
Setelah makan mira pergi ke rumah nana. "Na.. ayo pergi" ajak miranda
"Kok baru datang mbak? tanya nana pada miranda. Nana adalah teman mira tapi nana seumuran dengan adik mira dan msih duduk di kelas 3 Sekolah Dasar.
Siang itu Nana dan Miranda tidak janjian untuk mencari kayu bakar di hutan milik warga desa lain. Mereka memang hampir setiap hari mencari kayu bakar, mencari ikan di sungai, bahkan mereka juga sering ke area persawahan untuk mencari sayur yang sudah dibuang setelah panen raya (kalau orang desa menyebutnya Leles, ngasak, atau apalah namanya)
"Mbak.. katanya mau kerja kelompok, kenapa gak jadi?" tanya nana pada mira.
"iya gak jadi gara-gara sepedaku dipakai bapak keluar bawa Tv" jawab Mira santai.
"Waduuuuh... lagi?!" balas nana kaget setengah gak terima.
Ayah Miranda memang sering menjual sepeda angin dengan harga murah karena butuh uang dan malas bekerja, lalu saat memiliki uang ayah mira membeli sepeda lagi dengan harga lebih mahal.
Ayah mira memang tidak pernah perhitungan dengan tetangga maupun teman-temannya, tapi selalu keluarganya yang menanggung akibatnya.
Ent itu kerugian, ataupun tidak ada uang untuk makan esok hari.
Untungnya ibu miranda orang yang ulet, sabar dan rajin. Kadang ibu membantu tetangga panen jagung atau padi.
__ADS_1
Kalau musim tanam padi atau matun (membersihkan hama rumput diantara tanaman padi). Hasilnya lumayan.
apabila tidak ada pekerjaan, ibu miranda mengandalkan ayam peliharaannya. Dan menggunakan uang tabungan hasil kerja di sawah.
Itulah kenapa mira sering pergi mencari kayu bakar dan leles di sawah orang, kadang sampai ke Desa seberang yang berjarak 5 Desa dari desanya.
Adik perempuan miranda tidak seperti miranda, dia lebih suka di rumah dan membantu sebisanya. lain dengan miranda yang pantang menyerah, gesit dan kuat.
"Adik mbak mira mana? tanya nana..
"Biasa.. di rumah dengan nenek, jawab mira.
"Belum, kata dokter harus operasi hari ini, kalau tidak katanya gak bisa selamat. jawab mira santai karena mira belum mengerti Perjuangan hidup dan mati saat melahirkan.
Sepanajng jalan mira dan nana berbincang-bincang, mereka berjalan tanpa tentu arah, mereka mencari bagian persawahan atau hutan yang bisa mereka ambil hasilnya tanpa harus merugikan pemiliknya.
Begitulah kegiatan Mira Setiap harinya, dia lebih berusaha daripada adiknya. Sedangkan Kakak Mira di jakarta tak bisa di hubungi, Hingga akhirnya sang ayah menjual beberapa perabot Rumah seperti televisi, sepeda mira, panci, piring, sendok, garpu, mangkok dan peralatan lainnya yang dibeli ibu mira dan di simpan di lemari perabot rumah tangga.
Bagi mira itu menyebalkan, tapi bagi ayah mira itu adalah jalan terbaik, meski hasil jualn itu tidak bisa mencukupi biaya melahirk sang istri.
__ADS_1
Entah sampai kapan ayah mira akan seperti itu terus.
Sementara ibu mira di rumah sakit sedang berjuang menahan sakit dan menunggu anak bungsunya lahir.
"Bu.. saya suntik dulu ya.. biar ibu tidak merasakan sakit nanti waktu operasi." Ucap suster perawat di rumah sakit kepada ibu.
"Memangnya suami saya sudah membayar biaya operasi ya sus?atau pengajuan biaya jamkesmas saya di setujui?" tanya ibu pada suster perawat.
"Ketika ibu mira berjuang antara hidup dan mati.. ayah mira yang menjual tv dan sepeda di pasar, malah asik dan terbawa suasana pasar yang ramai dengan banyak penjual.
Ayah mira lupa tujuannya menjual barang-barang itu adalah untuk dibyarkan secepatnya ke Rumah sakit, krena pihak Rumah Sakit sedang menunggu DP biaya persalinan yang di jadwalkan hari ini.
"**epilog"
Maaf ya pembaca, Selain menulis Author juga harus mengerjakan skripsi, Mohon bantu Doa ya.. Semoga Segera Lulus. Biar nanti cepet selesaikan Cerita Inikah Hidup.
Sedikit Bocoran Nih.. Nanti ibu mira bakalan kayak orang linglung dan kebingungan sampai-sampai gak mandi selama 3 bulan..
Penasaran kan apa yang terjadi?! Ikuti dan tunggu Lanjutanya ya... 😊😊😊**
__ADS_1