Isi Hati

Isi Hati
Isi Hati ep 6


__ADS_3

Akhirnya mereka tinggal dirumah kontrakan yang disewa oleh Danish.


Dengan keputusannya yang mementingkan perasaan Danish, Mesya telah melukai hati Meta.


Danish senang saat Mesya memilihnya. Itu artinya Mesya begitu ingin bersamanya, dengan tinggal bersama, Danish akan bebas melakukan apa saja pada Mesya. Namun Mesya tidak menyadari ini. Mesya hanya tidak ingin di tinggalkan oleh Danish, karena Danish sudah mendapatkan semuanya dari Mesya.


Mesya duduk diam di sofa kontrakan barunya. Tidak begitu besar, tidak sebesar kontrakannya saat masih tinggal bersama Meta.


"Maaf Mes, aku hanya bisa menyewa kontrakan ini. Jika kamu tidak suka, aku akan cari yang lainnya."


"Tidak apa-apa, Dan. Aku suka," jawab Mesya tersenyum tipis.


Danish mencium pipi Mesya, "Aku sayang kamu Mes, terima kasih sudah memilihku. Aku sangat senang kau mau tinggal bersamaku," kata Danish tersenyum menatap Mesya.


Mesya menatap Danish, "Ini karena aku menyayangimu Danish. Kamu ingat, kamu sudah dapatkan semuanya dariku. Kamu jangan lari dari tanggung jawabmu," ucap Mesya tegas.


"Pasti Mes, aku pasti akan bertanggung jawab. Jangan khawatir," jawab Danish memegang erat kedua tangan Mesya.


Danish mencium kedua punggung tangan Mesya secara bergantian. Danish mengecup lengan, sampai ke bahu Mesya, Mesya kaget dan menarik tangannya dari Danish.


"Apa yang kamu lakukan Danish. Ayo tidur, ini sudah malam!" seru Mesya menghentikan kegiatan Danish.


Danish murung, mengeryitkan dahi dan menatap dengan tatapan mata tidak suka pada Mesya.


"Kau menolakku?" tanya Danish.


"Bukan begitu, tapi...," kata-kata Mesya terputus oleh Danish.


"Tapi apa? kamu takut dosa? iya?" cerca Danish.


"Dan...," panggil Mesya.


Danish tidak menghiraukan, Danish membuang muka kesal karena penolakan Mesya. Mesya merasa sedih, tak ingin Danish tiba-tiba pergi darinya.


"Apa yang harus aku lakukan? haruskah aku merayunya? jika dia marah dan pergi, apa gunanya aku ada dikontrakan ini," batin Mesya, tapi Mesya juga tidak ingin hal itu terjadi lagi.


"Dan, Danish...," panggil Mesya.


"Hm," jawab Danish tanpa memalingkan wajah menatap Mesya.


"Dan, maaf...," kata Mesya.


"Lupakan saja, tidak ingin bersamaku kau boleh kembali!" sentak Danish berdiri dari duduknya dan berjalan masuk kedalam kamar.


"Danish...," panggil Mesya lagi.


Mesya berdiri dan berjalan mengikuti Danish masuk kedalam kamar. Mesya memeluk Danish dari belakang, Mesya meminta maaf pada Danish. Mesya tidak ingin Danish marah dan Kesal.


"Maaf Dan, maaf...," ucap Mesya mengeratkan pelukannya.


Danish menghela napas, melepaskan tangan Mesya yang melingkar di perutnya. Danish berbalik dan menatap Mesya, Danish meraba wajah Mesya. Perlahan wajahnya mendekat


"Dan, kamu sudah berjanji ini tidak akan terjadi lagi kan? kalau kamu bersikap seperti ini, kita akan sama-sama berbuat kesalahan lagi," ucap Mesya bergetar.

__ADS_1


"Aku sayang dan juga mencintaimu, Mes, dan ini tidak main-main. Aku akan bertanggung jawab apapun yang akan terjadi padamu."


Danish kembali berusaha menggapai bibir Mesya. Mesya tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Mesya merasakan hangatnya napas Danish dan lembutnya ciuman Danish. Mesya pun larut dalam cumbuan Danish, Mesya membalas ciuman Danish tanpa ragu.


Ciuman lembut, perlahan menjadi ciuman liar. Danish dan Mesya saling menikmati ciuman mereka, Danish merangkul pinggang Mesya, menggendong tubuh Mesya ke atas tempat tidur. Masih dengan bibir yang menyatu, tangan Danish tanpa ragu menanggalkan semua yang di kenakan.


Danish menggigit lembut daun telinga Mesya, napas Danish terasa hangat. Mesya sudah di mabukkan oleh cumbu rayu seorang Danish. Danish yang sudah sangat bernafsu menciumi Mesya, meninggalkan jejak-jejak manis disana. Danish menghentikan kegiatannya lalu menatap Mesya, begitu juga Mesya menatap sayu kearah Danish.


"Aku menyayangimu Mes, jadilah milikku selamanya. Aku tidak akan meninggalkanmu, hanya kau satu-satunya wanita yang akan menjadi istriku. Percayalah," ucap Danish dengan begitu manis.


Mesya mengangguk dan tersenyum, Mesya senang mendengar ucapan manis Danish. Entah apa yang merasuki Mesya sehingga dengan mudahnya percaya akan ucapan manis Danish.


Danish memang pandai merayu, ucapan manisnya selalu membuat Mesya berdebar. Mesya selalu terbuai bujuk rayu Danish, Mesya tidak bisa menolak dan mengatakan tidak pada Danish.


Tangan Danish menyentuh kulit putih mulus Mesya, menjalar kemana-mana. Sentuhannya sangat lembut, membuat Mesya ingin lebih dari sekedar sentuhan. Danish mengecup kening Mesya, hidung Mesya, dagu Mesya dan bibir Mesya kilas.


Danish mencium leher Mesya, ciumannya pun turun dan semakin turun. Mesya melengkuh menahan diri. Mesya mer*m*s sprei, darahnya sudah mendidih dan rasanya tidak tahan lagi.


Melihat Mesya yang sudah menggeliat seperti cacing, Danish melancarkan aksinya. Danish juga sudah tidak tahan melihat kemolekkan Mesya. Erangan Mesya dan gerakan Mesya yang seperti ular membuat Danish hilang akal.


Dengan sekali serangan, Danish pun menguasai Mesya. Danish membuat Mesya berkeringat dan terus mengerang menikmati permainan. Mesya hanya bisa menikmati setiap perlakuan Danish. Danish begitu lembut dan manis memperlakukannya. Membuat Mesya tidak bisa menolak Danish setiap kali Danish ingin melakukan hal yang lebih.


Erangan Mesya dan Danish memenuhi seiisi kamar. Mereka bergulat dengan penuh gairah. Gelora cinta yang menggebu membuat keduanya sukses mencapai puncak secara bersama-sama.


"Hhhh...."


Napas Mesya tersengal, d*da Mesya kembang kempis. Begitu juga Danish, yang merasa sangat puas akan permainannya. Danish yang sudah mencapai langsung berguling, berbaring disamping Mesya. Danish kembali memeluk Mesya, mencium kening dan pipi Mesya dengan sangat lembut.


Mesya kembali luluh dengan ucapan Danish. Mesya memeluk Danish, dan membenamkan wajahnya dalam pelukan Danish.


Malam panas pun berakhir, Danish dan Mesya akhirnya terlelap tidur bersama setelah bermain liar. Danish memperlakukan Mesya begitu baik, begitu manja, hingga Mesya lupa kalau Danish sebenarnya bukan lelaki yang bertanggung jawab.


***


Mesya menggeliat bangun ketika pagi sudah datang menjelang. Dan dia tidak menemukan Danish disisinya. Dia kembali mengingat apa yang sudah terjadi semalam, Mesya hanya terdiam, satu sisi dia tidak ingin terjadi lagi, tapi disisi lain apa yang dilakukan oleh Danish semalam sangat membuatnya dimabuk kepayang, sentuhan dan belaian Danish benar-benar sudah membuatnya gila dan tidak bisa berpikir lagi.


Waktu hari pertama, Mesya malu, ketika ia terbangun dalam keadaan kusut dan tanpa pakaian sehelaipun. Danish masuk kedalam kamar, Danish menyembul dari kamar dengan senyuman manisnya.


Mesya malu, ketika ia terbangun dan dalam keadaan kusut, Danish memandanginya lembut. Mesya tertawa dan menutup wajahnya, Mesya malu saat Danish melihatnya dalam keadaan kusut seperti itu.


Danish membawakan dua gelas susu hangat, "Sudah bangun sayang?" sapa Danish.


Danish melangkah mendekati Mesya dan memberikan nampan berisi sarapan pagi pada Mesya, mereka sudah seperti layaknya pasangan suami istri.


"Aku kan belum mandi, Dan," ucap Mesya


"Enggak apa-apa, nggak mandi pun tetap cantik kok," rayu Danish lalu mencium bibir Mesya lembut.


Mesya tersenyum. Danish sudah rapi dan begitu tampan dimatanya.


"Ayo dong diminum," Danish mendekatkan bibir gelas itu ke mulut Mesya.


"Atau kamu ingin minum dari mulut ku," kata Danish seraya mengedipkan matanya.

__ADS_1


Mesya hanya tersenyum malu, "Gosok gigi dulu deh, Dan. Aku nggak biasa kalau sarapan tanpa gosok gigi dulu, aku bukan wanita yang tinggal di negara barat sana," kata Mesya lagi.


Dan mesya segera turun dari tempat tidurnya menuju kekamar mandi.


"Jangan mandi dulu, aku ingin kamu temani aku sarapan," kata Danish setengah berteriak.


"Ya."


***


Mesya pun selesai mencuci muka dan menggosok giginya. Mereka pun sarapan bersama.


"Besok kalau kamu bangun lebih dulu, bangun kan aku juga, ya? supaya aku bisa menyiapkan sarapan untuk kamu, Dan."


"Nggak apa-apa, aku senang melakukannya."


" Tapi aku nggak enak."


"Sudahlah itu nggak masalah bagiku."


"Tapi sebagai perempuan, aku kan lebih berkewajiban mengurus rumah termasuk menyiapkan makan."


"Itu kalau kau sudah jadi istriku."


Mesya hampir tersedak, dia seperti baru tersadar kalau mereka bukan sepasang suami-istri mesti tinggal dalam satu kamar dan melakukan hubungan terlarang.


"Kapan kau akan menikahiku?"


tanya Mesya setengah menuntut.


Danish mengurungkan tangannya memasukan roti kedalam mulut. Ia paling benci mendengar pertanyaan itu.


"Jangan bicara tentang itu dulu


pembicaraan kita kearah sana hanya akan mengacaukan suasana. Sebaiknya kamu bersabar saja." tukasnya agak kesal


Mesya meletakkan gelas susunya, "Aku hanya ingin hidup wajar, Dan. Apa tidak boleh?"


"Kubilang sabar, bukan tidak."


Mesya tertunduk.


"Aku pergi dulu," pamit Danish kemudian, seraya mengecup lembut kepala Mesya. Sepertinya ia sengaja menghindari pertengkaran diantara mereka.


Mesya mengangkat muka, dan pandangannya sedih menatap punggung kekar Danish yang kemudian menghilang dibalik pintu tanpa menoleh kearahnya lagi.


Mesya hanya mendesah lirih. Entah sampai kapan ini akan berlangsung. Entah kapan Danish memberi kepastian yang jelas tentang hubungan mereka. Dan meresmikannya kedalam sebuah pernikahan.


Mesya mengelus perutnya,


"Jaga jangan sampai hamil, ya?" pesan Meta selalu.


Tapi Mesya malah ingin hamil, agar Danish segera menikahinya.

__ADS_1


__ADS_2