
Arga merasa tidak enak telah membentak Mesya tadi. Dia merasa bersalah telah memperlakukannya seperti itu. Arga pun memutuskan untuk menyusul Mesya keluar, dia khawatir kalau terjadi apa-apa sama Mesya, jangan sampai kejadian dulu terjadi lagi.
Lelaki yang bertubuh besar itu meraih dan membopong tubuh Mesya, dia berusaha untuk membawa Mesya kedalam mobil, dan sesaat Arga pun datang dan melihat kejadian itu dan berteriak dengan keras dari arah belakang. Dan Mesya mengenali suara siapa itu.Itu suara Arga....
"Mau kalian apakan dia?" terdengar lagi suara bentakan Arga dari belakang dan semakin keras dan juga semakin mendekat.
Lelaki yang bertubuh besar itu masih membopong Mesya dia melihat kearah belakang, sementara temannya yang lain datang untuk menghadang Arga.
Arga tiba-tiba tersentak, sesaat bayangan masalalunya beberapa tahun lalu seperti muncul kembali dihadapannya.
"Lepaskan dia!" Arga membentak preman-preman itu."
"Maju kalau berani! tantang salahsatu dari mereka."
Arga melangkah, dan menerjang tubuh pemuda yang datang untuk menyerangnya, Arga dengan sigap mengelak pukulan yang diberikan oleh preman itu dan kembali memukulnya, tapi preman satunya datang dan menendang keperut Arga dengan keras dan bukan hanya menendang Arga tapi juga memukul Arga.
Melihat Arga kena serangan salahsatu preman itu, Mesya terlihat semakin cemas. Dia meronta keras dan berteriak. Dan ketika Arga berusaha untuk melawan dua orang itu, perkelahian semakin sengit, bahkan Arga juga berhasil berkali-kali menghantam mereka dengan tinju dan tendangannya, teman mereka yang memegangi Mesya segera melepaskan gadis itu dan ikut mengeroyok Arga.
Tak menyia-nyiakan kesempatan itu, Mesya lalu memukul kepala para preman itu dengan tali tasnya yang terbuat dari rantai, dan mencoba untuk mencoba untuk menolong Arga melawan para pengacau itu. Dia mengaduh dan Mesya juga membuka sepatunya yang bertumit tinggi dan juga memukulkan ke kepala preman yang satunya lagi. Sayang sekali malam ini dia tidak memakai yang hak nya runcing, biar menancap aja sekalian tumit sepatunya di kepala nih preman( geram Mesya).
Tiga pemuda itu tidak ada apa-apanya, dalam waktu yang tidak terlalu lama, salahsatunya bahkan terkapar dan tersungkur jatuh oleh serangan Arga yang keras dan bertubi-tubi. Dan yang lainnya juga mengaduh kesakitan.
"Ayo, Mes," Arga meraih lengan Mesya dan membawanya ke mobilnya. Lalu dengan segera mobil Arga melaju dengan mulus meninggalkan tempat kejadian.
Mesya menghempaskan punggungnya ke jok mobil Arga. Dia masih terlihat sangat shock dengan apa yang baru saja dia mereka alami, ini sangat mengerikan dan masih terasa di hati Mesya, tapi setidaknya dia sedikit lega karena sudah lepas dari para preman itu. Tapi jantungnya masih berdegup kencang.
Arga yang melihat wajah Mesya yang pucat merasa kasihan, dia pasti shock sekali.
"Takut, ya? Arga mencoba untuk menenangkan Mesya, lalu tangan kirinya meraih tangan Mesya yang dingin dan di genggamnya erat.
Rasa hangat dan merasa dilindungi mengalir didada Mesya, menyusup sampai kerelung hati Mesya, sangat menenangkan sekali.
" Terima kasih, Ga. Entah bagaimana jadinya kalau seandainya tidak ada kamu yang menolong ku," ucap Mesya dengan suara parau.
"Sudahlah, lupakan saja. Anggap saja tidak terjadi apa-apa," hibur Arga. Dia tahu kalau wanita ini masih takut karena itu terlihat dari tangannya yang terasa bergetar walaupun Arga sudah memegangnya.
"Tapi peristiwa tadi memang sangat mengerikan."
"Kamu tahu, peristiwa tadi juga pernah dialami oleh Reva," kata Arga sedih, lalu dilepaskannya genggamannya dari tangan Mesya.
"Kekasihmu yang sudah meninggal itu?" tanya Mesya
"Iya," jawab Arga
"Tapi bukan karena...dia...ng...dia, dia meninggal bukan karena diperko...." Mesya tidak melanjutkan, dia merasa ngeri sendiri membayangkannya.
__ADS_1
"Tidak. Dia meninggal bukan karena itu. Tapi dia meninggal karena kesalahanku."
"Salahmu?" Mesya bertanya karena tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh Arga.
"Ya, salahku, Rey sudah cerita, kan?
" Belum. Rey hanya cerita kalau kekasihmu meninggal, hanya itu. Tapi penyebabnya atau hal yang lainnya Rey belum cerita lagi."
"Kamu ingin mendengarkannya.
" Boleh, Ga?
Arga mengangguk.
"Tapi jangan sekarang, ya? Sekarang sudah malam, sebaiknya kamu aku antarkan pulang."
"Sekarang saja, Ga."
"Tidak, Mes. Jangan sekarang, setidaknya aku butuh tempat yang tenang dan enak untuk bercerita. Jadi mau kan, kapan-kapan aku ajak kamu kepantai?
" Pantai? Tentu, Ga. Aku sangat menyukai pantai," seru Mesya merasa sangat senang. Dan Mesya mengangguk tanda menyetujui ajakan Arga.
"Baiklah, ku jemput kamu minggu besok, ya?
Sekali lagi Mesya mengangguk sambil tersenyum.
***
" Biarkan aku mengantarkanmu, Mes, ini sudah malam. Dan gang ini terlihat gelap, aku takut nanti ada orang yang mengganggu mu lagi."
"Disini saja, Ga. Aku nggak apa-apa kok, lagian sudah dekat juga," tolak Mesya halus.
"Kamu tidak takut," tanya Arga lagi
"Tidak akan ada apa- apa, kok, lagian semua orang disini sudak kenal aku, jadi tidak mungkin ada yang ganggu."
Arga sempat melamun sesaat, Mesya ternyata tinggal didaerah seperti ini. Kasihan...dia pasti merasa tak nyaman apalagi disini dia cuma tinggal berdua dengan kakaknya, pikirnya lagi.
"Terima kasih ya, Ga. Sudah mau mengantarkan aku pulang. Apa kamu masih mau tetap berteman denganku meskipun aku tinggal dikawasan yang seperti ini?
" Ini tidak masalah bagiku, Mes. Aku tidak melihat status dan juga derajat seseorang dalam berteman, asalkan dia ikhlas dan jujur berteman denganku, buatku harta bukanlah segalanya.
Ada yang terasa menusuk didada Mesya setelah mendengarkan kata-kata Arga barusan, dia me dekati Arga karena mempunyai tujuan, dan semua itu rencana dari Danish. Tapi sekarang Mesya ingin mendekati Arga bukan lagi karena suruhan Danish, tapi karena dia benar-benar tertarik dengan Arga dan ini juga tulus.
"Terima kasih, Ga."
__ADS_1
"Dari tadi kamu bilang terima kasih melulu, nih," Arga tertawa lepas.
"Duh, senangnya melihat kamu tertawa lepas seperti ini, Ga. Oh, ya jadi kan hari Minggu besok."
"Iya, aku jemput kamu nanti, ya."
"Tapi kamu kan tidak tahu rumahku."
"Makanya aku ikut sekarang, ya. Biar nanti pas aku jemput, aku bisa langsung kerumahmu," kata Arga lagi.
"Ya, deh."
Arga pun mengikuti Mesya masuk gang, setelah mengunci mobilnya terlebih dahulu dan meninggalkan mobil nya ditepi jalan yang agak sunyi.
Mereka berdua menyusuri gang yang remang- remang dan saling berdiam diri dan hanyut dalam pikiran masing-masing.
Mesya berhenti disebuah rumah kontrakan yang kecil.
"Nah, ini rumahku, Ga. Jelek, ya? kata Mesya begitu mereka sampai didepan rumah kontrakannya yang kecil.
"Tapi bersih, kok," kata Arga walaupun dalam hatinya sedikit prihatin dengan tempat tinggal Mesya.
"Danish...," Mesya memanggil Danish. Dan tak lama pintu pun terbuka.
"Belum tidur, Dan," sapa Mesya. "Ga, kenalkan ini kakakku, Danish," kata Mesya dengan suara yang hampir saja serak
"Ini...Arga, Dan. Sambung Mesya lagi, suaranya benar-benar hampir tidak keluar. Berat rasanya berbohong seperti ini. Betapa tidak enaknya jadi seorang penipu. Dan Mesya benar-benar tidak tahu sekarang ini siapa yang sebenarnya dia tipu. Arga atau Danish?
" Masuk, Ga. Rey dan juga Mesya sering cerita tentang kamu. Dan aku rasa, kita juga pernah ketemu ditempatnya Rey," kata Danish senang, karena ia merasa rencananya tidak akan gagal. Lihat saja, buktinya malam ini Mesya bahkan bisa berhasil membawa Arga datang kerumah kontrakan mereka.
"Masa?," Arga tersenyum ramah
Danish mengangguk.
Mesya memandang mereka secara bergantian. Dulu Mesya begitu mengagumi Danish, tapi malam ini, dia merasa begitu rendahnya Danish....
"Yuk masuk, ajak Danish.
" Terima kasih, deh. Sudah malam kok, lain kali saja. Saya permisi dulu, ya? Mari, Mes...," pamit Arga kepada mereka berdua.
"Ya." jawab Mesya dan Danish serentak.
"Hati-hati, Ga," pesan Mesya
"Iya," jawab Arga sambil berjalan keluar gang rumah mereka.
__ADS_1
***
Segini dulu ya genks, othornya udah ngantukš“