I Am Kiara

I Am Kiara
bab 16


__ADS_3

Setahun kemudian.....


Kini kiara telah memasuki usia 7 tahun dan telah memasuki jenjang sekolah Dasar.


Dan selama setahun itu pula pula ia tidak di izinkan orang tua nya untuk berkomunikasi dengan saudara kembar nya, keano.


Bahkan kondisi kiara yang sekarang sudah tidak seperti dulu lagi karena tubuh kecil nya yang mulai kurus dan pipi chubby nya yang mulai tirus. Tidak hanya itu, ditubuh kecilnya itu juga terdapat banyak sekali bekas luka terutama di bagian punggung nya.


saat ini kiara sedang mengerjakan pr tidak jauh dari kolam renang. ia terlihat begitu serius saat mengerjakan tugas nya itu.


saat sedang fokus mengerjakan tugas, tanpa ia sadari alana tiba-tiba datang dan mengambil paksa buku tugas yang kiara kerjakan.


srekk...


kiara menoleh ke arah alana yang mengambil buku milik nya.


"lohh lana balikin bukunya" ucap kiara seraya mencoba mengambil buku tersebut.


dengan cepat alana menyembunyikan buku tersebut dan menepis tangan kiara yang akan menggapai tangan nya.


"kalo aku gak mau gimana" balas alana seraya mundur kebelakang perlahan.


"tapi itu tugas nya mau di kumpulin besok, balikin dong"


kiara terus mencoba mengambil buku tersebut. tapi alana terus menghindar dan menjauhi buku itu dari kiara.


"gak.aku gak bakal balikin bukunya. gara gara kamu kemarin aku dihukum bu guru" balas alana dengan tatapan sinis.


ya, kemarin alana di hukum oleh guru kelasnya karena tidak mengumpulkan PR dan juga mencontek tugas milik kiara.


"tapi kan itu juga salah kamu gak ngerjain tugas nya sendiri" balas kiara


hap....


kiara pun berhasil meraih buku tersebut di tangan alana. namun, alana tidak mau melepaskan buku tersebut dari tangan nya.


dan aksi tarik menarik di antara mereka pun terjadi.


"ish.. lana balikin bukunya" ucap kiara sambil terus menarik buku tersebut


"gak mau.... " balas alana sambil mencoba menarik buku itu dengan keras.


mereka terus memperebutkan buku itu sampai tidak menyadari bahwa mereka telah berada persis di pinggir danau.


Alana terus menarik buku itu sambil memundurkan langkah nya, hingga....


aakkhhhh..


byurrrr...


alana terjatuh ke dalam kolam. alana kecil yang saat itu tidak bisa berenang terus mencoba untuk tetap berada di permukaan kolam meskipun usahanya itu sia sia karena ia tidak mengerti apa pun tentang renang.


tubuh kiara menegang ketika melihat alana yang terjatuh ke kolam. ia tidak bisa berbuat apapun karena ia juga tidak bisa berenang. ia hanya bisa menatap ke arah alana dengan tatapan kosong.


" nonaaaa... " teriak bi arum. salah satu pelayan muda yang berkerja di mansion Aldebaran.


"astaga.. aku harus apa. tolonggg... siapa pun tolong non alana hiks... "


bi arum terus berteriak meminta pertolongan sambil menitikkan air mata nya.


tidak lama kemudian nyonya rita dan tuan arga serta beberapa pelayan datang karena mendengar teriakan bi arum.


" astaga. alanaaa... hiks pah tolongin alana pah cepetan.. " ucap nyonya rita


tuan arga yang melihat kondisi alana yang hampir kehilangan kesadarannya dengan segera ikut masuk ke dalam kolam.

__ADS_1


byurrr...


tuan arga meraih tangan alana kemudian memeluk tubuh kecil putrinys itu dan segera membawanya ke atas.


tuan arga meletakkan tubuh alana di pinggir kolam dan mencoba melakukan CPR pada alana yang di bantu istri nya.


"uhukk.. uhukk.... " akhirnya alana tersadar dan memuntahkan air dari mulut nya.


"alana sayang, kamu gapapa kan nak" nyonya rita memeluk tubuh alana dengan erat menyalurkan kekhawatiran nya.


"hiks.. pusing mahh.. " ucap alana sambil menangis.


"kamu kok bisa jatuh sih sayang" ucap tuan arga sambil mengelus rambut alana.


alana memandang ke arah kiara yang memandang mereka dengan kaku. kemudian langsung memeluk tuan arga yang mengundang tatapan penuh tanya mereka pada alana yang terlihat ketakutan ketika melihat kiara.


"hikss... kak kia yang dorong lana pah hikss hikss.. dia bilang lana gak pantas jadi anak kalian hikss hikss" ucap alana sambil memeluk tuan arga dengan tubuh yang bergetar seolah yang di katakan nya merupakan kebenarannya.


nyonya rita yang mendengar penuturan alana membuat amarahnya langsung mendidih.


plakkk...


tamparan yang keras di layangkan nyonya rita ke kiara hingga membuat gadis kecil itu jatuh tersungkur.


srakkk...


nyonya rita kemudian menarik rambut kiara yang membuat nya langsung berdiri sambil memegang tangan ibu nya itu.


"hikss lepasin mahh hikss hikss sakit hikss"


plakk..


"sakit, kamu bilang sakit. terus gimana sama anak saya yang hampir kamu bunuh hah"


"hikss tapi bukan ara yang dorong panas hikss hikss"


"alasan.setelan membunuh mertua saya sekarang kamu juga mau bunuh putri saya hahhh"


plakkk....


"dasar anak pembawa sial. menyesal saya pernah ngelahirin kamu"


plakkk


"gak tau di untung kamu. dasar pembunuh"


plakk


plakk


nyonya rita terus melayangkan tamparan nya hingga membuat sudut bibir kiara sobek dan mengeluarkan darah.


"hikss ara bukan pembunuh mah" teriak kiara. hati kecilnya mencelos mendengar kata kata yang di ucapkan wanita yang melahirkan nya itu.


plakkk


"berani kamu naikin suara kamu pada istri saya hahhh" ucap tuan arga seraya menampar pipi kiara dengan tak kalah keras hingga jejak tangan bekas tamparan itu tercetak dengan sangat jelas di pipi kiara.


"hikss tapi pahh"


plakk


"berani kamu menjawab saya hahh" bentak tuan arga membuat kiara telonjak kaget dengan mata yang terpejam.


"mah kamu bawa lana ke kamar yah. jangan lupa telpon dokter" tuan merubah

__ADS_1


tatapan dan suara nya menjadi sangat lembut di hadapan istrinya dan alana.


nyonya kiara mengangguk singkat dan lansung membawa alana yang masih lemas ke kamarnya.


tuan arga kemudian berbalik dan tatapannya kembali menjadi tajam ketika berhadapan dengan kiara.


"ikut saya sekarang " tuan arga meraih tangan kiara dan menariknya dengan kencang.


kiara mengikuti langkah papanya dengan langkah yang terseret di sertahi isak tangis yang memilukan bagi yang mendengar.


" hikss pahh lepasin hikss hikss tangan ara sakit hikss hikss" ucap alana di sela sela langkah nya.


tuan arga tidak menghiraukan tangisan alana yang menghiba pada nya.ia terus menarik tangan kiara tampa memperdulikan tangisan kiara dan kaki putrinya itu yang lecet karena mengimbangi langkah nya yang panjang dan cepat.


hingga ketika sampai di luar ruangan tuan arga menghempaskan tubuh kecil kiara begitu saja di lantai yang dingin.


brukk...


"keluar kamu dari rumah ini. saya gak sudi punya anak pembunuh seperti kamu"


kiara yang merasakan tubuhnya remuk karena ulah papanya itu mencoba bangun dan meraih tangan tuan arga.


"hikss ara bukan pembunuh pah.. hikss hikss jangan usir ara hikss ara sendirian pah hikss hikss"


brukkk...


tuan arga menghempas tangan kiara yang menggenggam tangan nya dengan kencang hingga membuat kiara kembali terjatuh.


"kamu pikir saya peduli hahhh... sekarang sebaiknya kamu pergi dari rumah ini dan jangan pernah kembali ke sini"


brakkk...


tuan arga berbalik dan menutup pintu rumah dengan kencang tanpa memperdulikan keadaan kiara.


brak.. brak... brakk...


"hikss pah buka pintu nya pahh hikss hikss"


brak.. brak..


"hikss pah bukain hikss"


kiara terus menggedor pintu rumah disertai air mata yang bertambah deras.


salah satu bodyguard yang melihat itu merasa iba dan kasihan pada kiara. ia pun mendekati dan menghampiri kiara.


"udah non, ntar tuan makin marah sama non ara" ucap bodyguard itu.


"hikss tapi ara harus kemana om hikss hikss"


"maafin saya non, kalau saya mampu saya pasti bakal bantu non tapi sekarang saya gak punya kuasa apa apa non"


kiara menundukkan mendengar ucapan bodyguard itu.


"hikss iya om. makasih ya hikss kalau gitu ara pamit ya om hikss tolong jagain keluarga ara yah"


"iya non, pasti. oh iya non mungkin ini bakal sedikit membantu non" ucap bodyguard itu seraya memberikan beberapa lembaran buru pada kiara.


"hikss makasih om. ara gak bakalan lupain om. ara pergi ya om" ucap kiara seraya memeluk bodyguard itu tanpa rasa canggung.


" iya non, non hati hati yah jaga diri baik baik di luar sana"


kiara mengangguk mendengar pesan bodyguard itu.


ia menatap sendu pintu rumah yang telah tertutup rapat untuk dirinya. ia berbalik dan pergi menjauh dengan langkah gontai meninggalkan rumah yang telah menjadi kenangan indah dan buruk yang ia alami.

__ADS_1


__ADS_2