Isi Hati

Isi Hati
Isi Hati ep 18


__ADS_3

Mesya menikmati cintanya dengan Arga. Ia tidak bisa ingkari, kalau ia benar-benar telah jatuh cinta pada laki-laki yang berhati lembut itu. Apalagi tiap malam minggu Arga rutin apel kerumahnya. Jika Arga datang Danish keluar, tetapi tidak pernah ke mana-mana melainkan jadi satpam di teras, takut Arga bertindak jauh barangkali.


Saat mereka keluar rumah, Danish cemas memikirkannya. Akhir-akhir ini ia agak cemburu juga melihat betapa akrabnya Arga dan Mesya.


"Dia menciummu?" berkali-kali Danish bertanya.


"Iya. Dan ciumannya sangat memabukkanku. Aku pikir aku tidak akan bisa melupakan ciumannya Arga," Mesya sengaja ingin mengerjai Danish dan melihat reaksinya.


"Apa...?! Kamu bilang dia tidak akan menyentuhmu apalagi menciummu, tapi kenyataannya dia juga tidak jauh beda denganku," Danish terlihat marah mendengar Arga mencium Mesya kekasihnya.


"Itu benar. Kamu jangan samakan Arga dengan kamu, Dan! Kalian tidak sama, dia memang tidak mencium ku, sedangkan memegang tanganku saja dia harus minta izin terlebih dahulu."


"Tapi barusan kamu bilang kalau Arga menciummu."


"Aku hanya sengaja bilang seperti itu, dan ingin melihat reaksimu, tapi kamu dengan santainya menilai kalau kamu dan Arga sama. Kalian tidak sama, Arga menepati semua ucapannya, bahkan dia juga tidak berani memegang tanganku tanpa izin dariku."


"Oh, ya?" Danish tersenyum mengejek, "karena itu juga ya, akhir-akhir ini kamu sering menolak ajakanku?"


"Ya, karena dosa kita sudah terlalu besar, aku sering takut bila ingat Tuhan..." ucap Mesya pilu, "Dan, kamu setuju tidak kalau kita pisah? Maksudku tidak tinggal serumah lagi, tidak melakukan hubungan itu lagi. Kita..."


"Tapi bukan karena cintamu sudah luntur padaku, kan?" tanya Danish.


Mesya ingin bilang, 'iya' tapi tidak berani. Meski ia akui jauh di dasar hatinya, cintanya pada Danish sudah sudah mulai menyusut. Saat ini ia malah ingin menyusun rencana untuk menjauhi Danish dan lepas dari genggamannya secara pelan-pelan.


Belakangan hari ini ia selalu berpikir dalam kesendiriannya, untuk melepaskan diri dari Danish. Rasanya Mesya sudah letih berada dalam cengkeramannya yang serasa menyiksa bathinnya. Merasa cemas setiap saat, merasa berdosa kepada Tuhan, dan merasa rendah di mata orang lain.


"Boleh, kan?" tanya Mesya lagi.


"Aku tidak punya cukup uang untuk mengontrak rumah lagi," jawab Danish.


"Kan bisa pakai uang ku sendiri. Cukup, kok. Sebenarnya kalau kamu mau, untuk menikah pun pasti cukup. Tapi saat ini, aku yang malah merasa tidak punya keinginan untuk menikah..."


"Kita memang tidak perlu membicarakan tentang pernikahan dulu. Karena aku ingin seperti Om Pram, yang sudah punya rumah sendiri sebelum menikah."


"Itu terlalu muluk, tetapi terserah kamu, aku pun juga tidak ingin menikah sekarang."


"Sebenarnya ingin asalkan bukan dengan Danish. Tetapi dengan Arga."


"Syukurlah kalau kau punya pikiran begitu."


Kenapa Danish jadi begitu bodoh sekarang? Tapi meskipun begitu, tak mudah berhenti mencintai Danish. Soalnya mereka selalu bertemu setiap hari, makanya sekarang Mesya memilih pindah saja dari kontrakan itu dan memilih untuk mengontrak rumah sendiri supaya Mesya juga bisa lepas dari Danish.


"Siapa tahu dengan aku mengontrak rumah sendiri Arga akan membantuku mengisinya dengan furniture yang bagus-bagus," rayu Mesya.


Padahal sama sekali hal itu tak terlintas dipikiran Mesya. Dari Arga, Mesya tidak menginginkan materi, ketulusan cintanya dan juga rasa hormatnya pada Mesya sudah lebih dari cukup untuk Mesya terima.


"Benar juga, ya? Ok, deh. Kalau begitu, kita cari sama-sama besok, ya."


"Bagaimana bila aku mencarinya dengan Arga saja?" Siapa tahu dia mencarikan rumah yang lebih baik dan juga bagus."


Danish mengangguk setuju. Mesya merasa seperti benar-benar menjadi cewek matre dengan bicara seperti itu kepada Danish. Padahal niatnya hanya ingin lepas dari ikatan Danish yang sangat kuat ini.

__ADS_1


"Semoga saja Tuhan merestui jalan ku ini," doa Mesya dalam hati.


*****


Arga berhasil mencarikan Mesya sebuah rumah, mungil dan juga sederhana, tapi asri. Berada di lingkungan yang baik pula. Yang jelas, Mesya merasa aman, nyaman dan juga tentram karena jauh dari Danish. Dan di rumah ini Mesya ingin memulai kehidupan barunya, ingin menjauhkan diri dari sentuhan-sentuhan tangan penuh dosanya Danish. Dia ingin memulai kehidupan sebagai wanita baik-baik. Mesya juga akan menata bathinnya dan memohon ampunan kepada Tuhan atas dosa yang telah diperbuatnya selama ini.


Dan tanpa diminta Arga membelikan Mesya tempat tidur, lemari pakaian, kursi, tv dan furniture juga yang lainnya. Rumah itu penuh sekarang, Arga juga yang menatanya dengan rapi. Pada awalnya Mesya menolak, tapi Arga memaksa.


"Kamu kan calon istriku, malah nanti aku akan membuatkanmu rumah yang besar dengan isinya yang mewah," janji Arga kepada Mesya


"Aku tidak menginginkan itu, Ga. Yang aku inginkan rumah yang penuh dengan kedamaian."


"Itu juga pasti, dan itu tergantung dari diri kitanya, kan? Memang mulai kudambakan untuk punya keluarga yang manis dan penuh kebahagiaan. Kamu juga, kan?" Tanya Arga pada Mesya. Mata Mesya merebak. Dia begitu bahagia dan begitu terharu.


"Tuhan bantu kami mewujudkan impian indah itu. Meskipun kami orang-orang yang penuh dosa, kami tetap meminta pintu kemaafan dari-Mu," doa Mesya dalam diam.


"Tapi dari mana caraku bisa melepaskan diri dari Danish, Bagaimana?" Batin Mesya lagi.


"Kakakmu tidak ikut pindah kesini," tanya Arga kemudian, "Mes... " panggil Arga.


"Oh, ehhh. Iya ada apa, Ga?"


"Kamu kok melamun? Kamu nggak suka rumahnya?" tanya Arga lagi.


"Nggak, kok. Aku suka rumahnya. Ini sudah lebih dari cukup, Ga."


"Trus kamu kenapa melamun? tanya Arga lagi."


"Tadi kamu menanyakan kenapa Danish tidak ikut pindah bersamaku, ya? Sebaiknya memang tidak, Ga. Lagian nggak enak juga, kan. Jangan-jangan orang mengira kalau kami bukan adek kakak, tetapi..." jelas Mesya yang tiba-tiba menghentikan ucapannya.


"Aku juga sering berpikir begitu. Kalian tidak mirip sama sekali, malahan kalian terlihat sebaya."


"Tapi, kami benar kakak adik, kok."


Mesya berusaha meyakinkan, "Tuhan kapan aku bisa jujur pada Arga, agar persoalan ini segera terselesaikan?" batin Mesya.


"Aku percaya," jawab Arga.


"Ga..." panggil Mesya.


"Hmm," gumam Arga menanggapi panggilan Mesya.


"Kapan-kapan aku kenalin kamu sama sahabat ku Meta, ya?" tawar Mesya.


"Siapa Meta?" tanya Arga.


"Dia sahabatku. Sahabat terbaikku. Padanya aku tak punya rahasia apapun. Dan aku ingin kalian saling kenal satu sama lain, agar kamu lebih mengenal siapa aku."


"Iya. Kapan pun kamu ingin mengenalkan aku pada sahabatmu, aku siap, kok."


*****

__ADS_1


"Benar, kan. Arga bisa memberikanmu apa yang tidak bisa kuberikan," komentar Danish ketika malam itu ia berkunjung ke rumah baru Mesya.


Mesya tidak menyahut. Dia cuma diam dan memandang sebal wajah Danish.


"Kenapa kamu nggak minta dibelikan rumah saja, Mes?"


"Tentu saja, tapi itu nanti kalau kami sudah menikah," sahut Mesya.


"Menikah?"


"Iya. Menikah, Arga kan menyukaiku. Dia mengatakan jika aku adalah calon istrinya. Menurutmu bagaimana, Dan?" Pancing Mesya ingin tahu tanggapan Danish.


"Ya, itu bagus. Lakukan saja. Jika kalian menikah, kamu akan lebih leluasa memiliki lebih banyak lagi sebagian harta miliknya, lalu kau bercerai dan kita menikah. Hahaha..." jawab Danish dengan tertawa senang.


"Jangan berkhayal dulu, potong Mesya tak senang. Belum tentu jalan kita semulus itu."


"Hah? apa kamu nggak ada rasa cemburu gitu? Kamu nggak khawatir aku nggak akan bercerai dari Arga?" tanya Mesya lagi. Kali ini dengan raut wajah yang terlihat serius.


Danish mengernyitkan dahi, "Mes, kamu nggak akan meninggalkan aku. Aku tahu itu. Kamu dan aku, kita itu saling cinta. Kita juga bukan sehari, dua hari bersama, kan?" tanggap Danish masih menyombongkan diri.


"Hahhh. Bodohnya kamu, Mes. Bagaimana bisa mencintai laki-laki seperti ini? Dia bahkan dengan begitu mudahnya mengiyakan semua ucapanmu tanpa ada penjelasan," batin Mesya merasa kesal.


"Kamu kenapa, Mes?" tanya Danish mengusap lembut wajah Mesya.


Mesya mudur dan menghindari sentuhan Danish. Mesya yang merasa kesal langsung mengusir Danish pergi sesegera mungkin dari rumah kontrakannya.


"Aku nggak apa-apa. Kamu pulang aja, Dan. Nggak enak kalau ada tetanggaku yang lihat. Karna yang mereka tahu aku pindahan dibantu Arga. Bukan kamu," tegas Mesya.


"Kamu mengusirku? aku masih kangen," bujuk Danish mendekat ingin memeluk Mesya.


Mesya mundur beberapa langkah, "Stop, Dan. Please... aku capek. Bisa, kan? kamu pulang dulu sekarang. Besok kita ketemu lagi," kata Mesya sedikit meninggi.


Danish merasa kesal. Namun, ia tidak punya pilihan. Ia tidak ingin menekan Mesya lagi dan takut Mesya kabur darinya. Pada akhirnya Danish pergi dari rumah kontrakan Mesya.


Setelah kepergian Danish, Mesya langsung menutup pintu rumahnya dan menguncinya. Air mata Mesya tidak bisa dibendung lagi. Dengan keras Mesya menangis. Ia bersimpuh bersandar dipintu rumahnya. Dada Mesya merasa sesak sekali sehingga sulit untuk bernapas.


*****


Bersambung...


Nb:


Sekian Abad baru update.. hehe..


Maklumin aja ye.. author emang begini.. kadang rajin.. banyak malesnya hahahaha..


Next chapter ntah kapan update..


Bisa jadi nunggu onta dateng dari Arab 🙃🙃🙃 baii baii readers..


Jangan lupa like, komen, vote..

__ADS_1


Dukung karya author manis ini skuy🤗


__ADS_2