
Huang Zi Tao as Nathan Alexandra Ferdian
Shen Yue as Aluna
Sambil nunggu Natham selesai mandi Aluna berjalan ke arah balkon sebelum dia membuka pintu tiba-tiba "DORR" timah panas melesat menembus pintu kaca balkon membuat Aluna teriak histeris "AAAAKKHHHHH"....
Nathan langsung berlari ke luar dari kamar mandi saat mendengar suara tembakan di kamarnya,ini yang dia takutkan. Dia segera mengambil pistol dari bawah bantal yang sudah dia siapkan kalau-kalau ada situasi seperti ini.
Dia mengarahkan pistol itu ke arah penembak yang tidak jauh dari gedung hotel mereka dan " DORRR" peluru mendarat pas di kepala sang penembak.
Nathan segera menghampiri Aluna yang tengah menutup telinganya di balik gorden sambil menangis sesegukan. Dia cukup shock dengan kejadian yang baru saja dia alami.
"Kamu gak apa apa Aluna?" tanya Nathan.
Aluna keluar dari balik gorden dengan mata yang masih mengeluarkan air mata.
"A-aku ta-takut Nath" ucap Aluna lalu memeluk Nathan yang hanya mengenakan handuk mandinya.
"Tenang aja,selama masih ada aku kamu aman" Nathan mencoba menenangkan Aluna. "Sepertinya gue harus segera menyelesaikan masalah mami,kalo enggak gue takut Aluna yang jadi sasaran mereka" batinnya.
__ADS_1
Hatinya sakit saat melihat Aluna yang ketakutan.
"Aluna,inilah duniaku yang gak kamu ketahui. Akan ada banyak peluru yang mengincarku,kapan saja aku lengah mereka aka segera melesat ke arahku. Mereka mencari kelemahan ku,dan saat ini kamulah yang menjadi kelemahan ku. Aluna,setelah kamu tau sedikit tentang bahayanya hidupku apa kamu masih mau menjadi wanitaku?mungkin kejadian ini belum seberapa" ucap Nathan masih memeluk Aluna erat.
Aluna mendongkakan kepalanya.
"Nath,aku gak peduli seberapa bahayanya hidup kamu. Aku hanya ingin hidup bersamamu menjadi wanitamu satu-satunya.Aku tidak peduli akan cepat mati saat bersamamu. Yang aku mau adalah bahagia bersamamu di sisa akhir hidupku" ucap Aluna.
Nathan terharu mendengar kata-kata dari mulut Aluna. kemudian dia meraih dagu Aluna dan mencium bibirnya .
Aluna tak tinggal diam,dia membalas ciuman Nathan. Hingga ciuman yang awalnya lembut berubah jadi menuntut.
"Apa kita lanjutkan di atas ranjang?" bisik Nathan menggoda.
"Ya ya ya baiklah kita makan dulu setelah makan nanti kita lanjutkan kegiatan kita di rumahku" gumam Nathan pelan
"A-apaa???" tanya Aluna,dia seolah-olah tidak mendengar ucapan Nathan. padahal dalan hatinya dia bingung harus mencari alasan apa lagi kalau Nathan menyerangnya.
"Gak usah pura-pura tidak mendengar,aku yakin kamu mendengarnya jelas" ucap Nathan.
Pesanan makanan pun datang,Aluna langsung menyantapnya tanpa menunggu Nathan yang sedang memakai pakaiannya.
"Berapa hari kamu gak makan sayang?" tanya Nathan saat melihat Aluna seolah kelaparan.
__ADS_1
"Aku belum makan dari kemarin,jadi wajar kalo aku kelaparan. Kamu takut jatuh miskin yah punya pacar seperti aku yang makan banyak?" ucap Aluna dengan mulut yang masih mengunyah makanannya.
"Aku tidak akan jatuh miskin sayang,uangku banyak hanya untuk membayar makananmu.kalo perlu aku bayar sama restorannya" jawab Nathan sombong
"Cih,sombong" sinis Aluna.
"Gak ada salahnya kan aku sombong, orang kaya mah bebas" ucap Nathan sambil berjalan mendekati Aluna dan duduk di sebelah Aluna
"Aaaa sayang,aku juga laper" ucap Nathan.
"Kalo laper makan lah" jawab Aluna
"Suapin" ucap Nathan.
"Kamu kan punya tangan sendiri"
"Gak mau,mau di suapin" manja Nathan
"Astaga Nathan,kalo anak buahmu tau kamu seperti ini pasti bakalan di ketawain" ucap Aluna.
"Kalo mereka berani menertawakan ku aku tidak akan segan menarik pelatuk pistol kesayangku ke ubun-ubun mereka" ujar Nathan dingin.
Seketika aura pembunuh memenuhi isi ruangan kamar Nathan dan Aluna.
__ADS_1
Aluna pun jadi gelagapan,dia merasa kaku seketika dengan berkeringat dingin.