Isi Hati

Isi Hati
Isi Hati ep 16


__ADS_3

Hari Minggu


"Mes, jadikan kamu dan Arga ke pantainya?" tanya Danish semangat.


"Aku yang mau jalan-jalan kenapa kamu yang semangat, Dan?"


"Ya, itu karena aku tidak mau kamu telat nantinya," jawab Danish.


"Bukannya kamu sebegitu nggak sabarnya untuk morotin Arga, ya?" sindir Mesya sambil menuju kamar mandi dan menutup pintu.


"Aku melakukannya juga untuk kita berdua, Mes," teriak Danish dari luar.


Beberapa menit kemudian Mesya sudah keliatan cantik dengan dandanan minimalisnya. Mesya tidak suka memakai make up yang serba berlebihan. Karena dia merasa seperti sedang memakai topeng, dia lebih suka memakai riasan yang ringan karena ini bisa membuatnya semakin percaya diri.


Tiba-tiba terdengar ketukan pintu dari luar.


"Dan, tolong bukain pintu dong," teriak Mesya dari dalam kamar.


Danish pun langsung bergegas membuka pintu, karena dia yakin yang datang itu adalah Arga.


"Hai, Dan." sapa Arga lembut.


"Hai juga, yok masuk. Kamu udah ditungguin dari tadi sama Mesya, tuh," kata Danish berbohong.


"Oh, ya? Maaf, Dan, aku tadi ada keperluan sebentar makanya aku sedikit terlambat," jawab Arga dengan raut muka sedih.


"Nggak apa-apa, Mesya pasti ngerti, kok," Danish mencoba sok ramah didepan Arga.


"Mana Mesya, apa dia sudah siap?" tanya Arga lagi.


"Sudah, mungkin masih dikamar, makhlum aja kalau cewek sudah dandan, kelar hidup kita.


Tiba-tiba pintu kamar Mesya terbuka dan Mesya keluar dengan anggunnya. Dia kaget karena Arga sudah duduk diruang tamu bersama Danish


"Kapan sampai," tanya Mesya


"Baru aja, kok," jawab Arga sambil tak berkedip matanya dari Mesya.


"Aku nggak salah kostum kan, Ga? tanya Mesya kepada Arga.


"Nggak, kok," jawab Arga singkat


"Berangkat sekarang?"


"Ayok."


Mesya pun mengambil tasnya didalam kamar dan kembali keluar.


"Dan, aku pamit, ya. Mungkin aku pulangnya agak malam," kata Mesya.


"Kenapa malam? tanya Danish.


"Aku sekalian mau jalan-jalan sama Arga, aku bosan dirumah," jawab Mesya.


Sebenarnya Mesya sudah mulai tidak suka dengan sikap Danish yang keterlaluan seperti ini. Dia ingin melepaskan penatnya sejenak dari Danish.


"Dan, aku izin bawa Mesya, ya," kata Arga sopan.


"Oh, iya. Bawa aja, hati-hati ya, Ga. Cuma dia adikku satu-satunya, yang kusayang," kata Danish seraya mengedipkan matanya.


"Pasti bro, aku akan menjaganya," jawab Arga.


***


Keduanya naik kedalam mobil dan meluncur menuju tempat yang sudah diinginkan.


Mereka menghabiskan waktu setengah hari dengan makan dan berjalan-jalan, sampai matahari terbenam di ujung barat. Langit pun menjadi gelap diterangi cahaya bintang yang berkerlip-kerlip.


***

__ADS_1


Pantai terlihat sepi, hanya desir angin malam yang terdengar dan deburan ombak yang menghempas bibir pantai. Dirasa udara semakin sejuk malam itu, sehingga membuat Mesya menggigil.


Arga membuka jacketnya dan memberikannya pada Mesya, lalu dipakaikannya.


"Tidak terlalu sejuk lagi, kan? Arga tersenyum pada Mesya.


Mesya mengangguk, "Terimakasih."


Sejak Mesya tinggal bersama Danish, Danish sudah mulai jarang mengajaknya keluar. Dan pantai pun tidak pernah lagi dia kunjungi.


Hening dan gelap. Mereka berduapun saling membisu dikesunyian, sampai Arga mendesah lirih dan mengeluarkan suara sendunya.


"Sejak Reva pergi aku menyukai kesunyian dan kegelapan. Dalam sunyi dan kesendirian, aku membayangkannya ada disini bersamaku. Baru kali ini aku mengajak wanita lain menemaniku kepantai ini. Dan itu adalah kamu."


Begitu penuh luka suaranya. Dan luka itu hampir sembuh oleh kehadiran Mesya. Lalu tegakah suatu waktu Mesya menorehkan lagi luka baru diatas luka lamanya yang mulai mengering itu? Tegakah ia menghancurkan hati Arga yang telah begitu baik memberinya tempat padahal dulu ia telah bertekad kalau hatinya hanya boleh diisi oleh Reva...?


Dalam keremangan malam itu Mesya mengedipkan matanya dan berusaha menahan butiran-butiran kristal dimatanya yang siap meluncur. Sulit dipercaya, dia ingin menangis untuk Arga.


Keadaan kembali hening dalam kesunyian. Jantung Arga bedegup kencang ada sebuah perasaan yang mendorongnya untuk mengatakan isi hatinya kepada Mesya.


"Mes.., Arga meraih jemarinya. Kamu mau menggantikan tempat Reva untukku," suara Arga terdengar bergetar.


Mesya tak bisa menjawab, meski tak bisa ia pungkiri kalau hatinya sangat berbunga. Namun juga galau, galau dan resah, karena ia masih milik Danish. Meskipun ia lupa, dan tak ingin mengingatnya, kalau kebersamaannya dengan Arga saat ini adalah karena tugas yang diberikan Danish kepadanya.


"Apakah tidak terlalu buru-buru, Ga?suara Mesya pun terdengar lirih dan serak.


"Tiga tahun, kurasa terlalu lama untuk menyendiri. Dan aku tiba-tiba ingin mengakhirinya. Kehadiranmu mengubah segalanya, Mes."


"Tapi kita belum lama kenal."


"Apa kamu tidak percaya padaku?"


"Justru kamulah yang seharusnya waspada padaku. Aku berasal dari Kota yang jauh dari sini, aku juga tinggal dilingkungan yang kurang baik, aku...."


"Itu tak masalah bagiku, naluriku mengatakan, kamu lah yang harus menggantikan tempat Reva."


Mesya terdiam dalam lamunan.


Tak ada jawaban, tapi dibalasnya genggaman tangan Arga. Dan bagi Arga itu adalah jawaban yang diperlukannya.


"Kamu selalu bicara tentang Reva dan selalu bicara tentang rasa bersalahmu atas kepergiannya. Apa aku boleh tahu alasannya?


Arga mengangguk murung. " Kamu memang harus tahu, agar dapat membantuku menghalau rasa bersalah yang menyiksa bathin ku selama ini."


Tak sadar, Mesya pun mengeratkan genggamannya.


"Tapi, Mes, maukah kamu berjanji?"


"Untuk apa?"


"Untuk tetap menerima aku meskipun kamu akan tahu, laki-laki macam apa aku ini. Aku punya masalalu yang buruk, Mes...."


"Aku justru punya kehidupan yang buruk sampai saat ini," bathin Mesya.


"Setiap orang pasti punya masalalu. Dan bagiku, masalalu adalah sebuah masa yang sudah tidak perlu lagi diungkit bila itu hanya akan melukai hati. Kecuali kalau untuk bercermin dan memperbaiki diri dimasa sekarang dan masa mendatang."


Arga terdiam.


"Ceritakanlah tentang Reva mu, Ga," pinta Mesya sekali lagi.


"Tapi kamu mau berjanji untuk tidak berubah padaku, kan?"


"Ya, aku janji."


Dan Arga pun memulai ceritanya tanpa ragu.


"Aku kenal dia di bilyar tempat kita ketemu waktu itu, saat itu dia sedang mencari kakaknya, tapi Vino yang dia cari tidak ada. Lalu dia keluar, entah kenapa aku merasa tidak enak dan ingin membantunya mencari Vino. Tapi begitu aku keluar dia sedang diganggu oleh tiga pemuda yang sedang teler."


"Kenapa kejadiannya mirip dengan apa yang aku alami," sela Mesya.

__ADS_1


"Ya, aneh, ya?"


"Lalu?"


"Lalu aku menolongnya, seperti waktu malam itu aku menolongmu. Kuantar dia mencari Vino juga kuantarkan dia pulang. Dan sejak saat itu hubungan kita menjadi semakin dekat. Bertahun-tahun kami kesana, dan suatu malam, aku...," Arga berhenti meneruskan ceritanya, dia merasa sangat bersalah.


Mesya menunggu lanjutan cerita Arga.


"Aku menodainya, aku mengambil yang bukan milikku," lanjut Arga hampir tanpa suara.


Mesya menggigit bibirnya pedih, Danish juga melakukan itu padanya.


"Pada awalnya dia menolak, tapi aku mendesaknya dan berjanji akan menikahinya apabila dia hamil ataupun tidak. Padahal saat itu aku dan dia masih sama-sama kuliah. Masih belum siap untuk menikah," Arga berhenti lagi bercerita dia mengatur emosinya agar lebih tenang.


"Kenapa hal yang seperti itu sering sekali terjadi," keluh hati Mesya.


"Dan beberapa bulan kemudian Reva hamil...."


Mesya merinding ngeri, bagaimana kalau seandainya itu terjadi padanya? Apakah Danish akan mau bertanggung jawab dan menikahinya, atau justru malah dia menolak dan kabur. Begitu banyak pertanyaan yang muncul di kepala Mesya.


"Dan kamu menikahinya? Kamu menepati janjimu?"


"Kalau itu kulakukan dia pasti masih hidup dan disini bersamaku menikmati pantai ini," suara Arga kian parau dan hampir bercampur dengan tangis.


"Lalu?"


Mesya begitu tidak sabar ingin mendengar kelanjutan cerita Arga yang tersendat-sendat dan mengundang rasa ingin tahunya itu.


"Karena aku belum siap, aku memintanya menggugurkan kandungannya itu."


"Sampai hati kamu melakukan itu," sela Mesya, emosi Mesya keluar.


"Yah, sampai hati," ulang Arga.


"Aku jahat, jahat sekali dan tidak berperi kemanusiaan, aku adalah lelaki brengsek yang tega melakukan itu pada wanita yang begitu mencintaiku," lanjut Arga sedih


"Tapi karena cintanya, dia menyetujui saja usulku. Kami mencari dokter yang mau melakukannya, dan aku menemukannya meskipun dengan bayaran yang cukup tinggi. Tapi tahukah apa yang terjadi? Bukan hanya janin diperutnya yang hilang, nyawanya pun ikut hilang..., dia meninggal. Aku penyebabnya," ungkap Arga terisak dia tidak bisa lagi menahan tangis dan juga rasa bersalahnya.


Mesya membiarkan Arga menangis.


Peristiwa itu sudah tiga tahun berlalu, tapi rasanya baru kemarin.


"Aku menutup diri dari gadis manapun sejak itu. Bukan hanya karena tidak ingin melupakan Reva, tapi aku tidak ingin ada korban lain."


"Tak akan ada korban lain, kalau kamu tidak melakukan kesalahanmu yang dulu."


"Memang tidak akan, Mes," ucap Arga sambil menghapus airmatanya, "Tak akan kusentuh kamu sebelum aku nikahi."


"Sungguh tekad yang luhur," kata Mesya tersentuh.


"Tapi, Ga. Bagaimana jika suatu saat nanti, kamu ketemu wanita yang sudah tidak suci lagi? Apa kamu akan tetap menerimanya?" tanya Mesya tanpa ragu, Mesya ingin tahu apa jawaban Arga dari apa yang dipikirkannya.


"Asal dia baik. Aku akan melupakan masa lalunya." Aku juga bukan laki-laki yang bersih, bagiku yang penting dia jujur, dan mengakui keadaan dirinya. Itu saja sudah cukup buatku," jawab Arga tegas.


"Jujur?" ulang Mesya sedikit terkejut.


"Ya, aku menyukai kejujuran, sepahit apapun itu."


"Jujur...," Mesya mengulang kata itu dalam hatinya.


"Jujur, itulah yang diinginkan oleh Arga. Tapi..., aku bukan orang yang jujur, aku bukan orang yang yang diinginkannya. Entah apa yang terjadi jika seseorang disampingku ini tahu semua kebohonganku. Sungguh ironis sekali kamu, Mes. Bisa-bisanya kamu mau menuruti omongannya Danish," batin Mesya.


***


Maaf buat semua readers kalau up nya lambat, karena othor lagi sibuk kerja😁


jangan capek dan juga bosan buat nungguin kelanjutan kisah dari MeGa( Mesya dan Arga).


Terima kasih🐥

__ADS_1


salam hangat: TigerWest


__ADS_2