
Malam itu mira gak bisa tidur, dia berguling kesana kemari.. sampai kakinya menendang orang orang yang tidur disampingnya. "Mereka pulas sekali tidurnya "pikir Miranda.. tiba-tiba ada suara penggorengan beradu dengan spatula.. berisik sekali suara itu semakin keras dan rame sekali. Mira memperhatikan asal suara itu dari dapurnya.. dia memberanikan diri mengintip.
Kenapa ada nyala api?! pikir miranda, namun saat dia mendekat suara itu hilang begitu saja, api yang dilihtnya pun tidak ada bekasnya saat miranda dekati. "aneh.. apa aku mimpi?!" pikir miranda.
pagi-pagi sekali miranda sudah ke warung dengan membawa 2 butir telur, telur ayam kampung itu ditukar dengan beras, tempe, dan cabe... itulah kegiatan mira setiap pagi.
Mira harus menjual telur ayam kampung yang dipelihara ibunya, uang itu untuk belanja dan uang jajan disekolah mira. dia tidak merasa sedih dengan keadaannya yang seperti itu. Justru ibu dan ayah mira yang sedih sehingga mereka selalu berdebat tenyang masalah ekomi keluarganya.
buk.. ini tempe, beras dan sama pemilik warung dikasih sayur sop." Alhamdulilah" ucap ibu mira. setelah itu mira pergi mandi di sungai.. karena mira dan keluarganya tidak mempunyai kamar mandi di rumah bibinya.
yah.. bulan depan ibuk dapat arisan, bagaimana kalau kita belikan tanah?nanti kalau ada uang kita tinggal bangun rumah. ayah mira kaget sekaligus bahagia mendengar perkataan sang istri.
__ADS_1
"Alhamdulilah.. akhirnya kita ada kemajuan buk.. " balas sang ayah. malam ini miranda ijin tidur di rumah nenek dari ayahnya.. rumah mereka hanya berjarak 15 rumah saja. Ayah dan ibu miranda mengijinkan, sedangkan kakak mira menginap di rumah nenek di desa sebelah.
"Bu.. ayah pamit pergi ke sungai ya, perut ayah mules sepertinya kebanyakan sambel tadi". ucap sang ayah..
"iya cepet balik yah.. ibu gak berani sendirian hanya dengn si kecil(adik miranda yang bernama sella). kata ibu malika(ibunya miranda)
" bu.. Rumah ayah kunci dari luar, ibu tidur saja.. nanti ayah segera kembali" pamit sang suami.
tiba-tiba sella terbangun dan menangis sekeras-kerasnya.. sang ibu menoleh kebelakannya dengan posisi tidur miring*apa itu, kenapa dia seperti menoleh seolah tidak mau wajahnya dilihat oleh ibu mira*.
Ibu malika merinding dan secara spontan dia melompat dari jendela dengan tiba-tiba (jendela kamar hanya terbuat dari kaca yang ditempel saja ya).. ibu malika berlari dengan menyahut sang bayi, dia berlari ke arah jalan kampung di depan gang rumahnya. Dia duduk di tepi jalan itu dengan rasa takut yang amat sangat.
__ADS_1
"Apa itu tadi?! kenapa badanya berbulu seperti monyet besar, dan.. dan... matanya merah menyala tapi dia tidak mau aku melihat wajahnya, dia memalingkan wajah saat aku melihatnya".. bu malika berbicara seolah dia sedang bersama orang dewasa.
ayah miranda yang berjalan pulang, dari kejauhan dikagetkan dengan keberadaan istrinya yang duduk di depan gang masuk rumahnya. "kenapa disini?! Keluar lewat mana?!" tanya sang suami.
aku.. aku... eh... anu... itu... ucapan bu malika dengan gugup dan nada ketakutannya. sedangkan sang bayi yang digendong sudah tertidur dipangkuan ibunya.
katakan, ceriyakan apa yang terjadi bu.. ?! desak sang suami tidak sabar.
**epilog
Cerita ini sengaja di mulai sejak mira masih kecil.. karena perjalanan hidup mira memang tidak mudah sejak dia masih kecil.
__ADS_1
Lalu kenapa kita tidak menceritakan tentang orang lain?! ya.. karena cerita ini tentang kehidupan miransa dan keluarganya yang ternyata semakin hari selalu ada penampakan**