HUMAIRA (Dunia Baru Sang Mafia)

HUMAIRA (Dunia Baru Sang Mafia)
PENYELAMATAN SEAN


__ADS_3

Siang itu, Humaira pergi menemui Athar di hotel. Saat di pintu masuk, Humaira melihat Athar yang pergi dengan seseorang. Humaira tidak sempat memanggilnya karena mobil itu sudah pergi. Humaira kembali masuk ke dalam taksi dan meminta sopir untuk mengikutinya. Humaira mencoba menghubungi ponsel Athar, hanya saja ia menolak panggilannya. Humaira merasa sangat curiga dengan gerak-gerik Athar yang mencurigakan. Sementara itu, Sean bersiap untuk pergi. Ia sudah menyuruh anak buahnya untuk memata-matai Zamrud. Sean pergi menuju kapal miliknya. Sudah cukup lama dalam perjalanan, akhirnya mobil Athar berhenti di dekat dermaga. Humaira melihat Athar berjalan ke atas kapal. Saat akan mengikutinya, di sisi lain Humaira melihat Sean yang datang bersama anak buahnya. Humaira langsung bersembunyi saat melihatnya. Sean langsung naik ke atas kapal.


"Ada apa ini? Kenapa secara bersamaan Sean dan Athar pergi ke atas kapal?"


Humaira langsung menyewa kapal untuk mengetahui kemana Sean pergi. Saat berada di atas kapal, Humaira merasakan hembusan angin yang sangat kencang. Saat akan mengambil sesuatu, tiba-tiba saja gelang miliknya tersangkut dan butirannya berhamburan.


"Ada apa ini? Kenapa perasaanku merasa tidak enak?"


Humaira teringat dengan Sean. Gelang itu sepertinya ingin memberitahu dirinya jika Sean dalam bahaya.


Dor! Dor! Dor!


Humaira dikejutkan dengan asal suara tembakan itu. Sementara itu Zamrud terkejut melihat beberapa anak buahnya yang tertembak dan jatuh ke laut.


"Siapa yang melakukan semua ini?" ucap Zamrud.


Mendengar suara tembakan itu, Atharva menghentikan laju kapalnya. Ia melihat sebuah kapal yang mendekat ke arah kapal milik Zamrud. Atharva memperhatikan mereka dari jauh. Zamrud sangat terkejut melihat kedatangan Sean.


"Apa kabar Zamrud? Lama kita tidak bertemu." ucap Sean.


Sean menemukan narkoba dalam jumlah besar dalam sebuah peti. Sean sangat yakin jika ia akan menjual barang itu pada seseorang. Dengan begitu bayarannya pun tidak sedikit. Sean meminta anak buahnya untuk menyita barang haram itu.


"Bersiaplah Zamrud!" ucap Sean dengan menodongkan pistol ke kepalanya.


"Tolong jangan habisi aku, Sean!"


Saat akan melepaskan pelatuknya, tiba-tiba saja Sean teringat dengan perkataan Humaira. Ia ingat jika Humaira membencinya karena ia adalah seorang mafia. Sean sangat berat jika ia harus kembali membunuh seseorang dengan tangannya. Sean meminta salah satu anak buahnya untuk menembak Zamrud. Dari jauh Athar menyaksikan semua itu. Ia mengeluarkan pistol dan mengarahkannya tepat di tubuh Sean. Melihat ada titik merah pada tubuh Sean, Humaira langsung membawa kapal miliknya mendekat. Dari jauh ia melihat seseorang yang akan menembak Sean dari jauh hanya saja Humaira tidak bisa melihatnya dengan jelas.


Satu.... Dua.... Tiga....


"Sean awas!" teriak Humaira berlari ke arahnya.


"Dor!"


Peluru itu tepat mengenai hati Humaira.

__ADS_1


"Humaira..., cepat bawa kapal ini menepi!" ucap Sean.


Humaira tidak sadarkan diri. Banyak sekali darah yang keluar dari tubuhnya.


"Bertahanlah! Kau akan baik-baik saja." Tiba di daratan, Sean langsung membawa Humaira ke rumah sakit.


\*\*\*


Hari sudah sore. Athar baru saja tiba di hotel. Ia merasa sangat bersalah karena sudah menembak Humaira. Tidak lama anak buahnya datang. Ia memberi informasi jika Humaira dibawa ke Nilam Hospital. Dokter masih menangani keadaannya.


"Siapa sebenarnya pria itu? Apa hubungan Humaira dengannya? Kenapa dia rela menyelamatkan nyawa pria tadi?"


"Dia adalah Sean Barra Jeevan. Seorang mafia asal Qatar. Dia juga seorang pengusaha muda. Beberapa perusahaan besar di Qatar adalah miliknya. Selain itu, aku juga mendapat informasi jika ia pemilik gudang senjata terbesar di kota ini."


Atharva baru tahu jika ternyata sekarang ini ia sedang berhadapan dengan seorang mafia. Walau sudah tahu siapa Sean sebenarnya tetap saja Atharva masih penasaran dengan hubungan yang ada diantara Sean dan Humaira. Sementara itu, Sean masih menunggu kabar dari dokter. Tidak lama dokter keluar. Ia meminta Sean untuk ikut ke ruangannya.


"Bagaimana keadaannya dokter?"


"Maaf Sean, untuk saat ini aku tidak bisa mengatakan apapun. Kondisinya sangat kritis. Ia harus segera melakukan operasi. Sebelum itu aku ingin bertemu keluarganya terlebih dahulu."


"Bisakah aku bicara dengannya? Aku ingin meminta izin pihak keluarga untuk segera melangsungkan operasi ini."


Saat Sean mencoba menghubungi Hediye ponselnya tidak aktif. Dokter harus segera bertindak cepat sebelum keadaan pasien semakin memburuk.


"Lakukan saja operasinya, dokter. Aku yang bertanggung jawab untuk semuanya."


Setelah memdapat persetujuan Sean, dokter akhirnya meminta perawat untuk menyiapkan ruang operasi. Di satu sisi saat Zamrud sadarkan diri ia sudah berada di sebuah tempat gelap yang sudah tidak terpakai. Kedua tangan dan kakinya terikat, serta mulutnya di tutup dengan kain. Dia mencoba melepas tali itu, hanya saja ikatan itu sangat kuat. Zamrud mengingat kembali kejadian di kapal. Ia sempat melihat kapal Athar dari jauh. Asal tembakan itu juga sepetinya dari sana. Zamrud sangat beruntung karena nyawanya diselamatkan oleh Athar. Tiba-tiba saja pintu tempat itu terbuka. Salah satu orang kepercayaan Sean datang untuk melihatnya. Zamrud terus saja memberontak. Ia terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu. Orang itu akhirnya membuka kain yang ada di mulutnya. Zamrud akhirnya bisa bernapas lega.


"Bagaimana keadaan perempuan tadi? Semoga saja tuhan mengambil nyawanya. Hahaha..." ucap Zamrud sambil tertawa.


"Jaga bicaramu itu!" suruh anak buah Sean.


"Kau tahu, perempuan itu sudah menyelamatkanku dari Sean. Jika dia tidak ada, mungkin sekarang ini Sean sedang berpesta merayakan kematian ku. Tapi yang terjadi hari ini semuanya terbalik. Aku yang sedang menertawakan keadaan Sean sekarang ini."


Orang itu kembali membungkam mulut Zamrud dengan kain.

__ADS_1


\*\*\*


Hari sudah malam. Operasi itu belum juga selesai. Sementara itu, di rumah Azizah terlihat sedikit cemas. Sejak tadi sore entah kenapa perasaannya dirundung rasa gelisah. Azizah menghubungi Sean untuk memastikan jika semuanya baik-baik saja. Saat mengetahui Humaira ditembak, Azizah sangat syok. Ia meminta Sean untuk menjemputnya. Akan tetapi Sean menyuruh neneknya itu untuk tetap diam di rumah. Dia akan memberi kabar jika Humaira sudah siuman nanti. Lampu operasi sudah mati. Tidak lama dokter keluar. Dia memberitahu Sean jika dirinya sudah bersikeras untuk menyelamatkannya hanya saja, peluru yang ada dalam hatinya tidak bisa dikeluarkan.


"Apa maksudmu dok? Aku sama sekali tidak mengerti."


"Aku sendiri bingung harus berkata apa, hanya saja ini adalah pertama kalinya aku menangani kasus seperti ini. Operasinya berjalan lancar, dia sudah melewati masa kritisnya, hanya saja peluru itu akan tinggal dalam hatinya."


"Apa mungkin seseorang bisa bertahan hidup dengan peluru yang ada di tubuhnya?"


"Entahlah Sean, rasanya aku tidak ingin mempercayai semua ini, tapi hari ini Humaira menunjukkan padaku mungkin saja orang yang terdapat peluru dalam tubuhnya bisa hidup dalam keadaan normal seperti biasanya."


Percakapan mereka di dengar oleh anak buah Athar. Dia langsung melapor pada Athar. Mendengar laporan itu, Athar percaya tidak percaya. Ini kali pertama ia dengar jika orang akan mampu bertahan hidup meski ada sebuah peluru dalam tubuhnya.


"Syukurlah jika Humaira baik-baik saja." ucap Athar.


Di sisi lain, Athar mendapat kabar jika Zamrud di sekap oleh Sean di sebuah tempat yang jauh dari kota. Athar mencari cara untuk membebaskannya.


Keesokan paginya, Athar pergi menemui dokter Nilam di rumah sakit sekaligus ingin melihat keadaan Humaira. Saat akan pergi menuju ruangan dokter Nilam, Athar berjalan melewati kamar Humaira. Dia melihat Sean sudah ada disana.


"Humaira... Bangunlah! Jangan membuatku khawatir seperti ini. Kenapa kau harus menyelamatkanku? Jika tidak mungkin bukan kamu yang terbaring saat ini, melainkan aku. Aku sangat takut kehilanganmu,"


Perkataan Sean itu terdengar oleh Athar. Dia belum tahu benar hubungan apa yang ada di antara mereka. Athar dikejutkan dengan kehadiran dokter Nilam di belakangnya.


"Sedang apa kau berdiri di sana? Mari ikut ke ruanganku!"


Awalnya Athar ingin membicarakan soal tanah itu, tetapi tiba-tiba saja Dokter Nilam berbicara soal Humaira.


"Aku baru tahu jika Humaira dirawat di rumah sakit ini karena tembakan itu." ucap dokter Nilam.


"Jika boleh tahu apa hubungan Humaira dengan Sean? Apa mereka sepasang kekasih?" tanya Athar yang masih sangat penasaran.


"Belum, mereka hanya dekat saja. Akan tetapi, Humaira adalah segalanya bagi Sean. Dia sudah masuk dalam dunianya. Ia tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padanya. Semua yang Humaira minta, selalu Sean turuti termasuk untuk meninggalkan pekerjaan mafianya itu."


"Waw... sepenting itukah Humaira bagi Sean? Baiklah sepertinya aku sudah mendapat cara untuk melepaskan Zamrud dari Sean." ucap Athar dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2