
Author pov
Sekarang Levin dan Renal sudah berada di rumah Rian, mereka sedang duduk diruang tamu.
"Lo ko bisa sakit si?" Tanya Renal sambil memakan cemilan yang sudah di sediakan.
"Ya kan Gue juga manusia." Jawab Rian sinis.
"Ya maksud Gue tuh gara-gara apa?"
"Keujanan," Ucap Rian, walaupun kemarin dia dan Wanda pulang saat hujan sudah reda, tapi di tengah jalan hujan deras lagi, Renal yang sebelumnya keadaannya sedang tidak vit akhirnya jatuh sakit.
"Lagi goblok banget, udah gede masih main ujan-ujanan."
"Gue ga main ujan-ujanan setan! Kemaren Gue abis dari cafe nyokap Gue ngambil barang dia yang ketinggalan, terus pulangnya keujanan."
Sedangkan Renal yang mendengar Jawaban Rian pun hanya bisa mengangguk, sambil terus memakan cemilannya.
"Vin Lo yakin bakal tetep ikut balap?" Tanya Rian kepada Levin, karena sedari tadi laki-laki itu hanya sibuk memainkan ponselnya.
"Yakin." Ucap Levin masih dengan memperhatikan ponselnya.
"Saran Gue mending jangan deh Vin, Gue takut Lo malah kenapa-kenapa, Lo tau kan anak-anak SMA pamungkas itu licik-licik, Gue cuman takut dia bakal ngelakuin sesuatu ke Lo, apalagi Lo tau sendiri SMA kita itu musuh bubuyutan banget sama SMA mereka." Jelas Rian panjang lebar, berharap kali ini Levin mendengarkan omongannya.
Levin yang tadi masih memperhatikan ponsel, kini beralih menatap kedua sahabatnya.
"Lo berdua tenang aja, Gue yakin gabakal terjadi apa-apa, lagian mulai besok Gue bakal latihan sama Yuda."
"Ya walaupun Lo latihan mati-matian gabakal ngejamin Lo gabakal kenapa-kenapa Vin," Ucap Renal.
"Jadi Lo berdua nyumpahin Gue biar kenapa-kenapa gitu?"
"Gagitu Vin, justru Gue sama Rian tuh gamau Lo kenapa-kenapa makanya ga setuju kalo Lo ikut balap. Lagian Lo gainget janji kita bertiga? Kalau udah kelas 12 gabakal ikutan yang macem-macem, mentok-mentok nakal ya cuman ngerokok. Tapi Lo masih aja minum terus mau ikut balap." Ucap Renal, lagi.
"Gue cuman mau nyoba, Lo berdua tenang aja." Ucap Levin.
Sedangkan Rian dan Renal hanya bisa menghembuskan nafas kasar, Levin memang sangat keras kepala.
****
Rapat osis sudah selesai, kini Wanda membereskan Tasnya, agar bisa secepatnya pulang.
"Lo pulang bareng siapa?" Tanya Juna.
__ADS_1
"Sendiri ka,"
"Bareng sama Gue aja gimana?"
"Gausa ka, nanti ngerepotin."
"Enggak dong, anggap aja ganti yang kemaren, karna ga sempet nganterin Lo pulang."
"Eum, yauda boleh ka."
Setelah itu mereka jalan beriringan menuju ke parkiran.
****
"Itu siapa Wan?" Tanya Risa Mamah Wanda, Wanda yang baru saja menutup pintu kaget dengan kedatangan Mamahnya yang ada dibelakang.
"Astaga Mamah ngagetin Wanda aja, yang tadi itu ka Juna mah."
"Pacar baru kamu?"
"Bukan Mah, cuman kaka kelas sekaligus partner di osis aja."
Wanda kini berjalan kearah sofa dan duduk disana, begitupun dengan Risa.
"Ga gimana-gimana mah, Levin kayaknya benci banget sama Wanda, padahal Wanda aja gatau salah Wanda apa." Ucapnya dengan wajah sedih.
"Yang sabar ya sayang, Mamah yakin ko, kalo kalian emang jodoh pasti nanti bakal di persatukan lagi, tapi kalo enggak, Mamah yakin bakal ada yang lebih baik lagi dari Levin." Ucap Risa, mencoba memberi pengertian kepada putrinya.
"Tapi Wanda sayang banget Mah sama Levin,"
"Mamah tau, tapi kamu itu masih muda sayang, perjalanan kamu masih panjang, hidup juga ga selamanya tentang cinta masih ada cita-cita yang harus kamu gapai, percaya sama Mamah, seiring berjalannya waktu kamu bakal lupa sama perasaan kamu ke dia." Ucap Risa lagi, sambil mengelus rambut putrinya.
Sedangkan Wanda hanya bisa mengangguk pelan.
"Yauda Wanda keatas dulu ya Mah,"
"Gamau makan dulu?"
"Entar aja Mah,"
"Oh yauda."
__ADS_1
Setelah itu Wanda berdiri dan naik keatas kamarnya.
****
"Levin ko kamu baru pulang?" Levin yang baru selangkah naik keatas, kini turun menghampiri Bundanya yang berada di meja makan.
"Iya Bun, tadi abis dari rumah Rian dulu." Ucapnya mencium tangan dan pipi Bundanya.
"Mau makan dulu ga?"
"Nanti aja Bun,"
"Oh yauda, bentar lagi Ayah pulang nanti kita makan sama-sama, mending ganti baju gih kamu bau keringet.
"Tapi tetep ganteng Bun," Ucap Levin sambil tersenyum percaya diri.
Sedangkan Sinta hanya bisa terkekeh sambil mencubit gemas pipi putranya. "Dasar."
Dan Levin hanya bisa mengangguk seraya tertawa, kapan lagi bisa melihat manusia es ini tertawa? Mungkin Levin hanya bisa terlihat bahagia jika sedang bersama keluarganya.
Dulu ada tiga hal yang bisa membuat Levin bahagia. Pertama keluarga, kedua sahabat, dan ketiga Wanda, tapi mungkin sekarang hanya ada dua kebahagiaan.
****
Padahal sudah larut malam, tapi Wanda masih asik memainkan ponselnya membuka aplikasi online shop. Wanda berniat untuk membelikan Levin jam, karena minggu depan Levin ulang tahun dan dia ingin menjadi orang pertama yang mengucapkan dan memberi kado.
"Nah yang ini aja nih, pasti cocok buat Levin." Ucapnya antusias, lalu langsung memasukkan ke keranjang olshop, dan akan dibayar besok melalui kartu kreditnya.
Setelah selesai memilih jam tangan untuk Levin, Wanda menaruh ponselnya dimeja dekat tempat tidur.
"Semoga nanti Lo suka sama kado dari Gue Vin." Batin Wanda, seraya tersenyum senang dan memeluk gulingnya.
****
Gimana-gimana? Next ga?
Kira-kira Levin bakal suka ga ya sama kado dari Wanda? Atau malah suka sama Wanda nya?🤔
Seperti biasa ya, jangan lupa vote, share dan coment❤️
Salam cinta dari aku, zika❤️
Sampai jumpa di part-part selanjutnya!👋
__ADS_1