
Pagi itu, saat tiba di kantor sekretaris memberitahu Sean jika tuan Syamsir sudah berada di ruangannya. Sean langsung pergi ke sana karena takut membuat tuan Syamsir menunggu lama. Sean meminta sekretaris untuk mengosongkan semua jadwalnya hari ini. Sean mengajak tuan Syamsir ke sebuah restoran mewah untuk sarapan bersama sekaligus membicarakan tentang tujuannya datang kemari. Saat makan tuan Syamsir memberitahu Sean jika ia ingin membeli tanah kosong dekat dengan Nilam Hospital. Sebelum deal membelinya, tuan Syamsir meminta Sean untuk menemaninya pergi ke tempat itu. Selesai sarapan mereka pergi ke sana.
Pagi itu pasien yang masuk ke rumah sakit tidak terlalu penuh. Semua pegawai terlihat lebih santai dari biasanya. Humaira saat itu baru selesai sarapan bersama dokter Nilam. Tiba-tiba saja salah satu perawat membuat heboh suasana.
"Ada apa?" tanya dokter Nilam.
"Aku baru saja melihat tuan Sean datang bersama tuan Syamsir. Sepertinya mereka akan melihat tanah itu."
Dokter Nilam langsung pergi melihatnya. Saat datang, pandangan Sean langsung tertuju pada Humaira. Dia tengah berdiri di lantai dua rumah sakit sebari menatapnya.
"Kenapa dia selalu menatap ku seperti itu?" ucap Humaira batinnya.
"Ya ampun... Tatapannya itu membuatku meleleh," sambung perawat lain.
Dari bawah Humaira melihat Sean yang terus menatapnya. Nampak senyum kecil dari wajahnya. "Setiap kali aku menatapnya, jantungku selalu berdebar sangat kencang," ucap Sean dalam hati.
Dokter Nilam turun menemui mereka. Sesuai saran dari Humaira, ia akan berbincang dengan tuan Syamsir mengenai pembelian tanah itu. Kurang lebih satu jam mereka di sana, dokter Nilam meminta waktu untuk berbicara dengan tuan Syamsir. Sementara Sean dia pergi untuk menemui Humaira di tempat kerjanya. Tiba di sana Humaira merasa terkejut dengan kehadiran Sean.
"Untuk apa kau datang kemari?" tanya Humaira.
"Untuk apa lagi jika bukan untuk melihat mu." jawab Sean.
Humaira tetap fokus dengan pekerjaannya. Melihat Sean yang terus menatapnya dengan tatapan tajam, Humaira mulai hilang fokus. Dia menyuruh Sean untuk pergi dari ruangannya.
"Aku heran kenapa tuan Syamsir percaya pada orang sepertimu." ucap Humaira.
"Apa maksudmu?"
"Jika aku berada di posisinya aku tidak akan percaya pada seorang mantan narapidana dan juga seorang pembunuh sepertimu."
Mendengar perkataan Humaira, Sean merasa tidak terima. Dia mendorong Humaira ke sudut ruangan. Kini wajah mereka sangat dekat.
"Kenapa kau begitu membenciku? Bukankah hubungan kita baik-baik saja sebelumnya?"
Humaira terlihat berkaca-kaca. Dia meluapkan semua isi hatinya. Humaira memberitahu Sean jika ia membencinya karena Sean adalah seorang mafia. Perbincangan mereka sempat terhenti saat tuan Syamsir menghubunginya.
"Urusan kita belum selesai." ucap Sean.
"Tentu saja, aku tidak akan membiarkan orang yang menyebabkan ayahku meninggal bebas begitu saja."
Sean tidak mengerti dengan maksud perkataan Humaira. Dengan berlinang air mata Humaira memberitahu Sean jika saat ia bersama sang ayah akan kembali ke Maroko, seseorang menembaknya. Sampai akhirnya ia meninggal di perjalanan saat akan pergi ke rumah sakit.
"Apa kau pikir aku yang membunuh ayahmu?"
__ADS_1
"Tidak! Hanya saja kau orang yang sudah menyuruh anak buahmu untuk melakukan semua itu."
Sean membantah keras perkataan Humaira. Ia sama sekali tidak tahu akan kematian ayahnya.
"Apa bukti dari semua itu?" tanya Sean.
"Tanyakan semua itu pada salah satu anak buahmu yang sudah dua tahun ini menikam di penjara. Ia berada di sana karena kau yang menyuruhnya bukan?"
Sean baru tahu jika salah satu anak buahnya berada dalam penjara. Ia tidak mendapat informasi apapun belakangan ini. Sean langsung pergi untuk mencaritahu semuanya.
\*\*\*
Saat kembali dokter Nilam terlihat sedikit murung. Ia pergi menemui Humaira untuk memberitahunya.
"Apa kau sudah bicara dengan tuan Syamsir?"
"Dia bersikeras untuk membeli tanah itu. Keputusannya sudah final. Dia akan segera mengurus pembeliannya."
Mendengar hal itu Humaira tidak bisa berbuat apapun. Tanpa sepengetahuan dokter Nilam, Humaira diam-diam ingin menemui tuan Syamsir untuk berbincang dengannya. Saat akan kembali ke negaranya, sekretaris tuan Syamsir memberitahunya jika ada seorang gadis yang ingin menemuinya. Melihat jam yang masih menunjukkan pukul 18.00 sore, tuan Syamsir setuju untuk menemuinya. Di sebuah restoran terlihat Humaira sudah menunggu akan kedatangan tuan Syamsir. Dia akan mencoba bicara mengenai tanah itu. Tidak lama tuan Syamsir datang.
"Terima kasih karena kau bersedia untuk datang tuan." ucap Humaira.
"Aku tidak tahu kau itu siapa, dan apa tujuanmu ingin menemuiku. Tapi saat mendengar namamu aku rasanya tidak asing lagi. Siapa kau ini?"
"Maaf tuan jika aku boleh tahu untuk apa kau membeli tanah itu?" tanya Humaira penasaran.
Tuan Syamsir memberitahu akan dibangunnya sebuah mall terbesar di Qatar yang mengatasnamakan putranya. Menurutnya letak tempat itu sangat strategis dan menguntungkan untuk usahanya. Setelah tanah itu menjadi miliknya, ia akan memanggil putranya untuk mengurus semuanya.
"Apa kau keberatan jika aku membeli tanah itu dokter?"
"Tidak tuan, hanya saja dokter Nilam sangat menginginkan tanah itu untuk membangun rumah sakit dimana rumah sakit itu diperuntukkan khusus bagi mereka yang tidak mampu untuk membayarnya."
Mendengar hal itu tuan Syamsir menganggapnya sebuah tujuan yang sangat mulai. Tapi dia tidak bisa melepaskan tanah itu begitu saja tanpa persetujuan putranya. Tuan Syamsir berjanji pada Humaira jika ia akan kembali lagi dalam waktu dekat ini. Ia akan datang bersama putranya untuk membicarakan semua itu. Jika putranya setuju untuk menyerahkan tanah itu maka tidak ada yang bisa ia lakukan. Tanah itu akan menjadi milik dokter Nilam untuk tujuan baiknya itu. Mendengar hal itu Humaira merasa sangat lega. Masih ada sedikit pertimbangan dari tuan Syamsir mengenai tanah itu. Tidak lama seseorang datang. Ia memberitahu tuan Syamsir jika pesawat pribadinya sudah tiba.
"Maaf aku harus segera pergi. Senang bisa bertemu denganmu."
"Terima kasih untuk waktunya, tuan. Aku sangat senang bisa bertemu seseorang yang baik sepertimu. Aku akan menunggu kedatanganmu kembali di kota ini."
\*\*\*
Hari sudah malam. Sebelum pulang ke rumah, Sean pergi ke kantor polisi. Ia ingin memastikan akan semua kebenaran yang dikatakan Humaira. Sesampainya di sana ia langsung menemui salah satu anggota polisi yang sedang bertugas.
"Permisi pak, apa ada seorang pria yang ditangkap dua tahun lalu?"
__ADS_1
Polisi mencari data orang itu dan ia menemukannya.
"Dalam dua tahun ini, hanya ada dua orang pria yang kami tangkap. Pertama, Said Fuad seorang pengedar juga pemakai obat terlarang. Kedua, Edwar Anderson ia ditangkap karena telah menghabisi seorang pria saat di bandara Qatar."
"Siapa nama pria itu?"
"Dia ayah dari seorang putri bernama Humaira Azkayra Az-Zahra."
Mendengar nama itu, Sean tidak bisa mengelak lagi. Tapi anehnya Edward bukanlah anak buahnya. Lalu kenapa dia bisa mengatakan semua itu pada Humaira? Apa tujuannya itu?
Saat ingin menemui Edward, polisi memberitahu Sean jika waktu untuk berkunjung telah habis. Ia bisa datang kembali besok pagi.
Tiba di rumah, Sean menemui neneknya. Keadaannya sudah mulai membaik. Sean meluangkan waktu untuk berbicara dengan neneknya.
"Apa yang sebenarnya terjadi pada nenek di acara itu?"
Azizah tengah terdiam. Dia kembali mengingat jika Humaira adalah putri dari perempuan yang sudah dibunuh suaminya. Azizah tetap terdiam. Dia belum siap untuk memberitahu Sean semua kebenarannya.
"Nenek, kenapa kau diam saja?" tanya Sean.
"Aku hanya merasa pusing saja, nak. Mungkin tekanan darahku sedang naik saat itu." ucap Azizah mencari alasan.
Azizah meminta Sean untuk menghubungi Humaira. Ia ingin berbicara sebentar dengannya. Tanpa banyak bertanya Sean pun menghubungi Humaira. Ponselnya berdering hanya saja Humaira tidak mengangkatnya.
"Tolong hubungi dia lagi, nak!" pinta Azizah.
Beberapa kali mencoba akhirnya Humaira mengangkatnya.
"Halo nak!"
Mendengar suara Azizah, Humaira terdengar sangat bahagia.
"Apa kabar nenek? Aku sangat khawatir ketika kemarin kau pingsan di acara itu."
Seketika Azizah tidak bisa menahan air matanya. Sean yang melihat itu merasa heran. Humaira begitu mengkhawatirkan dan penuh perhatian padanya. Jika saja Humaira tahu Azizah adalah istri dari seorang mafia yang sudah membunuh ibunya pasti ia akan membencinya.
"Nenek, kenapa kau diam saja?" tanya Humaira.
"Tidak nak, aku hanya merindukanmu. Bisakah kah kau datang menemuiku besok?" tanya Azizah.
"Akan aku usahakan nek, baiklah aku tutup teleponnya. Lagi pula nenek harus istirahat sekarang juga. Sampai jumpa besok nek.
"Terima kasih banyak sayang."
__ADS_1