
****
Author pov
"ALETHA!" Teriak Wanda, lalu menghampiri Aletha yang sedang berjalan menuju kelas, Aletha yang merasa dipanggil pun berhenti berjalan dan menengok.
"Tha Lo marah ya sama Gue gara-gara kemaren ga jadi jalan?" Ucap Wanda dengan Wajah sedih.
"Astaga, enggak Wan, Gue ga marah." Ucap Aletha.
"Tapi ko Lo ga nyamper Gue si?" Ucap Wanda cemberut. Aletha yang mendengar itu langsung menepuk jidatnya.
"Astaga sorry-sorry Wan Gue lupa anjir," Ucap Aletha merasa bersalah.
"Jahat," Ucap Wanda cemberut.
"Ya sorry Wan, Gue tuh ngehindarin Renal, makanya Gue bangun pagi-pagi terus buru-buru berangkat, Gue ga inget Lo, lupa ngabarin juga, sorry banget ya, plis." Ucap Aletha dengan wajah memohon.
"Iya gapapa tapi besok jangan lupa lagi, Gue jadi berangkat sendiri tau."
"Iya,"
"Betewe kenapa Lo ngindarin Renal?"
"Gue Kesel banget sama itu anak, masa dia kemaren kerumah Gue terus minta ijin sama bokap nyokap Gue buat ngajak Gue jalan, malah dia so-soan bawa makanan lagi, terus ngobrol-ngobrol sama bokap Gue gitu, caper banget kan. Udah gitu ya pas Gue jalan sama dia, dia modus banget. Gue heran banget sama bokap Gue, biasanya kan dia gapernah se akrab ini sama cowok yang deketin Gue, tapi kenapa sama Renal bisa sampe sedeket itu coba?!" Ucap Aletha panjang lebar dengan nada kesal, Wanda yang mendengar itu hanya bisa tertawa kecil.
"Hahaha, tuhkan Tha bener dia tuh emang kayanya serius suka sama Lo, hati-hati loh Tha, nanti pas lulus Lo di jodohin lagi sama dia." Ucap Wanda tertawa.
"Ih sembarangan banget Lo kalo ngomong, asal Lo tau aja ya itu anak niat banget coba anter jemput Gue setiap hari, makanya Gue ngehindar dari dia, ogah banget berangkat bareng dia!"
"Hahaha udah ah gabole gitu. Tapi Gue heran banget, kenapa om Sendi tumben ga over protektif kalo ada cowok yang deketin Lo."
"Gatau, pake pelet kali tuh bocah, udah ah ke kelas yo." Ajak Aletha.
"Hahaha, yauda ayo."
Setelah itu mereka berdua berjalan menuju kelas.
*****
Bel istirahat pun tiba, semua anak-anak bergegas menuju kantin. Sedangkan Aletha dan Wanda masih berada di dalam kelas.
"Kantin ga?" Tanya Wanda.
"Enggak deh, Gue mau nyalin tugas fisika, Gue belom ngerjain, liat dong Wan."
"Kebiasaan, yauda tuh ambil di tas Gue, oiya Gue keluar dulu ya Tha,"
"Mau kemana?"
"Ke kelas Levin, mau ngasih makanan." Ucap Wanda sambil mengambil kotak makan di kolong mejanya.
"Lo masih mau deketin Levin lagi? Katanya mau ngelupain, dih omong doang Lo. Udah tau Levin ga demen sama Lo masih aja di kejar-kejar, dasar Bego!" Ucap Aletha ketus.
"Apasi Tha ngomel-ngomel mulu, berisik. Situasinya sekarang beda Tha, udah ah males debat sama Lo. BAY!" Ucap Wanda lalu berjalan menuju pintu keluar.
"GUE SUMPAHIN SI LEVIN PUNYA CEWEK LAGI, BIAR LO TAU RASA!" Teriak Aletha kepada Wanda.
"BODOAMAT GADENGER, PAKE HEADSET!" Balas Wanda dengan teriak juga.
****
"Ada Levin ga?" Tanya Wanda di kepada salah satu siswa cowok tersebut. Sekarang Wanda berada di depan pintu kelas Levin.
"Ada, bentar Gue panggilin." Jawabnya dibalas anggukan oleh Wanda.
"LEVIN, ADA YANG NYARIIN NI CEWEK LO!" Teriak siswa tersebut yang bernama Rakha. Mendengar teriakan Rakha membuat wajah Wanda merona, pasalnya Rakha menyebutkan kata-kata 'cewek Lo'
__ADS_1
"Makasi ya,"
"Iya, yauda Gue duluan ya." Jawab Rakha dengan tersenyum dan dibalas senyum juga oleh Wanda, Setelah itu Rakha pergi dari hadapan Wanda.
"Ngapain senyum-senyum gitu?" Tanya Levin yang sudah berada di depan Wanda.
"Eh Levin, jangan cemburu tadi Gue cuman ngucapin makasi ko." Ucap Wanda tersenyum lebar kepada Levin.
"Ada apa nyariin Gue?" Tanya Levin mengalihkan pembicaraan.
"Gue mau ngasih makanan, nih buat Lo, tolong banget ya kali ini jangan di tolak, Gue bangun pagi-pagi banget buat bikin ini tau." Ucap Wanda dengan nada memohon.
"Duduk situ." Ucap Levin menunjuk bangku yang ada di dekat mereka. Setelah itu mereka pun duduk di situ.
"Ini buat Gue?" Tanya Levin sambil memegang kotak makan itu.
"Iyalah, masa buat pak satpam yang jaga gerbang si, cobain deh nasi goreng cinta khusus orang yang Gue cinta!" Ucap Wanda antusias.
Levin tidak menanggapi ucapan Wanda, dia membuka kotak makan itu dan mencicipinya.
"Gimana, enak ga?"
"Lumayan."
Sedangkan Wanda yang mendengar jawaban Levin hanya bisa tersenyum tipis, mungkin besok-besok dia akan mencoba belajar untuk memasak lagi.
Mereka berdua asyik berbicara, oh lebih tepatnya hanya Wanda yang berbicara, sedangkan Levin hanya bisa mendengarkan dan sesekali menjawab.
"Yauda Gue masuk kelas dulu ya Vin," Ucap Wanda tersenyum.
"Iya,"
Baru Wanda ingin berjalan menuju kelas tiba-tiba Juja memanggilnya.
"Kenapa ka?"
"Nanti pulang sekolah bisa anterin Gue ga?" Baru Wanda ingin menjawab, Levin sudah memotong pembicaraannya.
"Dia pulang sama Gue." Ucap Levin dengan Wajah datar. Juna menatapnya sebentar lalu kembali menatap Wanda.
"Gimana Wan bisa ga?" Ucap Juna seolah tidak menghiraukan ucapan Levin.
"Eum so-sorry ka, Gue pulang sama Levin." Jawab Wanda, sedangkan Levin hanya bis tersenyum kecil. Juna yang mendengar itu hanya bisa mengehela nafas kecil.
"Yauda gapapa ko Wan," Ucap Juna mencoba tersenyum.
"Balik ke kelas sana." Ucap Levin kepada Wanda.
"Iya Levin, yauda Gue ke kelas dulu ya. Belajar yang bener, jangan mikirin Gue terus." Ucap Wanda sambil terkekeh. Juna yang mendengar itu merasa panas, Lalu Wanda melangkah pergi meninggalkan Juna dan Levin.
"Ngapain Lo masih disini?" Ucap Levin masih dengan Wajah datarnya.
"Mau Lo apasi? Lo tuh udah putus sama Wanda, ngapain Lo masih deketin dia?"
"Urusan sama Lo apa?"
"Gue suka sama dia, dan Gue pastiin, Gue bakal rebut dia dari Lo!"
Levin yang mendengar itu memegang pundak Juna keras dengan tangan kanannya dan tangan kirinya yang masih di dalam kantong celananya.
"Gih ambil, itu juga kalo dia mau sama Lo." Bisik Levin di telinga Juna sambil tersenyum miring.
****
"Woi bengong mulu, kenapasi?" Tanya Renal kepada Rian, sekarang mereka berada di kantin. Tadi saat Levin dipanggil Wanda, Levin menyuruh kedua sahabatnya itu untuk ke kantin duluan.
__ADS_1
"Gapapa." Jawab Rian masih dengan mengaduk-aduk makanannya. Sedangkan Renal hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Gue sedih banget masa," Ucap Renal.
"Kenapa Lo?"
"Gue tuh kemaren abis jalan sama Aletha, terus Gue janji bakal anter jemput dia setiap hari. Eh dia malah udah berangkat duluan."
"Itu si namanya dia ogah dijemput sama Lo, makanya dia ngehindarin Lo, cari aman. Biar ga di gangguin makhluk kaya Lo!"
"Sialan Lo, tapi Gue mah gabakal nyerah, berjuang terus pantang mundur!"
"Gila!"
"Bodoamat, Gue pengen kaya Wanda yang di tolak berungkali sama Levin, tapi dia gapernah nyerah."
Sedangkan Renal hanya bisa menggelengkan kepalanya, sahabatnya yang satu ini sudah benar-benar gila dengan pesona Aletha.
****
"Lo beneran pulang bareng Levin?" Tanya Aletha, sekarang mereka berada di parkiran.
"Iya, gapapa kan Gue ga pulang bareng Lo?"
"Iya deh gapapa, tapi cuman sehari aja ya, entar Gue gada temen pulang."
"Iya Tha,"
Tiba-tiba Renal datang menghampiri mereka berdua.
"Aletha!" Panggil Renal, Aletha yang mendengar itu hanya bisa memutarkan bola matanya, malas.
"Apaansi!"
"Tadi pagi Gue jemput kenapa Lo udah berangkat duluan?"
"Serah Gue lah!"
"Yauda deh gapapa, tapi besok mah berangkat bareng Gue ya!" Ucap Renal tersenyum, sedangkan Aletha hanya bisa mendengus kesal.
"Kebetulan ada Lo, hari ini Gue pulang bareng Levin, Lo anterin Aletha ya, kasian dia pulang sendiri." Ucap Wanda, Aletha yang mendengar itu hanya bisa melototkan matanya.
"Wan, apaansi!"
"Udah gapapa!"
"Wah bakal ada tanda-tanda balikan ni kayanya, siap Gue bakal anterin Aletha ke rumahnya, kalo perlu ke pelaminan langsung!" Wanda yang mendengar itu hanya bisa terkekeh.
"Yauda sana, anterin ya temen Gue!" Ucap Wanda sambil mendorong Aletha agar mendekat ke Renal. Renal yang mendapatkan kode seperti itu langsung buru-buru menarik tangan Aletha, walaupun gadis itu terus-terusan memberontak, tapi Renal tidak peduli. setelah itu mereka berdua pergi dari hadapan Wanda.
"Ayo naik," Ucap Levin yang ada di depan Wanda, dan sudah menaiki motor.
"Iya," Jawab Wanda tersenyum, sambil menaiki motor.
"Kenapa belum jalan?" Tanya Wanda, karena sedari tadi Levin belum melajukan motornya, padahal dia sudah menaiki motor. Tanpa disangka Levin menarik tangan Wanda dari belakang dan menaruhnya di perut dia. Wanda sontak kaget dan jantungnya lagi-lagi berdetak lebih kencang.
****
Gimana-gimana? Next ga?
Maap ya rada gajelas, soalnya aku lagi males, pembaca udah banyak tapi like dan komen dikit banget, berasa ga semangat. Padahal komen dan like kalian itu berharga banget buat aku, buat bikin aku semangat. Tapi yaudahlah ya aku gaakan maksa hehe.
Sampai jumpa di part-part selanjutnya, itupun kalo aku lagi mood dan semangat buat ngelanjutin, babay!👋
Salam cinta dari aku, zika❤️
__ADS_1
Tbc