
"manusia selalu punya saat saat rapuh"
Selangkah demi selangkah Keysa memasuki gedung resepsi dengan decak kagum. Suasana ramai dari orang orang berkelas, juga dekorasi mewah semakin membuat nya tak percaya diri.
"Mungkin harusnya gue nggak kesini. " pikir Keysa. Ya Reno memang bukan orang sembarangan, dan itulah juga yang membuat Keysa mengerti bahwa pendamping hidup Reno juga tak bisa sembarangan macam dia. Keysa masih terus berusaha masuk ke gedung itu sambil sesekali tersenyum dan menelan ludah. Berbagai macam hidangan penggugah selera tak bisa menggoda lidah nya. Ia terus melihat ke depan, hingga akhirnya ia benar benar yakin dan tersadar bahwa garis antara si miskin dan si kaya akan selalu terlihat jelas.
Ia menangkap sosok Reno berada di atas panggung dari kejauhan bersanding dengan wanita yang begitu cantik menurutnya. Senyum bahagia terpancar dari pasangan itu. Keysa menggigit bibirnya kuat kuat menahan tangis yang ingin sekali ditumpahkan nya. Semakin lama hati nya semakin tersiksa. Keysa mulai tak sanggup menahan nya. Melihat semua itu hatinya hancur. Buru buru dia membalikkan badan,mengangkat kaki dan
..... dug....
Keysa menabrak seorang pria yang sedari tadi berdiri di belakang nya.
Ia mengangkat kepalanya dan mendapati sosok yang sangat dia kenal ada di hadapan nya.
"Ceroboh banget sih. untung gue yang lo tabrak. Gue kira salah liat, ternyata benaran lo ya Key. "
__ADS_1
Axel memang melihat sosok tubuh Keysa di kerumunan tamu. Tapi ia tak begitu yakin, sampai dia mengikutinya dan memastikan sendiri. Axel memperhatikan wajah Keysa yang terlihat muram, juga matanya yang ber kaca kaca . Sejenak ia mengingat ngingat nama seseorang yang pernah Keysa sebutkan di taman dan sepertinya Axel agak terkejut.
"Waw, Keysa mantan lo yang namanya Reno itu jangan jangan.?"
Keysa mengangguk sambil masih menggigit bibirnya. Axel segera meraih tangan Keysa dan membawanya ke luar gedung. Ia melihat kesana kemari mencari cari tempat sepi, akhirnya Axel membawa Keysa ke belakang tempat resepsi. Satu satunya tempat dimana Axel bisa mengintrogasi Keysa tanpa ada yang melihat.
Axel menyandarkan tubuh Keysa pada tembok dan menatapnya lekat lekat.
"Well Keysa. Lo dateng sendirian ke pernikahan mantan lo, mantan yang katanya paling lo Cinta itu. Apa lo **** atau gimana? "
"Lo bohong Key." Axel menaikan nada bicara nya. Keysa merasa Axel agak marah. tapi kenapa? dia tak memiliki urusan atau hak apapun .
"Lo juga ngapain disini? "
Keysa berusaha mengganti topik pembicaraan.
__ADS_1
"Reno anak dari salah satu kolega bokap gue. Bokap gue nggak bisa dateng. Jadi gue gantiin. "
Mereka berdua saling diam tanpa kata. Keysa menunduk tapi Axel meraih dagu wanita manis itu dan membuat keysa mendongak melihat ke arah wajah laki laki yang bertubuh lebih tinggi dari Keysa.
"Key, jangan pura pura kuat di depan gue. lo bisa nangis kalau lo mau. lo nggak harus nanggung beban kaya gini sendirian. Manusia selalu punya saat saat rapuh dan... "
Axel berhenti bicara, ketika tiba tiba Keysa memeluk dan membenamkan wajahnya di dada Axel. Suara tangisan gadis itu semakin terdengar jelas.
"Gue tahu patah hati itu rasanya sakit. Tapi gue nggak nyangka kalau rasanya separah ini. " Keysa terus menangis sejadi-jadinya.
Ragu ragu Axel mengangkat tangannya dan membalas pelukan Keysa. Ia bisa merasakan betapa Keysa merasa hancur saat ini. Ia membelai rambut Keysa dengan lembut dan berusaha sebaik mungkin untuk menjadi sandaran nya.
"Nangis aja yang kenceng , kalau emang bikin lo puas." Axel juga menutupi kesedihannya mendengar tangisan Keysa. Iya merasa betapa beruntungnya jika memiliki kekasih dengan perasaan tulus seperti keysa.
***
__ADS_1
mohon maaf bila ada banyak typo dan kata yang kurang berkenan karena author masih amatiran. jangan lupa like dan coment nya ya