Istri Nakal Ustad Tampan

Istri Nakal Ustad Tampan
Masak


__ADS_3

Subuh sekali Syahira dibangunkan dengan paksa oleh si Mbok. Syahira dipaksa untuk melaksanakan shalat subuh. Sementara Syamir masih di masjid.


"Heh! Bangun! Bangun!" si Mbok membangunkan Syahira dengan sedikit kasar.


"heeemmmm, masih malem....," Syahira membalikkan badannya.


"Heh malah tidur lagi. Bangun!" si Mbok geram.


Dengan mata yang masih sayu, tubuh yang lemas dan terkantuk-kantuk, Syahira akhirnya bangun. Si Mbok langsung menarik Syahira ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Syahira hanya menuruti apa yang si Mbok suruh.


"Emang harus banget ya Mbok? Nanti aja jam tujuh. Ini masih kepagian tau." Ucap Syahira sembari mengucek matanya.


"Ngawur! Mana ada shalat subuh jam tujuh. Namanya juga shalat subuh, berarti dilakukannya di waktu subuh. Kalau jam tujuh ya bukan shalat subuh namanya tapi shalat duha. Koe iki suka shalat subuh ndak? Jangan-jangan koe jarang shalat?" kata si Mbok dengan jengkel.


"Emmm. Yaudah Sya mau wudhu dulu." Syahira lalu menutup pintu kamar mandi.


Setelah mengambil wudhu, Syahira lalu melaksanakan shalat subuh dengan diawasi ketat oleh si Mbok. Untungnya, Syahira masih ingat bacaan dan tata cara shalat subuh yang pernah Syahmir ajarkan sewaktu mereka dalam perjalanan ke Jakarta. Seusai shalat Syahira langsung beranjak begitu saja.


"Nah, habis ini koe kudu masak. Koe wes jadi istrine Syam. Koe harus masak, Syam harus makan dari makanan yang koe buat. Eh, tapi sebelum itu koe kudu beres-beres. Moso mertuamu yang harus beres-beres. Malu! Ora sopan." Kata si Mbok dengan nada ketus.


"Arrrggghhh! Okay." Dengan berat hati Syahira menyanggupi perintah si Mbok.


Syahira mulai beres-beres. Sebelumnya, ia tak pernah memegang sapu sedetikpun. Hidupnya selama ini serba mudah, sudah ada asisten rumah tangga yang mengerjakan semua pekerjaan rumah. Kini Syahira dipaksa harus mengerjakan semuanya secara sendiri.


"Koe iki beres-beres opo main-main sih? Moso nyapu seperti itu. Yang bener!" Si Mbok marah melihat Syahira yang tak bisa menyapu dengan baik.


"Iya Mbok." Kata Syahira sembari mencoba membetulkan cara sapu-sapunya.


Dengan banyak perjuangan akhirnya Syahira menyelesaikan tugas menyapunya. Tetapi tidak selesai di situ saja, Syahira masih harus mengepel, menggosok WC dan mencuci. Sembari menahan sakit hati karena mendengar omelan dan cacian yang terus Mbok layangkan padanya, Syahira menyelesaikan semua tugas itu dengan penuh perjuangan.


Usai bere-beres, Syahira lalu pergi ke pasar terdekat untuk membeli bahan masakan. Syahira yang tak pernah berbelanja bahan makanan dan pergi ke pasar tradisional benar-benar dibuat pusing. Ia bahkan tak tahu nama-nama bumbu masakan, ia benar-benar bingung harus membeli apa. Akhirnya ia membeli bahan makanan yang disarankan oleh penjual.


Usai dari pasar, Syahira lalu mengolah bahan makanan yang telah ia beli. Ia tak tahu harus memasak apa, belum lagi tempat mess begitu sempit, hanya ada satu kompor, sebuah piring dan mangkok serta sebuah pisau. Akhirnya ia melihat tutorial masak yang tersedia di kanal berbagi video online. Dengan penuh kesulitan dan tantangan, akhirnya Syahira berhasil masak dua menu yang diajarkan oleh tutorial di handphone nya.


Tak lama setelah masakan jadi, Syamir lalu pulang. Syahira dengan sigap menyambut kedatangan suaminya. Ia mencium lengan Syamir dan menyajikannya secangkir teh manis. Syamir merasa begitu senang saat diperlakukan seperti itu oleh Syhaira.


"Assalamu'alaikum." Syamir membuka pintu.


"Wa'alaikumsalam." Ucap Syahira dan si Mbok.


"Wes mulih to Syam?" Si Mbok lalu mendekati Syamir.


"Wes Mbok." Syamir lalu mencium lengan ibunya.


"Syam ini, teh manis." Syahira lalu menyodorkan teh manis pada Syamir.

__ADS_1


"Terima kasih banyak Sya." Syamir lalu meminum teh manis itu.


"Caper tenan koe karo bojo koe. Giliran karo mertua mana pernah diperhatikan." Si Mbok mendelik ke arah Syahira.


"Kan tadi Sya sudah tawarkan Mbok teh juga, tapi kata Mbok tidak mau." Ucap Syahira.


"...." si Mbok hanya terdiam.


"Wes to Mbok, masih pagi kok wes gaduh-gaduh." Kata Syamir.


"Yaudah, sekarang kita makan yuk. Aku udah masak, emmm, gak tau enak apa engga. But, at least i was try." Syahira lalu menyiapkan makanan.


Syahira menyajikan makanan yang telah dibuatnya kepada si Mbok dan Syamir.


"Cuh! Makanan apa ini? asin tenan." Si Mbok melepehkan makanannya.


Hancur hati Syahira saat melihat reaksi dari si Mbok barusan.


"Moso sih? Coba Syam cicip." Syamir lalu meyuapkan makanan ke mulutnya.


"...." pertama Syamir hanya terdiam saat mengunyah makanannya, lalu menelannya.


"Endak, enak kok Sya. Makasih ya sudah membuatkan masakan yang enak untuk Syam." Kata Syamir, ekspresianya dipaksa untuk tersenyum.


"Coba Sya makan." Syahira tak yakin dengan ucapan dari Syamir, ia membuktikannya sendiri dengan memakan langsung masakannya sendiri. Baru sedikit mengunyah wajah Syahira langsung mengernyit. Ternyata benar apa yang dikatakan oleh si Mbok kalau masakannya memang asin. Syahira merasa kecewa dengan hasil masakannya. Ia kini hanya tertunduk malu.


"Mbok, jangan berkata seperti itu. Syahira sudah berusaha dengan keras untuk melakukan semua ini. Syam paham kalau Sya memang belum terbiasa, Sya masih bisa belajar untuk terbiasa dengan semua ini. Tapi jangan langsung disalahkan, ia masih belum terbiasa Mbok." Syamir membela istrinya dihadapan si Mbok.


"Gapapa kok Syam. Apa yang dikatakan oleh si Mbok memang benar." Syahira tampaknya tengah menitikan air mata.


"Sya, jangan bicara seperti itu. Syam yakin pasti Sya akan terbiasa dengan semua ini. Sya hanya perlu sedikit waktu. Nanti Syam bantu ya." Syamir memegang lengan Syahira dan menghapus air matanya.


"Gak papa kok Syam." Syahira langsung membereskan makanannya.


Setelah sarapan yang tak menyenangkan itu, Syahira lalu bersiap untuk berangkat kerja. Begitupun dengan Syamir. Karena kini Syahira telah diusir dari rumah, jadi semua fasilitas termasuk mobil mewahnya yang selalu ia gunakan untuk pergi bekerja juga ikut ditinggalkan. Syahira kini diantar oleh Syamir untuk berangkat kerja dengan naik angkot.


"Gak usah Syam, Syam juga harus kerja kan?" Syahira menolak tawaran dari Syamir.


"Gak papa Sya, lagi pula tempat kerja Syam dan Sya kan searah."


"Tapi tempat kerjaku kan lebih jauh. Sayang, nanti kamu harus bayar ongkos naik angkot, padahal kan tempat kerja kamu deket banget. Mending uangnya ditabung."


"Ya sudah, kalau Sya tetap menolak, Syam antar sampai naik angkot ya."


"Okay." Mereka berdua lalu berjalan menuju angkot yang sedang ge-tem.

__ADS_1


"Sya, hati-hati ya." kata Syamir.


"Iya Syam. Kamu juga semangat ya kerjanya." Syahira menyunggingkan senyuman manisnya kepada Syamir.


"Assalamu'alaikum." Syamir pamit pergi dengan wajah yang berseri-seri.


"Wa'alaikumsalam." Syahira mencium lengan Syamir. angkot pun kembali berjalan.


Syamir akhirnya tiba di toko Koh Wang. Terlihat Yuli tengah mondar mandir mengecek barang dan Koh Wang yang sedang duduk di Meja Kasir sembari menghitung bon yang bertumpuk di mejanya. Syamir lalu menghampiri mereka.


"Wes, penganten anyar baru dateng nih. Gimana perasaannya setelah bisa satu atap dengan istri sah?" Ledek Yuli pada Syamir.


"Haya, lu emang gak punya perasaan ha. Lu lupa apa semalam kan si Syam baru diusir sama mertuanya. Lu berempati sedikit lah sama musibah si Syam." Koh Wang membela Syamir.


"Eh, Iya koh. Yuli minta maaf deh. Sorry ya Syam." Yuli sungkem kepada Syamir.


"Gak papa Yul." Kata Syamir. Syamir pun mulai bekerja.


Saat ditengah-tengah kerja, seperti biasa, Yuli selalu mengajak Syamir ngobrol. Yuli juga ikut menyeret Koh Wang dalam pembicaraan mereka kali ini.


"Eh Syam, elu kan tinggal di Mess, emang muat apa buat bertiga?" Yuli tampak penasaran.


"Enggak Yul. Syam yang mengalah tidur diluar." Jawab Syam.


"Kasian amat lu. Eh, kalo gitu lu ngontrak aja di tempat yang agak gedean. Biar lu gak harus tidur diluar lagi. Kan enak kalo bisa tidur seranjang ama bini, ya gak Koh?" Yuli kini tertawa cekikikan.


"Haya, lu kalo ngomong selalu ada ujungnya ha." Kata Koh Wang pada Yuli.


"Ah, Syam, gimana kalau lu ama keluarga lu pindah ke kontrakan punya oe ha. Kontrakannya luayan gede ha, ada dua kamar, bayarnya juga oe murahin ha. Khusus buat pegawai oe bayar delapan ratus lima puluh ribu aja ha perbulan, udah sama listrik sama air ha, gimana? Lu mau?"


"Koh si Syam murah Koh? Yuli malah disuruh bayar sejuta seratus. Ah, Koh Wang pilih kasih." Timpal Yuli.


"Haya, lu kan di kontrakan buka warnet sama ade lu ha, ya lu harus bayar listrik tambahannya ha. Lu orang pake listriknya gede ha."


"Oh iye, heheh."


"Nah, gimana Syam? Kalo menurut gue sih segitu udah yang paling murah Syam. Nih, kalo gue itung-itung, gaji lu kan seratus tujuh puluh lima ribu sehari, kalo lu gak ambil libur berarti dalam sebulan lu bisa dapet lima jutaan lebih, kepotong buat kontrakan delapan ratus lima puluh ribu masih ada empat juta lebih. Tuh, cukuplah buat biaya hidup lu ama bini lu, ya asal irit-irit aja, hehe."


"Syam mau Koh, alhamdulillah." Syamir terlihat girang.


"Nah, gitu ha. Kalau lu mau, nih oe kasih kuncinya sekarang. Lu bisa pindah besok. Soal bayaran gak papa lah, lu bisa bayar akhir bulan nanti. Atau lu mau dicicil dari upah lu tiap hari juga boleh ha." Koh Wang kini menyodorkan kunci kontrakan pada Syamir.


"Beneran Koh? Alhamdulillah wasyukurillah. Ya sudah, Syam memilih untuk membayarnya dengan potongan upah Syamir tiap hari saja Koh." Syamir tampak sumringah.


"Ah, okelah. Ni oe kasih kuncinya sekarang ha." Syamir lalu menerima kunci itu.

__ADS_1


"Terima kasih banyak Koh."


"Sama-sama." Mereka kembali bekerja.


__ADS_2