
Sebulan kemudian
Setelah kepindahan Mesya dari kontrakan Meta, selama itu pula Meta tidak mendapatkan kabar, dia rindu akan kabar dari sahabatnya itu. Bagaimana keadaannya sekarang.
Meta memutuskan untuk berkunjung kerumah Mesya.
"Meta!" Mesya berseru senang menyambut kehadiran Meta." Masuk, yuk. Ini rumah kami, tidak lebih baik dari kontrakan kamu.
"Tapi disini kamu lebih damai, kan?"
"Damai?" Mesya mengulangi kata itu dalam tanya.
Dan ia tersenyum getir."Justru aku merasa tak tenang, karena di kejar-kejar rasa berdosa. Merasa tak tentram, Met. Sungguh."
"Tapi Danish memperlakukanmu dengan baik, kan?"
"Teramat baik bahkan. Dia begitu menyayangiku, dan memanjakanku. Tapi apa artinya ini semua bila kami tidak juga terikat kedalam sebuah pernikahan yang sah?"
Meta tak memberi komentar. Tak ada gunanya bicara. Dari dulu pun Meta sudah mengingatkan, dan dari dulu pun Mesya tahu langkahnya salah, tapi dia tak pernah berusaha memperbaiki. Dia cuma bisa bicara dan bicara tanpa bisa melakukan apa yang menurutnya benar.
"Kabar Radith bagaimana?" tanya Mesya akhirnya.
"Baik. Justru aku datang untuk mengabarimu sesuatu. Tentang hubungan kami, wajah Meta yang tadi murung karena memperhatikan keadaan Mesya, kini berubah cerah.
" Kabar apa?"
"Aku dan Radith akan menikah...."
"Oh ya?" Mesya terkejut, dan tentu saja dia juga turut bahagia atas kabar yang dibawa sahabatnya itu. Dibalik kegembiraan itu, terselip juga rasa iri.
Meta mengangguk.
"Selamat ya, Met,"ucap Mesya parau, lalu di peluknya sahabatnya itu.
" Setelah kami, kuharap kau dan Danish segera menyusul,"timpal Meta.
"Doakan ya, Met," Mesya melepaskan dekapannya.
"Ya."
"Terus terang aku iri," ucap Mesya hampir tanpa suara." Kamu begitu beruntung...,"lanjutnya kian sendu.
Padahal dulu, Mesya lah yang merasa beruntung ketimbang Meta. Karena mendapatkan kekasih yang tak jauh kalah dari model-model majalah yang terlihat keren. Ternyata penampilan dan daya tarik hanya terlihat diluarnya saja, tetapi didalam tidak ada apa-apanya. Namun Mesya sangat mencintainya, dan tak ingin kehilangan dia.
"Lalu kapan rencananya?"
"Dua bulan lagi."
"O ya?" Mesya terkejut lagi. Rasanya terlalu cepat. Dan Mesya benar-benar iri.
"Ehemm," sahut Meta dengan wajah manisnya yang terasa semakin manis dalam keadaan sebahagia itu.
"Pestanya dimana?
" Di bali, dong."
"Kukira di Bandung, dikotanya Radith."
__ADS_1
"Rencananya malah dua kali."
"Wah, Asik dong."
"Soalnya, Radith kan anak tunggal, dan mereka ingin Radith memakai ada Sunda pada pernikahannya, akhirnya kami sepakat untuk mengadakan dua kali resepsi"
"Heboh banget, Met."
"Siapa tahu pesta pernikahanmu malah lebih heboh lagi."
"Lebih heboh karena ada suara tangis bayi kali ya?" Mesya menyeringai kecut.
"Jangan punya pikiran jelek begitu ah. Itu tidak baik."
"Tapi nasibku memang jelek, kok."
"Ini bukan nasib, kamu yang membuat hidupmu menjadi seperti ini. Jadi jangan salahkan nasib. Karena kalau kamu mau, kamu masih bisa mengubahnya," Meta menggunakan kesempatan itu untuk kembali mengingatkan sahabatnya.
Mesya terdiam, bukan tak peduli, tapi merenungkannya. Dan Meta berkata benar, kalau dia mau, dia bisa pergi dari Danish, dan mencari kehidupan yang lebih baik dari pada bersama Danish yang hanya akan membuatnya dalam kesengsaraan.
"Kalau aku hanya menasehatimu lagi, kamu pasti sudah bosan mendengarnya. Tapi biar bagaimanapun, aku selalu berharap kamu menemukan hidup yang sewajarnya. Kita hidup di negeri yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai susila, moral, dan agama. Dan semua mencela jalan yang kau tempuh sekarang. Kukira tanpa aku bicara lebih panjang pun kamu sudah tahu sendiri apa akibatnya buat kamu, dan semua orang yang senekat kamu."
Meta prihatin, sangat prihatin.
Dan Meta masih terdiam ketika pintu rumah kontrakan mungil Mesya terbuka. Begitu terbuka wajah Danish muncul dengan tubuh kelihatan capek.
"Oh, ada tamu rupanya," dia berusaha tersenyum, meski terasa kaku.
Meta membalas senyum Danish.
"Sudah lama?" tanya Danish lagi seraya melangkah kearah Mesya dan duduk disebelah kekasihnya itu.
"Gimana kabarnya?"
"Baik."
Mesya hanya terdiam. Dia bahkan tidak menyambut hangat kedatangan Danish. Mendengar Meta dan Radith akan menikah, dia tiba-tiba merasa sedih, dan tidak bergairah lagi menghadapi Danish.
"Sudah malam, aku pulang, ya?" pamit Meta kemudian
"Kok buru-buru, sih? Sebentar lagi deh, Met.
Kita makan sama-sama dulu, yuk," cegah Mesya.
"Lain kali, deh," tolak Meta halus
"Ya, deh."
"Oh ya, jangan lupa bantu-bantu aku nanti, ya?" pesannya seraya melangkah ke pintu.
"Bantu apa? Danish bertanya pada Mesya, tak mengerti maksud Meta.
" Bantu mempersiapkan apa-apa saja yang kuperlukan untuk pernikahanku," jelas Meta.
"Pernikahan?" Meta mengangguk.
"Ya, kami akan menikah dua bulan lagi. Dan kuharap kalian akan segera menyusul." Meta tersenyum, lalu pamit sekali lagi dan keluar.
__ADS_1
Mesya hanya mengantarkan Meta sampai pintu. Lalu berbalik lesu setelah Meta pergi.
"Meta akan menikah. Entah kapan giliran kita," ujar Mesya terdengar seperti keluhan.
" Danish tidak menghiraukan omongan Mesya.
"Kapan, Dan?!"Mesya berteriak.
Danish sangat kaget mendengar Mesya berteriak padanya, karena tidak biasanya kekasihnya itu seperti ini, dan serta-merta ia pun menatap marah pada Mesya. Dia sedang capek. Sangat capek, tapi Mesya malah meneriakinya seperti itu.
Mesya juga tidak tahu kenapa harus berteriak sekeras itu. Tapi sedari tadi hatinya memang sangat sesak. Sesak dan juga merasa terbebani oleh sesuatu yang sangat berat. Dan setelah berteriak, dia merasa lega, tapi melihat mata Danish yang melotot tajam kearahnya dia merasa menyesal dan juga takut.
" Kalau kau sudah tidak sabar ingin menikah, pergi saja dari sini dan menikahlah dengan siapa saja, tapi jangan ajak aku!"
"Begitu, ya?" setelah kamu mendapatkan apa yang kamu mau, kamu dengan mudahnya menyuruhku untuk menikahi orang lain, apakah ini yang kamu bilang akan bertanggung jawab padaku, Dan?"Mesya tersinggung dengan perkataan Danish.
"Kamu tahu bukan itu jawaban yang aku inginkan dari mulut mu, tapi rasa tanggung jawabmu! bukti cintamu, Dan.
" Kamu menuntut terlalu besar! padahal kamu tahu aku belum bisa. Jadi sabarlah, Mes! Sabar!"
"Sampai kapan?"
"Aku juga tidak tahu!
" Kamu saja tidak bisa memberikan kepastian padaku, Dan, bagaimana kamu bisa menyuruhku untuk bersabar."
"Tapi percayalah, itu pasti, Mes," jawab Danish dengan nada suara yang mulai melemah, tidak lagi sekeras tadi.
"Maaf tadi aku membentakmu. Aku kaget, tidak menyangka kamu akan semarah itu padaku."
Danish menghampiri Mesya dan menyentuh bahu Mesya.
"Aku juga minta maaf, aku panik mendengar Meta akan menikah."
"Sabar lah, Mes, tunggu aku sampai mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dan sesuai dengan pendidikanku." Diraih dan dipeluknya Mesya kedalam pelukannya.
Dan memang ajaib, tiap kali Danish memeluknya hati Mesya terasa hangat, dan lupa segalanya.
Danish mencium lembut kening Mesya, dari kening dia beralih ke hidung, dan berakhir di bibir Mesya, Danish mencium bibir Mesya dengan lembut dan hangat. Ciuman hangat berganti dengan ciuman panas. Mesya menikmatinya dan tidak menolak. Dia selalu begitu, selalu dibuat kalah dan tak berdaya.
Danish dan Mesya berciuman intim, bibir keduanya saling beradu. Lidah mereka saling bertemu dan melilit, mengabsen setiap inci rongga mulut masing-masing. Sesekali Danish menggigit lembut bibir bawah Mesya juga menghisapnya, membuat darah Mesya mendidih merasakan nikmatnya ciuman Danish. Mesya tidak tinggal diam, dia juga melakukan hal yang sama pada Danish, Mesya belajar banyak dari Danish pada saat mereka berciuman sebelum ini.
Keduanya saling melepas ciuman, saling memandang satu sama lain. Pandangan mata yang penuh arti, cinta, nafsu dan ya..., keinginan yang lebih dari sekedar berciuman.
Baru beberapa saat berhenti, Danish kembali menahan tengkuk leher Mesya dan mencium Mesya kembali. Lagi, lagi, lagi dan lagi Mesya tidak ada penolakan. Mata dan hatinya sudah dibutakan cinta, Mesya tidak bisa berpikir jernih lagi. Selalu saja tidak bisa menghindar dari gejolak dalam dadanya. Rasanya cintanya yang begitu dalam, membawanya terperosok jauh kedalam lembah yang curam.
***
"Aku mencintaimu," bisik Mesya lirih
"Aku juga, Mes. Dan jangan pernah ragukan lagi. Aku sedih. Dan aku sakit bila kamu bicara tentang pernikahan. Percayalah, bila aku sudah siap, tanpa kau minta pun aku akan menikahimu."
"Janji ya?"
__ADS_1
"Ya, aku janji."
Dan entah sudah berapa ratus kali Danish berjanji, tapi itu hanya sekedar janji yang dia buat untuk menenangkan hati Mesya tanpa mau melakukannya.