
"kalo sikap kamu kaya gini, rencana buat move on aku batalin aja hehe."
****
Author pov
"Kenapa ka manggil Gue kesini?" Tanya Wanda kepada Juna yang sekarang sudah ada di hadapannya.
Mereka sekarang hanya berdua di ruang osis, karna anggota osis yang lainnya sudah pulang terlebih dahulu, lagipula Wanda itu sekretaris jadi Wajar kalo Juna sebagai ketua osis butuh privasi berdua. (CEILAH APA HUBUNGANNYA YA ANJIR, BILANG AJA MODUS CUY.)
"Gue mau ngomongin soal promnight nanti, menurut Lo kita pake tema apa ya?"
"Gimana kalo kita pake tema romantis aja? Kayanya bagus, remaja banget."
"Eum yauda boleh, kita pake tema itu ya."
"Iyaa ka, Gue tulis ya apa aja yang dibutuhin." Ucap Wanda seraya menulis di kertas.
Juna masih memperhatikan Wanda yang sedang menulis, gadis itu selalu terlihat cantik dimatanya.
"Nah udah ni ka, kalo gitu Gue pulang dulu ya." Ucap Wanda menaruh selembar kertas di depan Juna, lalu memasukkan peralatan tulisnya kedalam tas.
"Eh bareng aja sama Gue, gimana?"
"Gausa ka, Gue mau mesen ojek online aja,"
"Tapi-"
"Udah ya ka Gue pulang dulu, soalnya buru-buru." Ucapnya, lalu melangkah kearah pintu keluar.
Sedangkan Juna hanya bisa menghembuskan nafasnya kasar, gadis itu memang sangat sulit dijangkau.
****
"Malem jadi latihan Lo sama Yuda?" Tanya Rian kepada Levin. Sekarang mereka berada di WB.
"Jadi," Ucapnya sambil menghisap rokok.
"Jam berapa? Kita-kita juga pengen Liat." Ucap Dafa.
"Jam 9 paling."
"Oh oke, nanti Gue sama anak-anak kesana, Lo share lock aja." Ucap Revan, dan di angguki oleh yang lainnya.
"Gue gatau ya bisa ikut apa enggak," Ucap Renal.
"Kenapa?" Tanya Rian.
"Mau ngajak jalan Aletha, kan sekarang malem minggu." Ucapnya sambil tersenyum.
"GAYA LO AJG!" Ucap salah satu teman tongkrongannya sambil melempar kotak tissu.
"Kaya Aletha mau aja diajak jalan sama Lo!" Ucap Rian.
"Yee Lo semua harusnya dukung Gue, siapa tau balik dari jalan, Gue jadian sama dia."
"Haha iyadah iya Gue doain, semoga Lo jadian sama Aletha." Ucap Dafa.
"AMINNN." Ucap semua teman tongkrongannya di sertai tawa.
****
Wanda sedang sibuk memilih baju yang akan dia pakai nanti untuk jalan dengan Levin.
"Aduh yang mana ya," Ucap Wanda bingung, dia masih saja mengeluarkan semua baju yang ada di lemarinya, hingga semua terlihat begitu berantakan.
__ADS_1
"Nah yang ini aja nih, simple!" Ucap Wanda antusias. Setelah itu Wanda memakai bajunya dan mengaca di kaca kamarnya sambil beberapa kali memutarkan tubuhnya, dia terlihat bahagia, dengan jumpshuit berwarna merah dengan bawahnya panjang dan lengannya yang pendek, make up yang tidak terlalu tebal, Rambut yang di urai, dan juga senyum cantiknya yang selalu terpampang di kaca. Sepertinya dia melupakan niatnya untuk melupakan Levin.
Saking bahagianya dia sampai Lupa kalau ada janji juga dengan Aletha.
"Astaga Gue lupa kalau ada janji sama Aletha!" Ucap Wanda lalu mengambil ponselnya yang ada di kasur.
"Halo Tha,"
"Kenapa Wan? Gue belum rapih, ni baru dandan."
"Tha kayaknya Gue gabisa jadi jalan deh, soalnya perut Gue sakit."
"Yahhh, yauda gapapa deh, Lo cepet sembuh yah."
"Iya Tha makasi, sorry ya." Ucap Wanda lalu mematikan sambungan Telfonnya.
Sebenarnya Wanda merasa bersalah karena telah membohongi Aletha, tapi dia juga tidak bisa membatalkan acara jalan-jalannya dengan Levin, karena ini adalah hal yang langka.
"Wanda!" Ucap Mamahnya yang mengetuk-ngetuk pintu.
"Iya Mah, sebentar." Ucap Wanda lalu membuka pintu kamarnya.
"Itu Levin udah ada dibawah,"
"HA? SERIUS MAH?" Ucap Wanda teriak lalu menutup mulutnya dengan tangannya, karna takut Levin mendengar.
"Astaga, iya. Yauda cepetan dandannya, Mamah turun ya nanti kamu nyusul."
"Iya Mahh."
Wanda buru-buru menutup pintu kamarnya Lalu berteriak sangat kencang.
"ASTAGA GUE SENENG BANGET!" Ucap Wanda berteriak. Kali ini pasti tidak akan ada yang mendengarnya, karena kamarnya kedap suara.
Wanda benar-benar gugup, berulang kali dia menarik nafas dan menghembuskannya. Karena ini pertama kalinya dia jalan bersama Levin dengan statusnya yang sebagai mantan.
Lalu Wanda segera turun kebawah untuk menemui Levin.
****
"Nah itu Wanda," Ucap Mamahnya sambil memperhatikan Wanda yang sedang turun menuruni tangga.
Levin yang tadi duduk kini sudah berdiri, tidak bisa dipungkiri Wanda terlihat sangat cantik malam ini, dengan make up yang natural.
"Yauda Tante kita jalan dulu ya," Ucap Levin sopan, lalu mencium tangan Mamah Wanda.
"Iya, kalian hati-hati ya."
Setelah itu mereka berdua berjalan menuju pintu keluar.
****
"Pake." Ucap Levin masih dengan wajah datarnya, lalu menyerahkan helemnya kepada Wanda. Sedangkan Levin sudah memakai helem lalu menaiki motor ninjanya.
"Ini gaada acara dipakein helem biar romantis kaya di tipi-tipi apa ya." Batin Wanda.
"Kenapa diem?" Tanya Levin yang melihat Wanda melamun.
"Eh-iya." Ucap Wanda tersadar dari lamunanya, lalu memakai helemnya dan menaiki motor.
Didalam perjalanan mereka hanya saling diam.
"Pegangan." Ucap Levin samar-samar.
__ADS_1
"Ha?" Tanya Wanda karena tidak mendengarnya, akibat angin yang terlalu kencang.
"Pegangan, Gue mau ngebut." Ucap Levin agak keras.
"Pegangan dimana?" Pertanyaan paling bodoh yang pernah Levin dengar.
"Pinggang Gue." Ucap Levin yang sukses membuat Wanda gugup, jika dia pegangan di pinggang Levin, itu sama saja seperti dia memeluk laki-laki itu.
Lalu dengan perasaan gugup, Wanda memeluk pinggang Levin, dan meletakkan kepalanya di belakang punggung laki-laki itu. Lalu levin Melajukan motornya kencang.
****
Sekarang mereka sudah sampai di pasar malam, Wanda yang turun dari motor memasang Wajah senangnya sambil tersenyum.
"Ya ampun Gue udah lama banget ga kepasar malem, makasi ya udah aja Gue kesini Vin." Ucap Wanda sambil tersenyum kepada Levin. Sedangkan Levin yang melihat gadis itu tersenyum begitu bahagia, hanya bisa
Tersenyum kecil, bahkan sangat kecil, sampai tidak ada yang bisa melihatnya.
"Ayo," Ucap Levin menarik tangan wanda. Sontak Wanda kaget, namun tetap membiarkan laki-laki itu membawanya, entah kemana.
"Mau naik biang lala?" Tanya Levin.
"Mau banget!" Ucap Wanda antusias.
Didalam biang lala tidak henti-hentinya Wanda tersenyum sambil bercerita apa saja yang bisa diceritakan, sedangkan Levin hanya bisa diam mendengarkannya. Walaupun Levin tidak berbicara juga, tapi dia tersenyum kecil saat melihat Wanda yang begitu antusias bercerita.
****
"Nih minum buat Lo," Ucap Levin memberikan minuman itu kepada Wanda, dan duduk disampingnya.
"Makasi." Ucap Wanda sambil tersenyum.
"Suka?" Tanya Levin.
"Suka apa?"
"Diajak jalan-jalan kaya gini?"
"Oh bilang dong, suka banget lah! Kalo ngomong itu yang jelas Vin jangan setengah-setengah. Kan Gue kira Lo nanya Gue suka sama Lo apa enggak, ya pasti Gue bakal jawab suka lah suka banget malah!" Ucap Wanda sambil terkekeh, sedangkan Levin hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Wanda yang melihat Levin tersenyum sangat merasa bahagia.
"Sering-sering senyum kaya gini ya Vin, Lo ganteng banget tau, sumpah!" Ucap Wanda polos dengan tidak tau malunya.
"Gue boleh nanya ga?"
"Tanya aja,"
"Kenapa Lo ajak Gue jalan-jalan? Bukannya Lo risih sama Gue?" Tanya Wanda. Sedangkan Levin hanya bisa terdiam. Beberapa menit mereka hanya saling diam.
"Mau janji satu hal sama Gue?" Ucap Levin membuka suara.
"Janji apa?"
Levin mendekatkan Wajahnya di depan wajah Wanda, hal itu membuat jantung Wanda berdetak lebih cepat.
"Sejahat apapun nanti Gue sama Lo, tolong jangan pernah jauhin Gue." Ucap Levin sambil menatap lekat mata Wanda, dan membuat tubuh Wanda menegang ditempat.
****
Gimana-gimana? Next ga?
Itu si Levin kenapa dah? Kerasukan apa ya😂
Seperti biasa ya, jangan lupa Vote, share dan coment❤️
Salam cinta daru aku, zika❤️
Sampai jumpa di part-part selanjutnya, babay!👋
__ADS_1
tbc