Istri Nakal Ustad Tampan

Istri Nakal Ustad Tampan
Keutamaan Sholat


__ADS_3

Ternyata wanita yang dilihat Zulaikha adalah ibunya Edward. Hampir saja Zulaikha berpikiran yang tidak-tidak pada pria itu. Zulaikha pun melanjutkan langkahnya menuju kantin. Di sana, ternyata Edward sudah tiba lebih dulu. Pria itu tengah menikmati sepotong sadwich dengan lahap. Zulaikha lalu memutar arah, ia berjalan ke arah lain agar tidak berpapasan dengan Edward. Saat Zulaikha duduk dan hendak menyantap makanannya tanpa diduga Edwardlah yang kini menghampirinya. Zulaikha merasa tak enak, ia lalu menggeser duduknya agar membuat jarak sejauh mungkin dengan Edward.


“Hello again Mrs. Zulaikha.” Edward lalu duduk di kursi sebelah depan Zulaikha.


“dokter ada kepentingan apa menemui saya di jam makan seperti ini?” ucap Zulaikha dengan sedikit risau


“Oh, gak ada apa-apa. Aku cuma penasaran aja sama ibadah yang tadi kamu lakuin. Itu namanya Shalat kan?” tanya Edward dengan penasaran.


“Ah, ya. tadi saya sedang shalat Dzuhur.”


“Kenapa kamu melakukannya?”


“Karena shalat itu wajib untuk setiap muslim tanpa terkecuali. Jika sudah menginjak usia baligh dan berakal maka seorang muslim telah dikenai kewajiban untuk melaksanakan shalat.”


“Jika tidak melaksanakannya?”


“Maka akan dikenai sangsi berupa dosa dan hukuman kelak di alam barzah dan akhirat. Shalat juga menjadi pembeda dan ciri antara seorang muslim dan yang bukan muslim. Dalam agama, shalat adalah tihangnya agama.”


“Okay, semuanya terdengar seperti karena kau seorang penganut setia agama islam, jadi kau begitu mempercayainya. Selain dari yang kau ceritakan tadi, apa yang membuat kau begitu yakin harus melaksanakan shalat dan kau rugi bila tidak melakukannya. I mean, dalam jangka dekat, jika aku hari ini tak shalat maka hukuman apa yang aku dapat hari ini karena meninggalkan shalat?”


“Dok, shalat itu, selain dari pada kewajiban adalah bukti kalau kita benar-benar butuh Allah dalam setiap detik di hidup kita. Di dalam shalat, kita memohon diijabah segala pengharapan, mencurahkan segala sesatu, baik dalam hal cahaya hidayah, limpahan rahmat, maupun ketenangan. Shalat pada hakikatnya merupakan sarana terbaik untuk mendidik jiwa dan memperbarui semangat dan sekaligus sebagai penyucian akhlak.”


“Shalat merupakan tali penguat yang dapat mengendalikan diri, sebagai pelipur lara, pengaman dari rasa takut dan cemas, juga memperkuat kelemahan serta senjata bagi yang merasa terasing. Dengan shalat kita dapat memohon pertolongan atas ujian zaman, tekanan orang lain, dan mampu mendatangkan pertolongan dari Allah. Karena sebenarnya bukan Allah yang butuh Salat kita tapi kitalah yang butuh shalat itu. Karena dengan shalat kita selalu bisa ‘kembali’ mendekat kepada Allah.”


“Dari tadi kamu terus ngomong pertolongan Allah, ampunan Allah. Are you really believe it?”


“Astagfirullah, dok, Allah yang maha Esa lagi tidak ada yang setara dengan-Nya, benar-benar ada. Kenapa dokter bisa berfikir demikian?”


“Prove it. Buktikan kepadaku jika Allah itu ada!”

__ADS_1


“Cobalah menarik napas lalu mengembuskannya.” Perintah Zulaikha.


Edward lalu menuruti perintah Zulaikha.


“Sudah.”


“Apa yang dokter rasa?”


“Ya bernapas seperti pada umumnya.”


“Dokter perhatikan, setiap kali tarikan nafas ada oksigen yang diangkut ke paru paru dan diedarkan ke seluruh tubuh melalui tiap pembuluh darah, dan ada karbon dioksida yang dibawa keluar lewat hembusan napas dan beberapa sistem ekresi lainnya. Semua berjalan dengan tepat dan sempurna. Bisakah itu terjadi karena kebetulan? Saya rasa dokter pasti lebih mengetahuinya. Dokter adalah seorang dokter, dokter mengetahui betapa kompleks dan teraturnya tubuh kita dalam tiap tarikan napas. Betapa kompleks dan rumitnya dunia ini. betapa alam semesta dan planet-planet teratur, berada di garis edarnya masing masing, tak pernah melenceng sedikitpun. Silih bergantinya siang dan malam. Apakah semua itu secara kebetulan? Apakah alam semesta yang rumit ini ada dari hanya sekedar kebetulan?”


“Bakhan sepotong sandwich itu kini berada di tangan dokter karena ada seseorang yang telah membuatnya dan menyajikannya hingga sampai ke tangan dokter. Apalagi alam semesta ini yang rumit dan sempurna menurut perhitungannya. Jika dokter menganggap Allah itu tidak ada lalu siapa yang berkuasa atas ruh tiap-tiap manusia? Dokter? Lalu kenapa dokter tidak mencegah saat ruh itu ditarik keluar dari jasadnya? Padahal dokter dan mesin-mesin itu berada dekat dengannya. Sudah tentu karena ada Allah yang menguasainya. Allah yang memegang kehidupan dari tiap-tiap makhluknya. Masih bisakah dokter menyangkal bukti kekuasaan Allah yang jelas-jelas ada di depan mata bahkan begitu dekat dengan diri dokter sendiri.”


Edward lalu tertunduk, ia merenungkan ucapan Zulaikha. Tiba-tiba Edward menitikan air mata. Zulaikha kaget saat melihatnya.


“Dok, dokter tidak apa-apa?” tanya Zulaikha.


“Teach me about Islam.” Ucap Edward dengan mantap.


Zulaikha terenyak mendengarnya.


“Aku ingin mengenal islam lebih dalam. Selama ini, aku telah begitu jauh dari-Nya sehingga aku merasa asing dengan agamaku sendiri. Tolong perkenalkan kembali, dan ajarkan aku kembali mengenai Islam, Zulaikha.”


“Dok,...” Zulaikha kini berkaca-kaca. Ia seakan tak percaya dengan apa yang baru saja ia saksikan.


Seorang dokter bernama Zyan Edward Malik ternyata adalah seorang muslim. Mungkin kehidupan dunia yang selama ini ia jalani telah membawanya terlalu jauh dari agamanya. Tapi kini, dari seorang gadis desa bernama Zulaikha Ayudia hidayah itu kembali hadir. Edwad mendapat hidayah itu lewat perbuatan dan perkataan yang Zulaikha lakukan.


Setelah dari kantin, Edward mengantarkan Zulaikha kembali ke kamar si Mbok. Di jalan Edward melanjutkan perbincangannya bersama Zulaikha. Edward begitu antusias setiap mendengar penjelasan dari Zulaikha.

__ADS_1


“Jadi begitu, baiklah. Ada banyak hal yang aku harus pelajari sebagai seorang muslim. Beruntunglah aku bisa bertemu denganmu Zulaikha.” Ucap Edward.


“Tidak, Allah lah yang telah mengatur semuanya. Berkat Allah semuanya bisa terjadi. Ngomong-ngomong wanita yang tadi dokter temui itu siapa. Ah, maaf, saya tiba-tiba jadi membahas yang tidak-tidak.”


“Ah, itu. Tak apa. Ia adalah ibuku. Kenapa? Tidak mirip ya? semua orang bilang begitu. Bahkan mantan pacarku mengira jika dia adalah kekasih simpananku, lucu kan? Ibuku asli Indonesia sedangkan ayahku berasal dari Inggris. Ibuku dulu memiliki bisnis penginapan di Bali makanya mereka bisa ketemu. Ibuku seorang muslim dan Ayahku menjadi mualaf saat menikah dengan ibuku. Pernikahan mereka bertahan hanya sampai aku lahir, ayah kembali pulang ke negaranya dan ibuku menetap di Jakarta. Semenjak SMA aku mengikuti ayahku dan kembali pulang ke Indonesia setelah kuliahku selesai.” Jelas Edward.


“Oh jadi begitu. Pantas saja. Ah, sudah sampai. Terima kasih ya dok. Saya izin masuk, Assalamualaikum.” Zulaikha lalu masuk ke kamar inap si Mbok.


“Wa’alaikumsalam.” Jawab Edward dengan terbata-bata.


Edward lalu pergi. Dalam kamar, si Mbok ternyata sudah terbangun. Zulaikha segera menghampiri si Mbok.


“Wes dari mana to Zul?” tanya Mbok.


“Habis makan siang di kantin Mbok.” Jawab Zulaikha.


“Oalah, kirain dari mana. Kok si Mbok lihat mukamu seperti habis ketemu pacar. Senyum-senyum terus. Beneran habis dari kantin?” ledek Mbok.


“Beneran to Mbok. Eh, si Mbok sudah makan? Mau Zulaikha suapi?”


“Rausah, si Mbok masih kenyang. Koe istirahat saja sekarang. Mbok jadi ndak enak. Dari kemarin Zulaikha wes bantu Mbok. Mbok banyak ngerepotin Zulaikha.” Ucap si Mbok.


“Jangan berbicara seperti itu to Mbok. Mbok kan sudah Zulaikha anggap sebagai ibu Zulaikha sendiri. Jadi ra usah sungkan.”


“Memang baik tenan kau ini Zul, sayang sekali, Syamir malah memilih wanita itu. Padahal kau jauh lebih baik dari pada wanita itu Zul.”


“Jangan berbicara seperti itu Mbok, lagian jodoh kan di tangan Allah, kita tidak bisa mengaturnya semau kita.” Ucap Zulaikha.


“Mbok berharap koe bisa dapet jodoh yang jauh lebih baik dari pada Syamir. Mbok akan terus doakan koe, Mbok sudah sayang tenan karo koe to Zul, Zul. Anak baik lagi cantik. Cah ayu kebanggaan desa.” Si Mbok kini mengusap pipi Zulaikha dengan penuh kelembutan. Air matanya kini mengalir dengan deras di pipinya.

__ADS_1


“Sudah to Mbok, jangan menangis. Mbok harus bahagia, biar Mbok cepat sembuh.” Zulaikha kini mengusap air mata yang tumpah di pipi si Mbok dengan lembut.


__ADS_2