
Hari itu, setelah memulangkan Syahira ke keluarganya Syamir melanjutkan langkahnya. Sekarang ia yang tinggal seorang diri melangkah dengan tujuan yang tak pasti. Ada sedikit rasa sesal yang mengganjal di relung hatinya. Ialah keputusannya untuk tidak menceraikan Syahira. Sebelumnya, Syamir telah memantapkan hatinya untuk segera menyudahi pernikahannya dengan Syahira. Tetapi setelah mendengar nasihat dari pemilik pesantren waktu itu, Syamir mempertimbangkan ulang keputusan untuk menceraikan Syahira.
Hari sudah larut, Syamir yang tak punya arah tujuan akhirnya memutuskan untuk mencari masjid terdekat. Selain untuk melaksanakan shalat, ia juga berharap bisa istirahat di sana untuk malam ini. Kendati dalam keadaan seperti ini, Syamir tak pernah melupakan kewajibannya sebagai seorang muslim untuk melaksanakan shalat.
Dalam masjid itu, ia meletakkan tasnya lalu pergi ke tempat wudhu. Syamir tiba-tiba merasa lapar karena seharian ini ia belum makan. Akhirnya ia mengganjal rasa laparnya dengan meminum air keran. Setelah itu ia mengikuti shalat berjamaah. Saat selesai, satu persatu, orang-orang mulai keluar dan hanya menyisakkan Syamir dan Imam masjid. Saat imam masjid menyelesaikan dzikir dan doanya ia pun beranjak pergi. Sang imam memperhatikan Syamir yang belum juga bangkit dari sujudnya. Akhirnya sang imam pun menghampiri Syamir. Syamir bangkit dari sujudnya dengan mata yang sembab, nampaknya ia baru saja mengadukan rasa sakitnya pada Tuhan seluruh alam semesta.
“Mas.” Sang imam menepuk punggung Syamir. Syamir lalu bangkit dari sujudnya.
“Iya Pak.” Jawab Syamir.
“Mas kok belum pulang.”
“Oh, saya tidak punya tempat tinggal Pak. Saya berencana untuk menumpang istirahat malam ini di masjid ini, boleh kan Pak?”
“Oh, tentu boleh Mas. Memangnya Mas nya dari mana?”
“Saya dari Jawa Pak. Saya datang ke Jakarta untuk merantau. Saya juga belum tahu akan kemana setelah ini. Tapi insyaAllah saya akan berusaha mencari kerja.”
“Oh, dari Jawa. Memangnya Mas nya mau nyari kerja ke mana ?”
“Ndak tahu Pak. Kerjaan apapun akan saya ambil, sing penting kerjanya halal.”
“Oh, kebetulan sekali. Masjid ini baru selesai di renovasi dan sedang mencari marbot baru. Apa Mas nya mau mengisi posisi itu? Memang tidak seberapa, tetapi ya cukup untuk makan dan disediakan mes juga di belakang masjid.”
“Alhamdulillah ya Allah, mau Pak. Saya sangat senang mendengarnya.”
“Baik, kalau begitu Mas jangan tidur di sini, mari saya tunjukkan letak mesnya. Mulai besok Masnya sudah boleh kerja ya.”
“Baik Pak. Terima kasih banyak.”
“Sama-sama, mari saya antar.”
Malam itu Syamir bisa melepas segala penat dan risaunya sedikit demi sedikit. Ia merasa lega dan sangat bersyukur karena telah memperoleh tempat berteduh dan pekerjaan. Sungguh cepat betul pertolongan Allah bagi hamba-Nya yang mau yakin dan berusaha.
Pada dini hari, Syamir terbangun. Ia teringat untuk melaksanakan Shalat malam. Dalam kesunyian malam itu ia bersujud pada Sang Pencipta. Dua belas rakaat serta tiga rakaat witir menyempurnakan shalat malamnya. Seusai itu ia melanjutkan dengan membaca Al-quran sembari menunggu waktu subuh tiba. Tatkala tiba di waktu subuh, ia memasuki masjid lalu mengumandangkan adzan yang begitu merdu. Para jemaah shalat subuh pun mulai berdatangan satu persatu. Mereka membicarakan suara adzan yang baru saja mereka dengar, ternyata berasal dari seorang marbot baru masjid mereka. Beberapa orang menyalaminya dan mengajak kenalan sebentar. Dengan wajah yang berseri-seri dan budi yang ramah Syamir berkenalan dengan para jemaah masjid. Sang imam masjid pun datang dan shalat subuh berjamaah pun dilaksanakan. Usai shalat Syamir lalu melanjutkan dengan membaca alquran kembali hingga waktu fajar. Setelah itu ia mulai menjalankan tugasnya sebagai marbot masjid.
Syamir menyapu lantai masjid, mengepel, mengelap kaca lalu membersihkan tempat wudhu. Tak lupa ia juga membersihkan wc umum. Syamir menjalankan tugasnya dengan semangat. Seusai itu ia lalu melaksanakan shalad duha. Dulu waktu kecil Syamir sulit sekali disuruh melaksanakan shalat duha, sampai-sampai harus di pukul oleh sapu lidi baru ia mau melaksanakannya. Kini, shalat duha sudah menjadi bagian dari ibadah rutinnya. Ia selalu merasa bersalah jika meninggalkan shalat duha.
__ADS_1
Usai shalat duha, Syamir lalu dihampiri oleh imam dan bendahara masjid. Ternyata Syamir di suruh untuk membeli beberapa barang dan membantu mempersiapkan acara santunan yang rutin diadakan oleh masjid sebulan sekali. Dana santunan berasal dari para donatur yang tinggal di daerah dekat masjid. Bulan ini, donatur terbesar berasal dari seorang warga yang nonmuslim. Seorang pria indo-cina yang memiliki bisnis toko material yang sukses. Syamir merasa sedikit penasaran dengan donatur yang satu ini.
“Ini uangnya ya Mas.” Bendahara masjid menyerahkan uang pada Syamir.
Syamir lalu pergi membelanjakan uang itu. Banyak sekali barang yang harus ia beli, untungnya ia dibantu oleh seorang satpam bernama Pak Rusli. Kebanyakan barang yang harus dibeli adalah sembako. Sembako-sembako ini nantinya akan diberikan pada mereka yang membutuhkan.
Usai berbelanja Syamir melanjutkan tugasnya yakni menyiapkan segala keperluan acara santunan di masjid. Dengan sigap dan tekun Syamir melaksanakan tugas-tugas itu. Kebetulan saat itu donatur terbesar yakni pria indo-cina itu datang berkunjung ke masjid. Pria itu kini memperhatikan Syamir yang tengah bekerja. Tak lama bendahara masjid pun mendatangi pria itu.
“Koh Wang,” ucap bendahara masjid.
“AH, Pak Ali. Ini ha, oe mau menyerahkan sisa uang yang belum oe berikan. Ini, mohon diterima ya.” Koh Wang menyodorkan segepok uang pada bendahara masjid.
“Terima kasih banyak Koh. Setiap bulan Koh Wang selalu menyumbang ke masjid ini dengan jumlah besar.”
“Haya, bukan apa-apa ha. Kan sudah menjadi kewajiban antar sesama manusia untuk saling tolong menolong ha. Eh, oe mau tanya ha, itu orang baru ya? oe perhatikan rajin betul kerjanya.”
“Oh, itu, iya. Dia marbot baru masjid kami Koh.”
“Oh, jadi dia yang tadi subuh mengumandangkan adzan subuh itu. Oe tadi subuh sempat terbangun ha, oe mimpi buruk. Tapi pas oe denger adzan itu, rasanya hati oe jadi tenang ha.”
“Oe tertarik pada pemuda itu ha, kelihatannya ia pekeja keras. Oe mau jadikan ia pegawai oe ha. Boleh tidak Pak ?”
“Oh, kalau soal itu Koh bisa tanyakan langsung saja pada orangnya.”
“Okelah, oe mau samperin tu orang ha.” Koh Wang pun mendekati Syamir.
“Nama kamu Syamir kan?” tanya Koh Wang.
“Oh betul Pak. Dari mana Bapak tahu nama saya?”
“Haya, panggil oe Koh Wang ha. Oe tadi nanya ke Pak Ali ha. Eh, kamu marbot baru itu ya?”
“iya Koh.”
“Kamu mau tidak kalau oe tawarkan untuk bekerja di oe. Kamu bantu oe di toko oe ha. Oe kewalahan, oe cuma punya satu orang pekerja ha, itu pun wanita ha. Pekerja sebelumnya sudah pada keluar ha.”
“Kerja di Toko Koh Wang? Mau Koh, tapi saya harus izin dulu ke Pak Ali.”
__ADS_1
“Oh, oke lah. Sana tanyakan saja sekarang ha, mumpung orangnya ada ha.”
‘Baik Koh.”
Syamir lalu menghampiri Pak Ali. Ia menyampaikan niat Koh Wang padanya.
“Boleh Syam, tapi kamu juga harus ingat kewajiban kamu sebagai marbot masjid. Jadi sebelum berangkat kerja kamu selesaikan dulu tugas kamu baru kamu boleh pergi. Jika sudah waktu shalat jangan lupa untuk kembali ke masjid untukmengumandangkan adzan.”
“Baik Pak. Terima kasih banyak Pak. Insya Allah Syam akan penuhi kewajiban Syam sebagai marbot masjid.”
“Ya, sama-sama.”
Mendengar persetujuan dari Pak Ali Koh Wang merasa senang.
“Baguslah, kamu bisa kerja mulai besok ha.” Ucap Koh Wang.
Seusai mendengar kabar bahagia itu Syamir sujud syukur, ia merasa sangat beruntung karena beberapa kesempatan yang mulai menghampirinya satu persatu. Ia kembali teringat pada Syahira. Kini ia sudah mendapatkan pekerjaan, ia punya kewajiban lain yakni untuk menafkahi Syahira. Syamir lalu merogoh tasnya. Ia keluarkan uang miliknya. Ia lalu memasukkan uang itu pada amplop dan menuliskan surat di salamnya. Amplop itu akan ia kirim ke kediaman Syahira.
Saat malam hari, di mana semua tugasnya telah selesai ia lalu pergi ke kediaman Syahira. Ia sengaja memilih waktu malam agar kedatangannya tidak diketahui. Saat sampai di kediaman Syahira, Syamir merasa agak ragu karena masih ada wartawan di sana walau jumlahnya kini hanya beberapa. Syamir lalu menyamar, ia mengenakan topi dan masker. Ia lalu menuju rumah itu. Para wartawan tidak menggubris Syamir sama sekali. Mereka tampak acuh dengan kedatangan Syamir. Syamir lalu menekan bel pagar itu. Lalu tak lama seorang wanita datang. Ialah pembantu rumah itu, wanita itu lalu berajalan dan memukakan pagar.
“Iya ada apa ya Mas?” tanya pembantu itu.
“Ini Bu, saya hendak mengantarkan paket untuk Nona Syahira Sadavir yang beralamat di Perumahan Permata No.43. Benar ini kediamannya?” Syamir berpura-pura sebagai seorang kurir.
“Oh benar Mas.”
Syamir lalu menyerahkan amplop itu. Tak lama Oma datang menghampiri mereka.
“Ada apa Bi?” tanya Oma.
“Ini, ada paket Oma.”
“Oh, ya sudah segera tutp kembali pagarnya sebelum para wartawan membuat ulah lagi.” Oma lalu kembali masuk ke rumah.
Tak lama sebuah mobil datang, sekilas Syamir dapat melihat bayangan orang yang ada di dalamnya. Itu Syahira, hatinya terasa bahagia saat bisa kembali melihat istrinya. Syahira tampak berbeda, ia mengenakan seragam rumah sakit. Ia tampak lebih cantik hari ini. mengetahui kedatangan Syahira Syamir lalu memutuskan untuk segera pergi. Ia tak langsung meninggalkan tempat itu. Ia bersembunyi di pohon besar tempatnya waktu itu bersembunyi dari para polisi dan wartawan bersama Syahira.
Dari balik pohon itu ia mengintip Syahira yang kini turun dari mobil. Syahira tampaknya tengah murung. Hati Syamir mulai cemas, ia khawatir jika terjadi sesuatu padanya. Syahira, yang Syamir tahu adalah wanita yang mudah murung, harus ada seseorang yang selau ada di sampingnya dan menguatkannya. Saat itu juga Syamir merasa menyalahkan dirinya sendiri karena tak bisa berada di samping Syahira dan menguatkannya. Syamir berada di balik pohon itu cukup lama. Kemudian Syamir melihat Syahira yang kembali membuka pagar. Ia tampak tengah mencari seseorang, di tangannya ia menggenggam amplop pemberian Syamir. Sepertinya Syahira tengah mencari Syamir. Ingin rasanya Syamir berteriak dan memberitahu Syahira bahwa ia ada di sini, tetapi tak bisa. Syamir hanya mampu terdiam memandangi istrinya yang tengah kalang kabut mencarinya. Syamir menangis saat melihat Syahira yang kini tengah bertekuk lutut di jalan sambil menangis. Syahira terus menerus memanggil namanya. Itu membuat hati Syamir semakin teriris.
__ADS_1