
tak ada bangkai berbau harum. kecuali pake formalin.
Namun tiba tiba Axel membuka mata nya dan buru buru menarik tangan Leana, membuatnya berbalik dan mendapatkan ciuman manis dari Axel.
Keysa berdiri di belakang pintu kamar Axel yang baru setengah terbuka. Ia sedikit menongolkan kepalanya dan melihat adegan drama Axel. Merasa mendapat kesempatan. Ia berjinjit secepat mungkin menuju kamar mandi dan menutupnya perlahan lahan.
Axel mencium Leana dengan mata terbuka, dan melihat Keysa yang melintas, dan di yakini Axel Keysa pasti menuju toilet di kamarnya. Dia melepaskan ciumannya, dan menyisakan lamunan Leana. Ya ... jauh di lubuk hati Leana, ia begitu merindukan pria ini. Axel tersadar dengan leana yang masih mematung.
"Le, lele," Axel menggerak gerakan tangannya di depan mata leana dan membuat ia bangun dari lamunannya.
"Ah iya Xel. So sorry gue.... ah udah gue nggak mau bahas. Ayo kita masuk gue kangen juga deh ama kamar lo."
Leana masuk tanpa persetujuan Axel dan membuat ia kembali panik. Sekarang ia hanya berharap Leana tak berencana buang air, atau melakukan hal lain yang berhubungan dengan toilet.
Leana mengelilingkan pandanganya di kamar yang penuh dengan kenangan mereka berdua. Ia mengingat setiap detik betapa bahagianya hubungan mereka, kalau saja ia tak melakukan kesalahan. Pandangan Leana terhenti pada sebuah foto yang masih menempel dengan sempurna di dinding. Hatinya tergerak. Ada rasa sedih tapi juga bahagia saat ia mendapati potret dirinya dan Axel tak berpindah tempat.
"Axel, lo..eh ini foto kita masih ada disini."
__ADS_1
Axel lupa dengan kepanikannya melihat raut wajah Leana yang tampak aneh. Ia tak bisa menebak, senang kah, marah kah, atau apa?
"Ya, aku pernah berharap dengan terus melihat foto itu kamu akan berubah pikiran dan kembali ke sisi aku."
Leana tak terkejut karena betapa seringnya Axel mengeluarkan kata kata manis untuk megajaknya kembali. Tapi kali ini berbeda. Ada rasa penyesalan yang dalam di hatinya.
Keysa mendengarkan semua perkataan Leana dan Axel dari dalam kamar mandi. Dan ia mengingat apa yang dilakukan Axel dan Leana sebelum berhasil masuk. "Ini aneh. Kenapa rasanya agak sakit." Ucap Keysa dalam hati.
Leana membaur ke dalam pelukan Axel. Entah kenapa ia jadi merasa begitu ingin memiliki pria ini lagi. Tapi penolakan bertubi tubi yang ia lakukan membuatnya berpikir dua kali. Axel tak buru buru membalas pelukan itu. Ia memang merasa senang tapi hampa, ya hampa. Mungkin ada bagian dari dirinya yang hilang. Atau mungkin terlalu lama menunggu. Ia sekarang teringat pada Keysa yang pasti telah mendengar pembicaraan mereka. Dengan ragu Axel membalas pelukan Leana. Mereka bertiga kini hanyut dalam hati yang mulai bingung dengan perasaan masing masing.
"Tadi gue ke rumah Key. Gue inget ini hari pernikahan mantannya dia. Jadi gue berencana buat nemenin dia. Tapi pas nyampe sana malah gk ada siapa siapa. Gue jadi khawatir."
Leana memulai obrolan ringan dan duduk di ranjang Axel.
"Nggak usah kawatir. Keysa orangnya asik kok. Jadi dia pasti baik baik aja."
"Nggak nyambung ah lo. Ya udah gue mau balik dulu ya."
__ADS_1
Axel merasa lega mendengar Leana akan pergi, tapi ia tak bisa menunjukannya atau Leana akan curiga dan semakin lama untuk pergi.
"Kok buru buru kamu kan baru dateng."
"Iya nih, soalnya bonyok gue tumben nih ada di rumah. Nggak papa kan?"
"Iya lah. Nggak papa banget. Lebih cepat lebih bagus" ucap Axel dalam hati.
"Gue mau ke toilet dulu bentar."
Keysa yang mendengar itu dari dalam kembali panik. Ia memegangi gagang pintu itu sekuat mungkin dengan wajah yang mulai pucat.
Axel menggigit bibirnya kuat kuat dan kembali memicu debar jantung yang semakin keras. "Semoga Keysa lebih pinter dari gue." batin Axel.
***
Huuuhhh masih belom ketemu juga sama Keysa. Gimana ya ketemuin apa jangan ya. nanti deh author mikir dulu. jangan lupa like dan commentnya
__ADS_1