
Syamir mengetuk tiap pintu rumah warga untuk meminta bantuan tapi tidak ada yang menjawab, sudah setengah jam ia mondar mandir mencari bantuan. Syamir lalu pergi ke jalan raya, berharap di sana ia akan mendapatkan bantuan dari mobil yang lewat. Syamir melihat sebuah mobil yang berhenti, nampaknya mobil itu tengah mengalami masalah. Syamir lalu menghampiri mobil itu. Mobil itu terjebak dalam sebuah kubangan lumpur di jalanan yang bolong. Syamir lalu mengetetuk pintu mobil, seorang pria yang meyetiri mobil itu terlihat tengah berusaha keras untuk mengeluarkan mobil dari kubangan lumpur.
“Permisi Pak.” Syamir mengetuk kaca mobil.
“Mobilnya kenapa Pak?” tanya Syamir.
“walah, kebetulan sekali. Ini loh ban mobil saya terjebak di kubangan lumpur, sudah saya injak gas tapi tetap gak bisa. Mana saya lagi buru-buru, saya harus mengantar istri saya ke rumah sakit untuk melahirkan.” Jelas pria itu.
“Kalau begitu saya bantu dorong mobilnya dari belakang ya Pak.” Syamir menawarkan bantuan.
“Wah matur suwun tenan ya Mas.”
“Enggeh, sami-sami Pak.”
Mobil itu didorong sekuat tenaga, sambil diberi aba-aba oleh Syamir pria itu juga menginjak gas dengan kencang. Berkat kegigihan dan usaha mereka akhirnya mobil itu pun berhasil keluar dari kubangan lumpur. Pria itu lalu turun dari mobilnya dan menghampiri Syamir.
“Alhamdulillah, matur suwun tenan yo Mas, mobil saya akhirnya bisa keluar dari kubangan lumpur. Ini, terima yo Mas, itung-itung sebagai ucapan terima kasih saya atas bantuan dari Masnya.” Pria itu menyodorkan beberapa lembar uang pada Syamir.
“Ndak usah Pak, saya ikhlas membantu Bapak.” Syamir menolak uang yang diberikan oleh pria itu.
“Loh, jangan begitu lah, nanti malah saya yang ngerasa ndak enak.”
“Ndak usah Pak, simpan saja uangnya, saya benar-benar ikhlas.”
“Yo wes, sekali lagi matur suwun yo Mas. Ngomong-ngomong Mas nya mau ke mana keluar malem-malem begini?”
“Anu Pak, istri saya sakit. Saya benar-benar bingung harus bawa istri saya ke mana.”
“Kalau begitu ikut dengan saya saja Mas, saya karo bojo saya kan mau ke rumah sakit sekalian saja Mas nya bawa istri Mas ke rumah sakit juga bareng kami. Gimana ?”
“Boleh to Pak?” Syamir senang saat mendengar tawaran dari pria itu.
“Ya boleh lah Mas, wes sana bawa bojo Mas ke mobil saya biar tidak menunggu lama.”
“alhamdulillah wasyukurillah. Matur suwun yo Pak.”
“Enggeh sami-sami. Sana cepat.”
Syamir lalu pergi untuk membawa Syahira, tak lama ia lalu kembali ke tempat itu dengan membopong Syahira. Syamir lalu naik ke mobil pria itu. Mobil itu akhirnya berangkat membawa Syamir dan Syahira ke rumah sakit. Kondisi Syahira kini tambah parah, sekujur tubuhnya sudah terasa dingin, wajahnya pucat pasi dan ia makin mengigil hebat. Syamir yang tengah memangku Syahira terus memanjatkan doa sembari menenangkan Syahira. Beberapa saat kemudian akhirya mereka tiba juga di rumah sakit.
__ADS_1
Syahira lalu dibawa ke UGD, Syamir begitu panik saat itu. Ia khawatir jika terjadi sesuatu pada Syahira. Malam itu Syamir tidak tidur sama sekali, ia terus menemani Syahira di ruang UGD. Tak lupa, ia juga melaksanakan shalat malam dan memohon akan kesembuhan Syahira pada Allah SWT. Syamir menangis sejadi-jadinya di atas hamparan sajadah, hatinya hancur atas kejadian yang menimpanya. Ia bersimpuh di hadapan Allah dan mengadukan segala rasa sakitnya. Ia terus berharap akan ada keajaiban untuk kesembuhan Syahira.
Paginya Syahira akhirnya sadarkan diri. Syamir yang sedang menemani Syahira lalu memanggil dokter untuk segera mengecek kondisi Syahira. Dokter lalu datang dan memeriksa kondisi Syahira.
“Semuanya sudah normal kembali. Dia hanya perlu menjalani masa pemulihan saja. Besok dia sudah bisa pulang.” Jelas dokter itu.
“Alhamdulillah.” Syamir akhirnya merasa lega. Ia bersyukur atas kesembuhan Syahira.
“Kalau begitu Bapak bisa mengurus administrasinya sekarang, di meja kasir ya Pak.” Ucap seorang perawat yang menemani dokter itu.
“Oh, baik Sus.”
Syamir berjalan ke meja kasir, hatinya sedikit gusar karena ia hanya mengantongi sedikit uang. Jika pun uang ini cukup untuk membayar biaya rumah sakit maka ia tak memiliki uang lagi. Bagaimana ia akan mengantarkan Syahira ke Jakarta bila ia tak mengantongi uang. Syamir terus berjalan, ia menghampiri meja kasir dengan keraguan. Ia sapa petugas kasir lalu menanyakan jumlah tagihan rumah sakit atas nama istrinya. Syamir begitu kaget saat mendengar total biayanya. Ternyata uang yang ia bawa sangatlah tidak cukup untuk melunasi biaya rumah sakit. Ia meminta kelonggaran pada petugas itu agar memberi waktu hingga esok hari untuk Syamir melunasi semua tunggakannya. Petugas itupun menyetujuinya, Syamir akhirnya diberi kelonggaran waktu.
Sekarang masalah baru muncul, bagaimana Syamir akan melunasi biaya rumah sakit hanya dalam waktu sehari. Tapi ia tak patah semangat, ia pergi ke kamar Syahira untuk meminta izin keluar sebentar. Syahira mengizinkan Syamir untuk pergi keluar. Syamir akan mencari cara dan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan uang agar bisa melunasi biaya rumah sakit. Syamir yakin, jika seorang hamba mau berusaha dan bersabar maka Allah akan memberikan jalan keluarnya. Dengan keyakinan itu Syamir kini memantapkan hati untuk keluar dan mencari rezeki.
Syamir berjalan tanpa arah menelusuri setiap tempat untuk mencari kerja. Pandangannya kini tertuju pada sebuah gedung yang tengah dalam proses pembangunan. Ia lalu menghampiri tempat itu, dengan sebuah harapan ia akan bisa mendapat sebuah pekerjaan dari tempat itu. Ia mendekati beberapa orang yang tengah mengawasi proses pembangunan. Syamir lalu menyapa orang itu.
“Assalamualaikum Pak.” Ucap Syamir.
“Wa’alaikumsalam. Ada perlu apa ya?” jawab salah seorang pria yang mengenakan helm pengaman berwarna kuning.
“begini Pak, saya sedang mencari kerja dan saya lihat tempat ini, apakah saya boleh bekerja di sini? saya terima apapun pekerjaannya Pak, yang penting saya bisa kerja Pak dan halal tentunya.” Kata Syamir.
“Sebenarnya sudah full sih, paling tukang aduk. Kalo koe ndak mau ya wes, kita juga ndak begitu perlu tukang aduk tambahan toh.”
“Saya mau Pak, mau tenan.” Jawab Syamir.
“Ya sudah koe bisa kerja sekarang.”
“Matur suwun Pak.” Syamir menyalami kedua pria itu dengan kencang saking semangatnya.
“Iya, sudah sana kerja.”
“Siap Pak.”
Dengan perasaan yang senang Syamir bekerja dengan giat. Ia mengaduk semen dan pasir lalu mengantarkannya pada tukang yang lain. Tak terasa hari pun sudah siang, Syamir dan para pekerja pun istirahat untuk makan dan shalat. Saat makan para pekerja mengobrol untuk melepas penat, Syamir yang baru di situ lalu ditanya oleh beberapa pekerja.
“Masnya sepertinya masih muda ya, kenapa mau nguli kaya kami to Mas? Sayang, di usia kaya Mas ini masih bisa kerja yang lebih bagus. Kalau kata orang kesempatannya masih terbuka lebar. Ya ndak Yul?” salah seorang pria yang duduk di sebelah Syamir menanyai Syamir.
__ADS_1
“Lah iya, kenapa to Mas?” pria yang lain ikut menimpali.
“Saya sedang sangat butuh uang dalam waktu dekat Pak. Sekarang istri saya sedang dirawat di rumah sakit, biayanya juga lumayan, jadi saya harus segera melunasinya. Makanya saya bekerja di sini. mudah-mudahan saya bisa segera melunasinya.” Jelas Syamir.
“Oh, pantesan. Masnya sudah punya isrti toh. Aamiin, saya doakan semoga bisa segera lunas ya. Semoga istri Masnya juga bisa segela sehat kembali.”
“Aamiin Ya Allah.”
Setelah perbincangan itu mereka semua kembali melanjutkan pekerjaan mereka. Dengan perut yang sudah terisi mereka bekerja dengan semangat. Waktu pun berjalan dengan cepat, tak terasa sore pun tiba. Mereka masih bekerja, tiba-tiba terjadi sebuah insiden yang tak diinginkan. Sebuah gelondongan kayu terjatuh dari atas gedung membuat kaget para pekerja.
“Pak awas!” Syamir mendorong salah seorang pekerja yang ada di dekatnya.
Pria itu tepat berada di bawah jatuhnya gelondongan kayu itu. Untungnya Syamir dengan cepat menolong pria itu dari insiden yang tak dapat terhindarkan itu. Tetapi karena Syamir fokus menolong pria itu kakinya menginjak paku yang mencuat dari salah satu kayu yang sedang dipaku. Syamir lalu mengangkat kakinya dan mencopot paku yang menancap di kakinya. Para pekerja lalu menghampiri Syamir dan pria itu.
“Kalian ndak papa kan ?” tanya salah seorang pekerja yang menghampiri mereka.
“Mas ini kakinya nginjek paku. Darahnya juga keluar banyak, kita harus segera membawanya ke rumah sakit, takut kena tetanus.” Kata pria yang baru saja Syamir selamatkan.
“Yo wes, saya akan antarkan Mas ke rumah sakit pake mobil bak nya si Bos Mandor. Mari Mas.” Kata salah satu pekerja.
“Ndak usah Pak, nanti juga saya pulang ke rumah sakit toh. Nanti saya akan langsung obati kok. Sekarang saya akan menyelesaikan pekerjaan saya dulu.” Kata Syamir.
“Loh, Mas ini gimana to, degil kalo dikasih tahu. Yo wes lah, terserah Masnya. Tapi ingat ya Mas, kalo sudah sampai di rumah sakit harus segera di obati.” Ucap pekerja tadi.
“Enjeh Pak.”
Mereka pun kembali ke pekerjaan mereka, begitupun Syamir. Syamir lalu membalut kakinya dengan perban yang ada di kotak P3K milik para pekerja, setelah itu ia kembali bekerja dengan berjalan sedikit pincang. Sebetulnya Syamir merasa sakit dari luka yang ada di kakinya itu, ia mencoba menahannya dan melanjutkan pekerjaanya. Akhirnya setelah menahan rasa sakitnya dan bekerja untuk beberapa saat tak terasa selesai juga. Syamir lalu di panggil oleh Pak Mandor untuk mendapatkan upahnya hari ini.
“Ini upahmu.” Kata Pak Mandor sembari menyodorkan selembar uang seratus ribu.
Syamir bersyukur karena telah memperoleh rezeki dari keringatnya sendiri tetapi upah itu masih kurang untuk menutup kekurangan biaya rumah sakit. Syamir kembali merasa risau.
“Ini, mau diterima apa ndak?”
“Eh, iya Pak. Matur suwun yo Pak.”
“Sami-sami. Wes, cepet ke rumah sakit, obati lukamu, jangan dibiarkan begitu nanti kalo tetanus gimana?”
“Enjeh Pak. Kalau begitu saya pamit ya Pak, Assalamualaikum.”
__ADS_1
“Wa’alaikumsalam.”
Syamir berjalan pulang ke rumah sakit, kini ia tampak tengah melamun. Ia begitu bingung saat ini, harus dengan apa lagi ia bisa melunasi utangnya. Padahal ia sudah bekerja seharian tetapi itu masih belum bisa menutupi kekurangan biaya rumah sakit. Apa lagi sekarang ia sudah tidak memiliki uang kecuali uang hasil kerjanya tadi. Ia benar-benar merasa gusar saat ini.