HUMAIRA (Dunia Baru Sang Mafia)

HUMAIRA (Dunia Baru Sang Mafia)
SEBUAH RASA YANG ADA


__ADS_3

Siang itu, Azizah terbangun dan langsung menanyakan keberadaan Humaira pada pelayan. Tidak lama Sean datang. "Dia kembali ke rumah sakit untuk bekerja, nek." ucapnya. Sean mengajak neneknya turun untuk makan siang. Di bawah sudah ada pelayan yang sedang menghidangkan makanannya.


"Siapa yang memasak semua makanan ini?" tanya Azizah.


"Humaira yang memasaknya untukmu, nek." jawab Sean.


Sean pun ikut makan. Dia benar-benar memuji rasa masakan Humaira. Selesai makan, Azizah terlihat melamun. Dia seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Ada apa nek?" tanya Sean. "Kenapa semenjak kejadian di pesta itu kau seringkali melamun?"


Azizah tidak lagi bisa menahan tangisnya. Sean mulai khawatir. Dia takut jika kondisi neneknya kembali drop. "Tolong jangan menangis seperti ini, nek. Jika kau memiliki masalah kau bisa menceritakan semuanya padaku."


Azizah mulai terbuka pada Sean. Dia tidak sanggup memikul beban berat itu sendirian. Azizah mulai menceritakan semua kebenarannya pada Sean. Saat mendengar semua itu Sean awalnya tidak percaya. Akan tetapi setelah Azizah membeberkan semua fakta akan siapa Humaira sebenarnya, ia mulai mempercayainya. Sean melihat Azizah yang sangat merasa bersalah atas apa yang menimpa Humaira.


"Kakekmu telah membuat Humaira kehilangan ibunya di usianya yang masih dua belas tahun, nak. Jika ini terjadi pada orang lain mungkin aku tidak akan sebersalah ini, tapi semua terjadi pada Humaira." isak tangis Azizah pecah.


Sean mencoba menenangkan neneknya. Ia kembali mengingatkan akan kondisinya itu. Dokter sudah menyarankan untuk tidak memikirkan banyak hal. Azizah meminta Sean untuk menyembunyikan semua itu dari siapapun, termasuk Humaira. Awal pertama bertemu Humaira, Azizah merasa sangat nyaman. Dia adalah sosok yang sangat baik, perhatian, dan lemah lembut. Semua terlihat bukan hanya saat ia bekerja sebagai dokter pribadinya melainkan di luar semua itu kepribadian Humaira memang sangat baik. Azizah takut jika Humaira tahu semuanya, ia akan marah dan membencinya. Azizah tidak bisa membayangkan akan seperti apa ke depannya nanti. Tidak lama pelayan datang.


"Maaf nyonya, ini obatnya." ucap pelayan itu. Setelah meminum obat Sean meminta pelayan untuk mengantar Azizah ke kamarnya.


"Suruh dia datang kemari, Sean!" pinta Azizah.


"Pasti nek, Humaira pasti akan datang kembali untuk melihatmu."


\*\*\*


Siang itu Humaira sedang memeriksa pasien yang mengalami kecelakaan tadi malam. Tidak lama seorang perawat datang untuk mendata pasien.


"Apa kau tahu dokter, baru saja aku melihat tuan Sean datang kemari."


"Untuk apa Sean disini?" ucap Humaira dalam hati.


"Baiklah, kau selesaikan dulu datanya aku akan kembali ke ruanganku."


"Baik dokter."


Hari ini pekerjaan Humaira tidak begitu padat. Di waktu luangnya ia mencaritahu tentang Atharva. Tidak heran jika banyak artikel yang menulis tentangnya karena ia ternyata seorang pewaris tunggal keluarga Abhimana. Sementara itu, Sean menemui dokter Nilam di ruangannya. Dia terlihat sangat serius.


"Ada apa kau datang menemuiku Sean ?" tanya dokter Nilam.


"Apa boleh dokter jika aku melihat data tentang Humaira?"

__ADS_1


"Untuk apa? Apa semuanya baik-baik saja?"


"Ya, kau tidak perlu khawatir. Aku hanya ingin melihatnya saja sebentar."


"Baiklah, aku akan mencari dulu datanya."


Kurang lebih beberapa menit dokter Nilam memberi sebuah dokumen yang berisi data tentang Humaira. Saat dilihat Sean terkejut mengetahui jika nama ibu dari Humaira adalah perempuan yang Azizah katakan tadi. Ia adalah perempuan yang sudah kakeknya bunuh dua belas tahun yang lalu. Jam sudah menunjukkan pukul 15.00 sore. Humaira pergi ke ruangan dokter Nilam. Di sana masih ada Sean. Humaira terlihat canggung untuk mengatakannya, hanya saja tidak mungkin juga ia kembali ke ruangannya.


"Ada apa Humaira?"


"Apa aku bisa berbicara denganmu berdua saja?" pinta Humaira.


Nilam menatap Sean. Dia merasa tidak enak jika harus meminta Sean pergi dari ruangannya. Tanpa diminta Sean akhirnya keluar untuk memberikan kesempatan mereka bicara.


"Katakan saja Humaira ada apa?"


"Aku ingin meminta izin untuk pulang lebih awal. Tapi kau tidak perlu khawatir karena aku sudah meminta dokter Nina untuk datang sore ini juga. Dia akan mengisi kekosongan jadwalku untuk hari ini saja."


"Pergilah! Aku membiarkanmu izin."


"Terima kasih dokter, kalau begitu aku pergi dulu."


"Sedang apa kau disini?"


"Secara tidak langsung kau sudah mengusirku dari ruangan dokter Nilam, biarkan aku duduk sejenak di ruanganmu ini."


Humaira tidak menghiraukan Sean. Ia segera membereskan barang-barangnya yang masih ada di atas meja. "Kau bisa duduk lebih lama lagi disini, karena kebetulan aku juga akan pergi." ucap Humaira.


Saat akan pergi Sean menahan Humaira dan mengunci pintunya. Humaira menghela napas karena dia sangat capek selalu berhadapan dengan Sean.


"Kembalikan kuncinya!" pinta Humaira.


"Aku akan mengembalikannya setelah kau menjawab pertanyaan dariku."


"Tolong jangan bersikap seperti anak kecil, Sean! Jauhi aku, karena aku tidak mau lagi berurusan denganmu."


"Jika aku harus menjauh darimu, jujur aku tidak bisa."


Humaira melihat jam sudah menunjukkan pukul 16.00 sore. Dia sangat kesal karena Sean sudah membuang-buang waktunya.


"Cepatlah! Apa yang kau ingin tanyakan?"

__ADS_1


"Apa kau tidak sedikitpun memiliki perasaan terhadapku?"


Pertanyaan Sean membuat Humaira terdiam. Sean mendekati Humaira dan menanyakan kembali hal sama. Lagi-lagi Humaira terdiam. Dia menatap Sean dengan sangat tajam. Matanya seperti menjelaskan jika ia benar-benar memiliki perasaan padanya. Tapi entah apa yang menghalangi Humaira untuk berkata jujur.


"Jika kau diam itu berarti kau memiliki perasaan terhadapku." ucap Sean.


"Dulu, pertama melihatmu aku pikir kau akan menjadi seseorang yang berarti dalam hidupku setelah kekasih pertamaku menghianatiku. Tapi, sayang kebenaran yang aku dapatkan akan dirimu membuatku malah membencimu."


"Apa karena aku ini seorang mafia?"


Humaira terdiam. Dia terlihat berkaca-kaca. Ia memberitahu kenapa ia sangat membenci pekerjaan kotor itu. Dia teramat sedih saat tahu ibu yang dicintainya meninggal karena dibunuh oleh seorang mafia juga. Rasa sakit itu masih terasa sampai sekarang ini.


"Kau tahu jika aku melihatmu aku selalu ingat akan kematian ibuku. Kau dan juga pria itu tidak ada bedanya. Kalian sama-sama seorang mafia. Jika kau bisa membunuh orang itu saat di hotel, bisa saja kau membunuh banyak orang di tempat yang berbeda."


Sean memegang tangan Humaira dan membuat dia merasakan detak jantungnya yang berdegup sangat kencang saat bersamanya. Sean mengatakan hari itu juga jika ia sangat mencintainya. Rasa cinta itu timbul waktu pertama kali Humaira menjadi dokter pribadi neneknya. Humaira meraih tangan Sean. Dia melakukan hal sama dimana tangan Sean bisa merasakan degup jantungnya yang begitu kencang saat di dekatnya. Sean tidak menyangka jika Humaira pun memiliki perasaan yang sama. Tidak lama Humaira melepaskan tangan itu.


"Berapa banyak orang yang sudah kau bunuh dengan tangan ini? Tidakkah tanganmu ini berlumuran banyak darah?"


Sean terdiam mendengar hal itu. Humaira segera merebut kunci itu lalu pergi. Humaira terlihat menangis saat menuruni tangga. Ia sangat menyesal kenapa harus memiliki perasaan itu terhadap Sean. Masih di tempat yang sama Sean melihat Humaira yang pergi dengan mengendarai taksi. Dia ingat jika sore ini Humaira akan pergi ke bandara untuk menjemput seseorang. Sean langsung pergi untuk mengikutinya.


\*\*\*


Sore itu Humaira sudah tiba di bandara. Dia mencari-cari keberadaan Atharva. "Dimana pria itu? Seharusnya dia sudah sampai sepuluh menit yang lalu."


Humaira pergi menemui salah satu petugas di sana. Ia mendapat kabar jika penerbangan dari Swiss menuju Qatar sedikit mengalami kendala. Diperkirakan pesawat akan tiba kurang lebih satu jam lagi. "Bagaimana ini? Apa aku harus menunggunya disini selama satu jam?" ucapnya. Sementara itu di sisi lain terlihat seorang pria berjas hitam, kaca mata hitam, dengan mendorong koper miliknya menunju tangga jalan. Ia terlihat sangat tampan dan juga gagah. Cara berjalannya terlihat jika ia sosok yang sangat berwibawa dan tanggung jawab. Pria itu adalah Atharva Abhimana. Dia berjalan ke arah Humaira yang sedang berdiri di luar.


"Permisi!" ucap Atharva sambil melepas kaca mata hitamnya.


Humaira langsung menengok ke arah pria itu. Terlihat senyum kecil dari wajah Atharva. Humaira merasa sedikit heran.


"Kapan kau datang? Bukankah penerbangan pesawat dari Swiss menuju Qatar mengalami sedikit kendala?" tanya Humaira.


"Aku lupa memberitahumu jika aku datang dengan pesawat pribadi. Jadi, selama dalam perjalanan semua terlihat lancar."


Atharva sangat berterima kasih karena Humaira sudah bersedia untuk menjemputnya di bandara.


"Kau lebih cantik daripada yang ada di foto." ucap Atharva.


Humaira tersipu malu mendengar Athar memujinya. Tidak lama sebuah taksi datang. Humaira yang sudah memesan taksi itu. Hari sudah malam. Dia akan membawa Athar ke hotel yang sudah ia pesan khusus untuknya. Dalam perjalanan Athar merasa sangat lapar. Ia mengajak Humaira untuk makan malam bersama. Awalnya Humaira menolak tapi karena Athar terus memaksanya akhirnya Humaira menyetujuinya. Athar meminta taksi untuk berhenti di salah satu restoran mewah. Saat keluar dari taksi, Humaira sedikit terkejut melihat Sean yang sedang berdiri di luar restoran itu.


"Kenapa kau terus berdiri?" tanya Athar. "Ayo kita masuk!" Athar membawa Humaira dengan menggenggam tangannya. Melihat hal itu Sean merasa sangat cemburu. Ia akan mencaritahu siapa pria itu dan tidak akan ia membiarkan siapapun mendekati Humaira selain dirinya. Humaira adalah miliknya, dunia bagi masa depannya.

__ADS_1


__ADS_2