
"Aku senang akhirnya kita bisa tinggal bersama. Maka dari itu tidak akan ada lagi yang mengganggu hubungan kita," kata Danish
Akhirnya Mesya lebih menuruti apa yang dikatakan oleh Danish, daripada mendengarkan nasehat dari sahabat nya sendiri.
"Ayo masuk," ajak Danish kepada Mesya.
"Darimana kamu mendapatkan rumah ini, Dan?" tanya Mesya.
"Dari temanku," jawab Danish.
"Apa kamu suka dengan rumahnya?" tanya Danish.
"Iya, aku suka," jawab Mesya dengan singkat.
"Apa kamu menyesal dengan Keputusanmu?" tanya Danish.
Mesya hanya menunduk sedih tidak menjawab.
(Flash back )
" Kamu sudah melangkah terlalu jauh, tapi kamu bisa berbelok kearah yang seharusnya kamu tempuh. Belum terlambat, Mes."
"Tapi aku tidak mau kehilangan Danish."
" Cintamu terlalu berlebihan."
"Entahlah."
"Lantas? apa yang akan kamu lakukan?" tanya Meta.
"Ya, seperti kataku tadi, aku akan ikuti ajakan Danish. Aku ingin dia tahu, betapa besar cintaku padanya. Dan semoga saja dengan begitu ia pun akan memberikan balasan yang seimbang atas perasaanku."
Meta menarik nafas panjang, dan Menghembuskannya dengan keras.
"Tak percaya rasanya mendengar kenekatanmu kali ini, Mes."
Mesya hanya tertunduk diam.
"Pikirkan sekali lagi."
"Aku sudah memikirkannya masak-masak."
"Mesya...."
"Tapi tetaplah menjadi sahabatku, ya?"
Meta hanya bisa mengangguk, "Tapi aku sangat kecewa dengan keputusanmu."
"Juga benci?" tanya Mesya sambil menangis.
Meta menggeleng, lalu diraihnya tubuh Mesya. Dia merasa iba dan kasihan pada sahabatnya ini. Begitu polos dan lugunya. Dia rela mengorbankan segalanya hanya untuk cinta yang belum jelas arah dan tujuannya.
(flashback selesai)
" Mes, kenapa kamu melamun,"
tanya Danish.
"Jangan khawatir, sewanya aku yang akan membayarnya. Aku sudah bekerja sekarang," kata Danish lagi.
"Kerja? Kerja apa?"
__ADS_1
"Bantu-bantuin Rey dikantornya. Lumayan, sementara belum mendapatkan pekerjaan yang cocok."
Mesya memandang Danish dengan penuh kasih.
" Ini semua aku lakukan untuk kamu, Mes. Dan nanti, kalau aku sudah mendapatkan pekrjaan yang baik, kita akan menikah, aku membeli rumah yang agak besaran. Atau tinggal lagi dirumah Om Pram untuk sementara juga boleh. Sekarang ini aku memang keluar dari rumah Om Pram, kubilang kalau aku ingin tinggal sendiri, padahal kalau Om Pram tahu bahwa aku tinggal bersama kamu, dia juga akan marah sekali. Seperti Meta, Om Pram juga menentang cara kita. Jadi kamu tidak perlu sedih, kita sama, Ok. Sama -sama kehilangan seseorang yang dekat dengan kita. Juga sama-sama membohongi orangtua kita yang berada jauh dan tidak melihat apa sebenarnya yang anak mereka lakukan. Tapi sudahlah, sekarang kita pikirkan saja hidup kita, karena kita berdua yang akan menjalaninya, bukan mereka."
"Ayo kita kembali kekontrakanmu, dan kemasi barang-barangmu sekarang."
"Sekarang?" kata Mesya terkejut.
Dan rasanya ia begitu takut. Benarkah ia akan tinggal bersama Danish? Kalau saja mereka sudah menikah, dia pasti akan sangat bahagia.
"Ya, sekarang, kapan lagi?Kita sudah melihat rumahnya biaya sewanya aku juga sudah bayar, lagian tempatnya juga tidak telalu jauh dengan tempatmu bekerja."
"Beri aku waktu lagi untuk berpikir ya, Dan?" pinta Mesya memelas.
Ketika bicara dengan Meta, Mesya merasa sudah siap untuk tinggal bersama Danish, karena ia merasa tidak bisa hidup tanpa Danish. Tapi setelah ia berhadapan dengan Danish, ia ragu.
Karena Danish tidak ingin Mesya berubah pikiran, dia pun menggeleng.
"Tidak, kita sudah membicarakan ini kemaren kan? saat itu kuminta kamu untuk berpikir, kamu pilih kita tinggal bersama atau kita putus? Dan sekarang waktumu untuk menjawab, bukan berpikir lagi. Lagian kita sudah melihat rumahnya aku juga sudah membayar sewanya, itu tidak mungkin untuk ditolak lagi, Mes."
"Tapi, Dan, apa kata orang...."
"Jangan bicara tentang orang lain. Aku tahu semua menyalahkan kita. Tak akan ada orang yang membenarkan cara kita. Tapi untuk apa memikirkan mereka? Apa mereka yang memberikan kita makan?" Sentak Danish, "Jawab sekarang, mau atau tidak? Aku ingin jawaban pasti," ucap Danish penuh paksaan.
Mesya begitu cemas. Begitu resah dan tidak bisa berpikir.
"kalau kau tolak aku sekarang, itu artinya tak ada lagi kesempatan bagimu memperbaiki penolakanmu. Karena mungkin aku pun tidak jadi tinggal di tempat itu, tapi pulang ke Surabaya, ke kota kelahiranku. Mungkin akan tinggal disana selamanya, apa artinya hidup disini tanpamu. Aku betah di Jakarta meskipun jadi pengangguran, itu karenamu."
"Karena aku?" tanya Mesya hampir tak percaya.
Danish mengangguk.
"Berapa kali aku sudah bilang dan bersumpah kalau aku benar-benar mencintaimu."
"Cinta? Meta bilang, diantara dirinya dan Danish sudah tidak ada lagi cinta yang ada hanyalah nafsu. Benarkah kau masih mencintaiku?" batin Mesya bertanya-tqnya seperti orang linglung dan tampak bodoh.
"Kenapa denganmu, Mes?"
Mesya menggeleng lembut. mengingat ucapan Meta, dia pun sering ragu akan cintanya sendiri pada Danish. Karena yang paling kuat yang ada dihatinya adalah takut kehilangan, takut ditinggalkan setelah keadaannya seperti ini sekarang ini.
"Bagaimana, Mes?" tanya Danish.
"Apanya?"
"Apanya?" suara Danish mulai meninggi.
"Kamu pikir kita dari tadi ngomongin apa? tentu saja rencanaku untuk membawa mu dari rumah kontrakan itu. Bagaimana? Kau mau atau tidak?" tanya Danish lagi merasa gemas.
Permintaan Danish benar-benar membuat Mesya tertekan, dia tidak tahu harus mengatakan apa.
"Benarkah kamu tidak akan memberikan aku waktu untuk berpikir sekali lagi, Dan?" tanya Mesya.
"Berpikirlah, dan setelah berpikir, kamu tidak akan menemukan aku lagi di kota ini," jawab Danish kesal.
"Kamu memaksaku, Dan."
"Memaksa gimana? aku telah memintamu untuk berpikir."
"Dengan disertai ancaman, itu sama artinya dengan pemaksaan."
__ADS_1
"Terserahlah. Supaya kamu tidak mengatakan aku memaksamu, aku pulang deh. Mungkin besok pagi-pagi sekali aku akan ke Semarang. Dan mencari kerja disana. Dan tentang kita, kalau memang kamu merasa tertekan menjadi kekasihku, kita putus."
Putus, begitu mudah Danish mengucapkan kata itu. Padahal itulah yang paling Mesya takuti.
"Bagaimana?" tanya Danish.
Sebenarnya Danish agak cemas juga memberikan Mesya ancaman lagi. Tapi ia tahu betul, betapa lemahnya hati Mesya. Dan betapa besarnya cinta gadis itu padanya. Dan kelemahannya itu dimanfaatkannya.
***
Mereka memutuskan untuk kembali ke kontrakan Mesya, setelah melihat rumah yang disewa oleh Danish.
"Baiklah, Mes, kau tidak bisa memutuskan sekarang. Aku pergi dulu. Mungkin memang hanya sampai disini hubungan kita."
"Dan. Baiklah, tunggu aku mengemasi pakaianku, ya?" ucap Mesya.
Danish tersenyum penuh kemenangan, "aku akan membantumu."
Mesya menggeleng, "Ada meta didalam, aku tidak ingin kalian bertengkar."
"Baiklah, kutunggu disini, ya? Jangan terlalu banyak deh yang kamu bawa. Yang perlu-perlu aja dulu, nanti kan kita bisa balik lagi."
Sementara Mesya kedalam, Danish keluar dari ruangan tamu menuju seberang jalan. Danish menyeberang jalan untuk membeli rokok.
***
"Jadi pergi dengan Danish?" tanya Meta, ketika Mesya masuk kedalam kamarnya.
"Ya," sahut Mesya lirih.
Meta tidak bicara apa-apa lagi. Tak ada gunanya menasehati. Saat ini Mesya tidak butuh siapa-siapa lagi kecuali Danish.
"Tapi bila suatu saat aku ingin kembali kesini, terima aku, ya?" ucap Mesya memohon.
"Ya, tentu Mes. Bahkan bila terjadi apa-apa denganmu, jangan lupa datang padaku."
"Terimakasih, Met. Kamu baik sekali."
"Kamu juga baik. Aku akan kehilangan kamu."
"Tidak,kita kan masih tetap bersahabat."
Meta tersenyum muram. Awalnya dia sangat bahagia saat Mesya bilang kalau dia juga tidak bisa mengikuti keinginan Danish, itu berarti Mesya masih bisa berpikir secara rasional. Tapi semalam Mesya kembali berubah pikiran dan bilang akan pergi melihat rumah kontrakan dengan Danish. Meta tidak bisa berkata apa-apa lagi, sahabatnya ini memang sudah dibutakan oleh cintanya Danish.
"Jangan sampai hamil ya Mes," kata Meta yang tersadar dari lamunannya, "Jangan sampai anakmu lahir diluar nikah."
"Dan kamu, jaga diri, ya? jangan sampai yang menimpaku ini, menimpamu juga."
"Semoga saja aku lebih kuat dari kamu."
Mesya lalu mengemasi barang-barangnya yang akan dibawa. Meta membantunya dengan perasaan tak menentu. Seharusnya ia mencegah, seharusnya ia menentang keras kebodohan Mesya. Tapi ia gagal, kini ia malah membantunya mengemasi barang-barangnya.
"Kau akan beri tahu orangtuamu tentang kepindahanmu?" tanya Meta disela kesibukan mereka.
Mesya yang sedang memasukkan baju kedalam kopernya menggeleng, "Aku tidak akan senekat itu, Met. Mereka bisa datang kesini untuk menyeretku pulang."
"Aku tahu, tapi bukan itu maksudku, bukan tentang kau ikut dengan Danish yang kutanyakan, tapi tentang keluarnya kamu dari rumah ini. Kamu harus beritahu mereka, kan? Supaya bila mereka menulis surat atau datang kesini, nggak nyasar lagi."
"Enggak perlu kali ya?" ucap Mesya bingung, ia berhenti memasukkan baju-bajunya.
"Lalu bagaimana kalau Nisya datang?"
__ADS_1
"Sekarang ini aku tidak bisa berpikir, tapi aku percaya padamu. Kamu pasti tahu bagaimana cara menyampaikannya pada Nisya nanti. Kalau dia cuma kirim surat sih gampang, nanti kamu sampaikan saja padaku. Tapi kalau dia datang..., tolong aku deh pokoknya. Bisa ya?"
"Mudah-mudahan deh," jawab Meta lirih.