masuk dan menjadi bukti atas semua kejahatan Sean. Dia juga memberi rekaman CCTV itu pada polisi. Tidak banyak waktu lagi, kepala polisi meminta anak buahnya untuk membebaskan Daud dan membawa Sean ke dalam jeruji. Hukuman yang akan di dapat Sean akan diputuskan di dalam persidangan yang akan di gelar tiga hari lagi. Humaira terlihat sangat senang melihat Daud yang sudah bebas dan bisa kembali bertemu dengan istri juga anaknya.
Hediye dan Daud sangat berterimakasih pada semua yang telah Humaira lakukan untuk kebebasannya. Dia akhirnya sudah terbebas. Mengenai semua hutangnya, Humaira memberitahu mereka jika semua hutang itu sudah lunas. Tidak akan ada lagi anak buah Sean yang datang untuk menagihnya. Mereka dan kedua putrinya bisa hidup dengan tenang mulai sekarang.
Setelah semua tugasnya selesai, Humaira menghubungi sang ayah dan memintanya segera memesan dua tiket untuk kepulangannya ke Maroko besok pagi. Saat Zura dan Edgar ke kantor polisi, mereka mendapati Sean yang sudah berada di dalam jeruji. Mereka meminta pada polisi untuk dapat menemuinya sebentar. Saat melihat kakaknya keluar, Zura langsung berlari memeluknya. Edgar sendiri merasa heran bagaimana bisa Sean tertangkap basah saat melakukan pembunuhan itu. Setahu dia Sean selalu melakukan pekerjaannya itu tanpa meninggalkan jejak sedikit pun. Saat Edgar ingin mempertanyakan semua itu, dia melihat ada Zura di sampingnya. Dia akan semakin pusing jika mengetahui semuanya. Sebelum pergi, Sean memberitahu Zura jika dia akan menghadapi sidang tiga hari lagi. Saat itulah Hakim akan memutuskan hukaman apa yang pantas untuknya. Mendengar hal itu, Zura terlihat menangis. Dia tidak mau berada jauh dari kakaknya. Waktu berkunjung telah habis. Sean menyuruh Edgar untuk segera membawa Zura pulang.
Sementara itu, di kamar Saffiya terlihat begitu mencemaskan keadaan Sean. Dia tidak tahu apakah Sean sudah mengakui semuanya atau belum. Saffiya terlihat sangat marah pada Humaira. Dia orang yang telah membuat Sean di penjara. Saffiya pergi ke kamar Sean. Di sana dia melihat ponsel Sean yang tergeletak di atas tempat tidurnya. Saffiya menelepon salah satu anak buah Sean untuk bertemu dengannya sore nanti. Dia sudah terlanjur membenci Humaira, ditambah lagi Sean sekarang ini berada jauh darinya.
__ADS_1
"Lihat saja apa yang akan aku lakukan padamu, Humaira! Kau harus membayar semua apa yang sudah kau lakukan pada keluarga ini." ucap Saffiya.