Istri Nakal Ustad Tampan

Istri Nakal Ustad Tampan
Berangkat Ke Jakarta


__ADS_3

“Pak Bupati Sya.” Jawab Syamir.


“Pak Bupati yang mana?”


“Yang ini Sya.” Syamir lalu menunjukkan foto Bupati itu.


“Kok dia mau nolong kita sih?”


“Syam juga bingung.” Syamir tidak mengatakan yang sebenarnya pada Syahira soal kejadian malam itu.


Mereka berdua pun sampai di terminal kabupaten. Setelah turun dari angkutan umum itu Syamir lalu mengajak Syahira untuk mencari bus yang memiliki tujuan ke Jakarta. Terminal kabupaten ini memang tidak terlalu besar, hanya satu bus yang memiliki tujuan ke Jakarta. Syamir diberitahu oleh salah seorang petugas terminal bahwa bus tujuannya akan segera berangkat sepuluh menit lagi. Syamir dan Syahira berlari untuk menghampiri bus itu, untungnya masih bisa. Syamir lalu menghampiri kenek bus dan menanyai tarif bus itu.


“Yo Jakarta, Jakarta, Jakarta. Jakarta Mas ?” ucap kenek bus itu.


“Iya Pak.” Jawab Syamir.


“Sip naik Mas.”


“Kira-kira tarif ongkosnya berapa ya Pak?”


“Dua ratus ribu per orang Mas, sampai terminal rambutan.”


“Walah, awis yo Pak.”


“Ya endak lah Mas, memang sudah harganya.”


“Gimana ya Pak, uang saya cuma seratus ribu. Apa masih bisa naik Pak?”


“Ya bisa-bisa wae tapi ndak sampe Jakarta. Apalagi Masnya berdua, kalian diantar sesuai tarif yang kalian punya. Mau ndak?”


“Emmm, ya sudah. Ndak papalah sing pinteng bisa ngelanjutin perjalanan.”


“Syam! Kamu gila ya? nanti di sana kita mau naik apa? Gimana kalo kita gak bisa nyampe Jakarta dan malah terlunta-lunta.” Syahira tidak menyetujui keputusan Syamir.


“Apalagi kalau kita tetap di sini. Kita hanya akan buang-buang waktu Sya. InsyaAllah Syam akan berusaha agar kita bisa melanjutkan perjalanan kita lagi.”


“...”  Syahira malah membalikkan badannya.


“Ya sudah, ini tasnya Pak.” Syam memberikan tasnya pada kenek bus.


“Ayo naik Sya.”


Syahira pun menuruti perintah Syamir, mereka berdua akhinya melanjutkan perjalanan mereka dengan menaiki bus antar provinsi menuju Jakarta. Suasana bus begitu ramai, untung Syamir dan Syahira masih kebagian tempat duduk. Syahira memilih tempat duduk yang dekat dengan jendela, Syamir pun duduk di samping Syahira.


Penumpang semakin banyak, belum lagi ditambah pedagang asongan yang hilir mudik silih berganti membuat suasana bus begitu ramai. Tak lupa para pengamen dengan suara yang melengking dan ukulele yang dipetik sembarangan juga ikut meramaikan bus yang mereka naiki. Syamir duduk di depan sepasang suami istri yang membawa anak-anak mereka. Dari mulai bus berangkat hingga sekarang anak-anak itu belum juga berhenti merengek, nampaknya ini kali pertama anak-anak itu menaiki bus dengan jarak yang jauh. Syamir jadi teringat pengalaman pertamanya menaiki bus menuju Bandung seorang diri. Waktu itu usianya masih belasan tahun, ibunya mengirimnya sekolah pesantren ke Bandung. Syamir menuruti perintah ibunya itu untuk menimba ilmu agama di Bandung. Ia yang masih belia waktu itu memberanikan diri untuk merantau jauh seorang diri. Ia berangkat dari sebuah desa terpencil di tanah Jawa menuju suatu tempat yang disebut tanah Pasundan.  Pengalamannya itulah yang membuat Syamir berani merantau seorang diri ke tanah Mesir untuk melanjutkan pendidikannya. Kini berbekal pengalaman dan ilmu yang telah ia peroleh Syamir berharap bisa memberi manfaat pada orang-orang di sekitarnya.


Syamir kini teringat pada ibunya. Setiap malam Syamir selalu memikirkan keadaan ibunya di kampung seorang diri. Hatinya terasa pedih, air mata lalu tumpah ke pipinya. Bagaimana jika terjadi sesuatu pada ibunya, ia tidak bisa menolong ibunya karena kini ia telah terpisah jauh dari ibunya. Syamir hanya bisa menenangkan hatinya dan terus memanjatkan doa untuk kesehatan dan keselamatan ibunya di kampung halaman.


Bus itu melaju dengan cepat di jalanan aspal yang licin. Sang supir bus nampaknya sudah lihai dalam mengendarai bus ini, terbukti dari mulusnya bus itu meliuk-liuk di setiap tikungan dan belokan jalan. Berkat kelihaian sang supir membuat penumpang bisa duduk dengan aman dan nyaman hingga tujuan. Bus ini melewati jalanan yang disekitarnya terhampar persawahan yang luas, para penumpang beramai-ramai menengok ke arah jendela untuk melihat pemandangan sawah yang indah nan asri itu. Tak terasa perjalanan mereka pun sudah lumanayan jauh.


Bus itu lalu berhenti di sebuah daerah dengan pertokoan dan rumah-rumah yang cukup padat. Syamir dan Syahira lalu disuruh turun oleh kenek bus itu. Ternyata mereka hanya diantar sampai sini. Dengan berat hati mereka berdua akhirnya turun dari bus.


“Ini tas kalian.” Kenek bus itu mengeluarkan tas mereka dari bagasi.

__ADS_1


“Matur suwun yo Pak.” Ucap Syamir pada kenek itu.


“Iyo.” Kenek itu lalu kembali menaiki bus dan bus itupun akhirnya mendinggalkan mereka berdua di tempat ini.


“Ayo Sya.” Syamir mebawa tas itu lalu mengajak Syahira.


“Emangnya kita mau kemana?”


“Kita lanjutkan perjalanan kita Sya.”


“Kita mau ke Jakarta jalan kaki gitu?” tanya Syahira keheranan.


“Ya tidaklah, kita cari dulu masjid untuk shalat dan istrirahat sebentar. Baru setelah itu kita pikirkan cara untuk melanjutkan perjalanan kita. Tapi yang jelas Sya jangan menyerah dan berputus asa ya. Allah pasti menolong kita Sya.”


“Oh.”


Mereka berdua lalu berjalan untuk mencari masjid terdekat. Saat tengah berjalan mereka tiba-tiba saja ditabrak oleh dua orang yang berlari dengan kencang, membuat Syahira terjatuh. Tak lama tiba-tiba beberapa orang lain yang jumlahnya cukup banyak itu mengejar dua orang tadi.


“Sya, Sya tidak apa-apa kan?” Syamir menolong Syahira untuk bangkit.


“Maling!” teriak orang-orang itu berlari mengejar dua orang tadi yang ternyata maling.


“Sya, Sya tunggu di sini ya. Jangan kemana-mana.”


“Eh, kamu mau kemana?”


“Syam mau tangkap maling itu.”


“Syam harus tetap menangkap maling itu Sya. Syam pergi sekarang ya, assalamualaiku.” Syamir lalu berlari dengan sangat kencang meninggalkan Syahira sendirian di tempat itu.


Syamir terus memacu kakinya untuk berlari sekencang mungkin, ia akhirnya dapat mengejar dua maling itu. Kini jarak Syamir dengan kedua maling itu tak terlalu jauh. Syamir terus mendekati kedua maling itu dan akhirnya mereka bertiga saling berhadapan. Syamir bersiap mengambil ancang-ancang untuk menyerang mereka. Tetapi Syamir tak mengira kalau mereka akan menodongkan senjata. Syamir dengan tangan kosong nekat melawan mereka berdua yang bersejatakan sebuah pisau tajam. Untungnya Syamir memiliki bekal ilmu bela diri yang telah ia pelajari saat ia menimba ilmu di pesantren jadi ia tidak terlalu nol. Perkelahian pun terjadi, Syamir mampu menghindari serangan mereka, kini giliran Syamir yang menyerang mereka. Syamir berhasil mebuat mereka babak belur tetapi belum membuat mereka tumbang. Kedua maling itu kini bangkit dan balik menyerang dengan acungan pisau mereka. Syamir berhasil menahan serangan pisau itu dengan tangannya, tetapi karena pisau itu sangat tajam dan Syamir menahan pisau itu dengan tangan kosong jadi telapak tangannya tergores pisau sepanjang lima senti. Telapak tangannya mulai mengucurkan darah segar tetapi Syamir tidak menyerah. Ia lalu menumpas kedua maling itu dengan serangan bertubi-tubi, kedua maling itu pun akhirnya berhasil Syamir kalahkan.


Tak lama orang-orang yang mengejar maling itupun datang, Syamir lalu menyerahkan kedua maling itu pada mereka. Hampir saja kedua maling itu akan dipukuli oleh orang-orang itu tetapi Syamir berhasil mencegah mereka.


“Kita tidak boleh main hakim sendiri bapak-bapak. Lebih baik kita menyerahkan mereka pada pihak berwajib, biar pihak berwajib yang menangani mereka.” Ucap Syamir.


“Baiklah, kalian dengar itu! Untung saja ada pemuda ini, kalau tidak sudah habis kalian oleh kami.” Ucap salah seorang pria.


“Terima kasih ya Mas, maling ini sudah lama meresahkan kampung kami. Tadi ia mencuri uang dari rumah makan Mbok Ijah, untunglah mereka berhasil ditangkap.” Kata pria itu.


“Sama-sama Pak. Eh, Pak saya ingin bertanya. Masjid di sebelah mana ya Pak?” tanya Syamir.


“Oh, itu Mas. Mas lurus terus sampai ke deket warung terus belok kanan, dari situ tinggal lurus terus saja Mas.”


“Baik terima kasih Pak.”


“Sama-sama.”


Syamir kembali ke tempat Syahira menunggunya. Syahira kini tengah duduk di bangku pinggir jalan. Ia tampaknya tengah melamun. Syamir lalu menghampirinya. Syahira tampak tak senag saat Syamir datang.


“Syam, tangan kamu kenapa lagi? Kemarin paku sekarang apa lagi Syam? Kamu gak kasihan apa sama tubuh kamu sendiri.” Syahira langsung mengomeli Syamir.


“Hehe, Syam tadi menahan serangan maling itu jadi telapak tangan Syam tergores pisau.”

__ADS_1


“Huh, awas ya kalo besok kamu kenapa-napa lagi.”


“Memangnya kenapa Sya? Sya tak suka ya jika Syam kenapa-napa?” Syam kini meledek Syahira.


Muka Syahira langsung berubah merah padam, tapi wajahnya tampak menutupi hal itu. Ia lalu memasang wajah pura-pura marah.


“Engga, jangan ge-er kamu. Aku bilang begitu cuma sebatas kasihan aja. Lagian ujung-ujungnya aku juga yang harus mengobati luka itu, merepotkan tahu!” Syahira membantah ucapan Syamir.


“Oh, begitu ya. Syam kira apa.”


“Apa? Kamu gak usah mikir yang macem-macem ya. Awas aja.”


“Ya sudah yuk kita pergi ke masjid.”


Mereka berdua lalu pergi menuju masjid. Di sana mereka melaksanakan ibadah shalat dan melepas penat mereka sebentar. Dinginnya air wudhu berhasil menghlangkan rasa penat perjalanan mereka. Selepas shalat hati mereka menjadi jauh lebih tenang. Setelah shalat Syamir dan Syahira lalu duduk lesehan di serambi masjid.


“Syam setelah ini kita mau ke mana?” Syahira kini mengeluarkan kecemasannya yang dari tadi ia pendam.


“Kita tetap akan melanjutkan perjalanan kita Sya. Kita jalan dulu sebentar sambil mencari tumpangan yang mau berangkat ke kota. Dulu waktu Syam tidak punya uang untuk pergi merantau Syam menaiki mobil bak yang mengangkut sayuran. Pemilik mobil itu baik sekali, Syam diberi tumpangan dengan cuma-Cuma.”


“Emang zaman sekarang masih ada gitu?”


“Kita coba saja dulu Sya, asal kita mau berusaha dan bersabar Allah pasti menolong kita.”


“Okay.”


Tak lama mereka dihampiri oleh seorang pria yang tadi Syamir jumpai saat menangkap maling. Pria itu tengah berjalan mendekati mereka. Pria itu lalu menyalami Syamir dengan wajah yang ramah.


“Mas yang tadi menangkap maling itu kan?”


“Iya Pak.”


“Mas dipanggil sama Mbok Ijah.”


“Ada apa ya Pak?”


“Saya juga kurang tahu Mas. Lebih baik Masnya datang langsung ke sana. Mbok Ijah ada di rumah makannya, letaknya di pinggir jalan dekat Mas sama Mbaknya turun dari bus.”


“Oh, baik Pak. Terima kasih ya atas infonya.”


“Sama-sama Mas, saya pamit dulu ya. Assalamualaikum.”


“Wa’alaikumsalam.”


Pria itu pun pergi.


“Kenapa kamu dipanggil kesana Syam? Kamu nggak buat yang aneh-aneh kan?”


“Insya Allah nggak Sya. Daripada bersuuzon lebih baik kita ke sana sekarang.”


“hem.”


 

__ADS_1


__ADS_2