HUMAIRA (Dunia Baru Sang Mafia)

HUMAIRA (Dunia Baru Sang Mafia)
TIDAK ADA LAGI HUBUNGAN


__ADS_3

Kembalinya dari pertandingan, Zura terlihat sangat sedih. Saat akan pergi ke kamarnya, Ulya melihat kedatangan Zura dan menyapanya. "Kau sudah pulang?" tanya Ulya. Zura tidak menghiraukan pertanyaan bibinya, dia terus saja berjalan menuju kamarnya. Tiba di kamar, Zura menangis tersedu-sedu. Dia merasa sangat terluka dengan apa yang menimpa Humaira. Dia tidak percaya jika Hakim harus menikah dengan perempuan lain. Zura mencoba untuk menghubungi ponsel Humaira, tapi dia tidak mengangkatnya. Zura yakin jika sekarang ini perasaan Humaira sangat hancur. Dia begitu kuat saat di lapangan tadi, tidak ada kesedihan sedikit pun yang terlihat diwajahnya. Walau begitu, Zura sangat memahami semua apa yang dirasakan Humaira sebagai seorang perempuan. Saat sedang memikirkan Humaira, Edgar meneleponnya. Dia ingin memberitahu Zura jika ia adalah pemenang dari pertaruhan itu. Saat kembali, Sean ada dan menghadiri meeting penting itu. Zura langsung menutup teleponnya karena sedang tidak ingin membicarakan apapun. Yang dia pikirkan sekarang ini hanyalah Humaira. Sementara Edgar, dia merasa sangat kesal karena Zura menutup teleponnya begitu saja. Dia berpikir jika Zura tidak bisa menerima kekalahannya itu. Edgar akan membuat perhitungan padanya. Dia mulai memikirkan dari sekarang hukuman apa yang akan ia beri pada Zura besok.


Malam sudah mulai larut. Saat akan pulang, Edgar melihat ruang Sean yang masih menyala. Saat dilihat, ternyata Sean masih ada di kantor.


"Kau belum pulang?" tanya Edgar.


"Aku sedang memikirkan banyak hal," jawab Sean. "Pulanglah lebih dulu! Besok sepertinya aku tidak akan masuk kantor, kau harus menggantikanku untuk menghadiri meeting besok pagi."


Seperti permintaan Sean, Edgar pulang lebih dulu. Setelah Edgar pergi, tidak ada siapa pun di kantor, kecuali Sean seorang diri. Dia pergi ke lantai atas untuk menghirup udara segar. Dari sana, perasaan Sean seakan lebih tenang. Kendaraan yang sejak sore memadati jalanan kota, kini sudah mulai menghilang. Semua rumah terlihat terang dengan cahaya lampu. Malam terasa begitu hening dan sunyi. Mungkin semua orang sedang terlelap dalam tidurnya setelah beraktivitas selama seharian. Sean memberanikan diri untuk menghubungi Humaira setelah mengetahui semuanya. Ponselnya berdering hanya saja Humaira tidak menjawabnya. Sean merasa sangat marah pada Hakim yang sudah mempermainkan perasaan Humaira selama ini. Saat perbincangan tadi, Sean berada di belakang dan menguping semuanya.


Di satu sisi, Humaira terbangun saat tengah malam. Pikirannya begitu jenuh dengan semua masalah yang ada. Humaira akhirnya pergi berjalan-jalan di sekitar hotel untuk menghirup udara segar. Dalam keheningan malam, ia berteriak sekencang mungkin untuk melepas semua kesedihan yang ada dalam dirinya.


"Apa kau baik-baik saja?" ucap seseorang dari belakang.


Saat Humaira menengok ke belakang, orang itu ternyata Sean. Humaira langsung menghapus air matanya.


"Untuk apa kau disini?" tanya Humaira.


"Tadi aku mencoba menghubungi ponselmu, tapi kau tidak menjawabnya. Aku takut jika terjadi sesuatu padamu." ucap Sean.


Humaira meminta Sean untuk pergi dari tempat itu. Dia tidak ingin bicara dengan siapa pun untuk saat ini, apalagi setelah tahu jika Sean adalah seorang mafia. Humaira semakin membencinya. Dia tidak lagi ingin melihat wajahnya.


"Cepat pergi! Kenapa masih berdiri saja disini?" ucap Humaira yang mulai emosi. Sean tidak bergerak sedikitpun. Dia tetap berada di posisinya.


"Jika kau tidak pergi, baiklah! Aku yang akan pergi," ucap Humaira.


Saat akan pergi, Sean langsung menarik Humaira ke dalam pelukannya. Dia memeluknya erat walau Humaira dengan keras memukuli tubuhnya untuk melepas pelukan itu. Sean memberitahu Humaira jika dia mendengar semuanya. Dia tahu apa yang terjadi antara dirinya dengan Hakim. Seketika tangisan Humaira pecah dalam pelukan Sean.


"Menangislah sesukamu!" ucap Sean.


Saat Humaira mulai tenang, dia ingat jika Sean adalah suami dari Saffiya. Dia juga seorang mafia kejam yang tega membuat orang tidak bersalah harus menekam di dalam penjara. Humaira melepaskan pelukan itu dan berlari menuju hotel. Sean berjanji pada dirinya, jika dia tidak akan membiarkan Humaira melewati semua itu sendiri. Dia akan terus mengawasi Humaira walau dari jauh.

__ADS_1


\*\*\*


Pagi itu, Humaira sudah menyediakan segelas air perasan lemon untuk Hakim. Saat bangun, Hakim langsung meminumnya. Dia meminta Humaira untuk segera bersiap. Hari ini Hakim akan membawa Humaira menemui kedua orangtuanya sekaligus Hana. Dia akan memberitahu semua orang jika Humaira adalah kekasihnya. Dia akan menikahinya dalam waktu dekat. Mendengar permintaan Hakim, Humaira langsung menolaknya. Dia tidak ingin melakukan hal itu. Bagi Humaira hubungannya dengan Hakim sudah selesai sejak tadi malam. Dia memutuskan untuk kembali bersama sang ayah ke Maroko dan menjalani kehidupan barunya.


"Kau tidak bisa pergi begitu saja, Ra. Hana harus tahu jika aku hanya mencintaimu, dan akan menikahimu," ucap Hakim.


"Tidak, Kim. Hana terlihat sangat bahagia saat pertama kali dia bertemu denganmu. Jangan hancurkan impiannya hanya karna egomu itu." jawab Humaira. "Aku sudah melakukan pengorbanan besar supaya kau bisa bertemu dengan ayah kandungmu, aku rela mengorbankan perasaanku untuk semua itu, jadi tolong jangan sia-siakan pengorbananku itu." ucap Humaira.


Hakim terus memaksa Humaira untuk ikut bersamanya. Saat di bawah, mereka bertemu dengan Walid. Humaira meminta sang ayah untuk menolongnya.


"Lepaskan tangan putriku! Kau menyakitinya," ucap Walid.


"Tidak ayah, Humaira harus ikut denganku sekarang juga." jawab Hakim.


Walid melepas dengan paksa tangan Hakim dari putrinya. Dia memperingatkan Hakim untuk tidak mendekati Humaira lagi setelah apa yang sudah dia dan keluarganya lakukan. Walid masih merasa sangat marah ketika ada seorang pria yang mempermainkan perasaan putrinya. Walau semua itu bukan kesalahan Hakim sepenuhnya, tapi tetap saja Hakim tahu akan perjodohannya dengan perempuan itu, dan dia menyembunyikan semua kebenaran itu. Hakim bertekuk lutut di hadapan Walid dan Humaira. Ia benar-benar meminta maaf atas apa yang terjadi. Humaira meminta Hakim untuk berdiri. Dia merasa tidak enak karena semua mata sedang menatapnya. Mulai hari ini, Walid menyuruh Hakim untuk menjauhi putrinya. Dia tidak ingin Humaira terjerat dalam masalahnya dengan calon istrinya. Hakim memberitahu Walid jika dia sangat mencintai Humaira, tidak ada yang menggantikan posisinya dalam hatinya. Dia adalah hidup juga dunianya. Jika Humaira pergi dari hidupnya, maka hidupnya akan hancur.


"Mungkin kau masih berat untuk melepas putriku, tapi aku yakin cepat atau lambat kau akan bisa menerima calon istrimu itu." ucap Walid. "Semua kehidupan tidak berakhir sampai disini nak, kau harus melanjutkan hidupmu tanpa putriku."


Walid membawa Humaira pergi. Dia meminta putrinya untuk segera bersiap karena dia sudah memesan dua tiket pesawat untuk kepulangannya ke Maroko. Mengingat janjinya pada keluarga Daud, Humaira meminta sang ayah untuk menunda kepulangannya. Dia harus membebaskan Daud terlebih dahulu dan menghukum pelaku yang sebenarnya. Humaira meminta sang ayah untuk bersabar dan meminta waktu dua sampai tiga hari untuk mengurus semua itu.


Hakim terlihat sangat sedih. Dia pergi untuk menemui kedua orangtuanya. Tiba disana, Hakim melihat mereka yang baru saja selesai sarapan. Sang ibu meminta putranya untuk masuk. Hana terlihat sangat senang dengan kedatangan Hakim di rumahnya.


"Apa terjadi sesuatu padamu?" tanya Hana.


Hakim mengabaikan pertanyaan Hana. Dia meminta kedua orangtuanya untuk mengemasi semua barang-barangnya karena dia akan mengajaknya pulang ke Maroko. Mendengar hal itu, Hana terlihat sangat panik. Dia meminta Hakim untuk tinggal di rumahnya beberapa hari lagi. Dia masih ingin menyaksikan pertandingan sepak bola itu. Hakim tidak perduli dengan perkataan Hana, dia hanya ingin kedua orangtuanya untuk ikut bersamanya. Hana terlihat sangat sedih dengan sikap yang ditunjukkan Hakim padanya. Dia langsung pergi ke kamarnya. Sang ibu dan Daud memutuskan untuk tetap tinggal di rumah besar itu. Mereka tidak akan kembali jika tidak bersama Hana. Sang ibu merasa tidak enak jika harus pulang lebih dulu sementara dia dan sang suami datang bersama Hana dan tuan Savas. Pagi itu, Savas sudah pergi untuk suatu urusan. Saat dalam perjalanan, Hana meminta sang ayah untuk segera kembali karena telah terjadi sesuatu padanya. Savas meminta sopir untuk memutar balik mobilnya. Kurang lebih sepuluh menit, Savas akhirnya tiba di rumah. Harun merasa khawatir dengan kedatangan Savas. Wajahnya terlihat sangat serius. Dia pergi menemui Hana di kamarnya. Melihat kedatangan ayahnya, Hana langsung memeluk erat sang ayah.


"Terima kasih sudah datang ayah, maaf pekerjaanmu harus tertunda karena aku." ucap Hana.


"Tidak apa-apa sayang, jika sudah menyangkut dirimu, ayah akan meninggalkan semuanya untukmu. Ada apa?" tanya sang ayah.


Hana memberitahu sang ayah tentang rencana kepulangan Hakim ke Maroko. Dia tidak pergi sendiri, melainkan ingin mengajak kedua orangtuanya bersamanya. Hana juga memberitahu ayahnya jika sikap Hakim padanya sangat dingin bahkan dia seringkali mengabaikan setiap pertanyaannya. Savas terlihat sangat marah. Dia pergi menemui Hakim di bawah. Di sana mereka terlihat sangat penasaran dengan perbincangan yang ada di antara Hana dan Savas. Tidak lama Savas turun menemui Hakim dan memukul wajahnya.

__ADS_1


"Ayah!" teriak Hana histeris melihat sang ayah yang memukul wajah Hakim. "Apa yang kau lakukan?"


"Inilah akibat karena kau sudah mengabaikan putriku." ucap Savas pada Hakim.


Sang ibu hanya menahan rasa sakit terhadap apa yang terjadi pada putranya. Tidak ada keberanian dalam dirinya untuk melawan Savas. Begitupun Harun, dia hanya bisa menyaksikan putranya itu dihajar Savas di depan matanya.


"Apa kau tidak apa-apa?" tanya Hana sambil menyentuh wajah Hakim yang terluka.


"Jangan menyentuhku!" ucap Hakim.


Hakim menatap kedua orangtuanya yang terus diam tanpa membelanya. Hakim memberitahu semua orang jika dia tidak bisa menikahi Hana. Mendengar hal itu, Hana terlihat sangat sedih.


"Apa aku ini seorang perempuan yang buruk sampai kau tidak mau menikah denganku?" tanya Hana.


"Aku memiliki seorang kekasih, dan aku sangat mencintainya." jawab Hakim.


"Kau memiliki kekasih? Tapi kemarin ibumu bilang, kau masih sendiri. Tidak ada siapapun yang mengisi hatimu." ucap Hana.


Hakim menatap ibunya. Dia tidak percaya jika sang ibu melakukan semua itu padanya. Itu berarti selama ini Humaira yang dianggapnya sebagai seorang putri tidak ada artinya sama sekali. Sang ibu mungkin hanya menganggapnya sebagai orang asing.


"Kenapa kau melakukan semua itu ibu? Kenapa kau tidak berkata jujur padanya?" tanya Hakim.


Sang ibu hanya terdiam.


"Siapa perempuan itu?" sambung Hana. Dia sangat penasaran siapa sebenarnya kekasih Hakim.


"Humaira Azkayra Azzahra," jawab Hakim.


"Apa maksudmu dokter Humaira?" ucap Hana.


Hakim mengangguk mengiyakan. Sebelum pergi, dia mengatakan dihadapan semua orang jika dia menolak keras pernikahannya dengan Hana. Dia meminta maaf karena hanya Humaira lah perempuan yang ia cintai. Hakim bergegas pergi dari rumah besar itu. Hana masih tertegun mengetahui semua kebenarannya.

__ADS_1


"Lupakan dia! Kau sudah dengar semua kebenarannya bukan? Dia hanya mencintai perempuan lain, jadi untuk apa kau masih mengharapkannya? Lagi pula, kau ini sangat cantik. Banyak pria di luar sana yang jauh lebih baik daripada pemain bola itu!" tegas Savas.


"Tidak ayah! Bagaimana pun caranya, aku harus bisa mendapatkan Hakim. Dia harus menjadi milikku selamanya!" ucap Hana dengan penuh keyakinan.


__ADS_2