
Setelah mengantar amplop kepada Syahira, malam itu Syamir tidak bisa tidur. Pikirannya masih di sana, di balik pohon besar dekat rumah Syahira. Tangisan Syahira seakan masih terngiang-ngiang di kepalanya. Wajah sedih nan merana itu seakan masih ada di depannya. Dalam kesunyian malam itu, Syamir melepas gusarnya akan kondisi istrinya dengan shalat witir. Akhirnya Syamir tertidur diatas hamparan sajadah.
Keesokan paginya, setelah ia menyelesaikan tugasnya sebagai marbot masjid, Syamir lalu berangkat ke toko Koh Wang untuk bekerja. Saat tiba di sana Syamir langsung dihampiri oleh Koh Wang. Koh Wang menjelaskan apa-apa saja yang harus Syamir kerjakan. Dari mulai mengangkut barang, memajang barang, merapikan barang hingga mengambilkan dan menunjukkan barang pada pembeli. Syamir dibantu oleh satu rekan kerjanya bernama Yuli. Yuli sendiri bertugas sebagai kasir dan mencatat barang yang masuk serta keluar. Ia juga bertugas untuk mencatat daftar belanja untuk barang yang habis. Di hari pertama bekerja Syamir merasa sedikit kesulitan dan masih dalam penyesuian, untungnya dengan baik hati Yuli mau membantu Syamir. Ia menunjukkan pada Syamir letak barang dan harga barang. Akhirnya, sedikit beban kerja Syamir berkurang.
“Yul, kamu sudah lama ya bekerja di sini?” tanya Syamir sembari mengangkut beberapa barang.
“Iye, gue kerja di sini udah sekitar tujuh taunan lah. Dulu Enya ama Babeh gue yang nyuruh gue kerja di sini. Emang ade-ade aje Enya ama Babeh gue tuh. Masa anak gadisnya disuruh kerja di toko material, dia pikir gue anak bujang apa? Mentang-mentang gue suka ikut tawuran kalo abis pulang sekolah. Hadeh.” Ucap Yuli sembari mencatat.
“Tapi kan kamu bertugas di bagian pencatatan dan kasir Yul, biasanya tugas itu memang untuk perempuan.” Timpal Syamir.
“Alah, baru tiga taun ini gue kerja di kasir. Sebelumnye gue juga jadi kuli kaya elu, ngangkut semen, batako, pasir, cat kiloan, pokoknya kerja laki gue jabanin dah. Ni sebab istri Koh Wang udah gak ada aja jadi kasir gue yang bantuin. Dulu, waktu masih ada istrinya Koh Wang ya kerjaan gue sama kaya elu.” Yuli kini memamerkan otot di lengannya yang terlihat atletis.
“Astagfiirullah, aurat Yul.” Syamir menundukan kepalanya.
“Bukan, maksud gue, gue cuma mau nunjukin kalo gue juga kuat. Meski gue anak cewek tapi tenaga gue lakik! boleh diadu sama kekuatan lo. Mau gue tunjukin?”
“Gak, gausah Yul. Saya mau meneruskan kerja dulu, Assalamualaikum.” Syamir bergidik melihat kelakuan Yuli yang layaknya anak lelaki.
“Dah, malah kabur tu cowok. Cemen!” Yuli lalu menurunkan kembali lengan bajunya yang tadi ia singsingkan.
Saat siang menjelang sore, toko tambah ramai. Insiden tak terduga pun terjadi. Karena toko disesaki oleh para pembeli jadi hal-hal kecil kadang terlewatkan. Tak bisa dipungkiri jika di toko ini sering terjadi penguntutan barang oleh pembeli. Kali ini lebih parah, ada orang yang merampok barang di toko. Orang itu kepergok tengah mengambil barang toko berupa empat dus kramik marmer asli. Koh Wang yang memergoki aksi pencurian itu segera berteriak.
“Maling!”
Sang maling pun berlari, Syamir kemudian berusaha mengejar maling itu. Akhirnya maling itu berhasil ditangkap oleh Syamir. Koh Wang berulang kali mengucapkan rasa terima kasihnya pada Syamir.
“Termia kasih ah.” Ucap Koh Wang.
“Hebat juga lu. Gue kayaknya gak bisa lari sekenceng lo deh.” Ucap Yuli.
Setelah kejadian pencurian itu kini Syamir jadi lebih waspada. Ia lebih memperhatikan gerak-gerik para pembeli. Sambil menjalankan tugasnya, Syamir juga mengawasi para pembeli.
Setelah hampir seharian bekerja, Syamir pun pulang kembali ke Mes nya. Ia membersihkan dirinya setelah seharian penuh peluh dan kotor dari tempat kerjanya. Saat itu, Syamir teringat Ibunya yang ada di kampung halaman. Syamir lalu pergi ke telon umum terdekat untuk menghubungi ibunya. Sudah lama ia tak menghubungi dan menanyakan kabar ibunya di kampung. Syamir lalu menelpon ibunya dengan telpon umum.
“Tuuuuuut...” lama sekali panggilan diangkat. Mungkin Ibunya tengah sibuk, begitu pikir Syamir.
Tak lama panggilan pun di angkat.
“Assalamualaikum.” Ucap Syamir.
__ADS_1
“Wa’alaikumsalam.” Syamir tampak asing dengan suara itu, suara itu bukan berasal dari ibunya.
“Ini dengan siapa ya?” tanya suara itu.
“Saya Syamir, apa benar ini dengan Mbok Wasih?”
“Syam! Alhamdulillah, kamu selamat. Syam, ini dengan Zulaikha.”
“Zul. Iya, alhamdulillah, Syam selamat. Sehat wal’afiat. Zul, boleh Syam berbicara dengan Si Mbok.”
“Syam, Mbokmu sakit. Dari kemarin terus menerus memanggil namamu. Zulaikha sudah mengajaknya untuk pergi ke Pak Mantri buat berobat tapi Mbok ndak mau. Dia mau bertemu denganmu Syam. Kamu dimana sekarang?”
“Innalillahi, Si Mbok sakit apa Zul?”
“Zulaikha juga kurang tahu. Tapi tubuh Si Mbok panas, belum turun dari kemarin. Badannya menggigil, ia juga ndak mau makan. Si Mbok juga batuk-batuk terus.”
“Ya Allah, Syam jadi sangat khawatir. Syam kini di Jakarta Zul. Alhamdulillah, Syam sudah dapatkan pekerjaan. Bilang pada si Mbok agar tak usah mengkhawatirkan Syam. Syam baik-baik saja di sini.”
“Alhamdulillah jika Syam baik-baik saja. Zulaikha senang mendengarnya. Tapi Syam, si Mbok bersikeras ingin menemuimu. Si Mbok bilang Si Mbok mau menyusul kamu. Si Mbok ndak mau berobat sebelum bisa ketemu kamu. Ini juga Si Mbok sedang beres-beres pakaian. Zulaikha sudah berusaha untuk mengehentikannya Syam. Tapi Si Mbok tetap bersikeras.”
“Ya sudah, berikan telponnya ke Si Mbok Zul, Syam ingin berbicara dengannya.”
Telpon pun hening untuk beberapa saat.
“Assalamualaikum, Syam! Syam! Ini kamu to le?” terdengar suara Si Mbok yang lirih nan lembut.
“Wa’alaikumsalam warahmatullah. Enjeh, iki Syam Mbok.” Syam menjawab telponnya sambil menangis, hantinya sesak saat mendengar suara ibunya.
“Syam, Si Mbok kangen tenan karo koe to le, le. Koe nang ngendi sekarang? uhuk-uhuk.”
“Syam nang Jakarta Mbok. Alhamdulillah, di sini Syam sudah dapat kerja. Mbok ndak usah mencemaskan Syam, Syam baik-baik saja di sini.”
“Sukur kalo koe wes urip nang Jakarta. Tapi Si Mbok kangen tenan karo koe, Si Mbok mau nyusul koe. Esok Mbok mau berangkat ke Jakarta, duake supaya Mbok sing salamet.”
“Jangan Mbok, Mbok kan lagi sakit. Mbok ndak usah ke Jakarta. Nanti kalau Syam sudah dapat libur Syam akan pulang ke kampung Mbok. Sabar ya Mbok, tungu Syam di kampung.”
“Sakit opo to? Si Mbok sehat-sehat wae to le. Si Mbok pengen tenan bisa nengok koe nang perantauan. Sesok koe jemput Mbok yo nang terminal.”
“Jangan to Mbok, nanti kalau ada apa-apa di jalan gimana? Si Mbok sendirian ke Jakarta, jauh Mbok. Syam khawatir.”
__ADS_1
“Rausah cemas, Si Mbok ke Jakarta bareng karo Zulaikha. Pak Kiyai juga wes setuju. Niat kedatangan kami ke sana sejak nak bawa koe balik Syam. Nama koe wes bersih nang desa. Semua warga wes pada apal kalau koe wes difitnah oleh Pak Lurah. Pak Lurah juga wes ditahan di kantor Polisi. Jadi Si Mbok mau jemput koe, pulang yo Ndok. Rumah koe kan di sini, di desa ini.”
“Tapi Mbok, tapi...”
“Tuuuut....” sambungan telpon terputus. Ternyata waktu telpon sudah habis. Syamir hendak menelpon kembali tapi uangnya sudah habis. Bagaimana ini, Syam belum menceritakan pada Si Mbok Maupun Zulaikha kalau dia belum menceraikan Syahira.
Syamir pulang kembali ke tempat mes dengan hati yang sangat gelisah. Besok ibunya mau ke sini bersama Zulaikha. Apa yang akan Syam katakan pada mereka? Syamir sangat bingung. Akhirnya malam itu ia tak bisa tertidur.
Keesokan harinya, ia masih digelayuti oleh pikiran tentang kedatangan si Mbok dan Zulaikha. Sepanjang hari ia banyak melamun. Yuli, rekan kerjanya bahkan tampak heran dengan perubahan sikap rekannya ini. kemarin ia bekerja dengan sangat semngat, tapi sekarang berbanding terbalik seratus delapan puluh derajat. Koh Wang juga merasa heran, akhirnya Koh Wang bertanya langsung pada Syamir soal kondisinya.
“Haya, kamu ini kenapa ha? Kemarin oe lihat kamu semangat betul dalam bekerja ha. Tapi sekarang tampak begitu murung ha, sampai-sampai kamu salah menunjukkan barang pada pembeli. Kamu kenapa ha? Kalau ada masalah, ceritakan ke oe ha, siapa tahu oe bisa bantu. Jangan di pendam sendiri ha.” Ucap Koh Wang.
“Maaf ya Koh atas kelalaian Syamir. Seharusnya masalah pribadi Syamir tidak berdampak pada pekerjaan Syamir.”
“Tidak apa ha. Ceritakan saja ha, oe dengan senang hanti mau mendengarkan ha, nanti kalau oe bisa bantu pasti oe bantu dan carikan jalan keluarnya.”
“Terima kasih banyak Koh. Jadi begini, hari ini Ibu saya hendak menemui saya ke sini. Ibu saja dari pelosok Jawa Koh, apa lagi kondisinya sedang sakit. Saya khawatir akan kondisinya Koh, apalagi perjalanannya cukup jauh.”
“Oh jadi karena itu ha. Tidak apa-apa ha. Jangan dilarang, terkadang kita harus menuruti keinginan orang tersayang kita walau rasanya itu sedikit mustahil, agar nanti kita tidak menyesal ha. Ibu kamu pasti sangat kangen dan mengkhawatirkan kondisimu, makanya ia bersikeras ingin menyusulmu ke sini. jadi biarkan saja ha, nanti kamu jemput dia, rawat dia dengan baik selama di sini ha.”
“Baik Koh, terima kasih atas sarannya, saya merasa agak lega setelah menceritakannya pada Koh Wang.”
“Sama-sama ha. Sudah semangat lagi kerjanya ha. Biar nanti kamu bisa pulang lebih cepat dan bisa segera menjemput ibumu ha.”
“Baik Koh.” Syamir pun kembali bekerja.
Malamnya, Syamir menjemput Ibunya dan Zulaikha di terminal. Malam itu hujan, Syamir hanya punya satu payung, itu pun punya mesjid, Syamir meminjamnya. Syamir duduk di kursi tunggu terminal sambil memperhatikan setiap bus yang datang. Tak lama bus dari jurusan tempat tinggalnya datang. Syamir lalu menghampiri bus itu. Bus itu kini berhenti, para penumpang berhamburan keluar. Syamir sedikit meninggikan kepalanya mencari-cari Ibunya dan Zulaikha. Akhirnya Ibunya dan Zulaikha pun turun. Syamir begitu antusias menghampiri kedatangan Ibunya. Syamir lalu memayngi Ibunya dan Zulaikha.
“Mboe!” Syamir mendekati Ibunya.
“Syam.” Ibunya lalu merangkul Syamir.
“Syam.” Sapa Zulaikha.
“Zul.” Jawab Syamir.
“Mboe kangen tenan karo koe le.” Ibunya mengusap kepala Syamir.
“Syamir juga Mbok.”
__ADS_1
Tiba-tiba hidung Ibunya Mimisan. Tak lama Ibunya pun pingsan. Syamir kaget, ia langsung membopong ibunys. Apa yang Syamir khawatirkan pun terjadi. Syamir kaget bukan main. Zulaikha langsung mengeluarkan ponselnya dan menelpon ambulance. Tak lama ambulance pun datang. Mereka lalu membawa Ibu Syamir ke Rumah sakit.