
Ternyata Mesya tidak bisa menghindar. Dosa itu terulang dan terulang lagi. Seperti hari ini Mesya kembali tidak bisa menolak apa yang diinginkan oleh Danish, Mesya terpaksa kembali melakukannya dengan kekasih yanh amat dicintainya itu, walaupun awal nya Mesya menolak tapi dia tetap luluh dengan semua alasan yang telah Danish berikan.
Danish mencium bibir Mesya dengan rakusnya, dia masih ingin menikmati tiap lekuk tubuh indah Mesya, tetapi Mesya sudah kelelahan.
"Kapan kau akan menikahiku?tiba-tiba Mesya bertanya kepada Danish sambil merebahkan kepalanya ke dada bidang Danish.
Danish membelai sayang rambut Mesya." Sabarlah, aku belum punya pekerjaan. Anak-anak kita nanti kan butuh makan juga perlu sekolah.
"Itu kan nanti. Untuk hidup kita berdua, sementara biarlah aku yang bekerja."
"Tidak, Mes, malah aku ingin kamu berhenti bekerja apabila kita sudah menikah nanti."
"Aku mau berhenti, tapi untuk sementara biar aku yang Membiayai hidup keluarga kita."
"Sabar lah, Mes. Jangan terburu-buru."
"Tapi aku takut hamil..."
" Sudahlah, kamu tidak akan hamil..."
Mesya terdiam mendengarkan perkataan Danish. Rupanya Danish telah mempersiapkan segalanya sejak dari rumah. Jadi benar apa yang dikatakan Meta kan? Danish hanya ingin melampiaskan nafsunya, bukan untuk memberikan cintanya.
"Mes...,kenapa kamu?"tanya Danish
" Kamu pulang deh, sebentar lagi Meta datang."
"Kamu seperti marah,"Danish meraih bahu Mesya.
Mesya menggeleng." Nggak, kok."Mesya memang tidak ingin marah, tidak ingin bertengkar, karena khawatir Danish punya alasan untuk meninggalkannya.
Padahal, kini Mesya semakin tak ingin kehilangan Danish, bukan saja karena cintanya yang terasa kian dalam, tapi juga karena semua miliknya telah ia serahkan pada kekasihnya itu.
Mesya memandang sendu wajah Danish." kamu mencintaiku, Dan?
Danish memeluk lagi."Jangan pernah ragu, Mes."
"Ragu itu akan selalu ada sebelum kamu menikahiku."
"Percaya lah, aku akan menikahimu, aku janji."
"Benar, ya."
"Hmm."
"Sekarang kamu pulang deh, aku gak enak sama Meta. Kamu tahu? Meta tidak suka cara kita."
"Apa kamu menceritakannya?"
"Aku selalu membagi pengalaman apa pun pada Meta."
"Masa?"
"Dia juga. Kami berdua selalu saling terbuka. Enak rasanya punya seseorang yang bisa kupercaya."
"Terhadapku bagaimana?percaya juga?"
"Akhir-akhir ini aku mulai dilanda ragu."
"Apa alasannya? kau kan tidak pernah melihatku jalan dengan wanita lain."
"Tapi meskipun begitu, aku tetap saja khawatir, kamu telah mendapatkan segala nya dariku, jadi apalagi yang kamu inginkan?"
"Kenapa berpikiran begitu, Mes?Justru dengan keadaanmu yang sekarang, aku merasa telah memilikimu seutuhnya. Karena bukan saja hati dan jiwa kita yang telah bersatu, tapi segalanya."
Ah, pandainya Danish merayu, hingga lagi-lagi Mesya dibuatnya tidak berdaya.
Sebelum Danish pulang mereka melakukannya sekali lagi, Danish kembali melampiaskan nafsunya kepada Mesya, dia memang sudah seperti ketagihan dengan apa yang sudah mereka lakukan, Danish menciumi bibir Mesya dengan buasnya, Danish menguasai setiap permainan yang mereka lakukan, Mesya memang tidak punya pengalaman sedikit.pun, makanya dia hanya bisa menerima setiap kenikmatan yang diberikan oleh Danish.
__ADS_1
# # #
Danish hanya tinggal berdua dengan Omnya, Pram. Adik bungsu papanya itu masih lajang diusianya yang sudah menginjak kepala tiga.
Tapi Om Pram sudah mempunyai rumah sendiri. Dan rasanya, Danish juga ingin seperti Om Pram. Karena itu lah, ia menolak ajakan Mesya untuk menikah sekarang.
Tapi kalau harus menunggu sampai punya rumah sendiri, sampai kapan, ya?pikirnya galau.
"Kapan sih Om mau menikah?tanya Danish kepada Omnya yang sedang duduk diteras sambil membaca koran.
Om Pram menurunkan koran yang dibacanya. Dan tersenyum tanpa menyahut apa yang telah ditanyakan oleh keponakannya itu.
Danish duduk dihadapannya
" Kok tanya-tanya itu?Kenapa?Sudah kepengen punya tante baru?"
"Ya juga sih, tapi bukan itu alasan sebenarnya. Danish cuma heran, Om kan sudah memiliki segalanya, jadi kenapa harus menunda-nunda lagi?
" Entahlah, belum ada keinginan. Kalau.kau mau duluan, duluan saja,nggak perlu.memikirkan Om. Sudah ada gadisnya, kan?"
Danish tersenyum ringan."Kenapa harus menikah?Kalau hanya kebutuhan biologis saja, bisa terpenuhi tanpa harus menikahinya. Dan kalau ingin tinggal bersamanya, juga bukan persoalan yang sulit."
"Hey, jangan meremehkan wanita kamu," Om Pram memukul ringan kepala Danish dengan koran, dia tidak suka dengan cara pemikiran keponakannya itu.
"Kamu tahu?Bila sampai saat ini Om belum juga menikah, bukan karena Om berpikiran seperti kamu, justru sebaliknya. Om sangat menghargai kehadiran seorang istri, karena itu Om perlu mempersiapkan segalanya dengan matang. Om ingin benar-benar siap agar nanti Om tidak mengecewakannya. Pernikahan itu sesuatu yang sakral. Dan yang pasti, itu sangat diharuskan oleh agama. Dan Om pun akan menikah, bukan hanya kebutuhan biologis yang kita pikirkan dalam pernikahan, tapi masih bnyak hal lain. Dan yang terberat adalah tanggung jawabnya."
Danish terdiam mendengarkan penjelasan dari Om Pram.
"Tapi kalau bisa, kamu jangan seperti Om,deh. Terlalu penakut, sampai usianya agak lewat. Kalau bisa, kamu harus menikah di usia yang sedang seperti sekarang. Sudah siap belum? Ingat, jangan lagi meremehkan seorang wanita. Tuhan menciptakan mereka bukan sekedar untuk memuaskan kita, tapi sebagai pendamping yang perlu kita sayangi, kita hormati dan kita junjung tinggim karena dialah yang akan melahirkan dan mendidik anak-anak kita kelak." Danis tetap terdiam me dengarkan penjelasan dari Om Pram.
"Dan kamu juga harus ingat, kalau ingin anak-anak yang baik, berlakulah yang baik juga pada istrimu kelak. Dan yang terpenting, jangan sampai anak itu hadir diantara kalian sebelum pernikahan. Tapi Om percaya kok, kamu bisa pacaran dengan sehat."
"Maksud Om?"
"Maksudnya, tidak melakukan hubungan diluar nikah, karena itu tidak sehat."
Danish berdiri, lalu melangkah tanpa permisi.
Danish tidak menyahut. Pikirannya mulai mulai galau.Ingat Mesya. Danish merasa bersalah. Tapi Mesya salah juga, dia tidak pernah bisa menolak tegas keinginan Danish. Dan Danish pikir, Mesya juga menyukainya.
# # #
Keesokan harinya dikamar kontrakan Mesya.
Jangan pernah menyerahkan keperawanan sebagai bukti cinta. Laki-laki yang baik tidak akan menuntut kehormatan dan keperawanan wanita sebelum menikah. Itu bukan cinta. Itu nafsu...Mesya membaca tulisan itu di majalah.
Dibacanya sekali lagi, dan hatinya terasa pedih. Sangat pedih.
Kalau dia mencintaimu, dia akan menjaga kehormatan mu,"terngiang juga ucapan Meta sahabatnya.
Mesya menutup majalahnya lalu melompat ketempat tidur dan membenamkan tubuhnya disana.
"Mes, sore-sore gini kok kamu sudah tidur?"tegurnya seraya masuk
Mesya berbalik....baru pulang?"sapanya
" Hmm..kok murung?"ada masalah lagi?"
Mesya menggeleng." Aku hanya memikirkan betapa kotornya diriku, betapa berdosanya, tapi juga sangat bodohnya karena tidak dapat menghindar,"keluhnya
"Sudahlah, yang sudah terjadi biarkanlah terjadi yang terpenting kamu tidak mengulanginya," Meta memandang wajah Mesya sendu."
Dia kasihan melihat sahabatnya ini yang dibutakan oleh cintanya hanya karena seorang lelaki, awalnya Meta berfikir kalau Danish adalah laki-laki yang sangat menyayangi dan mencintai Mesya, tapi melihat apa yang telah terjadi, dia tidak yakin apakah Danish benar-benar serius dengan Mesya?
# # #
__ADS_1
Agak kaget juga rasanya Danish ketika Meta muncul dirumahnya. Dia khawatir terjadi sesuatu dengan Mesya. Dia takut jangan-jangan Mesya...
"Kamu tidak menyuruhku masuk?" tanya Meta ketika Danish diam saja sambil memandangnya gugup.
"Ng...eh, masuk, Met. Kok sendiri? Kenapa nggak ajak Mesya, Met?"
"Sengaja, kok. Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan hanya denganmu."
"Tentang Mesya?"
"Nggak mungkin kalau tentang aku, kan?"
Masih sedikit gugup Danish mempersilahkan Meta duduk.
Sebenarnya aku tidak ingin membicarakan ini, tidak ingin terlalu terlibat dalam pada urusan kalian. Tapi aku juga tidak ingin kamu memperlakukan Mesya sesukamu."
"Apa maksudmu?"
"Jangan pura-pura tidak mengerti, kukira kamu sudah sangat keterlaluan pada Mesya. Kamu memandangnya bukan sebagai kekasihmu, tapi sebagai seorang perempuan penghibur."
"Serendah itu kau menilai kami?Sahabatmu sendiri?" tukas Danish tersinggung.
"Jangan marah, Gi. Moral dan kadar cinta kalian memang rendah."
"Sombong kamu. Apa kamu merasa suci?" Danish masih agak marah juga.
"Bukan begitu, Dan, tapi hargai Mesya dong. Kamu tahu? Cintanya padamu begitu dalam, tapi kamu memanfaatkannya."
"Memanfaatkannya apa? kami melakukannya berdasarkan suka sama suka."
"Tapi sebenarnya hatinya tertekan, Gi. Disisi lain dia merasa sangat berdosa, dan disisi lain dia tidak mau kehilangan kamu."
"Dia tidak perlu merasakan apa-apa, toh aku akan menikahinya kelak."
"Kapan? Menunggu sampai dia hamil?"
"Itu bukan urusanmu."
"Urusanku, Gi, karena dia adalah sahabat terbaikku," kilah Meta terbawa emosi. Dia kesal melihat Danish yang menganggap enteng semua apa yang telah dilakukannya sama Mesya.
Kalau begitu kau saja yang menikahinya, kelihatannya kau pun juga mencintainya. Aku dapat merasakan nada cemburu pada caramu memarahiku..."
Plak! Tangan lembut Meta mendarat keras dipipi Danish
"Aku tahu laki-laki macam apa kamu! Cuma luarnya aja yang menarik, hatimu busuk!"Meta berbalik.
" Met!"Danish menarik lengan Meta hingga gadis itu menghentikan langkahnya.
"Sekali lagi kau datang kesini dengan marah-marah, apalagi berani menamparku lagi, aku akan tinggalkan Mesya."
"Jangan aku kamu jadikan alasan, aku tahu setelah kamu menghisap madunya kamu merencanakan untuk meninggalkannya?"
Danish menyeringai marah. Meskipun Meta sahabat Mesya, Danish memang tidak begitu akrab dengannya. Mungkin karena Danish kurang pandai bergaul, hingga tidak mudah mengakrabi orang lain, meski dia sahabat kekasihnya sendiri. Dan banyak orang mencap Danish sombong, termasuk Meta sendiri.
"Sebaiknya kamu jangan terlalu mencampuri urusan ku dengan Mesya. Tidam baik mencampuri urusan orang lain, nona,"kata Danish ketus
" Mesya bukan orang lain bagi ku. Dia sudah merupakan bagian hidupku."
"O, ya?" Danish tersenyum melecehkan."Berarti benar apa kataku tadi, kan? Kalau kamu..."
"Kamu ingin aku menamparmu lagi?" tukas Meta berang.
"Coba saja kalau berani," tantangnya.
Heran, bagaimana bisa Mesya sahabatnya yang lembut itu jatuh ketangan Danish. Apa karena tampang kerennya? Tapi dia memang tampan. Wanita manapun akan jatuh hati pada senyumnya, pada tubuh atletisnya, pada semua yang dimilikinya. Karena tiap bagian ditubuhnya begitu mempesona. Hampir tiada cela. Tapi siapa sangka kalau itu cuma topeng, karena hatinya ternyata sangat bertolak belakang dengan wajah yang setiap detik ditampilkannya.
__ADS_1
Meta berbalik lagi. Tidak sudi rasanya berlama-lama dekat dengan Danish.