Istri Nakal Ustad Tampan

Istri Nakal Ustad Tampan
Menyelamatkan Istriku


__ADS_3

Memohonlah kepada Allah dengan permohonan yang sebenar-benarnya


Dan atas kehendak Allah Syamir tiba-tiba muncul di dekat Syahira. Dengan wajah yang garang Syamir lalu bersiap untuk melakukan serangan terhadap para preman itu. Syahira kini merasa lega karena Syamir datang menolongnya di waktu yang tepat. Syamir seorang diri lalu menghadapi para preman itu.


“Jangan berani ganggu istri saya.” Ancam Syamir. Menatap tajam preman-preman itu.


“Wes ono pawangne Bos. Opo kita sikat juga pawangne?” ucap salah satu preman itu.


“Sikat saja lah.” Para preman itu lalu menyerang Syamir secara bersamaan.


Dalam perkelahian itu Syamir mengerahkan semua tenanganya. Para preman itu sungguh kuat, berbeda dari pencuri sebelumnya. Serangan mereka sulit ditebak sehingga Syamir hampir kewalahan dalam menghadapi mereka. Beberapa kali Syamir terkena serangan mereka tapi tidak membuat Syamir tumbang. Syamir benar-benar dikeroyok oleh preman itu. Kini ia tersungkur oleh serangan yang dilancarkan salah seorang preman itu. Melihat Syamir yang kini tengah dikkeroyok Syahira menangis memanggil-manggil nama Syamir.


“Tidak! Syam!” Syahira menangis meratapi kondisi Syamir yang tengah dikeroyok dan hampir tumbang. Tiba-tiba Syahira duduk bersimpuh sambil menengadahkan tangannya ke langit. Ternyata Syahira tengah memanjatkan doa kepada Allah. Sepanjang hidupnya, Syahira belum pernah merasa serendah ini dalam meminta. Belum pernah ia sekhusyuk dan sepasrah ini dalam memohon bantuan pada penciptanya itu. Dengan tangan yang bergetar, dengan hati yang patah dan air mata yang mengalir deras Syahira berdoa pada Allah SWT.


“Ya Allah, aku kini benar-benar membutuhkan pertolonganmu. Aku mengakui kesalahanku, dosaku teramat banyak dan sujudku masih kurang. Hatiku masih sering lalai dalam mengingatMu dan seluruh ragaku masih belum sempurna dalam menyembahMu. Ya Allah, detik ini aku bersujud kepadaMu dengan serenda-rendahnya, dengan seikhlas-ikhlasnya, aku meminta kepadaMu Ya Allah yang Maha Pemurah lagi tempat bergantungnya seluruh makhluk. Agar engkau menolong Syamir, menguatkannya, dan menyelamatkannya dari marabahaya yang tengah menimpanya. Lindungilah ia dari orang-orang jahat yang hendak mencelakainya. Semoga engkau mendengar dan mengabulkan doaku Ya Allah, aamiin.”


Syahira menutup doanya itu dengan mengusapkan kedua telapak tangannya ke wajahnya. Air mata masih menggenangi kelopak matanya. Hatinya masih pedih saat melihat Syamir yang hampir tak berdaya. Kini Syahira hanya bisa berharap akan adanya keajaiban yang bisa menolong Syamir.


“Syam, bangunlah! Bukankah kau sudah berjanji padaku bahwa kau akan mengantarkanku pulang? Bangun Syam, Syam kuat. Syam bisa melewati semua ini.”


Ajaib sekali, saat Syamir mendengar ucapan dari Syahira barusan tiba-tiba Syamir pun kembali bangkit. Dengan tubuh yang masih goyah ia berdiri dan menguatkan tubuhnya, ia lalu melancarkan kembali serangan demi serangan kepada para preman itu. Meski dengan tubuh yang sudah babak belur Syamir menyerang para preman itu dengan membabi buta. Akhirnya para preman itupun tumbang satu persatu. Setelah para preman itu tumbang Syamir lalu menghampiri Syahira dengan menyeret kakinya.

__ADS_1


“Syam!” Syahira lalu memeluk Syamir dengan erat, ia begitu terharu bisa kembali mendekap Syamir.


“Sya tidak kenapa-napa kan?” Tanya Syamir.


“Gak usah mengkhawatirkan kondisiku Syam, aku baik-baik saja. Kamu datang tepat waktu. Tapi kondisimu sekarang, aku benar-benar minta maaf Syam. Semua ini gara-gara aku.”


“Jangan berpikiran seperti itu Sya. Yang sudah biarlah sudah.”


“Sekarang kita cari tempat duduk ya, aku akan mengobati lukamu.”


Mereka berdua lalu berjalan keluar dari gang sempit itu. Mereka lalu duduk di sebuah bangku di pinggir jalan raya. Waktu saat ini sudah mulai gelap. Syahira begitu menghawatirkan kondisi Syamir saat ini. Ia berharap ada sebuah kendaraan yang lewat yang sudi mmereka tumpangi. Mereka tak bisa berlama-lama lagi di sini, takut jika ada orang jahat yang muncul seperti tadi. Ternyata keinginan Syahira didengar oleh Allah. Tak lama muncullah sebuah mobil bak terbuka yang mengangkut Sayuran. Syahira lalu mencoba menghentikan mobil itu.


Syahira berdiri di tengah jalan, dengan tangan yang melambai-lambai. Mobil yang ada dihadapannya itu lalu berhenti. Dengan antusias Syahira lalu menghampiri sang supir. Ia mengetuk kaca mobil itu lalu meminta tolong padanya.


“Permisi Pak.” Syahira mengetuk kaca mobil di dekat sang supir itu.


“Iya, ada apa ya Mbak?” sang supir lalu menurunkan kaca mobilnya.


“Begini Pak, Apakah kami boleh menumpang ke mobil Bapak?”


“Memangnya Mbaknya mau ke mana?”

__ADS_1


“Ke Jakarta Pak.”


“Oh, boleh. Kebetulan saya juga hendak ke Jakarta untuk mengantarkan sayur mayur ini. Ya sudah naik Mbak.”


“Terima kasih banyak Pak atas tumpangannya.” Syahira berliang air mata. Ia tak menyangka bahwa pertolongan dari Allah yang selalu Syamir ucapkan ternyata begitu dekat. Ia dengan perasaan yang senang lalu membatu Syamir untuk naik ke Mobil bak terbuka itu.


“Syam, kita berangkat ke Jakarta sekarang! Ada mobil yang mau memberi kita tumpangan.” Dengan kegirangan Syahira memberitahu Syamir.


“Alhamdulillah, Syam senang mendengarnya Sya.” Dengan nada letih Syam menjawab ucapan Syahira.


Syahira dan sang supir dibantu juga dengan salah satu teman dari sang supir lalu membatu Syamir untuk naik ke mobil bak terbuka itu. Diantara tumpukan sayur itu mereka berdua duduk. Mobil itupun melaju di jalanan malam yang gelap.


Syamir meringis kesakitan saat lukanya diobati oleh Syahira. Pelan-pelan Syahira mengoleskan obat pada luka Syamir. Untungnya hanya sekedar luka lebam jadi tidak terlalu parah. Tetapi Syahira begitu gelisah melihat kondisi Syamir sekarang, dalam hatinya ia berkali-kali menyalahkan dirinya atas kejadian ini. Andai saja tadi ia tidak lari maka Syamir tidak akan terluka seperti ini.


“Syam, i’m realy-realy sorry about that. Jika tadi aku gak egois dan gak lari gitu aja pasti semua ini tidak akan terjadi. Aku benar-benar berhurang banyak padamu.”


“Sya jangan berbicara seperti itu. Kan Syam sudah bilang kalau kita tidak boleh mengungkit-ngungkit yang sudah terjadi. Sya juga jangan menyalahkan diri Sya sendiri atas segala kejadian yang sudah terjadi ya.”


“Tapi kamu udah berkorban banyak buat aku Syam. Harus dengan apa aku membayar semua yang telah kamu lakukan untukku? Bagaimana mungkin aku akan meninggalkan kamu dengan semua yang sudah terjadi.” Kini Syahira menatap haru pria yang ada di sampingnya itu.


“Syam melakukan semua itu karena sudah menjadi kewajiban Syam sebagai suami Sya. Syam harus menjaga, melindungi, dan mengayomi Sya.” Apa yang dilakukan Syamir sudah menjadi tanggung jawabnya sebagai suami. Dia sudah berjanji akan melindungi Syahira dan mengantarnya ke Jakarta dengan selamat

__ADS_1


__ADS_2