I Am Kiara

I Am Kiara
bab 29


__ADS_3

"Ara... " panggil alvi yang tidak di gubris oleh kiara.


Mereka kini baru saja menyelesaikan proses pemakaman rano dan Sinta. Dan kini yang tersisa di pemakaman tersebut hanya beberapa orang saja termasuk kiara, heri, alvi dan seorang pria remaja yang akan beranjak dewasa.


Masih ingat dengan alvi? Anak perempuan yang berhasil kabur bersama kiara dari orang orang penculikan anak beberapa bulan yang lalu (terdapat pada bab 17 & 18)


Alvi memandang sendu Kiara yang menatap kosong ke arah dua gundukan makan dengan nisan yang bertuliskan ferano Nanda Atmajaya dan Shinta Eka Atmajaya.


"Ara, pulang yuk ini udah mulai sore, besok om anterin ara ke sini lagi yah" ucap heri membujuk Kiara yang sedari tadi hanya menatap kosong dua gundukan di hadapan nya.


"Anterin aku ke pelakunya om heri" ucap Kiara dengan nada rendah setelah sekian lama terdiam.


"M maksud ara apa nak? " tanya heri yang masih belum mengerti apa yang gadis kecil itu maksud.


"Anterin aku ke pelaku yang udah ngebunuh ayah dan bunda" ucap kiara sambil berbalik dan menatap heri datar.


Deh


"A ara mata kamu... " heri tidak bisa berkata kata ketika melihat tatapan tajam kiara yang penuh kebencian.


Bukan itu yang membuat heri dan yang lainnya terkejut melain kan karena warna mata kiara yang awalnya berwarna coklat terang kini berubah menjadi warna merah darah.


"Sekarang om heri" ucap kiara datar tanpa ekspresi menatap heri dengan tajam.


Heri menatap remaja laki-laki di sebelahnya yang terlihat sama sama terkejut melihat perubahan kiara.


"Hahh ya udah kalau ara yakin mau ketemu dia, om temenin sekarang" ucap heri kemudian bangkit dari jongkok nya.


Mendengar jawaban yang heri berikan, kiara segera berdiri dan berjalan keluar dari area pemakaman menuju mobil tanpa mempedulikan sekitar nya. Tatapan datar dan aura dingin menguar dari tubuhnya yang tidak sesuai dengan tubuh dan usia nya yang masih dini.


"Kak, itu seperti bukan ara.." lirih alvi dengan air mata yang mulai menetes menatap punggung kiara yang mulai menjauh.


"Itu memang bukan ara" jawab laki-laki yang di panggil kakak oleh alvi yang juga menatap punggung kiara yang menjauh.


"Maksud mu? " tanya heri.


"Altar ego sisi lain dari kiara yang berasal dari trauma dan rasa sakit yang terbuka kembali" jawab laki-laki itu datar.


Deg..


"Lalu apa yang harus kita lakukan" tanya heri dengan cemas.


"Kita lihat dulu apa yang akan terjadi selanjutnya" jawab laki-laki itu kemudian berjalan melangkah meninggalkan area makam dan di ikuti alvi dan yang lainnya.


***


Brumm


Brumm


Mobil yang di kendarai heri dan beberapa mobil lain nya memasuki sebuah kawasan bangunan besar yang jauh dari kerumunan. Bangunan itu lebih terlihat seperti sebuah markas dengan lambang api berwarna hitam dengan putih di sisi luarnya terpampang jelas di depan gerbang bangun tersebut.

__ADS_1


Heri,kiara, alvi dan pemuda yang memimpin jalan mereka memasuki bangunan tersebut.


"Wess paketu akhirnya balik juga, ngomong ngomong mereka siapa" sapa raka salah satu anggota inti dari black fire yang juga merupakan sahabat dari Dion pangestu.


"Hmm anterin mereka ke ruang penyiksaan" ucap dion, pemuda yang bersama alvi tadi pada raka.


"Hahh O okay" jawab raka dengan agak ragu karena dion menyuruh nya membawa seorang anak kecil ke ruang penyiksaan. Tapi dia tidak berani bertanya lebih dalam karena tatapan tajam yang sahabatnya itu layangkan terutama tatapan dingin dari seorang gadis kecil tersebut.


"Hmm bentar lagi gua nyusul" ucap dion kemudian berlalu dari sana sambil menggandeng tangan alvi menuju ke ruangan nya.


"Vi di sini dulu yah gapapa kan? bentar lagi kakak dan ara ke sini lagi" ucap dion dengan lembut kepada alvi yang sedari tadi diam tidak bersuara karena mengkhawatirkan kiara.


"Kak, ara gak bakal kenapa kenapa kan? " tanya alvi dengan kepala yang menunduk.


"Vi tenang aja gak usah khawatir, kakak janji ara pasti baik baik aja" ucap dion meyakinkan alvi.


"Ya udah alvi di sini aja ya istirahat, kakak mau liat ara dulu" lanjutnya.


"Jangan lama ya kak"


"Iya gak lama kok" ucap dion kemudian mengecup kening sang adik.


Ia pun keluar dari ruangannya dan menyusul raka yang membawa kiara dan heri ke ruang penyiksaan.


Sesampainya di sana, ia Menyerngit kan keningnya karena raka dan kiara juga heri yang belum memasuki ruangan tersebut dan malah bersandar didinding.


"Kenapa belum masuk? " tanya dion.


"Sengaja nunggu lo dulu" jawab raka sambil menatap dion dengan cengengesan.


Setelah memasuki ruangan mereka di suguhkan pemandangan seorang pria berkepala plontos yang tidak memakai atasan dengan kedua tangan yang terikat ke atas serta tubuhnya yang penuh dengan luka.


Kiara maju mendekati laki-laki tersebut. Sementara dion, raka dan heri hanya diam dan mengamati apa yang gadis kecil itu lakukan.


"Pembunuh" ucap kiara dengan nada rendah dan datar ketika berada tepat di hadapan laki-laki tersebut.


Mendengar ucapan gadis kecil itu entah mengapa membuat laki-laki tersebut menjadi kesal.


"Cihh seharusnya aku membunuhmu lebih dahulu bocah sialan" ucap laki-laki tersebut.


"Berisik"


Jleb..


Akhhhh


Laki-laki tersebut tersebut ketika sebuah cutter kecil menembus pipinya.


Bahkan ketiga pria yang ikut masuk bersama kiara ikut terkejut melihat aksi gadis kecil tersebut yang menusukkan pisau cutter ke pipi laki-laki tersebut. Entah dari mana asal pisau itu hingga berada di tangan kiara.


Raka maju hendak menghentikan aksi berbahaya gadis kecil itu kamu di henti kan oleh dion.

__ADS_1


"Jangan, biarin aja" ucap dion tegas.


Raka pun tidak memiliki pilihan lain ketika dion menatapnya dengan tajam.


Akhhhh


Tatapan mereka pun kembali pada kiara yang secara tiba-tiba menusukkan cutter tersebut ke paha laki laki itu.


Entah kemana pergi keberanian laki-laki itu tadi, kini tubuhnya bergetar ketika netra nya berhadapan dengan netra merah kelam milik kiara dan seringai yang gadis kecil itu keluar kan.


"Darah harus di balas dengan darah, bukan begitu paman" ucap kiara dengan mengelus wajah pias laki-laki itu menggunakan cutter di tangan nya.


Jlebb


Srekk..


Akhhhh


"Hentikan ku mohon berhenti" rintih laki-laki itu ketika kiara menancapkan kembali cutter tersebut ke lengan nya dan merobeknya hingga ke pergelangan tangan.


"Ck berisik" ucap kiara datar.


Ia membuka mulut laki-laki itu dan memotong lidahnya hingga menjadi dua bagian.


Ctashh..


Akhhhh..


"Beghenti ghu mohon bghunuh ghaja aghu" ucap laki-laki itu tidak jelas karena lidah nya yang terpotong.


"Kau ingin mati hahaha baiklah sebentar lagi akan ku kabulkan" ucap kiara kemudian kembali bermain.


Ia meletakkan cutter tersebut ke tengah kepala plontos pria itu kemudian mrnekan dan menyayat kulit kepala nya hingga ke telinga.


Jleb..


Srekk


Akhhhh


"Hehh kau membosankan" ucap kiara dengan menyeringai.


Jleb


Akhhhh


Srekk


crasshhh


Tanpa rasa takut kiara membelah perut laki-laki itu dan memotong jantungnya hingga laki-laki tersebut menghembuskan nafas terakhir nya.

__ADS_1


Kiara kemudian berbalik menatap datar ketiga pria yang menenmaninya di ruangan ini. Keadaan kiara tidak bisa di katakan baik baik saja. Tubuh dan tangan nya penuh dengan darah bahkan wajahnya tidak luput dari percikan darah laki-laki yang telah kiara bunuh. Dengan pisau yang cutter yang masih di tangannya serta matanya yang semerah darah menambah kesan kejam dari diri gadis kecil itu.


Heri dan raka yang terkejut karena pertama kali melihat sisi lain dari kiara hanya bisa tercengang dengan tubuh yang bergidik ngeri. Sementara dion ia menatap kiara dengan tatapan yang sulit untuk di artikan meskipun ia sama terkejut nya dengan kedua pria itu, namun ia masih bisa mengendalikan ekspresi nya dengan cepat.


__ADS_2