I Am Kiara

I Am Kiara
bab 28


__ADS_3

"Siapa kalian? " tanya rano yang kini telah berdiri di hadapan mereka.


"Heh kau tidak perlu tau siapa kami, cukup serahkan anak perempuan yang kau bawa itu" ucap salah satu pria yang berkepala plontos.


Mendengar ucapan pria itu, pandangan rano seketika menajam dengan aura dingin yang menguar dari tubuhnya.


"Cih kau pikir semudah itu menyerahkan putri ku pada kalian, jangan mimpi" ucap rano dingin dengan gigi yang Bergemelatuk.


"Cepat serahkan atau kami akan mengambil nya dengan paksa" geram pria berkepala plontos itu membalas tatapan rano dengan tak kalah tajam.


"Tidak akan dan tidak akan pernah" jawab rano.


Orang orang yang mengepung mereka seketika menggeram marah mendengar jawaban yang rano berikan.


"Ck seperti nya sudah cukup bicara nya, serang" perintah pria berkepala plontos itu yang seperti nya merupakan ketua di antara orang orang tersebut.


Rano yang mendapat serangan dadakan itu dengan segera menangkis walau dengan tangan kosong.


Buggh


Buggh


Krekkk..


Akhhhh..


"Cih beraninya keroyokan" ucap rano setelah berhasil mematahkan salah satu tangan lawannya.


"Alah bacot" jawab salah satu lawan yang mulai menggunakan senjata.


Buggh


duakhh


Dorrr..


Dorrr..


Akhhh..


"Shhh sial"


Sebuah tembakan berhasil mengenai tangan kanan rano.


"Hehhh menyerah saja kalau kau masih ingin nyawa mu selamat" ucap salah seorang dari lawannya sambil mengacungkan pistol ke arah rano.


"Cihh tidak akan" jawab rano sambil memegang sebelah lengannya yang berlumuran darah.


Sementara itu, di sisi lain...


"Ayah... Hikss bunda ayah hikss ayah luka bun hikss kita harus tolongin ayah hikss" ucap kiara dengan air mata yang bercucuran.


Ketika kiara mencoba untuk keluar dari mobil, dengan sigap Sinta menghentikan kiara.


"Hikss bukain bun, kita harus tolongin ayah hikss" ucap kiara ketika Sinta menahannya.


"Ara sayang, ara gak inget yang ayah bilang tadi hmm? ara gak boleh kemana mana, tetap di mobil sampai bantuan datang" ucap Sinta mengelus pipi chubby kiara yang basah dengan air mata.

__ADS_1


"Hikss tapi ayah luka bun" lirih kiara sambil memperhatikan rano yang terluka dan di todong pistol oleh orang yang bahkan tidak mereka kenal.


Mendengar itu Sinta hanya bisa memeluk kiara sambil menggigit bibir bawah nya menahan tangis.


***


"Ck sepertinya kau memang berniat mengantarkan nyawa mu" ucap pria yang menodongkan pistol ke arah rano.


Tangan rano terkepal erat bersamaan dengan gigi yang Bergemelatuk menatap orang orang tersebut dengan tatapan tajam nya.


"Hehh habisi dia" ucap orang itu kepada temannya yang lain.


Mendengar perintah tersebut orang orang dengan jaket seragam itu kembali menyerang rano.


Buggh


Duakhh


Akhhh


Dorr..


Srrengg..


Ctashh..


Akhhh..


Orang orang tersebut menghajar rano tanpa ampun. Bahkan di saat rano tidak menggunakan senjata apapun.


Untungnya rano yang memiliki tingkat bela diri tinggi mampu menahan serangan serangan yang di berikan. Meskipun ia sangat kewalahan hingga mendapat beberapa luka pukulan dan sayatan di tubuhnya.


Brumm


Brumm


Rano menoleh ke arah sebagian yang baru saja datang, ia Menyerngit kan krningnya ia seperti tidak asing dengan lambang pada jaket yang mereka kenakan.


Melihat rano yang lengah, salah satu lawan rano mengambil kesempatan itu. Ia mengeluarkan pedang yang mirip seperti samurai dan dengan cepat menebas lengan kiri rano.


Crasshhh


Aakkhhhh..


Rano menjerit kesakitan sambil memegang lengannya yang telah putus. Darah akibat tebasan itu bahkan muncrat mengenai wajahnya.


Orang orang yang baru saja tiba mematung karena terkejut. Mereka tidak menyangka kalau lawan nya bisa sekejam ini.


"Ck PENGECUT KALIAN BRENGSEK" teriak heri yang merupakan tangan kanan rano ketika melihat apa yang mereka perbuat kepada tuan sekaligus sahabat baiknya itu.


Dengan amarah membuncah, heri langsung memerintah anak buah yang ikut bersama nya untuk menyerang balik orang orang tersebut.Mereka pun segera maju menyerang balik lawan yang telah menyerang rano tersebut.


"AYAH... "


"MAS RANO.."


Sinta dan Kiara spontan keluar dari mobil menghampiri rano yang kini telah berlumuran darah.

__ADS_1


"Hikss mas harus bertahan kita akan segera ke rumah sakit hikss" ucap Sinta sambil memangku kepala rano dengan air mata yang bercucuran.


"Hikss iya ayah harus bertahan hikss jangan tinggalin ara hikss" ucap kiara yang tidak berhenti menangis.


"Sshhh akh k kenapa kalian k keluar, b bukan kah mas u udah bilang j jangan keluar sebelum m mas suruh" tanya rano dengan terbata menahan rasa sakit di tangan nya.


" hikss t tapi mas... " belum sempat Sinta melanjutkan ucapan nya, rano sudah terlebih dahulu memaksakan tubuhnya bangkit dan memeluk Sinta dan kiara dengan cepat.


Crass


Dukk..


Brukk..


"M mas rano hikss mass gak gak mungkin hikss MAS RANO hikss hikss" tangis pilu Sinta yang memeluk tubuh rano yang telah terbujur kaku dengan kepala yang telah terpisah dari tubuhnya.


Sementara kiara hanya bisa mematung menangis tanpa suara dengan tubuh yang gemetar melihat kepala sang ayah yang terputus kini tepat berada di hadapan nya.


"RANOOOO" teriak heri ketika melihat sang sahabat di penggal tepat di hadapan nya.


"AKHHH SIALAN KALIAN BRENGSEK" teriak heri sambil menghajar lawan nya dengan membabi buta.


Tubuh kiara luruh, ia tidak mampu lagi menumpu tubuhnya yang lemas. Ia terduduk di hadapan kepala sang ayah yang berlumuran darah.


"A ayah" lirih kiara sambil membelai wajah rano yang kini telah terpejam untuk selamanya.


Kiara tidak mampu lagi mengeluarkan kata kata, suaranya tercekat di tenggorokan. Menatap kosong ke bawah di mana kepala sang ayah berada. Dan tanpa ia sadari orang yang sama yang telah membunh sang ayah kini telah mengangkat tinggi pedang nya yang terbalik ke bawah dan berada tepat di belakang nya.


Sinta yang sedang memeluk tubuh kaku rano membulat kan mata nya melihat sang putri dalam bahaya. Ia melepaskan pelukan nya dari tubuh rano dan berlari menuju ke arah kiara dan memeluknya.


Jlebb..


Akhhh..


Tubuh kiara kembali menegang ketika ia berbalik sebuah senjata tajam mengenai lengannya.


Bukan, bukan itu. Tapi sebuah pedang yang menembus jantung seseorang yang memeluk nya dan meletakkan tangan nya di dada kiara untuk memberi jarak itu yang menjadi pusat perhatian kiara.


"B bunda hikss k kenapa" tubuh kiara semakin luruh ketika melihat sang bunda juga ikut mengorbankan nyawa untuk nya.


Bruk..


Tubuh Sinta yang telah berlumuran darah itu terjeremb ke jalan yang tergenang oleh darah. bahkan pedang yang menembus dada kirinya masih melekat di tubuh wanita itu.


"A ara, j jadi a anak yang ku kuat ya nak. Uhukk a ayah dan bunda s sayang ara" ucap Sinta dengan nafas yang tersengal sambil memegang pipi kiara.


"Hikss g gak bunda gak boleh tinggalin ara hikss gak boleh hikss" tangisan gadis yang memeluk tubuh bunda nya itu terdengar begitu pilu.


"Araa.. "


Kiara menoleh ketika merasakan tepukan di bahu kecilnya. Melihat siapa yang menepuk bahunya itu Kiara seketika langsung berhambur masuk ke pelukan orang itu.


"Hikss om hikss ayah sama bunda pegi hikss mereka ninggalin ara hikss" suara kiara teredam di pelukan heri.


Saat sedang menangis di pelukan heri sang tangan kanan ayah tanpa sengaja tatapan kiara bertemu dengan pria yang telah membunuh ayah dan bunda nya yang kini di bawa oleh salah satu bodyguard heri.


Ya, pertarungan telah selesai dan di menangkan oleh anggota heri dan segerombolan orang berjaket hitam yang ikut membantu mereka.

__ADS_1


Untuk musuh, mereka berhasil melarikan diri meskipun ada beberapa yang tertangkap termasuk orang yang telah menusuk dan memenggal Sinta dan rano.


__ADS_2