I Love My-Ex

I Love My-Ex
Part 11


__ADS_3

"kamu tuh kaya bunglon ya, bisa berubah-ubah."



****


Author Pov



"Wan, Lo kenapa?" Tanya Aletha kepada Wanda. Sekarang mereka berada di kelas hanya berdua karena siswa-siswi masih asik menonton pertandingan, Tadi Aletha menunggu Wanda di lapangan, tapi Wanda malah tidak datang, alhasil Aletha di modusin terus deh sama Renal.



"Gapapa Tha,"



"Serius?" Tanya Aletha, pasalnya Wanda menampakkan wajah sedih.



"Iya serius, sorry tadi ga ke lapangan ya, soalnya perut Gue sakit Tha." Ucap Wanda berbohong, karena kalau dia jujur sama Aletha soal kejadian tadi, Aletha pasti bakal marah banget.



"Iya gapapa, sekarang masih sakit ga? Gue anter ke UKS aja ya,"



"Enggak ko gausah, oiya jadi tadi Lo dilapangan sendiri dong?"



"Enggak, ada Renal ngintilin Gue terus." Ucapnya kesal.



"Hahaha, diatuh suka sama Lo tau Tha, mending sama dia aja, dia baik, ganteng lagi."



"Gimana bisa Lo bilang dia baik kalo Lo aja gatau sejauh mana sifat dan kelakuan dia, iya Gue tau dia ganteng, tapi nyatanya yang ganteng itu nyakitin Wan, apalagi dia itu temennya mantan Lo yang masih Lo puja-puja yakin si sifat sama kelakuannya sama persis."



"Gabole berfikiran buruk dulu Tha,"



"Bodoamatlah gamikirin juga, mending ke kantin yu laper nih," Rengek Aletha sambil mengusap-usap perutnya.



"Iya ayo."



****


Sudah seminggu Wanda menjauhi Levin, mungkin kali ini dia memang akan benar-benar menyerah. Walaupun rasa dia untuk Levin masih sama, tapi Wanda sadar kalau Levin memang tidak akan pernah kembali kepadanya.



"Wan," Panggil Aletha.



"Hm," Jawab Wanda masih sibuk mencatat tulisan yang ada di papan tulis.



"Udah beberapa hari ini Gue ko jarang ngedenger Lo ngomongin Levin lagi ya? Tumben banget." Tanya Aletha bingung, karena biasanya setiap hari Wanda pasti akan membicarakan apapun tentang Levin.



"Ya bagus dong, bukannya itu yang Lo mau?"



"Iyasi, tapi ko tiba-tiba?"



"Gue lagi belajar lupain dia Tha, doain aja." Jawab Wanda singkat, dia tidak mau membahas soal ini, karena semakin di bahas dia akan semakin sulit melupakan Levin.



Sedangkan Aletha hanya mengangguk, lalu melanjutkan mencatat apa yang ada di papan tulis.



****


Bel istirahat pun berbunyi, kini Levin, Rian dan Renal bersiap-siap untuk menuju ke kantin.



"Ayo woi ke kantin, laper Gue." Ucap Renal.



"1% laper, 99% biar bisa ketemu Aletha," Celetuk Rian.


__ADS_1


"Haha tau aja Lo kampret, kuylah kantin udah kangen nih Gue sama ayang bebep Aletha."



"Buruan, lama." Ucap Levin berjalan menuju pintu.



"Dih si anjir, ko dia yang antusias si." Ucap Renal bingung. Sedangkan Rian sudah berjalan menuju pintu menyusul Levin.



"TUHKAN AKU DITINGGALIN, KALIAN TEGAHHH!" Teriak Renal dengan nada yang menjijikan.



Setelah itu mereka bertiga berjalan menuju kantin, di perjalanan banyak siswi-siswi yang menyapa mereka. Rian dan Renal hanya bisa membalas dengan senyuman, sedangkan Levin hanya bisa memasang wajah datarnya, seolah tidak peduli.



****


Setelah mereka sampai di kantin, Renal, Rian dan Levin langsung memesan makanan, sambil menunggu pesanan datang, Levin melihat Aletha dan Wanda yang sedang berjalan menuju kearah kantin. Melihat Wanda membuat Levin teringat akan kejadian beberapa hari yang lalu, ternyata Wanda menuruti apa yang Levin minta, sudah beberapa hari ini Levin tidak pernah diganggu akan kehadiran Wanda, tidak ada yang memberikan senyuman kepada Levin, menyapanya, menghampirinya, dan memberikan kotak makanan setiap harinya. Justru semenjak Wanda tidak pernah menganggunya lagi, Levin merasakan perasaannya seperti ada yang mengganjal.



"Eh Aletha, sini neng duduk sama abang," Ucap Renal menarik tangan Aletha yang sedang berjalan melewati meja ketiga laki-laki itu.



"Apaansi, lepas ga?!" Ucap Aletha ketus.



"Iya iya, galak banget si."



"Bodo, ayo Wan duduk disana." Ucap Aletha sambil menarik tangan Wanda.



"Pftttt mampus ditolak!" Ucap Rian menahan Tawa.



"Terus aja terus, emang paling demen liat Gue ditolak gebetan!"



"Itu Lo tau," Ucap Rian santai, dan dibalas tatapan sinis Renal.



Sedangkan Levin masih memperhatikan Wanda yang duduk di tempat yang tidak jauh darinya. Wanda yang tau Levin memperhatikannya, buru-buru membuang muka kearah lain, dia tidak ingin menatap Levin juga, karena itu bisa membuat rencana Move on nya gagal.




"Ha- eh iya kenapa?"



"Ditanya mau pesen apa malah bengong,"



"Hehehe, samain aja Tha kaya Lo."



"Yauda bentar, Gue pesen dulu ya."



"Oke."



****


Aletha dan Wanda yang sudah selesai makan, kini berjalan beriringan menuju kelas.



"Nanti malem jalan yu Wan," ajak Aletha.



"Kemana?"



"Kemana aja, makan kek atau nonton gitu, daripada bete dirumah."



"Yauda boleh, nanti malem Lo kerumah Gue aja."



"Okey,"


__ADS_1


Tiba-tiba ada seorang siswi berteriak memanggil Wanda.



"Ka Wanda!"



Wanda dan Aletha yang sedang berjalan, kini berhenti dan menengok kebelakang.



"Kenapa?"



"Kaka di panggil ka Juna di ruang osis, sekarang."



"Oh yauda makasi ya."



"Iya ka sama-sama." Setelah itu siswi itu pergi meninggalkan Aletha dan Wanda.



"Yauda sana Lo keruang osis aja, Gue duluan ke kelas ya,"



"Iya tha,"



"Siapa tau Lo mau di tembak sama ka Juna di ruang osis." Ucap Aletha menggoda Wanda, setelah itu Aletha buru-buru lari kearah kelas, takut Wanda mengamuk.



"ISS ALETHA!" Ucapnya kesal.



****


Saat Wanda berjalan menuju ke ruang osisi, tiba-tiba seseorang menarik tangannya.



"Le-vin?" Ucap Wanda kaget karena laki-laki itu menarik tangannya.



"Kenapa?"



"Gapapa, kenapa narik tangan Gue?" Ucap Wanda bingung, bukannya laki-laki ini sudah tidak ingin bertemu lagi dengannya?



"Duduk!" Titah Levin, sambil melirik bangku yang ada di dekat situ. Akhinya Levin dan Wanda pun duduk tidak berjauhan dan tidak terlalu dekat.



"Kenapa?" Tanya Levin.



"Kenapa apa?"



"Kenapa Lo ngikutin semua perkataan Gue?"



Deg. Wanda bingung harus menjawab apa, kenapa laki-laki yang ada di hadapannya ini cepat sekali berubah. Tempo hari yang lalu Levin bilang tidak ingin diganggu oleh Wanda lagi, tapi kenapa sekarang dia malah seolah tidak suka jika Wanda menjauhinya.



"Biar Lo ga risih lagi sama Gue, Gue sadar ko selama ini Gue salah karena selalu ganggu hari-hari Lo, bikin Lo risih sama kelakuan Gue. Lo bener, Gue itu cuman cewek yang gatau malu yang ngejar-ngejar cowok yang jelas-jelas gabakal bisa bales perasaan gue. Kata nyokap Gue kalo emang Gue jodoh sama Lo kita bakal di persatukan lagi sama tuhan gimanapun caranya. Tapi kalo enggak, mungkin Lo emang bukan yang terbaik buat Gue. Sebenernya sulit nerima kenyataan kalo akhirnya kita emang gaakan pernah sama-sama lagi, tapi mau gimana lagi, mungkin kita cuma di pertemukan bukan di persatukan." Ucap Wanda dengan mata berkaca-kaca.



"Jangan nangis," Jawab Levin, sambil menghapus air mata yang ada di pipi Wanda. Sedangkan Wanda yang di perlakukan seperti itu, hanya bisa terdiam kaku, tidak disangka jika Levin akan melakukan hal ini.



"Nanti malem Gue jemput, kita jalan." Ucap Levin, setelah itu dia meninggalkan Wanda yang masih duduk terdiam. Astaga ada apa dengan Levin? Kenapa laki-laki itu bersikap seperti tadi?



*****


Gimana-gimana? Next ga?



Kira-kira itu Levin kenapa ya?🤔



Seperti biasa yaa, jangan lupa Vote, share , dan coment❤️

__ADS_1



Sampai jumpa di part-part selanjutnya, babay!đź‘‹


__ADS_2