I Love My-Ex

I Love My-Ex
Part 10


__ADS_3

"entahlah, mungkin kali ini aku akan menyerah."



****


Author Pov



"Wan ayo kelapangan, ka Juna tanding basket," Ucap Aletha antusias sambil menarik tangan Wanda. selain ketua osis, Juna juga ketua basket, itu alasan kenapa makin banyak siswi-siswi di sekolah yang menyukai nya.



"Aduh iyaiya Tha sebentar, Lo duluan aja deh."



"Ah yauda deh lama Lo, tapi entar nyusul ya,"



"Iyaa." Lalu setelah itu Aletha pergi keluar kelas untuk menuju ke lapangan.



****


"Gue denger-denger si Juna bakal ngincer si Wanda lagi tuh," Ucap Renal kepada kedua sahabatnya. Sekarang mereka sedang berada di taman dekat lapangan.



"Lo kata siapa?" Tanya Rian.



"Yaelah Lo kaya gatau cewek-cewek disini aja deh, tukang gosip." Jawab Renal.



Sedangkan Rian hanya mengangguk, dan Levin masih duduk senderan dengan tangan dilipat di dada nya dan memasang wajah datarnya sambil menatap kearah lapangan. Disana sudah banyak siswa-siswi yang berkumpul untuk menyaksikan pertandingan.



"Kalo Wanda jadian sama Juna, Lo rela ga Vin?" Tanya Renal kepada Levin.



"Ngapain Lo nanya gituan ke Gue? Dia bukan siapa-siapa Gue lagi, seterah dia mau pacaran sama siapa, Gue ga peduli!" Ucap Levin ketus. Mulut Levin bisa berbicara seperti itu, tapi tidak dengan tatapan nya yang seolah menyiratkan sesuatu.



"Wes santay aja bro jawabnya, kaya orang cemburu aja." Ucap Renal sambil tertawa, sedangkan Levin hanya bisa menatap tajam Renal.



"Lagian kalopun Juna emang mau deketin Wanda, belum tentu tuh Wanda mau, tau sendiri dia cinta mati banget sama Levin." Ucap Rian kepada Renal.



"Wah iya jugasi bener," Ucap Renal sambil mengangguk.



"Levin!" Panggil Wanda yang kini sudah ada di sampingnya, sedangkan Levin tidak menjawab dan masih menatap kearah depan.



"Eh Wanda, si Aletha kemana?" Tanya Renal basa basi.



"Si anying modus banget segala nyapa padahal nanyain Gebetan." Ucap Rian sambil menabok Tangan Renal.



"Biarin aja, daripada Lo jomblo!" Ejek Renal sambil menjulurkan lidahnya kepada Rian.



"Maap-maap aja jomblo-jomblo gini, bahan inceran cewek." Ucap Rian sombong.

__ADS_1



"Cih," decak Renal sinis.



Sedangkan Wanda yang melihat itu hanya bisa tertawa kecil. " Aletha ada di lapangan tuh, samperin aja gih."



"Asiyap, Gue kesana dulu ya." Ucap Renal dan pergi menuju ke area lapangan.



"Soal cewek aja cepet, Gue ke kantin dulu ya aus mau beli minum." Ucap Rian meninggalkan Levin dan Wanda berdua, sepertinya Renal tidak mau menganggu mereka berdua.



"Levin Gue mau ngasih ini buat Lo," Ucap Wanda sambil memberikan kotak kecil.



Levin mengambil kotak itu dan membukanya. Setelah dibuka ternyata yang ada di dalam kotak itu adalah sebuah jam tangan laki-laki.



Sedangkan Levin yang melihat itu hanya bisa tersenyum miring, seperti senyum meremehkan.



"Selamat ulang tahun ya Vin, Gue tau ulang tahun Lo itu masih minggu depan, tapi Gue mau jadi orang pertama yang ngasih kado dan ucapan, itu jam tangan buat Lo dipake ya kalo mau ke sekolah, semoga suka." Ucap Wanda antusias sambil tersenyum.



Sedangkan Levin berdiri dan memanggil siswa laki-laki yang sedang berjalan.



"Woy sini Lo!" Teriak Levin kepada laki-laki itu.



"Kenapa ka?" Ucap laki-laki berkacamata yang ada di depannya saat ini.




"Buat saya ka?"



"Iya, ambil buru,"



"Wah makasi ya ka." Ucap laki-laki itu senang.



"Iya, udah sana pergi!" Ucap Levin, setelah laki-laki itu pergi Levin duduk kembali tanpa memperdulikan Wanda yang tampaknya kaget dengan apa yang Levin lakukan tadi.



"Ke-kenapa di kasih ke dia Vin?" Ucap Wanda bingung.



Levin berdiri lagi mendekat kearah Wanda sampai mereka tidak ada jarak dan menatap tajam Wanda, sedangkan Wanda hanya hanya bisa menunduk, dia takut melihat tatapan Levin yang tajam dari dekat.



"Liat Gue!" Levin menarik dagu Wanda agar dia menatap Levin."Gue udah cukup sabar selama ini sama Lo. Udah cukup Lo gangguin Gue, Lo selalu ngejar-ngejar Gue, bikin hari-hari Gue rusak semua cuman karna Lo, jadi sekarang Gue minta Lo berhenti gangguin Gue, jauh-jauh dari hidup Gue. Dan jangan pernah gangguin Gue lagi." Ucap Levin tajam masih dengan menatap Wanda.



Setelah itu Levin berbalik badan untuk meninggalkan Wanda, tapi baru selangkah dia berhenti karna mendengar isak tangis Wanda. Levin tertegun. Dia memang tidak membalikkan badan untuk melihat Wanda, tapi Levin tau Wanda menangis, dia bisa mendengar suara tangisannya. Baru kali ini Wanda berani menangis di depan Levin. Padahal selama ini mau Levin membentaknya, memberi tatapan tajam, berbicara kasar padanya, rasanya tidak sesakit sekarang.



Wanda tau dia salah karna selama ini masih mengejar-ngejar Levin, mencampuri setiap urusannya, tapi itu semata-mata agar Levin kembali bersama dia. Levin juga tidak tau bagaimana perjuangan Wanda selama ini, bahkan Wanda Rela menghabiskan uang tabungannya hanya untuk membeli Levin jam tangan itu, tapi dengan gampangnya Levin malah memberikan jam tangan itu kepada orang lain, rasanya semua yang dia lakukan tidak ada gunanya dimata Levin, semuanya hanya sia-sia.

__ADS_1



Wanda membalikan badan dan buru-buru pergi dari hadapan Levin. Sedangkan Levin kini berbalik sambil menatap punggung gadis itu. Ada perasaan mengganjal di hatinya, entah perasaan apa. Hanya Levin yang tau.



****


"Eh cantik, kita ketemu lagi." Goda Renal kepada Aletha sambil duduk di sebelahnya.



"Apaansi ih, jauh-jauh dari Gue!" Usir Aletha kepada Renal.



"Yaelah judes mulu, Lo kan sendiri makanya Gue mau nemenin Lo."



"Ogah, bentar Lagi juga Wanda dateng, jadi mending Lo pergi sana!"



"Gamau, maunya deket kamu." Ucap Renal sambil menempelkan kepalanya di pundak Aletha.



"Apaansi anjir ih berat!" Ucap Aletha sambil mencoba menyingkirkan kepala Renal, tapi sayang tenaganya tidak kuat.



"Biarin kaya gini dulu Tha, sekali aja jangan ketus sama Gue, Gue nyaman sedeket ini sama Lo." Ucap Renal lembut, masih dengan menempelkan kepalanya di pundak Aletha.



Sedangkan Aletha mendadak diam mendengar Ucapan Renal, entahlah sepertinya ada yang tidak beres dengan jantungnya karena berdetak lebih kencang.



****


"Wan Lo kenapa?" Ucap Rian menarik tangan Wanda karena melihat gadis itu berjalan sambil menangis.



"Gapapa," Ucap Wanda mencoba melepaskan tangannya dari genggaman Rian.



"Mulut Lo boleh bohong, Tapi hati dan mata Lo enggak."



Tiba-tiba Wanda memeluk Rian dan menangis di dada laki-laki itu. Rian refleks mengusap punggung gadis itu untuk menenangkannya.



Untung saja koridor itu sepi hanya mereka berdua, jadi tidak ada yang melihat Wanda menangis begitu kencang.



****


Gimana-gimana? Next ga?



Kasian Wanda huhu😢



Seperti biasa ya, jangan lupa vote, share, dan coment ya❤️



Sampai jumpa di part-part selanjutnya, babay!👋



tbc

__ADS_1



__ADS_2