
“Ya nggak lah Sya. Jam ini sebenarnya milik mendiang Bapak. Si Mbok yang memberikannya pada Syamir sewaktu Syam pertama kali pergi merantau. Si Mbok bilang ini agar Syam tidak lupa waktu shalat dan mampu mengatur waktu Syam dengan sebaik-baiknya. Jam ini sangat berarti bagi Syam, makanya Syam selalu menyimpannya. Tapi sekarang Syam rasa sudah saatnya Syam melepas jam ini.” Jelas Syamir, ia memandangi jam tangan itu dengan penuh haru.
“Kamu beneran mau jual ini Syam?” tanya Syahira memastikan.
“InsyaAllah Syamir yakin. Lagi pula jam ini juga hanya titipan dari Allah, jadi Syam tidak berhak untuk merasa memilikinya selama-lamanya. Syam juga punya kewajiban sebagai seorang suami untuk menafkahi Sya. Syam tidak bisa tinggal diam jika Sya belum makan atau bahkan kenapa-napa.”
Syahira hanya diam terpaku saat mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Syamir barusan. Apa yang ada dalam pikiran pria itu, kenapa ia terus menerus mengkhawatirkan orang lain yang ia pikir adalah istrinya padahal mereka juga akan berpisah sebentar lagi. Lalu apa artinya semua ini? tutur batin Syahira.
“Ayo Sya! Kita cari toko yang mau membeli jam tua ini.” Ucap Syamir.
Syahira menganggukan kepalanya, ia lalu mengikuti langkah Syamir. mereka berjalan menyusuri setiap toko sambil menawarkan jam tangan Syamir. Hampir setiap toko yang mereka datangi menolak jam tangan Syamir. Mereka sudah hampir putus asa karena mereka sudah berjalan jauh dan menawarkan ke banyak tempat tapi belum ada satupun yang mau. Hingga akhirnya sebuah toko di ujung jejeran ruko pinggir jalan tertarik pada jam tangan milik Syamir.
“Kira-kira akan laku berapa ya Koh?” Tanya Syamir ppada pemilik toko itu yang ternyata seorang pria berdarah Cina.
“Haya, Oe paling bisa ngasih dua ratus ribu ah. Mau dijual apa tidak?” jawab Pria itu.
“Sebentar Koh, saya tanyakan pada istri saya dulu ya.”
“Bagaimana Sya? Mau dijual apa tidak?”
“Tunggu Syam, kita harus naikin lagi harganya. Ini jam antik dan terkenal pada masanya. Terlalu kurang jika hanya dihargai dua ratus ribu.”
“Koh, masa cuma dua ratus ribu sih, jam ini jam antik dan terkenal pada masanya. Harusnya harganya gak segitu, naikin lagi lah Koh.” Tawar Syahira.
“Haya, lu olang mau jual jam ini atau tidak ha? Ini jam udah ditawar dengan harga yang paling tinggi. Kalau kalian tidak mau menjual dengan harga segitu ya sudah jual saja di tempat lain.”
“Sya, hanya ini toko yang mau menerima jam ini. Kita jual saja ya, kita sangat membutuhkan uang sekarang.” Bujuk Sayamir.
“Tapi Syam harganya kemurahan.”
“Nggak papa Sya, lagian tidak ada lagi toko setelah toko ini. Jadi kita mau menjualnya kemana lagi?”
“Okay Fine!”
“Ya sudah, Koh saya jual jam ini dengan harga dua ratus ribu.”
“Nah, begitu dong, oe kan jadi gak susah.”
__ADS_1
Merekapun menjual jam tangan itu dengan harga yang telah disepakati. Syahira sebenarnya masih kesal, ia yakin sebenarnya jam itu masih bisa dijual dengan harga yang lebih mahal. Mana uang hasil penjualan jam itu belum cukup untuk ongkos mereka ke Jakarta. Belum lagi mereka juga harus mengisi perut mereka, semakin berkuranglah jumlah uang itu.
Saat mereka berdua sudah berjalan cukup jauh dari toko tiba-tiba Koko pemilik toko tadi berlari mengejar mereka dari arah belakang. Syamir heran kenapa Koko itu mengejar mereka, padahal transaksi sudah mereka selesaikan. Syamir akhirnya menghentikan langkahnya, ia berniat menghampiri Koko pemilik toko itu tetapi Syahira malah menyuruhnya lari.
“Oy, Kalian! Jangan coba kabur ah!” Ucap pria itu.
“Lari Syam!” Syahira kini menarik lengan Syam.
“Apa yang sebenarnya terjadi Sya?”
“Pokoknya kita lari sekarang, ntar aku jelasin deh.”
“Tidak! Aku tidak akan lari. Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kita tidak akan lari karena kita tidak memiliki kesalahan apapun, jadi kita harus menghadapinya.”
“I’m worrying about that.”
Koko itu akhirnya semakin dekat, ia nampak begitu marah.
“Hey, lu orang ternyata pencuri ha. Kembalikan barang yang lu olang curi dari oe ha atau oe lapor polisi ha.” Ancam pria itu.
Koko itu lalu menggeledah seluruh isi tas mereka. Wajah Syahira tiba-tiba berubah cemas. Syamir lalu herasn saat melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Syahira.
“Nah, ketemu ha, lu orang curi barang dari toko oe ha.” Pria itu menemukan sebuah pot bunga porselen dengan ukiran yang sangat cantik.
“Sya!” Syamir lalu menatap Syahira dengan wajah kecewa.
“Syam, aku bisa jelasin semuanya.” Ucap Syahira ketar-ketir.
“Ko, saya benar-benar minta maaf atas kesalahan kami. Kami khliaf Ko. Saya harap Ko tidak menindak lanjuti ini ke arah yang lebih serius. Kami memohon kerelaan dan keikhlasan dari Koko untuk memaafkan dan melupakan kejadian ini.”
“Oe benar-benar kecewa ha, selama oe berjualan belum pernah ada kejadian semacam ini. Tapi kali ini oe maafkan. Dan sebagai hukumannya oe tidak akan menerima lagi barang apapun yang kalian jual ke oe. Oe sudah hilang kepercayaan sama kalian ha.” Ucap pria itu.
“Terima kasih Ko, terima kasih banyak karena sudah memaafkan kami.” Syam menjabat tangan pria itu.
“Ya, oe pergi sekarang ha.” Pria itu lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
Syamir kini berbalik menatap wajah Syahira yang tengah tertunduk malu. Syamir menghela napas dalam-dalam lalu mulai berbicara pada Syahira. Ia merasa begitu kecewa bercampur malu atas tindakan Syahira.
__ADS_1
“Kenapa Sya lakukan itu?” Ucap Syamir.
“Syam, aku punya alesan atas tindakanku barusan. Pria itu juga telah merampasmu. Ia membayar jam itu dengan harga yang tidak seharusnya. Jadi kita juga perlu mendapatkan hak kita yang seharusnya.”
“Dengan cara mencuri? Sya, sekalipun perbuatan orang lain itu salah tetapi kita tak boleh membalasnya dengan kesalahan pula. Kita tidak berhak memutuskan mana yang benar dan mana yang salah sesuai dengan kehendak kita. Kita harus mengikuti petunjuk yang Allah berikan Sya, lagi pula dalam perdagangan itu telah mencapai kesepakatan Sya. Kita telah sama-sama sepakat dengan harga segitu.”
“Tapi aku belum Syam. Uang segitu masih kurang untuk ongkos kita ke Jakarta.”
“Sya, jam itu milik Syam, Syam sudah sepakat dengan harga yang diberikan oleh Koko tadi, jadi apa lagi Sya? Soal uang, kita harus menerima berapapun rezeki yang telah Allah takar untuk kita. Sya juga harus yakin bahwa kita bisa sampai ke Jakarta dengan selamat walaupun sekarang kondisi kita berkekurangan. Kita punya Allah Yang Maha mencukupi jadi kita tak perlu risaukan hal itu.”
“Jam itu milik kamu? Terserah kamu mau nentuin harga berapapun? Aku udah muak Syam! Dari awal aku udah nyoba ikutin segala mau kamu karena kamu udah rela mau nolong aku dan nganterin aku sampai sejauh ini. But now, enough! Kamu bebas sekarang mau nentuin apapun semaumu dan aku gak akan lagi protes. Aku akan melanjutkan perjalanku tanpa kamu. Jadi sekarang kamu bebas mau kemanapun dan ngelakuin apapun semaumu. Dan aku juga bebas ngelakuin apapun semauku tanpa harus dipaksa atau didikte lagi oleh kamu! Bye!” Syahira lalu pergi meninggalkan Syamir.
“Sya! Sya! Tunggu Sya!” Syamir mencoba mengejar Syahira.
Syahira terus berlari kencang sambil menangis tersedu-sedu. Ia juga tidak memikirkan kemana ia sedang melangkah sekarang. Yang ia pikirkan hanya agar terus menjauh dari Syamir. Syahira merasa kecewa kepada Syamir, ia tak sanggup lagi membendung emosinya, akhirya dengan menjauh dari Syamir adalah cara yang dipilih oleh Syahira.
Syamir begitu kalang kabut mencari Syahira kesana kemari. Seluruh tubuh Syamir kini bergetar, ia begitu mencemaskan istrinya itu. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada Syahira? Hati Syamir terus bergejolak, ia terus berusaha berfikiran positif dan memanjatkan doa pada Allah agar Syahira dalam lindungan Allah. Syamir terus berlari tapi Syahira tak kunjung ditemukan.
Sementara Syahira kini tengah berlari ke suatu gang kecil yang berpenerangan remang-remang, hatinya mulai tak enak saat memasuki gang itu. Syahira tetap memaksakan diri masuk ke gang sempit itu. Gang itu begitu gelap dan sunyi, bahkan Syahira mampu mendengar nafasnya sendiri. Ia terus mengawasi sekeliling dengan hati yang panik dan tubuh yang gemetaran. Tiba-tiba terdengar langkah kaki dari kegelapan di ujung gang itu. Muncullah beberapa sosok pria misterius dengan penampilan layaknya preman dan berwajah sangar. Syahira mulai merasa ketakutan saat para preman itu mulai menatap Syahira dengan wajah layaknya predator yang hendak menerkam mangsanya.
Syahira bingung harus berbuat apa, ia hanya seorang wanita dan seorang diri tanpa bersenjatakan apapun. Saat itu juga ia mulai teringat Syamir. Ia terus memanggil-manggil nama Syamir sembari mencoba menghindari para preman itu. Tetapi para preman itu kini mengerubuni Syahira, jumlah mereka kira-kira ada empat orang. Syahira kini benar-benar ketakutan, apa yang akan diperbuat oleh preman itu pada dirinya.
“Hai Nona cantik, kenapa beralan sendirian ?” ucap salah seorang dari preman itu.
“Diam kalian! Jangan pernah berani mencoba mendekatiku. Atau aku akan...”
“Atau kamu akan apa hah?” para preman itu lalu tertawa licik.
“Sikat saja sekarang bos, mangsa empuk Bos, mana ayu tenan lagi.”
“Tenanglah Nona cantik, kami tidak akan menyakitimu. Kami hanya akan membawamu ke sebuah kesenangan yang tak akan pernah terlupakan.” Semua preman itu lalu tertawa terbahak-bahak.
“Jangan sentuh aku! Tolong! Tolong.”
“Percuma kau minta tolong, tidak ada siapa-siapa di sini, ahaha.”
“Syam! Tolong aku.” Syahira tiba-tiba secara reflek memanggil Syamir.
__ADS_1