
seorang gadis kecil memandang lekat ke arah pintu mansion nya. ia baru saja pulang dari sekolah nya, beberapa minggu yang lalu ia baru mendaftar di sekolah dasar yang letaknya tidak jauh dari mansion.
"huhhh"
ia menghela nafas nya dan menggenggam erat tas mungil yang di kenakannya.
menerbitkan senyum yang manis,perlahan ia melangkah memasuki mansion.
"ara pulang.... " sapa gadis kecil itu yang ternyata adalah kiara yang baru memasuki mansion.
ketika melewati ruang keluarga ia melihat alana yang menangis dan di tenangkan oleh kedua orang tua nya.
"mama.. "
plakk..
belum sempat kiara bertanya ia sudah mendapatkan tamparan dari sang mama hingga tercetak jelas di di pipi chubby nya bekas tamparan tersebut.
" m mah.. " lirih kiara menatap tidak percaya sang mama.
meskipun sering di perlakuan kasar, tapi ia masih tidak percaya bahwa sang mama melakukan nya dan berharap bahwa semua hanya mimpi.
srekk..
kepala kiara terdongak akibat tarikan keras di rambut nya.
"kenapa kau membuat putri ku menangis hahh"
tes..
air matanya menetes dan kepala nya mulai merasa pusing akibat jambakan dari sang mama.
"m maksud mama apa hiks ara gak pernah bikin lana nangis mahh hiks"
plak..
"menjawab kamu, kamu pikir saya gak tau hahh. sekarang jawab, kenapa kamu bully lana "ucap rita sambil mencengram dagu kiara.
"lepasin mah hikss hiks" ucap kiara lirih sambil terus memberontak.
"jawab" bentak rita dengan mengeratkan cengkraman nya.
"hiks mah hiks u udah jangan sakitin kak kia lagi hiks" ucap alana sambil memegang tangan rita.
brukk..
rita menyentak tangannya hingga membuat kiara jatuh tersungkur.
"lana sayang, kamu jangan khawatirin dia, anak itu emang pantas untuk di hukum" ucap rita dengan lembut berbeda saat ia menatap kiara dengan tajam.
"hiks tapi mah"
"bener kata mama mu sayang, anak itu memang harus di beri pelajaran agar tidak mengulangi kesalahan nya" ucap arga menyela pembicaraan alana.
"sekarang lana masuk dulu ya sama mama. biar papa yang hukum dia" lanjut nya sambil memberi kode pada sang istri untuk membawa alana pergi dari sana.
"ayuk sayang kita ganti baju kamu dulu takut masuk angin" ucap rita.
"t tapi"
"gak ada tapi tapi, ayok mama gak mau kamu sakit"ucap rita dan segera membawa alana pergi.
sementara kiara menatap sendu punggung sang mama kemudian beralih menatap alana dengan kedua tangan yang terkepal karena ia sempat melihat alana yang tersenyum dengan tatapan yang meledek ke arah nya.
akhhhh
__ADS_1
kiara tersentak saat arga secara tiba-tiba menarik tangannya dengan kasar menuju ke gudang.
"hiks pahh lepasin pah hikss" dengan langkah cepat dan tertatih kiara mengikuti langkah laju sang papa.
ia mencoba memberontak, namun sia-sia karena ia tidak memiliki tenaga yang cukup besar untuk melepaskan cengkraman di tangannya.
sementara arga tidak memperdulikan tangisan kiara yang mengiringi langkah mereka, ia malah semakin mempercepat jalannya.
brakk..
arga menendang pintu gudang dengan kencang hingga pintu tersebut terbuka.
"sini kamu" ucap arga dengan menyeret kiara masuk ke gudang.
"sini tangan kamu" bentak arga hingga membuat kiara tersentak daan menggelengkan kepalanya.
arga menggeram kemudian melepaskan sabuk yang ia kenakan.
ia menarik kedua tangan kiara dan nencambuk nya dengan tanpa perasaan.
ctasss
akhhhh
ctasss
"akkhhhh berhenti pah hiks hiks pah berhenti hiks hiks"
"diam.ini hukuman untuk anak pembangkang seperti mu. berani nya kamu membully anak saya"
ctasss
ctasss
ctasss
akhhh
"masih tidak mau ngaku hahh"
ctasss
"hiks bukan ara pahhh"
kiara terus merintih dan memohon pada sang papa untuk berhenti. tapi arga tidak menghiraukan jeritan dan tangisan gadis kecil itu. ia terus mencambuk tangan kiara bahkan tangan gadis kecil itu mulai meneteskan darah akibat kuat nya cambukan yang ia berikan.
"hiks pah berhenti hikss hiks ampun pahh hikss"
arga menghentikan cambukan nya dan membuang sabuk tersebut ke sembarangan arah.
srekk.
akhh
"hikss lepas pahh hikss hikss" gonta kiara ketika arga menarik rambutnya dengan kasar.
"ini peringatan untuk mu, jangan pernah menyentuh putri ku atau kau akan ku hukum lebih dari ini. ngerti" ujar arga datar dengan tatapan yang menyorot kiara dengan tajam.
kiara yang saat itu telah kehabisan tenaga hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"bagus"
brukk..
arga melepaskan tangan nya dengan kasar hingga membuat kiara otomatis terjatuh.
__ADS_1
"kau tetap di sini sampai besok. dan jangan coba coba untuk keluar"
mata kiara seketika melotot mendengar ucapan sang papa.
"hiks pah tunggu jangan tinggalin ara sendiri pahh hiks pah"
brakk
arga menghiraukan kiara dan memilih mengunci pintu gudang tersebut.
dorr.. dorrr...dorr...
"hikss pah buka pintunya pah hikss ara takut hikss hikss pah buka hikss jangan tinggalin ara hikss hikss"
dorrr.... dorrr.... dorr...
seberapa keras kiara menggedor, sang papa tidak akan membukakan pintu gudang tersebut hingga esok.
tubuh kiara luruh ke lantai, tangan nya bergetar menahan rasa sakit dan kepala nya terasa berputar.
"hikss buka pintu nya pah hikss hikss"lirih kiara.
ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya. ia merasa takut berada di ruangan gelap nan lembab itu.
ingin rasanya ia berteriak minta tolong, tapi suara nya tercekat di tenggorokan. hingga secara perlahan kegelapan merenggut kesadaran nya.
***
"hahhh... hahhhh.. ternyata cuma mimpi, hikss ano, oma hikss ara takut hikss hikss"
kiara terbangun kemudian memeluk tubuh nya yang bergetar dan mengeluarkan keringat dingin.
ia kemudian bangkit dan menuju kearah jendela yang tidak tertutup rapat. dapat ia lihat di bawah sana ternyata masih ada beberapa kendaraan yang berlalu lalang.
beberapa bulan yang lalu ia dan keluarga pindah ke kota ini. dan seperti janji sang ayah waktu itu, beberapa hari lagi ia akan kembali ke desa yang pernah mereka tempati karena ia telah memasuki semester akhir dan akan naik kelas.
ceklek..
"loh ara, kok belum tidur? " tanya Sinta yang baru saja memasuki kamar kiara.
"tadi ara udah tidur tapi kebangun lagi"jawab kiara kemudian menutup jendela ,kembali ke kasur dan di susul sang bunda.
"ara kenapa nangis? "tanya Sinta karena ia melihat jejak air mata di pipi kiara.
"tadi ara mimpi buruk bun"jawab kiara lesu.
"emang ara mimpi apa? "tanya Sinta lagi.
kiara tidak menjawab ia hanya menundukkan kepala nya.
"ya udah kalau ara gak mau cerita bunda gak bakalan maksa kok. mending sekarang ara tidur ya bunda temenin"
"beneran bun? "
"iya sayang. udah sini deketan tidur nya"
kiara kemudian menggeser tubuhnya dan masuk ke dalam pelukan hangat sang bunda.
Sinta mengelus rambut kiara hingga gadis kecil itu perlahan menutup matanya.
cup..
"selamat malam anak nya bunda"
"selamat malam juga bunda nya ara" jawab kiara dengan mata yang tertutup dan semakin mengeratkan pelukan nya.
__ADS_1