
Setelah rencananya untuk mengambil harta Arga gagal, dan hubungannya dengan Mesya juga diambang kehancuran, Danish sekarang kembali lagi kerumah Om Pram. Rey mengusirnya karena sangat kecewa. Walaupun tidak diberhentikan oleh Rey, Danish juga tidak ingin lagi bekerja ditempat Rey.
"Kebetulan kamu pulang, tadinya Om malah berniat untuk mencari kamu, Dan," sambut Om Pram ketika melihat keponakannya itu.
"Ada apa, Om?" tanya Danish.
"Ada lowongan pekerjaan buat kamu di kantor Om." jawab Om Pram.
"Benarkah, Om? tanya Danish senang.
"Besok kamu ke sana dengan Om, ya. Kamu harus berpakaian rapi juga bersih, jangan malu-maluin Om nantinya," jelas Om Pram.
"Tapi pasti kan Om?" tanya Danish lagi.
"Pasti, kalau kamu lulus tes. Kan tidak langsung diterima begitu saja, walaupun sebenarnya Om bisa saja meminta orang dalam untuk menerima kamu, tapi Om mau kamu berusaha dengan kemampuan kamu sendiri dengan perjuangan kamu sendiri, biar kamu bisa merasakan perjuangan hidup yang sesungguhnya itu seperti apa," jelas Om Pram.
Danish hanya terdiam mendengarkan nasehat Om nya.
"Dan kalau sudah bekerja nanti, Danish ingin segera menikah, Om." kata Danish.
"Menikah?" ulang Om Pram.
Ya, dengan Mesya. Rasanya Danish tidak ingin menunggu terlalu lama lagi, apalagi sampai harus menunggu punya rumah dulu.
"Waktu itu pikiran saya memang selalu ingin seperti Om, punya rumah dulu baru menikah. Tapi sekarang pikiran itu hilang, karena saya takut kehilangan Mesya. Saya tidak ingin Mesya terlalu lama menunggu dan akhirnya pergi meninggalkanku." jelas Danish panjang lebar.
Sejenak Danish terbayang pertengkaran mereka tadi malam. Tapi kini Danish yakin, bila Danish menawarkan padanya untuk menikah secepatnya, Mesya tidak akan menolak. Bukankah hal itu yang selama ini selalu menjadi sumber pertengkaran mereka?
"Kamu yakin dia mau menikah untuk sekarang ini? tanya Om Pram menyakinkan keponakannya.
"Ya, Om. Danish yakin sekali, malahan dia yang selalu memintanya." jawab Danish.
"Meminta? maksudm, apa kamu....? Ah, mudah-mudahan tidak." kata Om Pram ragu-ragu ingin melanjutkan ucapannya.
"Om Pram mau bicara apa?" tanya Danish.
"Oh...., nggak. Om cuma khawatir aja kalau kalian berdua sudah melakukan hubungan yang seharusnya belum boleh kalian lakukan. Tapi tidak, kan? Om percaya sama kamu kok." lanjut bicara Om Pram.
Danish hanya menggeleng. Ia menutup mulutnya rapat-rapat akan hubungannya dengan Mesya yang sebenarnya seperti apa.
"Syukurlah, kalian memang harus saling menjaga dan saling mengingatkan. Kalau kamu yang lupa, dengarkan peringatannya, dan kalau dia yang lupa kamu yang harus menyadarkannya. Tapi jangan sampai khilaf dua-duanya. Dan untuk itu, jangan pacaran terlalu dekat, dan jangan terlalu sering berdua-duaan di tempat-tempat yang sunyi....." jelas Om Pram menasehati.
"Ah, Om kayak menasehati anak ABG aja," sergah Danish yang merasa sudah cukup dewasa, tapi tetap saja dia belum bisa berpikir dewasa.
__ADS_1
***
Sementara itu Arga mendatangi perusahaan Rey. Arga mengeluh pada Rey. Rey sedih juga khawatir pada sahabat baiknya itu.
"Aku benar-benar nggak nyangka, Rey, Mesya yang lembut itu tega lakukan ini padaku. Sulit rasanya untuk aku percaya semua ini," Arga memandang hampa ke depan.
Rey merasa sangat bersalah kepada Arga, karena dirinya yang telah mengenalkan Mesya pada Arga. Ia sendiri juga kaget dengan kebenaran yang ada.
"Aku minta maaf kawan, seandainya aku tidak ikut campur dengan masalah hatimu, mungkin saja kau tidak akan terluka untuk yang kedua kalinya seperti ini." ucap Rey, penuh penyesalan.
Arga hanya tersenyum pahit. Ia sedih, tetapi juga tidak bisa menyalahkan Rey. Bagaimanapun Rey hanya ingin mencoba melakukan yang terbaik untuknya.
"Sudahlah, aku mengerti kalau niatmu itu baik. Dan rasanya aku nggak akan mungkin untuk bisa jatuh cinta lagi setelah ini," keluh Arga.
"Kamu jangan seperti itu, justru kamu harus buktikan kepada semua orang. Pada Mesya dan juga si brengsek Danish, kalau kamu tuh nggak apa-apa, dan kuat menghadapi ini semua. Kamu juga harus buktikan kalau permainan mereka itu bukanlah apa-apa." tegas Rey menolak keluhan Arga.
Rey mencoba untuk memberikan semangat pada sahabatnya itu, karena dia takut kalau Arga akan lebih terpuruk lagi, setelah apa yang dilakukan Mesya terhadapnya.
"Nggak bisa begitu, Rey," gelengnya lesu. "Aku benar-benar merasa tertipu. Tertipu oleh wanita yang amat kucintai dan kusayangi, dan aku sempat menggantungkan harapan padanya." lanjutnya. Arga tampak kecewa.
"Aku mengerti, tapi kan tidak ada gunanya juga kamu bersikap seperti itu, karena itu cuma merugikan diri kamu sendiri." sahut Rey.
"Aku tidak peduli, pokoknya aku kecewa dan tidak bisa menerima semua perlakuan dia padaku." tegas Arga.
"Apa perlu kuhajar Danish sekali lagi? Sekalian Mesya kukasih pelajaran," kesal Rey kalau mengingat semuanya.
"Tidak perlu, itu hanya akan memperburuk keadaan." jawab Arga.
"Tapi akan lebih buruk lagi kalau kamu seperti ini. Kan lebih enak bila dendam mu terlampiaskan." kata Rey.
"Aku tidak dendam, aku hanya benci pada diriku sendiri. Aku merasa bodoh hingga tidak bisa melihat kepalsuan yang ada di depan mataku sendiri. Aku hanya melihat kelembutannya, keluguannya..., tapi tidak bisa melihat kedalam hatinya. Tidak bisa merasakan ada tipu daya dibalik semua nya itu." kata Arga.
"Memang tidak mudah menilai seseorang. Apalagi menyelami hatinya, tapi tak ada yang perlu disesali, malah semestinya kamu bersyukur, kamu tahu tentang ini sebelum kamu lebih jauh melangkah, sebelum kalian sampai menikah...." sahut Rey.
"Benar juga, ya." batin Arga menghibur hatinya sendiri.
" Aku minta maaf, Ga," kata Rey kemudian.
"Untuk apa?" Dipandangnya wajah sahabatnya itu tak mengerti. "Kamu nggak salah kok." jelas Arga.
"Aku salah, aku yang memperkenalkan kalian berdua." jawab Rey merasa bersalah.
"Cuma memperkenalkan, tapi tidak terlibat, kan?" jawab Arga.
__ADS_1
" Biar bagaimana pun tetap aku yang bodoh." lanjut Rey. "Tapi sudahlah. Yang penting sekarang ini kamu pikirkan masa depanmu sendiri, nggak cuma kamu kok yang pernah kecewa, nggak cuma kamu juga yang pernah tertipu, kamu ingatkan sama masalahku dulu? Aku ditipu oleh seorang perempuan yang mengaku single ternyata dia sudah punya pacar, hampir saja aku celaka gara-gara itu, kalau tidak ada kamu yang bantuin aku waktu itu, mungkin aku sudah babak belur, Ga!" jelas Rey.
Arga tertawa kalau mengingat peristiwa itu, sejenak ia sudah melupakan sedikit kesedihannya.
"Kamu nggak sendiri, Ga. Makanya kamu harus bangkit, kalau kamu tersungkur jatuh dan tak bisa bangkit lagi, musuhmu akan senang. Apa itu maumu? Apa kau ingin mereka tertawa di atas penderitaanmu?" kata Rey lagi menyemangati Arga.
Arga hanya mendesah, tanpa berkata apa-apa, walaupun dia membenarkan semua perkataan sahabatnya itu, tapi luka yang ditinggalkan Mesya sangat dalam, haruskah dia melupakan semuanya?
***
Ketika pintu diketuk, Meta berharap Radith yang datang, tapi betapa kecewa dan sebalnya, karena yang berdiri di depan pintu itu ternyata adalah Danish.
"Sory, Dan, Mesya sedang tidak ingin diganggu, " ujar Meta ketus.
Jadi benar dugaan Danish, Mesya ada di rumah Meta.
"Tapi aku ingin bicara. Ini penting." kata Danish.
"Nggak bisa." tolak Meta.
"Lucu! Harusnya aku dong yang marah, karena dia bukan saja gagal melaksanakan tugasku, tapi juga berselingkuh dengan Arga dan mengkhianatiku." sentak Danish kesal.
"Kamu memang pantas dikhianati, karena kamu tak pernah memberinya kepastian." sahut Meta tak kalah kesal.
"Sekarang aku akan memberinya kepastian itu. Aku sudah diterima kerja, bulan depan aku siap menikahi Mesya." kata Danish.
"Kukira sudah terlambat bagimu untuk bicara tentang pernikahan." jawab Meta.
"Met, bukan denganmu aku ingin menikah tapi dengan Mesya. Jadi biarkan aku bicara padanya," ketus Danish dengan nada dingin dan juga marah.
"Ini rumahku, aku berhak melarang dan mengijinkan siapa saja yang boleh masuk ke sini dan aku tak mengijinkanmu untuk masuk kerumahku, lagian siapa juga yang ingin menikah dengan laki-laki yang tidak bertanggung jawab seperti kamu," kesal Meta.
Danish cuma bisa diam, sepertinya usaha dia untuk bertemu dengan Mesya hari ini gagal, karena Meta tak mengizinkannya, dia harus mencoba lagi besok saat Meta tidak ada di rumah. Danish pada akhirnya pergi dari rumah Meta.
Melihat Danish yang sudah pergi, Meta mendengus kesal. Ia menarik napas dalam lalu mengembuskan napasnya perlahan. Ia menahan diri sejak melihat Danish, tidak ingin mencari keributan. Meta pun masuk ke dalam kamar dan menemui Mesya.
"Danish, ya?" tanya Mesya lesu.
"Hmm, angguk Meta. Tapi aku sudah mengusirnya, aku tidak ingin dia mempengaruhimu lagi," jawab Meta.
"Terimakasih, Met. Saat ini aku memang tidak ingin bertemu Danish." kata Mesya.
Meta sedih meluhat sahabat baiknya yang murung. Ia langsung memeluk Mesya. Mengusap kepala dan punggung Mesya. Ia seperti merasakan kesedihan yang dialami sahabatnya itu.
__ADS_1
*****