Isi Hati

Isi Hati
Isi Hati ep 19


__ADS_3

Mesya berpikir sejenak, sangat sulit mengatakan pada Danish kalau permainannya tak sedang di jalaninya. Justru sekarang ini Mesya sedang sibuk berpikir bagaimana caranya mengakhiri hubungannya dengan Danish. apalagi tak bisa ia ingkari, saat ini ia masih berstatus pacar Danish. Dan, jelas-jelas Danish masih mengikatnya dalam jalinan kasih mereka.


"Sudahlah, kita tidak usah bicara tentang Arga dan uangnya," ucap Mesya dengan pikiran mumetnya saat Danish menemuinya kembali di kontrakan baru Mesya.


"Lalu kita bicara tentang apa? Tentang..."


Mesya melirik jam tangannya. Sudah malam, aku ingin istirahat, jadi kamu bisa pulang sekarang, kan? "


"Aku mau tidur di sini."


"Baiklah, tapi di kamar belakang, ya? "


"Kenapa?" Danish tidak bisa menerima


"Dan, aku ingin memulai kehidupan yang baru, yang lebih baik. Kalau bisa lebih bersih," jawab Mesya pelan."


"Alaaa, Ngomong apa sih aku? ejek Danish


"Jangan meremehkan aku, Dan. Aku mulai belajar dari pengalaman Arga."


"Dengar, kalau kamu bicara tentang Arga, bicaralah tentang uangnya. Jangan bicara tentang yang lainnya!"


"Begitu, ya? Apa cuma uang dan nafsu yang ada setiap saat dipemikiranmu."


"Jangan munafik kamu. Kamu juga sama. Kalau tidak, pasti kamu menolak rencanaku."


"Aku tidak menolak bukan karena aku serakah seperti kamu, tapi karena aku lemah dan tak berdaya. Aku bodoh, sangat bodoh. Dan sayangnya aku baru sadar sekarang. Tapi aku belum terlambat, Dan. Aku masih punya banyak waktu untuk bisa lepas dari kamu... "


"Apa? lepas dariku? berusaha lari setelah ini kau dapatkan semua dari Arga?"


"Bukan karena materi yang membuatku terkesan pada Arga, tapi caranya mencintaiku yang membuatku menjadi mulai berpikir tentang arti sebuah hubungan."


"Jangan bicara tentang cinta kalau itu berhubungan dengan Arga. Cintamu hanya untuk aku, tidak boleh ada yang lain," geram Danish.


Wajah tampan itu benar-benar tidak lagi menarik. Malah terkesan mengerikan. Rasanya keteduhan dan rasa damai itu, hanya ada dalam tatapan lembut Arga, bukan pada Danish. Danish tidak lagi menebarkan pesonanya, Danish yang sekarang sangat menakutkan di mata Mesya.


"Aku ingin sendiri, kamu bisa pulang, kan?" Mesya memandang Danish dengan wajah memelas.


" Kamu mengusirku?"


"Aku cuma ingin sendiri. Aku ingin ketenangan."


"Apa kehadiranku membuatmu tidak tenang?"


"Sebenarnya bukan begitu, aku hanya ingin sendiri. Boleh, kan?"


"Baiklah," Danish berbalik.


Danish mencoba untuk mencium bibir Mesya, tapi Mesya mencoba menghindar, dan Danish pun berlalu. Mesya bersyukur Danish tidak memaksa menciumnya.


*****


Siang itu, Mesya duduk berhadapan dengan Meta sahabatnya, menikmati makan siang di restoran tempat biasa mereka makan sewaktu masih sama-sama dulu.


"Aku sudah mantap pada pilihanku, Met. Aku benar-benar menemukan ketenangan dalam diri Arga. Berada di dekatnya bukan nafsu yang bicara, tapi cinta. Rasa damai, hangat dan terlindungi. Dan itu yang tidak aku dapat dari Danish."


"Alhamdulillah. Kabar inilah yang aku tunggu dari kamu sejak lama, Mes. Aku selalu berharap kalau kamu akan membuang jauh rasa mu kepada Danish, karena dia bukan seperti seorang lelaki yang bisa diharapkan."


"Tapi jangan senang dulu, karena aku belum bisa lepas dari Danish. Dia masih pacarku, Met. Malahan yang aku takutkan kalau seandainya Arga tahu dengan penipuanku sebelum aku menjelaskan semuanya. Dan, bila aku jelaskanpun belum tentu Arga menerima semua alasanku."


"Jadi bagaimana, Met? Aku bingung. Aku panik sekali. Dan, tak bisa berpikir lagi. Sekarang aku sudah berusaha menghindari Danish. Arga mengontrakkanku sebuah rumah, aku juga menolak setiap ajakan Danish."


Meta meraih tangan Mesya dan menggenggamnya erat-erat. Kalau saja sekarang mereka bukan berada di tempat keramain, sudah direngkuh dan dipeluknya tubuh sahabatnya itu. Mata Mesya merebak basah tapi dia berusaha mengerjab menghilangkan kesedihan dan agar tidak ada airmata yang jatuh.

__ADS_1


"Sekarang aku juga sudah mulai sholat agar aku bisa mendapatkan ampunan dan juga ketenangan dari Allah, juga mendekatkan diri pada-Nya agar aku diberikan petunjuk dan juga kesabaran."


"Syukurlah."


"Arga tak pernah menyentuhku, Met. Dia takut, tak ingin kejadian masa lalunya terulang kembali. Dia ingin menunjukkan ketulusan dan kesucian cintanya padaku."


"Jadi benar, kan. Allah akan menunjukkan jalannya kepada umat-Nya yang ingin kembali ke jalan yang baik. Dia tidak akan pernah meninggalkan hamba-Nya yang ingin bertobat."


Mesya tidak bicara, tapi ia menyedot minumannya.


"Sepertinya Tuhan juga sengaja mempertemukan aku dengan Arga orang yang sama-sama berbuat dosa. Menuntunku bagaimana caranya untuk kembali dan bangkit dari rasa bersalah."


"Untuk itu kamu harus jujur, Mes."


"Ya. Tapi sayang aku tidak tahu gimana caranya," ujar Mesya galau.


"Perlu kubantu? aku tahu cara yang baik untuk menyampaikannya, kamu percayalah padaku."


"Baiklah. Tapi kukenalkan dulu kamu padanya, ya? "


"Ya, deh."


"Bagaimana kalau besok malam?"


"Boleh deh." Meta setuju.


"Benar, ya. Kutunggu besok di rumah ku, tapi rumah yang baru. Jangan ke tempat Danish. Masih ingat alamat yang aku telpon kamu ke kantor, kan?"


"Masih."


" Sekarang pulang, yuk?"


"Ayok, lagian ini juga sudah siang, aku capek sekali karena harus menata rumah kemaren."


*****


Malam itu Danish datang lagi. Seperti biasa Mesya menyambutnya dingin. Sebenarnya Mesya pun tidak mengerti, mengapa cintanya yang dulu menggebu kepada Danish bisa sirna dalam waktu yang singkat, meskipun secara perlahan. Padahal dulu dia sangat takut dan tidak mau kehilangan Danish.


"Aku punya uang. Aku traktir makan, yuk?" ajaknya riang


Mesya menggeleng, "Ada acara dengan Arga malam ini, jadi aku nggak bisa, Dan. Maaf," jawab Mesya.


"Kenapa kamu lebih mementingkan Arga?"


"Itu 'kan untuk kita berdua juga," Mesya memberikan alasan, "Ini kan bagian dari rencanamu jadi mau tidak mau kamu harus terima."


"Iya, tapi kamu terlalu bersemangat menjalankannya," Danish tak bisa menerima.


"Supaya kita cepat kaya," Mesya sewot.


"Akhir-akhir ini nada bicaramu selalu keras padaku," keluh Danish pelan. Mendengar itu, Mesya merasa bersalah


"Kenapa, Mes?" Danish bertanya lagi lebih lirih, "Apa setelah kamu merasa keadaanmu menjadi lebih baik kamu merasa aku tak pantas lagi untukmu?"


"Duh, hati rapuhku selalu tak berdaya oleh suara lembut Danish. Tuhan, beri aku kekuatan. Beri aku jalan untuk melepaskan diri darinya..." batin Mesya.


"Ya, kan? aku tak pantas lagi untukmu?" Danish memandang sendu wajah Mesya.


Mesya membalas tatapannya, tak kuasa mengelak. Danish mengulurkan tangannya, meraih lembut pipi Mesya dan menyentuhnya.


"Aku mencintaimu, teramat sangat. Tak pernah ada gadis lain. Tapi aku tidak pernah punya apa-apa untuk menikahimu. Cinta saja tidak cukup, karena itu aku memohon kamu untuk menjalankan rencana gilaku. Ini semua aku lakukan untuk kamu juga, untuk kita. Aku tahu ini salah, tapi aku tidak punya jalan lain lagi." Jelas Danish yang hanya dijawab dengan kediaman Mesya.


"Tapi demi Tuhan aku sangat mencintaimu," ulang Danish.

__ADS_1


"Aku percaya," ucap Mesya.


Danish pun mencium lembut bibir Mesya. Mesya hanya bisa diam saat bibir hangat Danish menciumnya. Tapi kenapa Mesya tidak lagi merasakan getaran seperti dulu. Yang ada hanya rasa iba, dan sedikit rasa bersalah. Bila bicara tentang kesalahan, Danish lah yang sangat bersalah. Danish telah mengambil kegadisannya, telah tidur bersamanya berbulan-bulan, tapi rencana untuk menikahinya tak pernah juga dikatakannya. Bahkan kini, dengan teganya menyuruh Mesya bercinta dengan laki-laki lain demi uang. Untunglah Mesya ketemu laki-laki yang baik. Seolah Tuhan sengaja mempertemukan Arga dan Mesya untuk saling mencintai, dan saling mempebaiki kesalahan masalalu mereka masing-masing.


Danish mendekatkan wajahnya lagi, dan bermaksud untuk mencium Mesya kembali. Tidak seperti kemarin-kemarin, kali ini Mesya tak bisa menolak. Rasa iba mendorongnya untuk membiarkan itu terjadi. Namun, baru saja bibir Danish menyentuh bibir Mesya, pintu rumah tiba-tiba terbuka, dan...


"Danish..."


Keduanya tersentak menoleh. Keduanya kaget, ada Rey berdiri di sana, menatap bingung mereka.


"Apa yang sedang kalian lakukan?" tanya Rey tak mengerti.


Ng... dengan gugup Danish mengusap bibir nya


"Kamu bisa mencium bibir adikmu?" Rey menatap mereka bergantian


"Kami bukan kakak-beradik, Rey..."


"Mesya!" Danish berteriak.


Rey tersentak, "Apa?"


"Kami bukan kakak-adik, kami..."


"Mesya!" Danish berteriak lagi.


"Katakan, siapa dia sebenarnya! siapa kalian?" desak Rey.


Rey melangkah menghampiri Danish, meraih krah kemeja Danish, dan menariknya kuat. Danish berusaha melepaskan cekalan tangan Rey.


"Apa yang sebenarnya sedang kalian rencanakan? Apa?" Rey membentak keras dan melayangkan pukulannya ke arah muka Danish.


"Dia memanfaatkan aku untuk mendapatkan uang dan hartanya Arga. Dia ingin aku menikah dengan Arga dan mengeruk kekayaannya, setelah itu kami kabur, lalu dia akan menikahiku. Kami sepasang kekasih, Rey. Sepasang kekasih yang tinggal bersama karena Danish tidak mempunyai uang untuk menikahiku..." Dengan terisak Mesya menjelaskan.


Mesya tidak punya kekuatan untuk melanjutkan lagi rencananya Danish. Biarlah segalanya menjadi jelas sekarang. Cara baik-baik menyampaikannya pada Arga sekarang gagal karena Rey telah memergoki mereka.


"Bajingan!" Rey berseru seraya kembali melayangkan pukulan ke rahang Danish


Mesya memekik. Tak tega melihat Danish yang dulu pernah sangat dicintainya dihantam Rey.


"Jangan, Rey!" Mesya berteriak dan berusaha melepaskan Rey dari tubuh Danish.


Tapi kesempatan ini malah dimanfaatkan Danish untuk menghantam balik wajah Rey dengan kepalan tinjunya juga.


Rey kian terbakar amarahnya, dan dibalasnya lagi pukulan Danish.


"Sudah!" Mesya menyela di tengah, hingga mereka berhenti sebelum saling baku hantam.


"Kamu juga perempuan Breng*** dan nggak benar!" bentak Rey pada Mesya.


Mesya tidak melawan. Dia sadar dia bersalah, dan dia tahu itu.


"Aku mengaku salah," ucap Mesya sendu.


"Itu tidak cukup! Kamu sudah bertindak sangat kejam. kamu mempermainkannya! kamu tahu? sudah sejak lama aku berusaha membangkitkan semangat hidupnya, sudah sejak lama aku berusaha memperkenalkan beberapa teman gadisku untuk membangunkannya dari mimpi buruknya, tapi tak seorangpun menggugah hatinya. Melihat keluguanmu, melihat kelembutanmu, hatinya tersentuh. Siapa sangka, kamu telah menyakiti hatinya dan menghancurkan hidupnya seperti ini!'


"Jangan memaki seenaknya kamu, Rey!" bela Danish, "Dia gadis baik-baik. Keadaanlah yang memaksanya menjadi seperti ini."


"Bukan oleh keadaan, tapi karena kamu, Danish!" Mesya menjerit, untuk menuntaskan emosinya dan juga rasa kecewanya yang meluap-luap ditamparnya pipi Danish keras.


"Aku benci kamu! Aku benci! kamu memperbudakku. Dengar Danish, dengar baik-baik. Aku ini telah benar-benar jatuh cinta pada Arga."


*****

__ADS_1


__ADS_2