
Mesya kembali membaca pesan singkat dari Nisya. Betapa menyenangkan, Nisya membawa kabar tentang seluruh keluarga. Tentang mama,papa,juga sekolah Nisya yang tahun ini akan memasuki universitas di Jakarta, begitu isi pesan Nisya yang ingin melanjutkan kuliah nya, bukan bekerja seperti Mesya.
Mesya tersenyum sendiri, saat membayangkan betapa manja adik bungsunya itu. Sudah berbulan-bulan mereka tidak bertemu. Terakhir ketemu lebaran kemarin. Belum satu tahun, tapi rasanya sudah sangat lama. Kalau sedang rindu orang-orang rumah, Mesya merasa sangat kesepian, merasa sedih dan ingin menangis.
Mesya termasuk wanita yang terlahir dengan keluarga yang cukup berada, tapi karena dia ingin hidup mandiri dan tidak ingin mengandalkan harta orang tua nya, Mesya memutuskan untuk bekerja, dan dia hanya mempunyai adik perempuan Nisya yang cukup di manja oleh Mama dan Papa nya.
Untungnya dia punya teman satu kontrakan yang baik, Meta. Juga punya kekasih hati yang selalu perhatian dan peduli pada nya, juga mencintai Mesya, Danish. Dua orang itu benar-benar pengobat sepinya.
Dari pesan Nisya, pandangan Mesya beralih ke dinding di hadapannya, tergantung potret Danish disana, tersenyum lembut dan penuh kasih sayang. Dia begitu tampan, begitu memikat dengan tubuhnya yang tinggi atletis.
"Keren dan macho," begitu komentar Meta saat pertama Mesya memperkenalkanya.
"Tapi belum bekerja, dia masih nganggur baru selesai kuliah. Dan di sini dia ikut oomnya," timpal Mesya
" Nanti dia juga kan bekerja. Dan kupastikan, kamu akan bahagia bersamanya. Kulihat dia begitu mencintaimu."Mesya cuma tersenyum.
Terdengar ketukan halus di pintu, lamunan Mesya pun buyar, dan ia segera melangkah kesana dan membukanya. Dan betapa senangnya ia, pemuda yang barusan di.lamunkannya kini berdiri di hadapannya dengan senyum manis nya yang mempesona.
"Hai," sapa Danish manis
"Hai,"Mesya membalas tak kalah manis.
" Masuk, yuk,"diraih nya lengan kokoh Danish lalu dibawanya kedalam.Danish kembali menarik tangan Mesya dan memeluknya dengan lekat.
"Kok sepi?Meta mana?"
"Meta pergi nonton dengan Radith."
"Kamu kok nggak ikut?"
"Kalau aku pergi, malam ini kita nggak ketemu dong," sahut Mesya manja."Padahal sehari saja nggak ketemu kamu,rasanya lama sekali.
Danish tersenyum, lalu direngkuhnya lembut tubuh Mesya ke dalam pelukannya.
"Aku juga, sehari tidak melihat kamu, rasanya seperti seabad. Makanya, andai saja aku sudah bekerja dan punya uang, aku ingin kita segera menikah, agar kita bisa selalu bersama, dan bisa ketemu kapan saja.
Bahkan tengah malam saat aku terjaga, kau ada disisi ku."
Menikah. Tak dapat Mesya melukiskan bagaimana bahagiannya. Bisa menjadi kekasihnya saja Mesya sudah sangat beruntung, apalagi bisa menjadi istrinya.
Danish benar-benar cowok impiannya. Danish hampir memiliki semua yang di impikan gadis-gadis. Dan berada di dekatnya Mesya bukan saja merasakan kehangatan cintanya, tapi juga merasa terlindungi.
"Kamu mau kab menjadi istri ku?"Danish menatap dalam wajah Mesya.
Mesya mengangguk, terharu.
Danish mendekap nya lagi, lebih erat, lebih mesra.Dan Mesya pun membalasnya tak kalah mesra. Bibir Mesya dikec*p mesra oleh Danish.
Mesya pun tak mau kalah, dia membalas cumbuan Danish, bahkan dengan ketat dilingkarkannya lengannya ke leher Danish. Dan bibir mereka terus menyatu dengan penuh gairah.
Pada awalnya Mesya terhanyut, tapi dirasanya Danish bertindak kian jauh, Mesya menyentakkan tubuhnya.
" Jangan, Gi. Jangan sekarang,"cegahnya sendu
"Lalu kapan?" tanya Danish kecewa."Sekarang atau nanti kan sama saja."
"Tentu saja berbeda."
"Tidak, aku ingin sekarang," desak Danish menggebu-gebu.
"Danish, kau mencintai ku, kan? Jadi bantu aku menjaga kehormatan ku demi kesucian cinta kita."
"Mes, kumohon, aku menginginkannya sekarang," Danish meminta lagi."Boleh, ya?"dibujuknya Mesya dengan ciuman lembut di bibirnya.
"Ayolah, Sayang."
"Kita kan belum menikah."
__ADS_1
"Tapi nanti kita akan menikah juga."
"Karena itu kita nanti aja melakukannya. Aku takut, Dan."
"Takut hamil?Aku akan bertanggung jawab."
"Aku takut dosa, aku takut pada Tuhan
" Oke! Berfikir lah tentang dosa, tapi jangan lagi pikirkan aku dan cinta kita!" Danish berbalik.
"Danish...."
" Aku tidak suka perempuan sok suci. Kita bubar. Kita tidak sejalan.
Mesya menggigit bibirnya sedih. Dia tidak ingin kehilangan Danish." Tapi dia juga tidak ingin kehilangan kehormatannya.
Dan dalam waktu yang amat singkat itu ia menimbang, mana yang ingin ia korbankan. Dan ternyata, pilihan pertama lebih berat memihaknya, hingga dipanggilanya Danish sekali lagi.
Dan ketika Danish menoleh, dia berucap lirih," Aku mencintaimu, Gi, aku tidak ingin kehilangan kamu...."
Danish tersenyum.
"Tapi kamu benar-benar akan menikahi ku, kan?"
"Ya, aku janji."
Dan mesya pun membiarkan Danish memeluknya. Membiarkan Danish mengambil semua miliknya. Dengan dalih cinta.
***
Meta melihat Mesya agak pendiam beberapa hari ini. Wajahnya agak kelihatan murung dan gelisah.
Mesya menerawang sedih. Sesal itu begitu mendera bathinnya. Ia telah menyerahkan sesuatu yang seharusnya ia pertahankan sampai ia menikah kelak. Mesya mendesah berat, berusaha melegakan dadanya yang sarat beban.
Mesya tiba-tiba duduk, diam, dan tak.menjawab pertanyaan Meta.
"Mes....," Meta ikut duduk."Apa ada masalah dengan Danish?"tanya Meta lembut.
Dengan lesu, Mesya menjatuhkan kepalanya pada lututnya yang ditekuk.
Meta membelai pelan rambut Mesya."Selama ini kamu selalu menceritakan semua masalahmu. Tentang Mama, Papa, Nisya juga Danish."Tiap kamu merasa bahagia, kamu selalu membagi nya dengan ku. Dan kini, aku ingin kamu membagi juga sedih mu."
Mesya mengangkat kepalanya, menoleh perlahan ke wajah Meta.
"Ceritakanlah semua beban mu agar berkurang."
"Kamu mencintai Radith?"tanya Mesya, jauh diluar dugaan Meta.
" Kenapa tanya itu?"tanya Meta bingung
"Jawab dulu, Met," kata Mesya lesu
"Ya, aku mencintai Radith
" Teramat sangat?"
"Dan demi cinta mu kamu mau melakukan apa saja yang dia minta?"
"Kalau menyimpang tentu saja tidak."
"Misalnya?"
"Misalnya dia meminta ku untung terjun dari tebing yang sangat curam." Meta mencoba bergurau untuk mengendurkan ketegangan di wajah Mesya.
__ADS_1
Tapi Mesya tak berubah, dia tetap murung
"Ada apasih sebenarnya?" Meta menyentuh lagi rambut panjang Mesya.
"Sejauh mana hubungan mu dengan Radith?" lagi-lagi Mesya bertanya, padahal seharusnya ia menjawab pertanyaan Meta.
Meta menggeleng bingung."Aku tidak mengerti untuk apa kamu tanyakan itu.
Dengan kacau Mesya bicara lagi,"kalau dia meminta sesuatu yang sangat berarti untuk mu, kamu akan memberikannya, Met?"
Sekarang kamu ngomong yang jelas, deh. Masalah mu tuh apa?"
Mesya mendesah lagi.
"Aku sangat mencintai Danish," ucapnya lirih." Aku takut kehilangan dia. Sangat takut.
"Tapi hubungan mu dengan Danish baik-baik saja, kan?Malah kemarin malam pun dia datang, kan?"
"Ya."
"Lalu apa masalahmu?"
"Masalah perasaan ku terlalu berlebihan padanya. Karena besarnya cinta ku, kurelakan harga diriku, kehormatan ku untuknya...."
"Apa?!" Meta tersentak, tak percaya mendengar itu. Memang banyak wanita melakukan hubungan se* diluar nikah sekarang ini, tapi Meta tidak ingin Mesya juga melakukannya. Biar bagaimana pun mereka punya agama, dan norma yang melarang hubungan semacam itu sebelum menikah.
" Danish memaksa ku, dan dia akan memutuskan ku bila aku menolaknya...,"ucap Mesya penuh sesal.Dan hanya dengan ancaman seperti itu kamu rela menyerahkan sesuatu yang berharga milik mu?"
"Aku...."
"Kamu bodoh, Mes.Kalau dia mencintaimu,dia akan ikut menjaga kehormatan mu, karena suatu saat kau akan menjadi miliknya juga."
"Jadi menurut mu dia tidak mencintaiku?"
"Cinta, tapi kadar cinta nya sangat rendah dan dangkal. Yang dominan dihatinya adalah nafsu. Dan cinta itu dijadikan dalih demi mendapatkan mu."
"Radith tidak pernah meminta itu dari mu?"
"Radith tidak hanya mencintaiku, tapi juga.menghormati ku."
"Mesya menggigit bibir nya pedih.
" Kalau dia telah mendapatkan semuanya dari mu, satu-satunya yang akan dilakukannya adalah lari dari mu.Itu tidak mungkin, aku tahu perasaannya pada ku."
"Dia hanya mencintaimu, tidak menghormatimu. Dia bahkan tega Merendahkan martabat mu dengan merampas kegadisan mu..."
"Dia tidak merampas, aku menyerahkannya," Mesya membela Danish."Tapi aku memang menyesal."
" Menyesal saja tak ada gunanya. Sekarang, berusahalah agar itu tidak terulang. Kamu tidak ingin hamil diluar nikah, kan?Dan berdoalah, serta meminta ampun pada Allah, Mes.Kamu telah melakukan dosa yang sangat besar."
"Mesya diam.
" Bisa menolak bila Danish meminta lagi?"
Mesya mengangguk.
"Juga bila dia mengancam untuk meninggalkan mu?"
"Dia tidak boleh meninggalkanku," ucap Mesya resah.
__ADS_1
"Semoga saja."