
"Saya tidak main-main Pak. Saya telah menikahi putri bapak dan ibu beberapa minggu yang lalu. Kejadiannya berawal dari...." Syamir lalu menjelaskan semua kronologi pertemuannya dengan Syahira hingga kembali memulangkan Syahira ke Jakarta.
'Plak!' Tamara langsung menampar pipi Syamir.
"Beraninya kamu menikahi anak kami tanpa sepengetahuan kami! Ngaku kamu, apakah kamu sudah meyentuh anak saya? Jawab!" Tamara kini menjambak baju Syamir. sementara Tuan Sadavir hanya terdiam saking syoknya.
"Ngaku kamu! atau saya laporkan kamu ke polisi." Kini Tamara menangis sesegukan.
"Saya tidak pernah menyentuh Syahira sedikitpun. Saya bersumpah." Jawab Syamir.
"Bohong! Kamu bohong!" Tamara semakin menangis histeris.
Tiba-tiba Syahira keluar, ia lalu menghampiri tamara. Syahira kini mencoba menenangkan Tamara.
"Mam, tenanglah. Syam memang berkata benar, ia tidak pernah menyentu Sya sedikitpun. I'm still virgin Mom." Syahira kini merangkul ibunya.
"Diam kamu! dasar anak tidak tahu diuntung! Beraninya kamu main dengan lelaki dibelakang. Kali ini Mama tidak akan memaafkan kesalahanmu." Tamara mendorong Syahira dengan sangat kencang sehingga membuatnya terjatuh. Syamir lalu mendekati Syahira untuk menolongnya.
"Lihat Vir! Lihatlah hasil didikanmu! Inikah anak yang kau bangga-banggakan itu? Dengan tanpa rasa malu atau bersalah ia telah menusuk kita dari belakang. Ia telah membohongi kita selama ini. kenapa kau hanya diam saja?" Tamara kini berada di puncak emosinya.
Tuan Sadavir hanya terdiam seperti patung. Tetapi wajanya menyiratkan rasa syok yang begitu besar.
"Dad, please. Listen to me, Sya gak pernah disentuh sedikitpun oleh Syam. Pernihakan kami terjadi murni karena fitnah dari warga kampung. Sya berani bersumpah Dad. Tolong percaya pada Sya." Syahira kini bersimpuh dibawah kaki Dadynya. Tetapi Tuan Sadavir malah bangkit dan beranjak pergi. Matanya berlinang air mata, Tuan Sadavir meninggalkan mereka semua tanpa sepatah kata pun.
"Dad, please. Dad!" Syahira merangkul lutut Dadynya. Tetapi Tuan Sadavir melepaskannya.
"Dad." Syahira menangis sesegukan. Syamir lalu mendekatinya dan merangkulnya.
"Dasar anak durhaka! Sekarang keluar kau dari rumah ini! kau bukan anak kami lagi. Keluar!" Tamara sudah kehabisan kesabaran. Ia menyeret Syamir dan Syahira keluar. Koh Wang dan Yuli mencoba membujuk Tamara tetapi tidak berhasil. Mereka semua kini diusir dari rumah itu.
"Pergi kamu! pergi jauh-jauh dari sini." Tamara mengusir Syahira dengan menangis dan penuh emosi.
"Mom, please." Syahira bertekuk lutut dihadapan Tamara. Tamara malah menyeret kakinya agar lepas dari rangkulan Syahira. Tamara lalu memegang lengan Syahira dan membawanya keluar dari gerbang rumah.
"Pergi kamu dengan pria sialan ini! jangan pernah berani lagi menginjakkan kaki di rumah ini." Tamara lalu menutup gerbang dengan keras.
Syahira menangis dengan sejadi-jadinya. Syamir yang tak tega melihat istrinya lalu merangkulnya dengan erat. Ia tak menyangka jika semuanya akan jadi seperti ini. Syamir mulai menyalahkan dirinya atas apa yang telah menimpa mereka. Ia menangis sampil merangkul Syahira.
"Sya, maafkan Syam atas semua ini." Syamir merangkul Syahira dengan sangat erat.
Syamir dan Syahira kini menyeret kaki mereka untuk meninggalkan kediaman keluarga Syahira. Dengan tangan kosong, Syahira meninggalkan rumahnya. Ia meninggalkan rumahnya dengan hati yang hancur. Hanya Syamir yang kini ia punya.
“Syam, anter aku ke rumah Oma ya, barang-barangku ada di sana.” Ucap Syahira dengan sesegukan.
“Iya Sya.”
“Yul, Koh, Syam berterima kasih banyak atas segala bantuan yang telah diberikan kepada kami. Kalian pulang saja sekarang, soalnya Syam mau mengantar dulu Sya ke rumah Oma-nya.” jelas Syamir.
“Haya, sekalian saja kami antar ha. Lagi pula kan oe sudah janji sama lu orang buat nganterin sampe pulang ha. Jadi jangan ditolak ha.” Kata Koh Wang.
“Iye Syam. Kita gak mau pulang tanpa elu sama bini lu. Kita gak tega liat kalian jalan kaki.” Timpal Yuli.
“Baiklah, terima kasih banyak Koh, Yul.”
__ADS_1
Mereka pun pergi ke rumah Oma Syahira. Saat sampai di sana Syamir dan Syahira langsung disambut hangat oleh pembantu rumah. Semetara Koh Wang dan Yuli memutuskan untuk menunggu di mobil.
“Syam aku takut.” Syahira merasa ragu untuk mendatangi rumah Oma-nya.
“Bismillah, kita coba dulu ya Sya.” Syam lalu mengajak Syahira untuk masuk.
Pembantu rumah lalu memanggilkan Oma. Oma pun keluar, wanita itu kini tengah mengenakan pakaian tidurnya. Sepertinya Oma sudah beristirahat. Mereka jadi merasa tidak enak karena telah mengganggu waktu istirahat Oma.
“Sya, ada apa sayang? Kenapa kamu kesini malam-malam begini? Dan siapa pria yang ada di sampingmu?” Oma menghampiri Syahira.
“Oma, Sya kesini mau ambil semua barang-barang Sya.” Ucap Syahira dengan berlinang air mata.
“Kenapa? Mam dan Dad yang suruh?” tanya Oma.
“Bukan Oma. Sya sudah diusir dari rumah.” Ucap Syahira sembari menitikan air mata.
“What? Why? Kenapa Tamara dan Vir mengusirmu? Apa kamu melakukan suatu kesalahan?”
“No Oma. Sya..., Sya..., udah menikah sama Syamir tanpa sepengetahuan dari Mam dan Dad. Ceritanya panjang Oma.”
“Menikah? Oma gak salah denger? Kenapa secara mendadak? Kamu gak macem-macem kan Sya?” Oma tampak syok.
“Engga Oma, Sya gak ngelakuin yang macem-macem. Sya dan Syam terpaksa menikah gara-gara fitnah dari warga desa. Awalnya,.....” Sya menceritakan semuanya kepada Oma-nya.
“Malangnya nasibmu Sya. Tamara benar-benar keterlaluan, tega sekali ia mengusirmu hanya karena ini. Dan kenapa Vir malah diam saja! sekarang Sya mau kemana? Kalau Sya tidak ada tujuan, lebih baik Sya tinggal saja di sini. Oma dengan senang hati menerima kalian.” Tak sangka reaksi Oma justru diluar dugaan Syahira dan Syamir.
“Gak usah Oma. Sya akan ikut Syam. Karena kini Sya sudah jadi istri Syam, maka Sya harus ikut kemanapun Syam pergi. Lagi pula akan jadi masalah jika Mam dan Dad tahu kalau Sya dan Syam tinggal di rumah Oma.”
“Iya Oma, kalau begitu Sya ambil barang-barang Sya dulu ya.” Syahira lalu pergi ke kamarnya untuk mengambil baran-barangnya.
Sementara Syahira mengambil barang-barangnya, Oma kini mengobrol dengan Syamir. oma banyak bertanya pada Syamir. Syamir dengan kepolosan dan kejujurannya menjawab semua pertanyaan dari Oma.
“Nak Syam, Oma ingin bertanya satu hal. Apakah nak Syam yakin bisa membahagiakan Syahira?” Oma menatap dengan tatapan penuh arti.
“InsyaAllah Syam akan selalu berusaha untuk terus membahagiakan Syahira. Syam akan berusaha untuk membimbing Sya dan menjadi imam yang baik baginya. Syam juga akan menjaga Sya dengan jiwa dan raga Syam.” Kata Syamir dengan kesungguhan.
“Oma sedikit lega mendengarnya. Oma pegang janjimu.”
Tak lama Syahira kembali dengan membawa beberapa koper.
“Oma Sya pamit sekarang ya.” Syahira lalu memeluk erat Omanya.
“Jaga dirimu baik-baik. Tolong kabari Oma selalu ya.” Oma menitikan air mata. Ia tak sanggup melepaskan cucu kesayangannya.
“I’m promise.” Syahira lalu melepas pelukannya.
“Oma kami pamit dulu ya, Assalamualaikum.” Syamir berpamitan pada Oma.
“Wa’alaikumsalam.” Oma melepas kepergian mereka berdua.
Syamir dan Syahira kembali naik ke mobil Koh Wang. Koh Wang sudah menunggu mereka. Sementara Yuli sedang memainkan ponselnya.
“Ha lu orang sudah kembali. Ya sudah ayo naik.” Koh Wang membantu menaikan barang-barang Syahira bersama Syamir.
__ADS_1
“Ah, sudah siap. Yul ayo kita jalan sekarang ha.” Suruh Koh Wang pada Yuli. Dengan sigap Yuli langsung menyalakan mesin mobil. Mereka pun berangkat.
Mereka tiba di Mess pada larut malam. Koh Wang dan Yuli lalu pergi setelah menurunkan Syamir dan Syahira. Kini hanya tinggal Syamir dan Syahira. Syahira merasa sedikit cemas saat akan masuk ke mess. Ia takut jika kedatangannya tidak diterima oleh si Mbok.
“Syam,” Syahira memegang lengan Syamir.
“Tidak apa Sya. Si Mbok sebenarnya baik kok. Ayo masuk! Ini sudah larut malam.” Syamir meyakinkan Syahira.
Dengan hati yang ragu, Syahira memberanikan dirinya untuk masuk ke mess. Di sana ia melihat si Mbok yang tengah duduk di atas hamparan sajadah. Sepertinya si Mbok tengah berdzikir.
“Assalamualaikum.” Ucap Syamir dan Syahira secara bersamaan.
“Wa’alaikumsalam.” Si Mbok lalu bangkit dan melipat sajadahnya.
“Wes mulih to Syam. Kamu membawa gadis itu kemari, itu tandanya orang tuanya pasti tidak menerima kalian. Si Mbok kan sudah bilang.” Si Mbok kini melepas mukenanya.
“Mbok, jangan bicara seperti itu. Mbok, mulai hari ini Sya akan tinggal di sini, karena Sya sudah jadi istri Syam. Mbok terima Sya dengan hati yang legowo yo. Mau bagaimana pun, Sya adalah jodoh Syam. Dan Sya, Syam harap Sya menghormati dan menyayangi si Mbok layaknya ibu Sya sendiri.” Kata Syamir.
“Iya Syam.” Jawab Syahira.
“Sa karep mu to le.” Ucap si Mbok. Si Mbok lalu memalingkan badannya dari Syamir dan Syahira.
“Sya, Sya malam ini tidur di sini ya bareng si Mbok. Karena tempat ini tidak cukup untuk kita bertiga maka Syam akan tidur di masjid.” Syamir lalu meletakan koper Syahira.
“Are you sure?” tanya Syahira.
“Iya Sya. Kalau begitu Syam pamit sekarang ya. Assalamualaikum.” Syamir lalu mengulurkan lengannya pada Syahira.
“Waa’alaikumsalam.” Syahira lalu mencium lengan Syamir. Syamir lalu beranjak pergi.
Sementara itu, di lain tempat, ayah Syahira yakni Tuan Sadavir terlihat tengah menghubungi seseorang. Entah siapa orang yang sedang diajak bicara olehnya lewat telepon. Nampaknya perbincangan mereka sangat serius.
“Kau sudah menemukan keberadaannya? Bagus awasi mereka selalu.” Kata Tuan Sadavir pada seseorang yang ada di Telpon.
“Oh ya, tolong beri pria itu sedikit pelajaran. Berani sekali dia membawa puteriku. Aku tidak bisa tinggal diam. Cari tahu siapa dia sebenarnya, temukan tempat kerjanya dan asal usulnya. Aku harus memastikan bahwa puteriku berada di tempat yang aman.”
“Dan tolong beri Tamara sedikit pelajaran juga. Kurasa ia sudah melewati batas. Dia tidak boleh dibiarkan.” Tuan Sadavir kini menggeram kesal.
“Ya, baik. Akan ku transfer segera.”
“Tuuut.” Telpon pun terputus. Dengan wajah yang geram Tuan Sadavir membanting telponnya ke lantai. Ia lalu meninju tembok dengan sangat keras.
Ternyata Tuan Sadavir tengah menyuruh seseorang untuk mengintai puterinya dan Syamir. entah apa rencana Tuan Sadavir. Semoga itu tidak membahayakan kepada Syamir maupun Syahira.
***
Dulu kalian membuangku seperti sampah. Tapi kini kalian mengejarku seperti berlian.
Almira janda tiga kali yang diceraikan mantan suaminya tanpa tahu di mana letak kesalahannya. Mereka menikahi Almira hanya demi tujuan mereka masing-masing. Hingga pada suatu hari mereka kembali mengejar Almira dengan bersaing satu sama lain.
Apakah Almira akan kembali dengan salah satu dari mantan suaminya atau memilih membuka lembaran baru dengan lelaki baru dalam hidupnya.
Mampir di novel author yang baru di F11Z0 ya gratis. Judulnya Istri Sampah Kini Berlian
__ADS_1