
Setelah kepulang Arga dari rumah mereka, Danish pun mulai menyerobot Mesya dengan banyak pertanyaan.
"Hebat kamu, Mes. Kamu benar-benar membuatku bangga dan makin jatuh cinta," Danish berdecak kagum.
Dengan reflek Mesya melayangkan sebuah tamparan kewajah tampan Danish, dan dengan kesal dia melangkah menuju kamarnya.
Danish tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dapatkan dari Mesya, gadis itu telah menamparnya. Apa yang terjadi? Kenapa Mesya keliatan sangat marah dan kesal? Danish pun menyusul Mesya kekamar, Mesya berutang penjelasan kepadanya.
"Apa yang baru saja kau lakukan, Mes. Kau berani menamparku," bentak Danish.
"Iya," balas Mesya tak kalah lantangnya.
"Tapi kenapa? Aku salah apa, Mes?" tanya Danish polos
"Lupakanlah, aku hanya kesal mendengarmu bilang kalau kau bangga karena aku membawa Arga kesini."
"Tapi itu benar, sayang. Kamu telah berhasil dengan sangat cepat, bahkan jauh dari yang kuduga," kata Danish bersemangat.
"Baiklah lupakan dengan apa yang kau lakukan padaku tadi, walaupun pipi ku terasa pedih," gerutu Danish
Mesya kasihan juga melihat pipi Danish yang merah karena tamparannya, dia tidak tahu kenapa tangannya reflek ingin melakukan itu.
"Kenapa diam?"
"Nggak apa-apa," jawab Mesya singkat.
"Cerita dong apa yang terjadi tadi."
"Nggak perlu, kamu bisa cemburu nanti."
"Cemburu?" Danish langsung tertawa.
"Tidak? Apa dihatimu tak ada cinta untukku, hah?" Mesya mulai sewot melihat reaksi Danish.
"Cemburu pada cowok yang tadi? Kayaknya nggak mungkin, deh. Aku masih menang, kok."
"Pede mu terlalu tinggi, Dan," Mesya tersenyum mengejek, lalu keluar dari kamar menuju ruang tamu dan duduk.
"Kamu tidur disini, ya? Bukannya sama Rey waktu itu kamu bilang tempat tidurmu disini."
"Jangan ngaco kamu," kata Danish seraya duduk disamping Mesya. Sekarang ceritakan apa yang terjadi tadi," pinta Danish
Mesya berpaling melihat wajah Danish. Dan bayangan beberapa wajah preman yang hampir memperkosanya itu seketika muncul dimata Mesya dan sangat mengerikan.
"Aku hampir akan diperkosa oleh tiga pemuda...," kata Mesya ngeri
"Apa...?!" Danish tersentak kaget mendengarkan cerita kekasihnya.
"Itu semua karena kamu, Dan," Mesya mulai terisak dan histeris.
"Aku takut sekali, andai saja tak ada Arga, entah bagaimana nasibku."
" Kamu tidak berbohong kan, Mes?" Danish tak percaya.
__ADS_1
"Bohong?" Mesya mulai menangis.
Danish melihat bagaimana ekspresi Mesya, Danish meraih tubuh gadis itu kedadanya dan memeluknya erat. Mesya pun membalas memeluk Danish.
"Maafkan aku," kata Danish membelai-belai rambut Mesya, "Tapi tidak sampai terjadi kan?"
Mesya menggeleng. Lalu dijauhkannya kepalanya kepalanya dari dada Danish
"Arga datang menolongku."
"Syukurlah," desah Danish.
"Memang ada untungnya juga, kalau para preman itu tidak mencoba untuk memperkosaku. Mungkin Arga tak mengantarkanku pulang tadi."
" Lalu kelanjutannya?"
"Maksud kamu?"
"Tentang Arga," tanya Danish.
"Minggu besok dia ingin mengajakku kepantai."
"O ya? Bagus dong kalau begitu," Danish tersenyum, "berarti kita hampir berhasil."
"Boleh?" tanya Mesya.
"Oh, jelas dong. Berarti langkah kita mulai mulus, kan?"
"Setelah kamu dan dia cukup akrab, kamu kan bisa minta apa saja yang ingin kamu miliki, seperti perhiasan yang mahal, atau apa saja, tapi jangan terlalu mahal dulu."
"Sepertinya kamu memilih orang yang salah, Dan," keluh Mesya.
"Apa maksudmu?"
"Kenapa tidak kau jual saja aku kerumah pe**curan, atau sekalian saja kau suruh aku melayani ayahnya Arga, siapa tahu ayahnya Arga lebih hidung belang lagi, sehingga aku meminta apapun yang aku mau, bukan yang seperti Arga, Dan?! Sementara dia butuh seseorang untuk mengobati masa lalunya,dan kamu menyuruhku mendekati Arga hanya untuk meraup kekayaannya." jelas Mesya.
"Jangan punya pikiran seperti itu kamu. Kalau ayahnya yang kamu layani, dia bisa mengajakmu tidur...."
"Apa bedanya? Aku pun juga tidur denganmu, kan? Dimatamu aku kan cuma seorang pela**r..., yang selalu memuaskan keinginanmu."
"Mesya?" bentak Danish.
Mesya berdiri lalu melangkah kekamar. Dan ketika Danish menyusul, ia membanting pintu kamarnya hingga membentur tubuh Danish. Danish marah, didorongnya dengan keras pintu itu.
"Kamu tidur di luar," perintah Mesya tegas.
"Hei, ada apa denganmu?"
"Sekarang aku beralih tugas, bukan lagi memuaskanmu di tempat tidur, tapi juga mencarikanmu uang."
Danish melotot, "Bicara apa kamu?"
"Apa? Bukankah itu benar," jawab Mesya dingin.
__ADS_1
"Kalau uang itu sudah kau dapati, bukan untukku, tapi untuk kita."
"Aku tidak butuh uang. Aku hanya butuh cintamu dan juga tanggung jawabmu, Dan," kata Mesya kecewa.
"Mes..., cobalah mengerti aku," pinta Danish dengan wajah memelas.
"Aku perlu uang untuk menikah denganmu, mungkin caraku memang konyol tapi ini jalan yang paling pintas."
"Ini bukan konyol lagi Danish, tapi caramu sudah tidak masuk akal dan juga gila."
" Tapi Arga terlalu baik, Dan," Mesya ingin jujur, karena ia pun tidak mau menipu Danish setelah ia gagal menipu Arga dengan rencana Danish.
"Aku yakin, aku tidak akan bisa melakukannya."
"Kamu harus bisa," bentak Danish memaksa.
"Bagaimana kalau aku malah jatuh cinta dengan Arga?" Harusnya Mesya menyembunyikannya, tapi tidak, dia tidak ingin berbohong. Karena ia pun tidak ingin membohongi dirinya, kalau dia juga mulai menyukai Arga.
Danish menggeleng. "Itu tidak
mungkin, itu tidak akan pernah terjadi, karena kamu adalah milikku, hanya milikku, dan tak ada orang lain yang berhak mengambilmu dari aku."
Mesya memandang sendu wajah Danish. Memang ada kesungguhan disana.
"Kalau begitu, segeralah nikahi aku, kalau tidak aku bisa berpaling pada yang lain. Aku bisa letih dan capek dengan caramu. Aku bisa lari untuk mencari kebahagian dan mendapatkan yang lebih baik."
"Tidak, bagaimana pun itu tidak akan terjadi," geleng Danish dengan yakinnya, "Dan tentang pernikahan kita, sabarlah, Mes, itu pasti akan terjadi. Aku akan menikahimu, kita akan bahagia selamanya."
"Di atas penderitaan Arga?"
"Ya, bahkan diatas penderitaan siapapun."
"Kamu kejam."
"Tapi kamu tetap cinta aku, kan?"
"Entahlah, rasanya cinta itu mulai goyah dan pudar. Sudah tidak lagi berada ditempatnya semula," sahut Mesya dalam hati.
"Sebelum terlambat, aku ingin mengingatkan kamu untuk waspada, Dan. Karena sewaktu-waktu kamu bisa kehilangan aku, apalagi Meta sudah menikah, aku bisa iri melihatnya."
"Kalau kau iri, cepatlah dapatkan uangnya. Agar kita bisa melangsungkan pernikahan kita, dan kita akan hidup bahagia sampai tua nanti."
Sepertinya pikiran Danish sudah tidak waras lagi. Bagaimana Mesya bisa mendapatkan uang yang banyak dengan cara yang seperti ini?
Atau mungkin, ide konyol itu datang karena pertolongan Tuhan untuk Mesya bisa lepas dari belenggu Danish yang selama ini mengikatnya.
π₯π₯π₯
Maaf author suka jarang up,, karena author sibuk di real.. sibuk menata hidup masa depanπ
Jangan bosen dan pindah novel fav kalian genks.. author tetep bakal up kok.. tapi ya suka-suka otor yaπ€
Makasih buat semua pembaca setia author,, tetep like novel-novel author ya.. jangan lupa rate dan vote juga.. ditunggu komen-komen "crazy up thor"ππ»ββοΈππ»ββοΈππ»ββοΈ
__ADS_1