
Ctashhh
Ctashhh
Akhhh..
"A ampun hikss aku mohon bunuh saja aku hikss" teriakan pilu seorang wanita dewasa terdengar bergema di sebuah ruangan yang sempit dan gelap.
"Hehh terus lah memohon" ucap perempuan satunya lagi yang asik bermain dengan sebuah pisau yang berada di genggaman nya.
Ctakk..
Ctakk..
Akhhhh..
"Ber henti hikss a aku mohon berhenti" ronta wanita yang kini terikat di sebuah kursi single tersebut karena jarinya satu persatu di potong oleh perempuan muda di hadapan nya dengan menggunakan sebuah gunting rumput.
"nona.. Pesawat akan segera berangkat. anda harus bersiap sekarang" ucap seorang laki-laki yang tiba-tiba memasuki ruangan tersebut.
"Hmm" dehem perempuan itu mengiyakan ucapan laki-laki tersebut.
Setelah laki-laki itu kembali keluar dari ruangan, ia kembali menatap wanita yang kini terduduk lemas di hadapan nya.
Ia mengeluarkan smiriknya ( bener ga sih tulisan nya) menatap kondisi wanita itu yang sangat kacau dan mengerikan. bagaimana tidak tubuh wanita itu berlumuran darah dengan kedua kaki yang buntung serta kulit kepala yang kini tinggal setengah di biarkan bergelantung begitu saja. Tak lupa juga dengan kedua tangan nya yang sudah tidak memiliki jari dan mata nya yang menjuntai keluar.
" maafkan aku, permainan hanya bisa sampai di sini" ucap perempuan itu semakin melebarkan seringaian nya.
tangannya kemudian bergerak mengambil sebuah pisau tumpul yang telah berkarat. menghadap kan pisau tersebut kehadapan wanita yang terduduk lemas tersebut kemudian membelah dadanya dan menarik paksa jantung wanita itu.
Jlebb..
Akhhhh..
Srekk..
Crashhh..
Duakk.
Bruk..
Dengan santai nya perempuan itu menendang tubuh wanita yang sudah tak bernyawa itu hingga berguling ke lantai dengan kursi yang masih terikat di tubuhnya.
Ia menatap gumpalan merah yang masih berdetak kecil di genggaman nya dengan datar. Kemudian meremas jantung tersebut hingga hancur.
Ia kemudian membalikkan badan nya meninggal kan ruangan yang penuh dengan amis darah tersebut menuju ke ruangan nya untuk membersihkan diri nya sendiri yang juga berlumuran darah wanita tadi.
***
Sebuah pesawat telah berhasil mendarat di bandara, semua penumpang turun dari pesawat tersebut begitu juga dengan seorang gadis remaja imut namun berwajah datar.
Dengan outfit dan kaca mata hitam nya yang menambah kesan wibawa gadis tersebut.
Anjirr degem dari mana tuh imut banget anying..
Loh kok anak gue di sini, pulang nak nanti papa kamu nyariin
maak mau yang kaya gini satuuu
Dekk jadi adek gua aja yukk..
__ADS_1
Insecure gua bangsat..
Pulang sayaang anak kita nyariin
Akhirnya.. Bini gua pulang jugaa.
Pletak..
Mimpi lo tolol
Anjir gak usah jitak jitak gua juga bangsat
Nyenyenye
Yaa kira kira begitu lah jeritan jeritan umat manusia di bandara tersebut ketika gadis remaja itu turun dari pesawat.
"Araaa... "
Mendengar panggilan itu, kiara langsung menoleh ke arah seorang laki-laki yang sedang berlari ke arah nya.
yah, waktu terus berlalu begitu cepat hingga tak terasa kini kiara telah berusia 18 tahun.
begitu banyak perjuangan yang telah ia lalui sejak kematian kedua orang tua nya.
di mulai dari dion sang abang angkat dan alvi yang ternyata sepupu dion bersusah payah mencari psikiater terbaik guna menyembuhkan trauma gadis itu. bahkan mereka rela menyewa beberapa psikiater dari luar negri untuk nya.
meskipun trauma nya perlahan membaik, itu tidak membuat kiara kembali menjadi pribadi yang ceria.
tidak ada lagi terlihat tawa di wajah imut nya yang ada hanyalah tampang dingin dan datar yang gadis itu keluarkan.
selama bertahun-tahun itu juga ia di ajarkan berbagai jenis bela diri dan menggunakan senjata.
dan ia juga menutup diri dari orang luar kecuali pada orang yang ia percaya.
"Gimana perjalanan nya" tanya laki laki itu setelah memeluk kiara.
"Lumayan melelahkan" jawab kiara yang masih dengan tampang datar nya.
"Avi mana bang? " lanjut kiara ketika tidak melihat sang sahabat tidak ikut menjemput kepulangan nya.
"Lah katanya di rahasiain dulu" ucap dion dengan satu alis yang terangkat ke atas.
"Lupa " jawab kiara sambil tersenyum tipis.
"Dasar" ucap dion sambil mencubit pipi chubby kiara.
"Dah yok pulang" lanjutnya sambil merangkul kiara.
***
Di sisi lain,
Seorang pemuda Sedang duduk di rooftop sekolah menatap langit yang cerah dengan sendu. Di balik wajah datar nya, mata nya menyiratkan sebuah kerinduan yang ia tujukan untuk seseorang yang ia tunggu selama bertahun-tahun.
Tapi keheningan itu tidak berlangsung lama ketika dobrakan pintu rooftop terdengar.
Brakk..
"Wehhh ngelamun aja pak waktu" ucap rakha.
Pletak..
__ADS_1
"Sakit bangsat" ucap rakha ketika kepala nya di geplak oleh vino.
"Lo kalo buka pintu biasa aja, gak usah dobrak dobrak segala" ucap vino dengan muka tidak bersalah nya setelah menggeplak kepala rakha.
"Suka suka gue dong, ngapain lo yang sewot " balas rakha menatap sengit vino.
"Bacot" ucap salah satu pemuda yang bermuka datar seketika membuat kedua pemuda tersebut terdiam.
Ia pun berjalan kemudian mendudukkan pantatnya di sifa panjang yang di duduki wakil nya itu.
"Bwahaha mampus kicep kan lo" ucap gara menertawakan mereka berdua.
Memilih tidak ambil pusing para remaja itu memilih untuk duduk dan memainkan HP nya sendiri sendiri.
"Kenapa " tanya sang ketua mengalihkan perhatian pemuda itu.
"Gua kangen dia ka " ucap pemuda itu sendu.
Azka tidak membalas ia menepuk pelan punggung pemuda tersebut.
"Wait wait kalian sering banget ngomongin dia dia, emang dia itu siapa sih" tanya gara dan di angguki temannya yang lain.
"Masa lalu" jawab Azka dan di angguki mereka.
"Oh iya bos ada yang nantangin lo balapan nanti malam, terima gak? " tanya vino memulai pembicaraan setelah hening beberapa saat.
"Hmm" dehem Azka menjawab pertanyaan vino.
"Asiikk makan makan lagi kita" heboh rakha.
"Makan mulu pikiran lu anak dugong" ucap vino sambil melempar kulit kacang ke arah rakha.
"Suka suka gue lah" jawab rakha sewot.
Bukan tanpa alasan rakha berkata seperti itu. Azka di setiap balapan tidak pernah kalah dan selalu menang dan di setiap kemenangan, mereka pasti akan merayakan nya dengan barbequean di markas.
drttt.. drttt...
terdengar suara handphone yang berasal dari azka terdengar.
ia menggeser tombol hijau dan mengangkat panggilan tersebut.
"hmm.. "
"....... "
"di mana? " ucap azka terdengar antusias meskipun masih dengan tampang datar nya.
Teman-teman nya yang mendengar nada suara azka yang terdengar berbeda dari biasanya tersebut menatap heran sang empu.
"teruskan pencarian" ucap nya dan mengakhiri panggilan secara sepihak.
"kenapa? " tanya kean sang wakil dengan tampang datar nya.
"tim gua gak sengaja liat dia di bandara" ucap azka yang membuat temannya (kec.kean) menatap nya cengo.
"anjir 8 kata cok" ucap rakha sambil mengangkat 8 jari tangan nya.
"perlu di apresiasi sih ini" ucap vino tak kalah hebohnya.
sementara orang yang di bicarakan hanya menatap datar mereka berdua.
__ADS_1
mendengar ucapan azka, senyum tipis terbit di wajah kean. jika tidak di perhatikan dengan jelas maka tidak akan terlihat senyuman nya itu. di matanya terdapat secercah harapan untuk kembali bertemu dengan dia.