
(Bunyi hp berdering....)
Terlihat nama Gery di hanphone Arga, dengan malas dia pun menjawabnya.
(Percakapan di telepon)
"Ya, Ger?
" Loe jadi kesini kan, Ga?
"Gue sepertinya nggak bisa, gue capek banget, seharian ini banyak banget kerjaan yang harus gue tanganin," jawab Arga dengan malas.
"Gue pokoknya nggak mau tahu ya, Ga. Gue tunggu lu di cafe tempat acara, kalau loe nggak datang, berarti loe nggak anggap gue teman loe lagi," jawab Gery sambil mematikan panggilan telponnya.
Arga hanya bisa mendengus malas, dia benar-benar tidak ingin ikut ke pesta yang hiruk pikuk itu. Kalau Gery inginkan hadiah Arga bisa, mengirimkan apa saja hadiah yang Gery inginkan, tapi dia benar-benar tidak ingin kepesta itu.
(Bunyi pesan masuk)
"Gue gak butuh hadiah loe, yang gue butuh kehadiran loe😤
Pengirim:Gery
"Cih, bagaimana bisa dia tahu apa yang aku pikirkan," umpat Arga membaca pesan dari Gery, jangan-jangan dia punya demit yang mengikutiku,"senyum Arga dengan manisnya, melihat pesan dari sahabatnya yang satu itu.
"Baiklah, tidak ada salahnya berkorban untuk sahabat sendiri kan."
Walaupun tidak ada niat hati untuk kesana. Arga lalu pergi kekamar mandi untuk segera bersiap-siap ke pesta ulang tahun sahabatnya Gery
***
(Di tempat pesta)
Jam sudah menunjukkan pukul 9 malam, dan pesta itu juga sudah berlangsung cukup lama, tapi yang mereka tunggu belum juga muncul. Padahal Mesya sudah tegang dan merasa tidak nyaman berada diantara mereka yang tidak dia kenal kecuali Rey dan juga Dea. Dea pun baru saja diperkenalkan Rey. Dan sikap Dea agak kurang manis padanya. Mungkin dia cemburu. Tapi meskipun dia cemburu pun itu wajar saja. Mesya memang lebih cantik, dan mungkin juga dia agak terganggu dengan keberadaan Mesya diantara mereka malam ini.
Setelah sekian lama menunggu...
"Nah, tuh Arga," Dea menunjuk tamu yang baru datang itu.
Rey tersenyum, "Ya, tuh Arga," ucap Rey.
Mesya memandang kesana, seorang lelaki sebaya dengan Danish baru saja datang. Danish benar dia tidak begitu tampan, tapi juga tidak jelek-jelek amat. Lumayan. Dia manis. Itu yang ada di pandangan Mesya untuk saat ini.
Arga menghampiri Gery, tersenyum tipis seraya menjabat tangan dan memeluk sahabat nya yang satu itu, entah sampai kapan Gery akan bisa berubah dengan dunianya yang seperti ini, walaupun bukan pesta ulang tahun Gery tetap akan berpesta dengan teman-teman yang lainnya.
"Kalau sampai loe hari ini nggak datang bro, gue nggak akan mau berteman dengan loe lagi," kata Gery sambil tersenyum mengejek Arga.
"Kalau loe nggak mau temanan sama gue, gue nggak masalah, berarti kerjasama kita buat kedepan nya gue batalin dong," jawab Arga membalas omongan Gery.
"Yahhh, bro loe tega ya sama gue. Ini kan ngga ada hubungannya sama kerjasama kita, loe kok bawa-bawa urusan kerjaan kesini. Gak seru loe, Ga," sendu Gery.
__ADS_1
"Hahaha, gue bercanda bro, habis loe ngomong gitu sama gue."
"Iya deh, gue minta maaf. Lagian gue kan juga becanda ngomongnya, Ga. Bukan serius juga. Loe sudah banyak membantu gue, gue nggak bakalan lupain semua budi baik loe bro," jawab Gery sendu.
Dia ingat bagaimana Arga menolongnya saat dia terjaring razia narkoba, Gery memang bukan pemakai barang haram itu, tapi ada orang yang ingin menjebaknya karena sakit hati sehingga dia harus merasakan dinginnya sel penjara untuk beberapa hari. Dan kalau bukan Arga yang menolongnya dengan cara menjamin, juga mencari bukti-bukti bahwa dia tidak bersalah, mungkin Gery sudah akan mendekam di penjara.
"Hei, malah bengong loe," kejut Arga seraya memukul bahu Gery. Gery hanya tersenyum mengingat kejadian dulu.
"Ok, gue ke tempat Rey dulu, loe puas-puasin deh mata loe mencari gadis-gadis cantik malam ini, ini hari loe bro," gelak Arga.
"Ok, terimakasih bro sudah datang, gue senang loe bisa ikut merayakan ultah gue disini, semoga saja loe juga dapat seseorang hari ini," harap Gery,
Arga hanya tersenyum hambar sambil berlalu dari tempat Gery.
Setelah pamit dengan teman-temannya yang lain, Arga pun menuju ketempat Rey.
"Kok telat?" tanya Rey.
"Tadinya malah nggak mau datang, Rey. Tapi gimana lagi. Kamu kan tahu Gery gimana orangnya," jawab Arga dengan lesu, lalu disenyuminnya Dea dan duduk disebelah Rey.
"Oh, iya, kenalan dulu dong, dia Mesya. Adiknya Danish yang kerja di tempat ku,"kata Rey.
Arga mengulurkan tangannya pada Mesya tanpa senyum sedikitpun. Arga juga tidak menyebutkan namanya, dan dia juga hanya sekilas menyalami Mesya, dengan segera dia menarik kembali tangannya dari genggaman Mesya.
Dingin. Itu kesan yang selanjutnya Mesya dapati. Tapi kenapa Mesya suka, ya? Sungguh, Mesya pun tak mengerti, dia tidak benci dengan sikap Arga yang dikin dan super cuek itu. Apa karena Rey sudah cerita? Atau ia mengerti perasaan Arga, atau....
Atau karena Arga yang katanya Danish jauh dari tampan itu sebenarnya menarik dengan kulit nya yang coklat, matanya yang hitam dan tubuhnya yang juga tinggi seperti Danish. Kenapa Mesya sekarang membanding-bandingkan Arga dengan Danish?
Rey berdiri ketika lampu mulai remang-remang dan musik pun mulai menghentak.
"Kamu juga," tanya Rey lagi pada Arga
Arga menggeleng tanpa gairah.
"Kalau begitu, temanin Mesya ngobrol deh, ya?
Arga meraih gelasnya, lalu meneguknya sedikit, tanpa memberi jawaban. Dan Rey pun meninggalkan mereka berdua
Mesya ingin berbicara, tapi sulit untuk memulai. Dia bingung harus bicara apa, apalagi dengan sikap Arga yang dingin itu, Mesya benar-benar takut kalau dia berbuat kesalahan dan malah akan membuat Arga marah nantinya.
"Duh, Dan, kamu jahat...," keluhnya dalam hati merasa sedih.
"Teman, Rey?" Arga mengeluarkan suara beratnya
Mesya terkejut, sekaligus senang, dia tidak menyangka Arga yang dingin itu mau mengajaknya bicara.
"Ya," angguk Mesya manis. Dan dipandanginya ragu wajah dingin bermata kelam dihadapannya.
Sungguh, Arga tidak sejelek apa yang dikatakan Danish. Bahkan matanya sempat memukau Mesya. Dalam keremangan itu, dia melihat keteduhan disana. Keteduhan yang akhir-akhir ini tak lagi dia jumpai dalam tatapan mata Danish.
__ADS_1
"Rey sengaja memperkenalkan kamu padaku pasti berniat menjodohkan," ucapnya tanpa basa-basi lagi.
" Ng...."
"Nggak apa-apa. Rey memang sering begitu, kok. Dan aku tahu maksudnya baik."
"Tapi..., Rey nggak bilang kok kalau dia mau menjodohkan aku dengan temannya, dia cuma mengajak ku kesini karena kebetulan aku ingin keluar malam ini."
"Masa?"
Mesya mengangguk.
"Sayang nya, aku tidak bisa menemanimu lama-lama disini. Aku kurang suka tempat ini," Arga pun bergerak ingin bangkit dari duduknya.
"Kau mau kemana?"
"Kemana saja, asalkan jangan disini. Tapi mungkin aku akan ke bilyar. Aku suka tempat itu, soalnya..., disana aku pertama kenal seseorang yang sampai detik ini masih kucintai," ucapnya dengan suara sendu.
" Aku boleh ikut?"
"Apa?"
"Entahlah, rasanya aku ingin ikut kamu, terus terang aku senang bicara berlama-lama denganmu."
"Kita baru kenal. Kamu belum tahu siapa aku."
"Rey sudah cerita banyak tentang kamu."
"Masa?"
"Ya, jadi meskipun kita baru ketemu sekarang, aku merasa sudah mengenalmu lama sekali."
Tapi niat Arga untuk keluar dari sana tidak diurungkan nya.
"Aku boleh ikut, kan?"
"Nggak," Arga menggeleng, lalu segera beranjak melangkah meninggal kan tempat pesta itu.
Sebenarnya Mesya ingin memaksa ikut. Tapi tidak enak juga, tidak ingin menjadi pusat perhatian disitu. Lagi pula kan malu.
Dan..., sungguh, Mesya lupa kalau Danishlah yang memintanya mendekati Arga. Tiba-tiba saja Mesya merasa, dia ingin melakukannya sendiri, bukan karena dorongan Danish. Dia ingin melakukannya bukan karena uang, tapi..., etahlah, Mesya tidak tahu untuk apa.
"Rey, pulang," Arga menghampiri Rey yang sedang asyik menikmati hentakan music DJ yang sedang dimainkan.
"Loh! Mesya nya mana, kok ditinggal sendiri, Ga," Rey berhenti dan berusaha mencegah Arga.
"Kan kamu yang bawa, kamu dong yang harus temanin, kok malah jadinya aku. Heran aku padamu, nggak capek-capeknya membawa kan aku perempuan. Kalau aku mau, aku bisa cari sendiri Rey, nggak usah kamu cariin,"katanya sewot.
" Rey melakukannya kan untuk kamu, Ga. Dia tidak ingin melihat kamu sendiri selamanya," kata Dea menjelaskan, dia juga tidak ingin Arga salah paham pada kekasihnya Rey.
__ADS_1
"Tidak enak hidup sendiri, kan? Apalagi terkungkung dalam perasaan bersalah seperti sekarang ini. Kamu sudah tidak bisa menikmati hidup mu lagi, Ga, karena kamu selalu hidup dengan perasaan bersalah itu!
Rasa bersalah. Yah, rasa bersalah yang tak pernah usai pada Reva itulah yang membuatnya menutup hatinya rapat-rapat pada semua gadis. Dan tidak ada keinginan untuk membukanya kembali.