
Syahira menundukan kepalanya sambil memejamkan mata. Air matanya jatuh semakin deras. Dengan bimbang dan dalam tekanan ia harus memutuskan nasib hidup suaminya.
“Aku bersedia.” Ucap Syahira menatap tajam ke arah sosok itu.
“Hahahaha! Bagus! Bagus! Sungguh keputusan yang tepat.” Sosok itu tertawa keji.
“Sya, jangan lakukan itu.” Kata Tuan Sadavir.
“Aku terpaksa melakukannya Dad.” Ucap Syahira dengan ketir. Tuan Sadavir tampak kecewa dengan keputusan yang dibuat oleh puterinya itu.
“Sekarang, kemarilah! Mendekat padaku, kau harus menandatangani persetujuannya.” Sosok misterius itu mengayun-ayunkan tangannya.
Syahira tanpa berpikir panjang langsung mendekati sosok misterius itu. Ia langsung disambut dengan gembira oleh kedua sosok itu dan para penjaga mereka. Mereka tertawa dengan keras sehingga terdengar ke seluruh gedung.
“Cepat tanda tangani!” Ucap salah satu sosok misterius yang lain.
“Jangan terlalu kasar kepadanya. Perlakukan ia dengan baik.” Kata sosok misterius yang tadi.
Dengan tangan yang gemetar dan air mata yang mengalir deras, Syahira menggenggam pena di tangannya dan hampir menggoreskan tanda tangan diatas selembar surat itu. Tetapi hal yang tidak tertuga pun muncul. Seluruh gedung mejadi ricuh. Terdengar suara sirini dan orang-orang yang berbicara lewat halki takli setra toa.
“Semuanya angkat tagan!” ucap salah seorang pria berseragam polisi lengkap. Ia juga menggunakan rompi pengaman dan APD lainnya.
Gedung itu kini diserbu oleh para polisi. Dua sosok misterius dan antek-anteknya satu [ersatu berhasil diringkus oleh para polisi. Tak lama Yuli dan beberapa bodyguard suruhan Tuan Sadavir muncul. Mereka berlari ke arah Syahira.
“Dokter gak pape kan? Untung gue buru-buru lapor polisi. Kalau gak, au ah. Pokoknye sekarang gue seneng karena operasi penyelamatan si Syam berjalan lancar.”
“Operasi apa?” Syahira tampak bingung.
“Eh, gue lupe kalau dokter belum tau. Jadi gini....” Yuli pun menceritakan yang sesungguhnya.
Malam itu, usai Syahira mendapatkan telpon misterius itu Tuan Sadavir langsung menyusun rencana dengan Tuan Armor, kepala keamanan keluarga Sadavir. sementara Syahira, usai memperoleh telpon itu, tak lama ia jatuh pingsan karena sangat syok dengan kabar yang diterimanya. Tuan Sadavir, Tuan Armor, dan seorang hacker andal mulai menyusun rencana, Yuli pun ikut membantu. Mereka menyusun taktik untuk membebaskan Syamir dengan sebaik mungkin. Tuan Sadavir juga memperoleh bantuan dari tim kepolisian untuk hal ini karena ternyata sosok yang menelpon Syahira juga sosok yang tengah diincar oleh kepolisian.
Usai Syahira bangun, mereka pun mulai menjalankan rencana mereka tanpa sepengetahuan Syahira. Itu karena rencana ini terlalu beresiko dan berbahaya. Tetapi untunglah rencana itu berhasil.
“Jadi ini semua sudah direncanakan?” Ucap Syahira dengan tak percaya.
“Iye Dok, untung kita bisa nyelametin Syam. Eh, btw, si Syam mane? Astaga! Kok kita bisa ampe lupe ama target utama sih.” Yuli menepuk dahinya.
__ADS_1
Syahira langsung menghampiri Syamir yang sedang dalam penanganan tim medis dari kepolisian. Syamir dibawa dengan menggunakan tandu medis, ambulance sudah siap siaga di depan gedung. Syamir lalu di bawa ke ambulan menuju Rumah Sakit. Syahira terus berada di samping Syamir.
“Bertahanlah Syam, kau harus selamat!” Syahira memegang erat tengan Syamir. mereka pun naik ke dalam ambulance.
Sementara itu, di dalam gedung para polisi tengah sibuk memborgol dan meringkus para tersangka. Tuan Sadavir dan Tuan Armor sengaja tetap berada di gedung itu dan mengawal proses penangkapan hingga selesai. Mereka terkejut ketika para sosok misterisu itu dibongkar identitasnya satu persatu. Polisi membuka identitas sosok misterius yang pertama.
“Teon?” Tuan Sadavir terbelalak melihat wajah asli di balik topeng itu.
“Kenapa? Kau kaget? Ini memang aku! Aku! Aku yang dari dulu, belasan tahun yang lalu telah mencintai puterimu tetapi tak pernah kau restui! Lepaskan aku!” Teon meraung dan berteriak kencang. Matanya melotot merah.
Polisi lalu membuka identitas dari sosok misterius yang kedua. Tuan Sadavir semakin kaget saat melihat wajah asli sosok misterius yang kedua. Ia tak segan langsung mendekati sosok itu dengan tatapan penuh kedengkian.
“Plak!” Tuan Sadavir menampar sosok itu.
“Tampar saja aku sepuasnya! Kalau perlu buang aku jauh-jauh dari hidupmu! Bukankah dari dulu kau memang tak mencintaiku? Lalu untuk apa semua ini? untuk apa kau terus bersikeras mempertahankan pernikahan sialan ini hah?” Sosok misterius itu tak lain dan tak bukan adalah Nyonya Tamara, istri Tuan Sadavir sekaligus Ibu kandug Syahira.
“Kau memang duri dalam daging! Sungguh busuk benar hatimu! Menjauhlah dari puteri-puterimu! Kau tak pantas menjadi ibu bagi mereka!” Tuan Sadavir menunjuk ke muka Nnyonya Tamara dengan tajam.
“Tahu apa kau tentang puteri-puteriku hah?” Nyonya Tamara malah semakin ngeyel.
“Tahu apa? Kau pikir aku tak tahu jika Syahira adalah darah daging Syatir saudara kembarku sendiri? Aku tahu Tamara! Justru kau yang tak tahu. Aku rela menikahimu dan mempertahankan rumah tangga kita karena perintah dari Syatir! Sehari sebelum kematiannya dia berpesan kepadaku agar aku mau menjaga kau dan Syahira, darah dagingnya! Syahira adalah bagian dari Syatir yang aku siap menjaganya hingga akhir hayatku!” Tuan Sadavir berkaca-kaca.
“Kau memang licik Tamara! Kau menipu ibumu sendiri! Kau bercerita yang tak benar padanya. Kau mengatakan telah ditiduri oleh saudara kembarku padahal kau sendiri yang menyetubuhinya tanpa sepengetahuannya. Kau memasukkan obat-obatan terlarang diminumannya hingga membuatnya tak sadarkan diri. Sebegitu berambisinya kah kau dengan saudara kembarku? Kau juga memberi kesaksian palsu di depan keluargaku kalau kau telah dihamili oleh kembaranku! Padahal kau memang merencanakannya. Kau putus asa ketika mendengar kembaranku sakit keras. Kau stress dan depresi. Kau bingung dengan nasibmu, bagaimana bayi dalam kandunganmu?”
“Begitu kan? Kau lalu hampir melakukan bunuh diri di atas gedung rumah sakit saat kau mengetahui bahwa Syatir telah meninggal dunia. Aku terpaksa menolongmu dan membujukmu agar tak jadi melakukan bunuh diri. Itu semua karena Syatir dan Syahira! Bagian dari hidupku!” Tuan Sadavir kini tertunduk putus asa. Ia menangis sejadi-jadinya. Nampaknya, ia begitu kecewa dengan tindakan yang telah istrinya lakukan. Sementara Nyonya Tamara hanya bungkam. Ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
“Kau menyuruhku agar menjauhkanmu dari hidupku kan? Baiklah, Pak Polisi, hukum dia seberat mungkin atas tindakan perencanaan pembunuhan terhadap seorang pria bernama Syamir. Aku memiliki banyak bukti atas tindak kejahatannya.” Tuan Sadavir kini beranjak pergi. Ia meninggalkan istrinya di tangan polisi.
“Tidak! Vir! Vir! Kumohon! Lepaskan aku! Aku masih mencintaimu Vir! Viir!” Nyonya Tamara berteriak memanggil Tuan Sadavir, tetapi itu semua percuma. Kali ini, kesalahannya tak termaafkan oleh Tuan Sadavir. semuanya sudah terlambat.
“Diam! Anda sekarang dalam penahanan kami.” Ucap salah satu polisi yang meringkus Nyonya Tamara.
“Hahaha! Tak kusangka. Ternyata kau orang yang seperti itu Nyonya.” Teon tertawa terbahak-bahak.
“Jaga mulutmu Teon! Ini semua salahmu! Karena recana busukmu aku jadi ikut terjerumus.” Ucap Nyonya Tamara menyalahkan Teon.
“Rencanaku? Rencana KITA! Kau jangan pura-pura hilang ingatan Nyonya!” Teon tersenyum licik.
__ADS_1
“Harap tenang! Kalian berdua akan kami proses. Apalagi kau! Kau akan kena pasal berlapis. Kau telah melakukan perdagangan satwa langka secara ilegal, jula beli narkoba dan beberapa pelanggaran lainnya. Ditambah yang satu ini, maka bersiaplah dengan hukuman yang akan kau terima.” Ancam salah satu polisi pada Teon.
“Apa? Kau jangan bercanda Pak! Aku tidak melakukan itu. Lepaskan aku sekarang, aku seorang Raden bagus Fajar Teon Kertawijaya! Kau tidak bisa menahanku! Lepaskan!” Teon memberontak.
“Diamlah atau hukumanmu akan bertambah!” Para polisi pun membawa para tersangka ke kantor polisi.
***
Mampir di novel baru author diF11Z0. Judulnya Bidadari Posesif Bikin Candu CEO.
"Kau sudah punya pacarkan?" tanya Safa. To the poin pada Albert, lelaki yang dijodohkan dengannya.
"Harus ku jawab?" tanya Albert balik. Menatap dingin wanita berhijab di depannya.
Safa mengeluarkan semua foto-foto Albert dengan pacarnya dan meletakkan di atas meja.
"Dia Meisya Titania seorang artis terkenal yang sedang naik daun, pacarmukan?" ujar Safa.
"Kau calon istriku atau detektif? Belum juga aku memperkenalkan diri kenapa kau sudah tahu masalah pribadiku?" sahut Albert. Heran dengan wanita berhijab yang baru saja bertemu secara langsung dan bertatap muka sudah mengulik urusan pribadinya. Padahal dia belum tentu mau dijodohkan dengannya.
"Aku tidak mau menikah dengan laki-laki yang punya wanita idaman lain. Menikah denganku berarti hanya aku seorang di hatimu!" tegas Safa.
Proook! Proook! Proook!
Albert bertepuk tangan untuk wanita berhijab di depannya. Tak disangka baru bertemu sudah mengultimatum dirinya.
"Nona cantik, kau pikir siapa dirimu? Berani sekali mendominasi hidupku?" tanya Albert menatap tajam wanita bermata hazel itu.
"Aku calon istrimu hari ini dan besok jadi istrimu. Aku tegaskan! Tidak ada dimadu, diduakan, atau disakiti. Aku tidak ingin seperti pernikahan dadakan di novel-novel yang menderita karena suaminya punya pacar. Jadi kau hanya boleh milikku!" tegasnya.
"What?" Albert terkejut. Ada hal seperti ini dalam perjodohan yang biasanya perempuan tertind4s tapi ini sebaliknya dia tidak ingin ditind4s.
"Jangan sampai ada wanita lain tinggal seatap dengan kita, apalagi dia caper, mengganggu dan mencurimu dariku. Aku posesif dan tidak akan membiarkan suamiku digoda ul4t bu1u gatal seperti itu," ujar Safa. Ekspresi di wajahnya tampak serius.
"Hmm! Aku mendapatkan calon istri sekaligus sekuriti ya?" Albert tak habis pikir wanita yang ada di depannya itu sudah menerapkan dakwaan padanya padahal dia belum membela diri. Seakan penjara sudah ada di depan mata.
"Kalau kau tidak terima, batalkan perjodohan ini dari sekarang! Aku tidak ingin membuang-buang waktuku hanya untuk laki-laki yang mencintai wanita lain dan hanya menganggap pernikahan itu hanya sebatas di atas kertas," jawab Safa.
__ADS_1
"Oke, kita sama-sama tahu posisi masing-masing. Jadi apa maumu?" tanya Albert. Dia tahu wanita bermata hazel itu sudah tahu kenapa mereka dijodohkan dan harus menikah tanpa bisa ditolak.
"You are Mine!" tegas Safa.