Istri Nakal Ustad Tampan

Istri Nakal Ustad Tampan
Pulang Kampung


__ADS_3

“Aamiin.” Si Mbok lalu melepas pelukannya.


Setelah berpamitan dengan si Mbok, Zulaikha lalu beranjak pergi bersama Syamir. mereka lalu berjalan menuju halte terdekat untuk naik angkot ke terminal. Ketika sedang menunggu angkot, tiba-tiba datang sebuah mobil mewah berwarna putih yang berhenti tepat di depan mereka. Seseorang lalu turun dari mobil itu.


Seorang pria yang mengenakan setelan rumah sakit lengkap dengan jas putihnya berjalan cepat menghampiri Syamir dan Zulaikha. Ternyata pria itu adalah dokter Edward. Edward lalu menyalami Syamir.


“Dokter?” Syamir tampak heran dengan kedatangan Edward.


“Yes, aku kesini karena aku ingin menemui Zulaikha dan berpamitan dengannya.” Edward lalu memandang ke arah Zulaikha.


“Sebentar, Mom, keluarlah.” Edward memanggil seseorang dari mobil.


Lalu keluarlah seorang wanita dari dalam mobil. Wanita itu adalah ibunya Edward. Ia terlihat begitu cantik di usianya saat ini. wanita itu lalu tersenyum manis pada mereka.


“Come here Mom.” Edward lalu menuntun ibunya.


“Semuanya, kenalkan ini Ibuku. Mrs. Rania. Mom, ini Syamir dan ini Zulaikha, wanita yang sempat Edward ceritakan itu.” Edward memperkenalkan Ibunya pada Zulaikha dna Syamir.


“Ah, i see. What a beautifull girl. Edward sudah bercerita banyak tentangmu. Senang bisa berkenalan langsung denganmu, Zull..., em, Zulaikha.” Mrs. Rania bersalaman dengan hangat kepada Zulaikha.


“Senang berkenalan dengan Anda Mrs. Rania.” Ucap Zulaikha sambil tersenyum.


“Zulaikha, Syamir, aku berniat untuk mengantarkan kalian pergi ke terminal. Boleh kan?” tanya Edward.


“Bagaimana ya,” Syamir menimbang-nimbang.


“Please, boleh ya?” Edward memohon.


“Bagaimana Zul?” Syamir memandang Zulaikha. Zulaikha hanya diam tertunduk.


“Baiklah. Kami mengucapkan terima kasih sebelumnya atas tawarannya.” Syamir menyetujui.


“Never mind brother.” Edward lalu menepuk pundak Syamir.


Mereka pun naik mobil. Selama di dalam mobil, Mrs. Rania banyak berbincang dengan Zulaikha. Ia sepertinya menyukai Zulaikha. Mrs. Rania berharap jika Edward bisa mendapatkan wanita seperti Zulaikha.


“Jadi Zulaikha tinggal di Jawa ya. perjalanan yang cukup jauh, semoga perjalananmu lancar ya.” Ucap Mrs. Rania.


“Aamiin.” Jawab Zulaikha.

__ADS_1


“Tante sengaja bangun subuh-subuh seperti ini dan ikut dengan Edward untuk menemuimu. Edward bercerita pada Tante betapa ia mengagumimu, belum pernah Tante melihat Edward berubah seperti ini karena seorang wanita. Ternyata wanita itu memang sebaik seperti apa yang diceritakan.” Mrs. Rania tersenyum lebar pada Zulaikha.


“...” Zulaikha hanya bisa tersenyum.


“Mom, come on. Jangan berkata seperti itu pada Zulaikha, Edward jadi malu.” Edward ikut menimpali sembari fokus menyetir.


“Why not? Kamu memang sangat mengaguminya kan? Jika tidak, mana mungkin kamu tiba-tiba mendatangi Momy dan bercerita panjang lebar tentangnya. Oh ya, Zulaikha tahu, hanya Zulaikha lah wanita yang berani Edward ceritakan langsung pada Tante.” Mrs. Rania tampak tersenyum sumringah.


“Mom, stop it. Nah, kita sudah sampai.” Kata Edward. Mereka semua lalu turun dari mobil.


Syamir lalu membantu mengangkat barang bawaan Zulaikha, tetapi Edward langsung merebutnya.


“Let me do it.” Kata Edward dengan bersemangat. Ia lalu membawa barang-barang Zulaikha ke bagasi bus.


Zulaikha lalu hendak naik bus, tetapi sebelumnya ia berpamitan pada semua orang yang telah mengantarnya.


“Syam Zul pamit ya.” kata Zulaikha.


“Iya, hati-hati di Jalan ya Zul.” Ucap Syamir.


“Tante, Zulaikha pamit dulu ya.” Zulaikha lalu menyalami Mrs. Rania.


Kini giliran Zulaikha yang berpamitan pada Edward. Edward menatap haru Zulaikha. Ia seperti tak rela dengan kepergian Zulaikha.


“Dok, Zulaikha pamit ya.”


“Jaga dirimu baik-baik. Tunggu aku di sana ya. Aku akan mengunjungimu dan kedua orang tuamu.” Kata Edward dengan yakin.


Zulaikha lalu melangkah naik bus. Dari arah jendela Zulaikha memandangi mereka. Mereka tampak tengah melambai kepada Zulaikha. Zulaikha merasa terharu, berat rasanya untuk kembali pulang ke kampung. Tak sangka, jika ia kan bertemu dengan orang-orang seperti dokter Edward dan Mrs. Rania. Zulaikha bertanya-tanya dalam hati, apakah ia akan bisa menemui mereka kembali?


Bus pun mulai berjalan pergi, Zulaikha mulai menitikan air mata. Seiring kepulangannya ke kampung, ia juga meninggalkan perasaannya pada Syamir di kota ini. Ia tak akan mebawanya ikut pulang, karena perasaan itu sudah ia tinggal di sini. Biarlah Zulaikha pergi dengan hati yang kosong, ia berencana akan mengisinya dengan cinta pada Rabb-Nya. Ia akan gantungkan perasaanya pad Rabb-Nya, biar Rabb-Nya yang menggenggam hatinya. Entah akan kepada siapa hati itu terpaut.


Sementara itu, Edward menitikan air mata saat Bus itu beranjak pergi. Sontak, Edward megejar bus itu dengan berlari. Tetapi langkahnya tak bisa menyamai laju bus. Ia terus berteriak meanggil nama Zulaikha sembari berlari.


“Zulaikha, aku akan menemuimu.” Teriak Edward.


“Zulaikha, tunggu aku di sana.” Edward kini mengentikan langkahnya. Kedua lengannya memegang lutu kakinya. Ia menangisi kepergian Zulaikha. Zulikha telah membawa pergi sebagian hati Edward. Zulaikha juga telah memiliki tempat yang special di hati Edward.


***

__ADS_1


Seusai mengantar Zulaikha pulang, Syamir kembali ke Mess. Si Mbok sudah menunggu kepulangannya. Syamir mengurus si Mbok dari mulai menyuapinya makan hingga memberinya obat. Setelah semua tugas Syamir untuk merawat Mbok selesai, Syamir lalu pergi ke masjid untuk menjalankan tugasnya sebagai marbot. Baru setelah itu ia kembali bekerja di toko Koh Wang.


Saat bekerja, hati dan fikiran Syamir tidak tenang. Itu karena hari ini ia akan menemui keluarga Syahira. Ia terus menerus dihantui rasa gelisah selama bekerja. Melihat Syamir yang seperti itu Yuli, rekan kerjanya penasaran dan menghampirinya.


“Oi Syam, elu kenape? Kusut banget mukanya, udah kaya cucian baju aje, wkwk.” Yuli mencoba menghibur Syamir.


“Gak kok Yul, Syam gak kenapa-napa kok.” Kata Syamir.


“Halah, boong ya lu? Udah, ngaku aje. Lo pasti lagi kepikiran soal cewek kan? Gapapa Syam, berarti elu normal. Kalo lu butuh saran buat nembak cewek gue bisa bantu. Tinggal tanya aja, langsung gue kasih tips yang paling ampuh.”


“Bukan Yul. Bukan soal itu.”


“Terus ape dong? Kasih tau dikit lah. Siapa tau gue bisa bantu. Gini-gini juga gue tuh mantan mak comblang di komplek gue. Wuihh, bukan maen...” Yuli menepuk dadanya dengan bangga.


“Berhasil?” tanya Syamir penasaran.


“Ya belum ada yang berhasil sih. Tapi setidaknya berhasil di tahap kencan di pinggir kali. Itu juga udah kemajuan Syam. Ampe waktu itu sepanjang kali rame banget sama abg komplek gue yang lagi kencan. Tapi, ujung-ujungnya gue dilabrak warga gara-gara menjerumuskan ke hal yang salah. Apaan coba, harusnya mereka seneng, anak-anak mereka kan jadi punya gebetan.” Yuli kini terlihat sedikit geram.


“Ya memang benar Yul, pacaran kan memang gak boleh menurut agama.”


“Au ah, lu kenape jadi ikut nyalahin gue. Gue kan niatnya mau bantuin elu, ah gimana sii.” Kini Yuli jadi tampak kesal.


“Maaf Yul.” Syamir jadi bingung.


Tiba-tiba Koh Wang datang sambil membawa beberapa bon dan kalkulator.


“Haya, lu orang kenapa malah santai-santai ha? Ini lagi banyak pesenan ha, oe pusing ha.” Koh Wang menggaruk-garuk kepalanya.


“Koh, kata siapa kita lagi santai, kita lagi kerja kok, ya gak Syam? Tuh, Syam kan lagi nata barang buat dipajang. Sementara Yuli, Yuli lagi nyatet barang yang tadi masuk.” Yuli tak mau disalahkan.


“Oh, oe pikir lu orang lagi asik ngobrol. Emangnya lu orang ngomongin apa tadi ha? Oe jadi penasaran.”


“Ini Koh, si Syamir lagi galau soal percintaan. Kalo diliat dari gejalanya sih dia terkena demam cinta stadium akut.” Jelas Yuli dengan bersemangat.


“Hah? Beneran Syam? Oe kok gak percaya. Lu jangan bohong ha.”


“Enggak Koh, Yuli cuma ngada-ngada aja.”


“Beneran Koh, Yuli lihat dengan mata Yuli sendiri kalo si Syamir tadi lagi menggalau. Nih, sampe-sampe dia salah pajang barang.” Yuli menunjukkan barang yang slaah dipajang.

__ADS_1


“Haya, lu kenapa lagi Syam?” Kini Koh Wang termakan perkataan dari Yuli.


__ADS_2